My Beloved Ex-wife

My Beloved Ex-wife
Bab 59


__ADS_3

Setelah berpikir lama, akhirnya Zetta ingat sedikit-sedikit dengan kejadian sebelum dirinya terjatuh. Namun, dia kesulitan untuk menjelaskannya kepada Theo. Zetta hanya tahu bahwa dirinya terpeleset cairan licin, yang dia yakini adalah sabun milik Helia. Karena sebelumnya, wanita itulah yang berpapasan dengannya.


"Jangan dipaksa untuk mengingat. Fokus saja dulu dengan kesehatanmu," kata Theo, menyadarkan Zetta dari lamunannya.


"Aku lupa bagaimana persisnya aku jatuh. Tapi, aku ingat waktu itu terpeleset cairan sabun. Aku kaget dan tiba-tiba semua menjadi gelap. Sepertinya, habis terpeleset itu aku terjatuh dan kepalaku terbentur," jawab Zetta.


Theo mengangguk-angguk. Diam-diam dia paham dengan kronologi kejadian. Dia juga menduga bahwa musibah itu berkaitan dengan Helia. Tidak mungkin ada cairan sabun di lantai jika tidak ditumpahkan dengan sengaja. Kebetulan waktu itu Helia juga masuk ke sana, jadi tebakannya kali ini pasti akurat.


Akan tetapi, Theo tidak sempat mengungkapkan pendapatnya karena tiba-tiba ada yang datang ke ruangan itu.


"Mereka lagi, mau apa datang ke sini?" geram Theo dengan rahang yang mengeras.


Sudah muak rasanya Theo bertemu dengan Keenan dan Helia. Apalagi setelah tahu apa yang Helia perbuat terhadap Zetta.


Tak beda jauh dengan Theo, Zetta juga merasa amat sangat kesal. Meskipun niat mereka datang untuk menjenguk, tetapi sama sekali tidak membuat suasana hatinya membaik, malah makin memburuk. Terlihat sekali kalau mereka orang yang tak tahu malu.


Di sisi lain, Keenan merasa prihatin dengan keadaan Zetta. Wanita itu terlihat pucat dan lemah, Keenan sampai tidak tega melihatnya.


"Zetta, bagaimana keadaanmu?" tanya Keenan menampakkan kepeduliannya.


Zetta memutar bola mata dengan jengah, sudah bosan dengan drama yang dibuat Keenan.


"Keadaanku baik, dan akan lebih baik lagi jika kalian berdua tidak datang ke sini," jawabnya, dingin dan sinis.


"Jangan begitu, Zetta. Kami punya maksud baik, ingin menjenguk dan memastikan bahwa kamu baik-baik saja." Keenan mendekat dan berhenti tepat di samping ranjang tempat Zetta berbaring. Helia pun melakukan hal yang sama. Meski sangat benci dengan Zetta, tetapi dia tetap tersenyum dan pura-pura peduli demi mendapat maaf yang tulus dari Keenan.


"Maksud baik atau pura-pura baik untuk menutupi kelakuan yang busuk?" ejek Theo dengan tatapan yang sengaja ditujukan kepada Helia.


"Apa maksudmu?" Helia gugup seketika.

__ADS_1


Theo bangkit dari duduknya sambil tertawa. Kemudian, melipat tangan di dada dan melayangkan tatapan yang lebih tajam.


"Kamu pikir kami ini bodoh? Atau ... kamu terlalu menganggap dirimu cerdik? Helia, Helia, aku sampai tidak habis pikir denganmu. Zetta itu sudah pergi jauh dari kehidupan Keenan, tapi kamu masih saja mencari gara-gara dengannya. Apa selama ini kamu belum mendapatkan cinta dari kekasihmu itu, hah?" ujar Theo.


"Aku tidak mencari gara-gara dengan Zetta, kamu jangan menuduhku sembarangan!"


"Ada cairan sabun di lantai yang membuat Zetta terpeleset. Menurutmu itu bisa terjadi jika tidak ada tangan licik yang sengaja menumpahkannya? Dan lagi, saat kutanya kamu bilang tidak melihat Zetta. Padahal kamu juga dari sana, mustahil kalian tidak bertemu. Apa maksudmu agar aku mencari ke tempat lain? Lalu Zetta terlambat ditolong dan akhirnya meninggal, begitu? Benar-benar wanita iblis!" Suara Theo naik satu oktaf, terlebih saat mengucap kalimat yang terakhir. Dia ingin menunjukkan betapa emosinya dia saat itu.


"Cukup, Theo! Helia tidak seperti itu, kamu jangan menuduhnya yang macam-macam!" sahut Keenan membela kekasihnya. Meski tahu Helia bersalah, tapi dia tidak tetap tidak mau Theo menyudut Helia.


"Oh, kamu mau bilang dia wanita yang mulia dan sempurna begitu?" Theo makin emosi. Kesabarannya sudah habis untuk menghadapi orang bodoh seperti Keenan.


"Aku tidak bilang dia sempurna. Aku sadar Helia memang salah, tapi asal kamu tahu, dia tidak sengaja melakukan itu," ujar Keenan, memberikan penjelasan yang salah kaprah, tetapi sangat benar menurutnya.


"Keenan benar. Aku ceroboh dan tidak sengaja menumpahkan sabunku di lantai. Dan belum sempat kubersihkan, Zetta sudah ke sana dan terpeleset. Aku takut, jadi langsung pergi. Kupikir Zetta tidak separah ini," sahut Helia ikut membela diri. Dia bicara sambil menunduk dan memasang raut sendu, agar terlihat nyata jika saat ini benar-benar menyesal.


"Sangat tidak masuk akal. Di mana-mana kalau orang takut itu cari pertolongan, bukan kabur dan meninggalkannya begitu saja. Kamu juga tidak rabun, pasti tahu kalau kepala Zetta berdarah. Begitu masih bisa berani berkata tidak kenapa-napa?" Theo mengepalkan tangan saking marahnya. Andai bukan di rumah sakit, pasti dia sudah menghajar Keenan dan juga Helia, tak mengapa meski dia wanita. Sikap liciknya sangat menguji kesabaran.


"Terus kenapa tidak bilang padaku kalau kamu tahu Zetta ada di pemandian itu?"


"Aku takut kamu marah dan menyalahkan aku," jawab Helia, masih fasih dalam kebohongannya.


Theo tertawa, "Dasar wanita bermuka dua. Kamu pikir aku akan percaya? Aku tahu, Helia, kamu tak lebih dari wanita munafik yang menghalalkan segala cara untuk kepentinganmu sendiri."


"Pergilah, kalian berdua! Aku sudah muak dengan omong kosong kalian itu." Zetta ikut menyela. Lama-lama pening karena mendengarkan alasan bodohnya Helia. Terlebih sikap Keenan yang selalu membela Helia, padahal jelas-jelas perempuan licik itu membahayakan nyawanya.


Keenan menarik nafas panjang, lalu menatap lembut ke arah Zetta.


"Zetta, kami sengaja datang ke sini untuk meminta maaf padamu. Kejadian kemarin memang karena kecerobahan Helia, tapi dia sudah menyesali perbuatannya. Jadi, kurasa masalah ini tidak perlu diperpanjang lagi," ucapnya tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


"Dasar lelaki bodoh, mudah dimanipulasi." Theo mengejek sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku tidak bicara denganmu!" Keenan menatap Theo dengan tajam. "Aku bicara dengan Zetta, kamu jangan ikut campur! Jangan menjadi pengaruh buruk untuk Zetta," sambungnya.


Mendengar ucapan Keenan, Theo hampir hilang kendali. Kepalan tangannya sudah melayang dan nyaris mendarat di wajah Keenan, beruntung Zetta langsung meneriakinya.


"Keenan, cepat pergi dan ajak juga kekasihmu ini! Theo tidak memberikan pengaruh buruk padaku, kamu sendiri yang tidak tahu diri. Helia sudah mencelakaiku dan kamu ingin semua selesai hanya dengan kata maaf? Kamu sudah tidak punya otak, Keenan! Theo benar. Kamu itu bodoh, nyaris seperti orang idiot. Kamu benar-benar sudah tidak bisa diselamatkan karena sepertinya Helia sudah memberimu makan kotoran babi," ujar Zetta tajam.


Keenan membeliakkan matanya mendengar penghinaan Zetta, begitu pun Helia.


"Zetta, Helia tidak sengaja melakukannya. Tolonglah kamu mengerti," jawab Keenan. Meski dia marah karena penghinaan Zetta tadi, tapi lelaki itu berusaha untuk menahannya.


"Sudahlah. Aku tahu kesalahanku cukup fatal, wajar kalau dia tidak bisa memaafkan. Tidak apa-apa, yang penting aku sudah datang ke sini dan meminta maaf dengan tulus. Masalah nanti akan dimaafkan atau tidak, itu haknya Zetta. Kita tidak bisa memaksanya, Keenan." Helia menunduk sambil mengusap matanya, seakan-akan menangisi kesalahan yang telah dia lakukan.


Keenan sebenarnya tahu jika saat ini Helia sedang bersandiwara, tapi dia tetap harus membuat Zetta memaafkan Helia karena itu juga menyangkut nama baiknya. Jika sampai tersebar kabar Helia sengaja mencelakai Zetta, semuanya pasti akan menjadi rumit.


"Zetta, apa yang harus aku lakukan agar kamu tak perlu memperpanjang masalah ini?


***


Hai, Dear,


mohon maaf kalau alurnya tidak sesuai harapan, karena ini memang harus dibikin sesuai outline yang dikasih sama pihak NT. Dari sana udah kayak gini. Sebenernya saya juga kecewa dan terbesit buat ga lanjut aja, tapi karena udah terlanjur, ya udah. Buat yg masih mau baca silakan. Yang udah males pun silakan. Saya akan tetap update, sebagai bentuk pertanggungjawaban saya ke editor.


Btw, yang ngikutin cerita Albern Lily, mulai hari ini Insya Allah akan update lagi menuju tamat. Awal Januari juga Insya Allah saya akan rilis novel baru (yang pasti ini ide saya sendiri, ga nunggu outline dari NT).


Sehat-sehat semuanya.


With love,

__ADS_1


Tiwie Sizo


__ADS_2