My Beloved Ex-wife

My Beloved Ex-wife
Bab 43


__ADS_3

Bab 43


Theo berusaha menenangkan Zetta yang masih terlihat emosional. Meski tak berkata apa-apa, namun Theo tahu apa yang sedang ada dalam pikiran Zetta.


"Aku tahu, kamu pasti berpikir kalau Helia yang melakukan semua ini, aku pun berpikir begitu. Tapi aku harap kamu tidak melakukan tindakan gegabah tanpa bukti," ucap Theo mengingatkan.


Zetta menoleh dan menatap Theo sekilas. Sahabatnya ini memang selalu bisa membaca pikirannya dengan baik.


"Tenang saja. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang bisa menjadi bumerang untukku," sahut Zetta.


"Baguslah. Aku buru-buru ke sini saat melihat video yang sedang trending itu. Aku pikir kamu pasti sedang dalam kesulitan. Ternyata benar. Aku harap untuk ke depannya kamu tidak minum alkohol lagi supaya tidak menjadi sasaran empuk orang yang Ingin menjatuhkanmu." Theo kembali mengingatkan.


Zetta menghela nafasnya panjang.


"Iya, aku tahu," sahutnya. Tanpa Theo bilang pun dia memang berniat untuk tak menyentuh minuman beralkohol lagi di masa depan. Dia benar-benar harus berhati-hati jika tak ingin kembali terlibat dalam masalah.


"Lalu bagaimana statementmu tadi? Sekarang pemberitaan pasti sudah menyebar kalau kamu dan aku berpacaran," ujar Zetta sambil kembali menoleh ke arah Theo.


"Biarkan saja. Memangnya kenapa?" Theo menanggapi dengan tak acuh.


"Yakin pacarmu tidak marah atau salah paham?" tanya Zetta.


"Menurutmu aku punya pacar? Theo balik bertanya.


"Ya mana aku tahu." Zetta menggedikkan bahunya.


"Kalau kamu setuju untuk jadi pacarku, baru aku sungguhan punya pacar," seloroh Theo.


Zetta melempar lelaki itu dengan pena yang sedang dipegangnya, sehingga Theo pun terkekeh dibuatnya.


"Kalau tidak mau, ya sudah. Kamu bisa menunggu Keenan berpisah dari Helia, lalu kembali pada lelaki itu," ujar Theo tanpa beban.


"Bercandamu tidak lucu, tahu!" sergah Zetta tak terima.


Tentu saja Theo tertawa semakin renyah dibuatnya.

__ADS_1


"Oke, oke. Aku tidak bercanda lagi," ujar Theo sambil berusaha menghentikan tawanya.


Zetta melipat tangannya di dada sembari mengembuskan nafas kasar. Dia sungguh tak ingin lagi terlibat dengan Keenan maupun Helia di masa depan. Tapi entah kenapa selalu datang situasi yang membuatnya harus berhadapan lagi dengan pasangan menyebalkan itu.


"Kenapa mereka tidak langsung menikah saja, lalu pindah ke luar angkasa," ujar Zetta dengan kesal.


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik kamu fokus pada proyek-proyek yang saat ini sedang berjalan." Theo menghibur.


Sekali lagi Zetta menghela nafasnya, sebelum kemudian mengangguk pelan.


"Kalau begitu, aku ke kantorku dulu. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi saja aku," ujar Theo lagi.


Zetta mengangguk dan mengantar Theo sampai ke depan ruang kerjanya.


Sepeninggalan Theo, Zetta duduk di kursi kebesarannya sembari termenung dengan ekspresi serius. Ingatannya kembali melayang pada sosok yang tidur di sampingnya semalam. Pertanyaan pun kembali muncul di benaknya, benarkan dia sudah tidur dengan lelaki itu?


Tapi rasanya mustahil jika ada lelaki dan perempuan berada di ranjang yang sama tanpa melakukan apapun.


Zetta mencoba berpikir secara rasional. Jika dirinya memang telah tidur bersama lelaki itu, maka dia harus melakukan sesuatu agar tak terjadi sesuatu ke depannya. Diambilnya kertas yang ditinggalkan oleh lelaki itu semalam, lalu dia coba untuk menghubunginya.


'Tuan, siapapun Anda. Sepertinya kita telah menghabiskan malam bersama. Tapi kita sudah sama-sama dewasa. Jadi saya harap, Anda menganggap semua itu bukan hal yang istimewa. Tolong kirimkan nomor rekening Anda pada saya supaya saya bisa mengirim uang untuk mengganti kerugian Anda.'


Zetta menghela nafasnya sekali lagi setelah mengirimkan pesan tersebut. Dia berharap lelaki itu bersikap kooperatif dan tidak menimbulkan masalah ke depannya.


Sementara itu, Keenan yang saat itu sedang menjaga Helia di rumah sakit tampak baru memeriksa ponsel rahasia yang nomornya dia berikan pada Zetta. Dia agak terkejut karena mendapati sebuah panggilan tak terjawab dari nomor kontak yang dia yakini adalah nomor Zetta. Juga ada sebuah pesan dari nomor tersebut. Keenan pun pura-pura ke toilet untuk membuka pesan tersebut.


Wajah Keenan langsung terlihat masam saat membaca pesan yang Zetta kirimkan padanya. Ternyata tak cukup Zetta menghinanya saat mabuk semalam. Kali ini perempuan itu juga memperlakukan Keenan seolah Keenan adalah seorang lelaki bayaran.


Suasana hati Keenan pun berubah menjadi sangat buruk. Mungkin karena dulu Zetta selalu memujanya, sekarang dia merasa begitu buruk saat diabaikan dan tak dianggap oleh perempuan itu. Tapi tunggu dulu, apakah ini yang dulu selalu Zetta rasakan setiap kali Keenan mengabaikannya? Bukannya sekali atau dua kali, tapi Keenan selalu mengabaikannya hampir setiap saat selama enam tahun mereka hidup sebagai pasangan suami istri.


Keenan menghela nafasnya. Perasaannya tiba-tiba menjadi sangat berat. Rasa bersalah pun di sudut hatinya yang paling dalam meski lagi-lagi dia berusaha menampik perasaan itu.


Tak mau berlarut-larut memikirkan Zetta dengan perasaan buruk, Keenan pun keluar dari toilet dan mendapati Helia sedang duduk di atas brankar rumah sakit sambil menonton siaran televisi.


"Apa yang sedang kamu tonton?" tanya Keenan sembari duduk di dekat tempat tidur Helia.

__ADS_1


"Ah, itu. Acara gosip," sahut Helia pura-pura terkejut. Padahal sejak tadi dia menunggu Keenan keluar dari toilet agar ikut menyaksikan acara gosip yang sedang ditontonnya saat ini.


Keenan pun mau tak mau ikut melihat ke arah televisi. Keningnya agak berkerut saat menyaksikan berita Theo yang merupakan pewaris dari salah seorang pengusaha paling berpengaruh di negara itu, mengumumkan jika dia resmi menjalin hubungan percintaan dengan Zetta.


"Sebenarnya aku selalu merasa bersalah pada Zetta karena dia menganggap kalau aku adalah orang yang menghancurkan pernikahan kalian. Tapi sepertinya sekarang dia sudah menemukan pengganti dan terlihat bahagia. Aku jadi ikut senang melihatnya," ujar Helia dengan gaya sok lembutnya seperti biasa.


Keenan tak menyahut. Hatinya mendadak menjadi bergemuruh tak menentu. Dia merasa ada yang tengah remuk di dalam dirinya saat ini, tapi entah apa. Nafasnya bahkan menjadi memburu tanpa sadar.


"Jika sekarang Zetta sudah bertemu dengan pasangannya, itu berarti ke depannya dia tidak akan menjadi bayang-bayang di antara kita lagi. Iya, kan, Keenan?" tanya Helia memprovokasi.


Keenan menoleh pada Helia, lalu berusaha untuk tersenyum meskipun pada kenyataannya tangannya mengepal kuat karena emosi. Dia jadi teringat pada ucapan Zetta semalam yang mengatakan jika perempuan itu tak lama lagi pasti akan menemukan lelaki yang lebih segalanya dibandingkan dengan dirinya. Apakah lelaki yang dimaksud Zetta adalah Theo?


"Sudahlah, tidak usah membahas orang lain. Makan saja makan siangmu. Kenapa dari tadi tidak kamu sentuh?" Keenan mengalihkan pembicaraan.


Helia tersenyum. Dia pikir Keenan tak peduli pada berita tentang Zetta.


"Aku tidak berselera makan makanan rumah sakit. Rasanya hambar," sahut Helia dengan nada agak manja.


Keenan kembali menghela nafasnya. Entah kenapa sekarang dia jadi risih setiap kali Helia mengeluarkan nada manja seperti itu.


"Aku akan memesankan makanan untukmu pakai jasa delivery. Kamu mau makan apa?" tanya Keenan sambil mengeluarkan ponselnya.


"Terserah kamu saja," sahut Helia.


Keenan pun tak bertanya lagi. Dia langsung memesankan semua makanan yang seingatnya adalah makanan kesukaan Helia.


Tak menunggu waktu lama, seorang kurir datang mengantarkan makanan tersebut. Tapi bukannya merasa senang, Helia malah terlihat kesal karena semua makanan tersebut ternyata adalah makanan kesukaan Zetta. Tentu saja, Keenan memesankan makanan yang ditulis oleh sahabat penanya yang sebenarnya adalah Zetta, bukan Helia.


"Kenapa? Bukannya ini semua masakan kesukaanmu?" tanya Keenan saat melihat Helia tampak tak berselera.


"Sekarang aku sudah tidak suka lagi. Selera makananku sudah berubah," sahut Helia beralibi. Meski kesal, dia tentu tak mau sampai Keenan tahu kalau yang menulis surat untuk lelaki itu adalah Zetta.


"Tolong ingat makanan kesukaanku yang sekarang saja, bukan yang dulu," pinta Helia.


"Baiklah. Sekarang makan dulu yang ini. Sudah terlanjur dibeli," sahut Keenan dengan nada datar.

__ADS_1


Mau tak mau, Helia pun makan semua masakan kesukaan Zetta dengan perasaan yang dongkol.


__ADS_2