
Zetta berdiri tepat di depan Roan dan melihat jelas luka di wajahnya. Perasaan Zetta yang semula kesal, sekarang agak iba karena kondisi mantan adik iparnya. Dalam hati Zetta bertanya-tanya, apakah Roan dibully lagi?
"Aku lapar," ucap Roan tanpa tahu malu.
"Kalau lapar pulang, kenapa malah ke sini?" Rasa kesal Zetta kembali muncul karena perkataan Roan. Sepertinya, mantan adik iparnya ini memang tak pantas dikasihani.
"Aku mau makan masakan Kak Zetta."
"Aku tidak masak," sahut Zetta cepat.
"Masak sekarang saja, Kak, aku mau kok menunggu." Roan tak mau kalah. Ia tetap bersikeras meminta makan pada Zetta.
"Aku bukan pelayanmu!" Zetta agak menyergah. Ia menggeleng-gelengkan kepala, lantas melewati Roan dan melangkah menuju pintu.
"Kak Zetta!" Roan cepat-cepat menyusul Zetta karena takut ditinggal masuk ke dalam rumah begitu saja.
Zetta menoleh ke arah Roan dan membuang nafas kasar. Dia ingin bersikap jahat, tapi rupanya tak bisa.
"Masuklah!" kata Zetta setelah pintu rumah terbuka lebar.
"Terima kasih, Kak Zetta." Roan tersenyum lega. Tidak salah ia datang ke sana, mantan kakak iparnya memang sangat baik. Meski agak ketus, tetapi tetap saja menerimanya.
"Tunggu di sini! Aku mau ganti baju, sekalian mengambil kotak obat," ujar Zetta.
Roan mengangguk patuh. Dia duduk dengan tenang sambil menunggu Zetta yang masih masuk ke kamar. Beberapa saat kemudian, Zetta kembali dengan pakaian yang lebih santai. Kotak obat sudah ia bawa dan diletakkan di atas meja, di depan Roan.
"Aku akan masak, obati sendiri lukamu!" perintah Zetta.
"Baik, Kak."
Roan pun meraih kotak obat yang disediakan Zetta. Kemudian, mengobati lukanya dan sesekali meringis menahan perih. Setelah selesai, Roan menyandarkan punggung sambil menatap ke sekeliling. Suasana rumah Zetta masih sama lengang seperti hari lalu. Rupanya, wanita itu masih betah tinggal seorang diri.
Selama menunggu Zetta, Roan tetap diam di tempat duduknya. Tidak seperti waktu itu yang lancang dan berani memasuki kamar Zetta. Kali ini, Roan bersikap sopan.
__ADS_1
Setelah beberapa menit berlalu, Zetta kembali sambil membawa nampan yang berisi makanan. Aromanya sangat sedap dan menggugah selera. Roan tersenyum puas, akhirnya ia bisa menyantap kembali masakan Zetta. Tanpa menunggu disuruh, Roan meraih makanan itu dan mulai melahapnya.
Dalam diam Zetta memperhatikannya. Cara makan Roan yang seperti orang kelaparan membuatnya menunda rasa penasaran. Dia urung bertanya mengenai luka di wajah Roan. Nanti saja jika dia sudah selesai makan, pikir Zetta.
"Kak Zetta tahu tidak kenapa wajahku terluka?" ucap Roan pada suapan terakhirnya.
"Tidak."
"Kakak tidak mau tahu?"
"Tidak penting," jawab Zetta pura-pura tak peduli.
"Aku ditampar Mama." Roan tetap mengatakan kejujuran meski tanggapan Zetta kurang mengenakkan.
Zetta tampak agak terkejut dan refleks menatap Roan lekat-lekat. Dia terlihat tak percaya dengan ucapan pemuda itu. Selama ini, Nyonya Brenda sangat menyayangi Roan, agak mustahil jika tiba-tiba menampar putra bungsunya itu sampai terluka, kecuali Roan memang melakukan kesalahan yang fatal.
Belum habis keterkejutan Zetta, Roan kembali bicara. Sebuah pengakuan yang membuat Zetta makin mengerutkan keningnya.
"Aku bertengkar dengan Mama. Mama marah karena aku tidak tertarik meneruskan perusahaan. Aku tidak tahu kenapa Mama sangat egois. Mama memaksakan kehendaknya, tanpa memikirkan keadaanku. Bahkan, dengan mudahnya memukulku hanya karena masalah itu," sambung Roan. Ia memberikan penjelasan detail sebelum Zetta memintanya.
"Kok malah ketawa sih, Kak? Aku serius loh," protes Roan.
"Serius atau tidak, tapi menurutku lucu. Geli aku mendengar ceritamu," jawab Zetta tanpa menghentikan tawa.
"Tahu begitu aku tidak usah cerita." Roan menggerutu sambil mengalihkan pandangan ke samping.
Sebenarnya, memang kurang benar jika dia bercerita dan meminta bantuan pada Zetta, mengingat hubungan mereka di masa lalu yang cukup buruk. Namun, jika bukan kepada Zetta, ke mana lagi dia harus meminta tolong?
"Siapa juga yang menyuruhmu datang ke sini? Harusnya kamu memang tidak cerita apa-apa, juga tidak usah datang ke sini. Dengan begitu aku juga tidak perlu memasak untukmu. Ingat ya, aku dan kakakmu itu sudah bercerai," kata Zetta.
Roan terdiam. Dia tak berniat lagi menjawab ucapan Zetta. Semua yang dikatakan wanita itu benar, hanya saja Roan kesulitan mengakuinya.
"Jika sudah, pulanglah! Aku capek, mau istirahat," kata Zetta setelah cukup lama mereka terdiam.
__ADS_1
Roan tak langsung menjawab, apalagi beranjak. Dia malah menunduk dan fokus dengan tasnya. Ketika Zetta hendak mengulang ucapan, Roan mengeluarkan satu set skin care dan memberikannya kepada Zetta.
"Untuk Kak Zetta," ujar Roan.
Zetta mengerutkan kening. Bukannya menerima skin care yang disodorkan, ia malah memandangi wajah Roan. Meskipun sikap lelaki itu tidak seburuk dulu, tetapi juga belum bisa dikatakan baik. Zetta yakin ada sesuatu di balik skin care yang Roan berikan. Tidak mungkin lelaki itu memberinya secara cuma-cuma.
"Kamu mau apa?" tanya Zetta.
"Nggg ... Sabtu nanti Kak Zetta datang ke sekolahku, ya?"
Zetta mengembuskan nafas kasar, lalu melipat tangan di dada sambil menyandarkan punggung.
"Kalau ada masalah, langsung bilang saja pada Keenan. Jangan datang ke sini! Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Aku tidak mau membantumu, cukup sekali itu aku terlibat masalahmu." Zetta menolak keras permintaan Roan. Dia tak mau lagi berurusan dengan keluarga Keenan.
"Sekali ini saja, Kak. Setelah itu aku janji tidak akan mengganggu Kak Zetta lagi. Tolong ya, Kak?" Roan kembali memohon agar Zetta mau mengiakan permintaannya.
"Tidak mau."
"Kak Zetta ...."
"Kamu masih punya Keenan. Dia yang wajib membantu masalahmu, bukan aku. Aku hanya orang lain yang sekarang sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi denganmu. Jadi, berapa kali pun kamu memohon, aku tetap tidak akan mau. Sudah cukup aku berurusan dengan keluargamu," pungkas Zetta sambil mengembuskan nafas kasar.
Ia merasa kesal karena semua yang berhubungan dengan Keenan masih saja mengusiknya. Nyonya Brenda, Helia, dan sekarang ditambah Roan. Apa tidak bisa mereka membiarkannya pergi dan hidup tenang?
Sementara itu, Roan hanya bisa diam sambil memikirkan kalimat yang tepat untuk membujuk Zetta. Namun, tak lama kemudian ponselnya berdering, ternyata Keenan yang menelepon.
"Kenapa tidak diangkat?" tanya Zetta karena Roan mengabaikan panggilan tersebut.
Roan tidak menjawab, tetapi langsung menerima panggilan yang sebelumnya diabaikan. Roan agak takut karena Zetta menatapnya dengan intens.
"Cepat keluar sekarang juga," perintah Keenan tanpa basa-basi.
"Maksud Kak Keenan apa?" tanya Roan dengan gugup.
__ADS_1
"Aku tahu kamu ada di rumahnya Zetta. Cepat keluar! Aku sudah di depan pintu!"
Jawaban Keenan membuat Roan kesulitan menelan ludah. Dia tak menyangka jika sang kakak mengetahui keberadaannya dan menyusulnya.