My Beloved Ex-wife

My Beloved Ex-wife
Bab 72


__ADS_3

"Sebentar, sebentar. Tadi kamu bilang apa? Cucu siapa?" Zetta bertanya setelah barusan Alex berbicara jujur tentang identitas aslinya.


"Kak Zetta, jangan keras-keras. Nanti ada yang dengar." Alex mengisyaratkan Zetta untuk merendahkan suaranya. Saat ini, mereka berdua sedang makan malam di sebuah restoran dan Alex akhirnya mengakui identitas aslinya pada Zetta setelah didesak.


Zetta benar-benar tak percaya saat Alex mengatakan jika dirinya adalah cucu dari pemimpin dunia bawah. Sebutan itu disematkan pada seseorang yang menguasai dunia bisnis, mafia dan militer sekaligus. Sosok yang hampir seperti legenda saking hebatnya. Memiliki bisnis yang menggurita, disegani oleh para mafia dan juga para perwira militer.


Alex mengatakan jika saat dirinya kecil, kakeknya sengaja menitipkannya di sebuah panti asuhan karena terjadi kekisruhan yang berpotensi mengancam nyawa para penerus dunia bawah. Itulah kenapa Alex besar di tempat seperti itu. Lalu saat dewasa, sang kakek kembali menemui cucunya dan menariknya kembali ke sisinya. Tentu saja semua yang dimiliki oleh pemimpin dunia bawah adalah kepunyaan Alex juga. Bisa dibilang, saat ini Alex adalah lelaki muda yang memiliki segalanya.


"Jadi, apa itu sebabnya kamu bisa mengungkap semua kejahatan Jordan? Semua atas bantuan orang-orang kakekmu?" tanya Zetta.


Alex mengiyakan.


Zetta terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. Pengakuan Alex barusan cukup mengejutkan. Sungguh tak disangka jika Alex bukan orang sembarangan.


"Kak Zetta." Alex memanggil Zetta dengan suara yang terdengar agak khawatir, membuat Zetta menoleh padanya.


"Apa sekarang Kakak membenciku?" tanya Alex.


"Membencimu? Atas dasar apa?" Zetta balik bertanya.


Alex menghela napas dengan berat.


"Mungkin sekarang Kakak merasa tertipu karena aku telah menyembunyikan identitas asliku. Tapi percayalah, Kak, aku tidak pernah berniat untuk menipu Kakak. Hanya saja, sulit bagiku untuk mengungkapkan yang sebenarnya."


"Tidak, Alex. Aku tidak berpikir kamu menipuku. Aku memahami situasimu. Aku cuma merasa kaget atas semua fakta tentang dirimu. Tidak terpikirkan sama sekali," sahut Zetta.


"Saat pertama Kakekku datang dan memberitahukan identitas asliku, awalnya aku juga terkejut, Kak. Aku malah tidak percaya dengan identitasku sendiri. Butuh waktu bagiku untuk menerima semuanya. Tapi sekarang, aku justru bisa membantu Kakak terlepas dari kejahatan Jordan berkat identitas itu. Yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah bersyukur. Aku sungguh bersyukur karena telah menjadi cucu dari pemimpin dunia bawah," ujar Alex.


Zetta tertegun. Terlepas dari pengakuan mengejutkan dari Alex, lelaki muda itu terdengar sangat tulus terhadap Zetta.


"Kak Zetta." Alex kembali memanggil nama Zetta. Kali ini sembari menggenggam kedua tangan Zetta.


Tentu saja Zetta melihat kedua tangannya yang digenggam Alex dengan mata yang melebar.

__ADS_1


"Aku mencintai Kakak. Kakak pasti sudah tahu itu, kan? Aku tidak tahan melihat Kakak terus ditindas oleh orang-orang jahat itu. Biarkan aku terus melindungikmu, Kak. Biarkan aku menjadi penjagamu." Alex bergumam.


"Apa maksudnya itu?" tanya Zetta. Dia bisa menebak arah pembicaraan Alex, tapi tak mau asal menebak.


"Menikahlah denganku, Kak Zetta. Hiduplah bersamaku. Aku akan membuat hidup Kakak aman dan juga nyaman. Kakak boleh pegang janjiku," ujar Alex dengan penuh harap.


Zetta terperangah tanpa tahu harus menjawab apa.


"Aku berjanji akan membuat hidup Kakak bahagia. Sungguh. Percayalah padaku, Kak." Alex kembali meyakinkan.


Tak ada jawaban dari mulut Zetta. Dia benar-benar terkejut dengan ungkapan perasaan sekaligus lamaran dari Alex yang begitu tiba-tiba.


"Maaf, Alex. Aku sungguh tidak tahu harus menjawab apa." Zetta akhirnya bersuara setelah sekian lama terdiam.


Alex tersenyum.


"Tidak apa-apa, Kak. Kakak tidak harus menjawabnya sekarang. Tapi tolong pertimbangkan aku dengan benar." Alex menjawab, membuat Zetta sedikit merasa lega karena tak terlalu didesak.


***


"Terima kasih sudah mau datang," ujar Keenan membuka percakapan.


"Ya, aku juga ada keperluan denganmu, makanya aku setuju untuk datang," sahut Zetta dengan nada datar.


Keenan memesankan minuman untuk dirinya dengan Zetta. Saat hendak menawarkan makan, Zetta lebih dulu mengatakan jika dirinya sudah makan.


"Langsung saja, apa yang mau kamu katakan padaku?" tanya Zetta to the poin.


Keenan menyesap minumannya sesaat, lalu menghela napas panjang, seakan kini dadanya sedang dihimpit sebuah baru besar.


"Aku ingin minta maaf padamu, Zetta. Sudah begitu banyak aku salah paham padamu," ujar Keenan kemudian.


"Sudahlah, tidak masalah." Zetta menyahut cepat dan santai.

__ADS_1


"Aku tahu kalau Jordan bukan orang baik, tapi aku sungguh tidak menyangka kalau dia ...." Ucapan Keenan terputus karena Zetta menyela.


"Aku turut prihatin. Ternyata ayahmu juga korban Jordan seperti ayahku. Pasti ini berat bagimu karena dia adalah ayah Helia. Aku harap, ikatan cinta kalian tidak goyah karena hal ini." Lagi-lagi Zetta menyahut dengan santai dan tanpa beban.


"Zetta." Keenan menatap Zetta dengan ekspresi serius. "Aku sudah tahu kalau Helia bukan gadis yang bertukar surat denganku, tapi gadis itu adalah kamu."


"Lalu?" Zetta melipat kedua tangannya di dada.


"Gadis yang aku cintai itu ternyata kamu ...."


Zetta balik menatap Keenan, lalu tertawa terbahak-bahak.


"Lalu andai sekarang aku mengatakan jika yang menulis semua surat-surat itu adalah bibi pengasuhku, apakah kamu akan bilang cinta padanya juga, bukan padaku?" tanya Zetta sarkas.


Keenan terdiam dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.


"Siapa peduli dengan penulis asli surat-surat itu, Keenan. Jika rasa cintamu hanya bergantung dari sana, alangkah dangkalnya perasaanmu itu." Zetta mencibir.


"Sesungguhnya, aku agak kecewa karena kisah cintamu dan Helia yang luar biasa itu hanya sampai di sini saja. Mestinya kamu bisa menerima Helia bagaimana pun dirinya. Toh, sejak dulu Helia memang sudah begitu, tidak berubah sama sekali," ujar Zetta lagi.


Keenan terdiam tanpa mampu mengatakan apapun. Jika diingat-ingat, dirinya selama ini memang terang-terangan memuja Helia di hadapan Zetta. Konyol sekali jika tiba-tiba sekarang dirinya mengatakan tak mencintai Helia lagi.


"Sudahlah, itu urusanmu, bukan urusanku. Aku datang kemari hanya untuk memberikan ini." Zetta mengambil sebuah amplop dari dalam tasnya, lalu menaruhnya di hadapan Keenan.


"Ini ucapan terima kasihku karena kamu pernah beberapa kali membantu memberikan solusi pada permasalahan bisnisku. Aku tidak suka berhutang, jadi teimalah," ujar Zetta.


"Apa maksudmu?" Keenan mengerutkan keningnya.


"Ah, maaf. Maksudku, ini komisi untuk Duck." Zetta menambahkan sambil tersenyum.


Keenan terperangah ke arah Zetta. Bahkan identitas sebagai Duck pun kini terbongkar, padahal sebelumnya dia berencana untuk mendekati Zetta lagi sebagai Duck.


Zetta bangkit, lalu melenggang meninggalkan Keenan tanpa bicara apa-apa lagi. Dia sudah mengatakan apa yang ingin dikatakan, jadi sekarang waktunya untuk undur diri.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2