My Beloved Ex-wife

My Beloved Ex-wife
Bab 40


__ADS_3

Karena taruhan sudah disepakati, Helia tak bisa menolak lagi. Dengan terpaksa dia bangkit dan mulai melepaskan pakaian yang ada di tubuhnya. Namun sebelum itu terjadi lebih jauh lagi, Keenan dengan sigap menahannya.


"Aku akan mentransfer uang ke rekeningmu, tiga kali lipat dari taruhanmu tadi. Aku juga akan membantumu mengakuisisi perusahaan yang sedang kamu incar. Tapi, akhiri permainan ini dan jangan paksa Helia untuk melepaskan bajunya," kata Keenan. Dia kembali menutupi tubuh bagian atas Helia.


Theo berpikir sejenak sambil menatap Helia dan Keenan secara bergantian. Raut wajah Helia sangat buruk saat itu dan cukup menyenangkan untuk dinikmati. Theo benar-benar puas kali ini karena berhasil mempermalukan Helia.


"Tawaranmu menggiurkan. Baiklah, aku setuju." Theo beranjak dan kemudian menyodorkan tangan ke arah Keenan, menunggu lelaki itu menyambut tangannya sebagai tanda bahwa keputusan sudah disepakati.


"Oke." Meski dengan berat hati, Keenan menjabat tangan Theo.


"Sebelum aku keluar dari room ini, aku ingin memberi tahu kamu tentang satu hal. Sebenarnya Zetta sangat hebat bermain kartu, bahkan aku saja tidak bisa mengalahkan dia. Hanya saja Zetta sering malas memperlihatkan kemampuannya itu di depan orang-orang. Dia juga sering mengalah dengan sengaja untuk suatu tujuan."


Keenan agak mengernyitkan dahinya saat mendengar ucapan Theo. Tiba-tiba saja dia teringat dengan raut wajah Zetta saat mencuci tato. Wanita itu sangat tenang, tidak ada kesedihan atau kekecewaan sedikit pun seperti orang yang dikalahkan pada umumnya. Dari sana Keenan mulai menarik kesimpulan bahwa kekalahan Zetta tadi memang disengaja.


'Ternyata dia jago main kartu, tapi sengaja mengalah. Kenapa?' batin Keenan dengan perasaan yang makin tak menentu.


Melihat Keenan diam dengan tatapan yang mulai berubah, Theo hanya menggeleng-geleng dan kemudian melangkah keluar. Lalu, dia memasuki room yang telah direservasi. Di sana, Zetta dan Regina sudah menunggu. Tak lama setelahnya, teman-teman Theo juga datang dan mereka berkumpul bersama.


"Zetta, kamu yakin tidak ikut main?" tanya Theo ketika dia dan kawan-kawannya akan bermain game.


"Tidak, aku mau santai aja," jawab Zetta sambil tersenyum lebar. Santai yang dia maksud adalah minum sendirian di sudut ruangan.


Memikirkan masalah yang terjadi akhir-akhir ini memang cukup melelahkan, Zetta ingin menenangkan diri sejenak dan melupakan semua itu.


Namun, bayangan-bayangan kebodohan di masa lalu membuat Zetta nyaris hilang kendali. Emosi, benci, sesal, bercampur menjadi satu dan membuatnya ingin menepis jauh ingatan-ingatan itu. Sampai akhirnya, Zetta tak sadar telah mengonsumsi banyak minuman keras. Entah sudah berapa gelas yang ia habiskan dalam waktu singkat.


"Panas sekali." Pengaruh alkohol telah masuk ke tubuhnya dan membuatnya kepanasan meski di sana ruangan berAC.


"Mungkin lebih baik aku keluar, cari angin dulu," gumam Zetta.


Dia bangkit dari duduknya dan melangkah keluar sendirian. Theo dan Regina sedang bermain dengan teman-teman lain, Zetta tak ingin mengganggu mereka.


Setibanya di luar ruangan, Zetta tersenyum tipis. Suhu tubuhnya tidak sepanas tadi dan itu cukup nyaman. Namun sayang, kenyamanan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba saja ada pria yang mendekatinya dan mencubit pantatnya.


Zetta kaget dan langsung membelalak. Kemudian, menoleh dengan cepat dan siap melayangkan protes, tetapi pria itu yang lebih dulu bicara padanya.

__ADS_1


"Jangan khawatir, Nona Cantik, aku akan memberimu uang yang banyak. Katakan berapa yang kamu inginkan, aku akan mengabulkan," ucap pria itu tepat di depan wajah Zetta.


"Dasar bajingan!" Tanpa segan Zetta menampar pria itu dengan sekuat tenaga, sampai-sampai telapak tangannya membekas merah di sana.


"Kurang ajar! Beraninya kamu menamparku!"


Zetta tak peduli lagi dengan teriakan dan kemarahan pria itu, dia langsung lari dan bergegas menuju room. Namun karena mabuk, Zetta dia kehilangan tenaga dan limbung. Pria itu berhasil menangkapnya sebelum Zetta berhasil masuk ke dalam room.


"Kamu tidak akan bisa lari lagi! Kamu milikku malam ini!" Pria itu menyeringai, dan Zetta bergidik ngeri saat menatapnya. Sebisa mungkin dia memberontak, tetapi tenaga pria terlalu kuat untuk ia lawan.


"Lepaskan aku, Brengsek!" teriak Zetta saat pria itu berusaha menyeretnya.


"Diam dan jangan banyak tingkah," jawab pria itu tanpa peduli dengan penolakan Zetta.


"Lepaskan dia!" teriak seorang lelaki. Suaranya tegas dan penuh penekanan.


"Jangan ikut campur urusanku!" bentak pria itu. Dia hanya menoleh sesaat dan kemudian kembali menyeret Zetta.


Akan tetapi, sungguh nahas nasibnya. Hanya dalam hitungan detik, lelaki yang tak lain adalah Keenan melayangkan tendangan keras di punggung, hingga tubuhnya terhuyung dan tersungkur di lantai.


Keenan kehilangan kesabaran. Dengan gerakan cepat dia meraih kerah kemeja pria itu dan mencengkeramnya dengan kuat.


"Sebenarnya aku tidak peduli dengan urusanmu, tapi jika itu menyangkut dia, sepenuhnya akan menjadi urusanku. Paham!" bentak Keenan.


Pria itu bergeming. Di sisi lain tak rela melepaskan Zetta, tetapi di sisi lain juga tidak bisa melawan Keenan.


"Pergi sekarang atau aku akan membuatmu sekarat!"


Keenan berteriak sambil mendorong kasar tubuh lawan, hingga kini merapat di dinding dan gerakannya pun dikunci. Tak sampai di situ saja, Keenan juga menekan lehernya sehingga pria itu kesulitan bernafas. Sampai akhirnya, sang lawan menyerah dan pergi dengan sendirinya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Keenan.


Dia menghampiri Zetta yang masih berdiri tak jauh darinya. Selain memegangi kepala, wanita itu juga menguarkan aroma alkohol dari nafasnya. Sekali lihat saja Keenan langsung tahu jika Zetta sedang mabuk, dan jujur itu membuatnya merasa berat.


"Minggir!" Bukannya berterima kasih atau menjawab ramah pertanyaan Keenan, Zetta malah tersenyum sinis sambil melangkah pergi.

__ADS_1


"Tunggu!" Keenan menahan langkah Zetta dengan mencekal lengannya.


"Lepaskan tanganmu!" bentak Zetta sambil menepis kasar.


"Aku sudah menolongmu," ucap Keenan juga dengan nada yang naik satu oktaf. Dia tersinggung dengan penolakan Zetta.


"Aku tidak berharap ditolong olehmu," bantah Zetta tak mau kalah.


"Jika tidak ada aku, kamu akan berakhir dengan pria itu!"


"Lalu apa masalahnya? Asal kamu tahu ya, berakhir dengan pria itu jauh lebih baik daripada bertemu lelaki sepertimu!" tantang Zetta. Dia tak segan-segan menatap mata Keenan dengan tajam.


Keenan menggeram. Apa yang diucapkan Zetta sungguh penghinaan baginya. Rasanya Keenan masih tak percaya jika yang berdiri di hadapannya adalah mantan istri yang patuh.


"Kamu sangat murahan, Zetta."


Zetta tertawa mendengarnya. Kemudian, dia menjawab dengan kalimat sarkas.


"Jika aku murahan, lalu bagaimana denganmu, Tuan Keenan? Kamu meninggalkan kekasihmu dan malah menahanku di sini. Apa itu artinya, kekasihmu jauh lebih murahan dariku, hmm?"


Wajah Keenan merah padam. Amarahnya benar-benar terpancing sekarang. Namun, Zetta tidak peduli. Dengan tetap tertawa, dia berjalan meninggalkan Keenan.


Akan tetapi, baru beberapa langkah Zetta pergi, Keenan kembali menahannya. Lelaki itu teringat dengan omongan Theo dan sangat penasaran dengan kebenarannya.


"Kenapa kamu tadi mengalah dari Helia? Aku tahu sebenarnya kamu bisa menang," tanya Keenan dengan cepat.


"Itu tidak penting," jawab Zetta dengan santainya.


"Aku ingin tahu jawabannya, Zetta!" sahut Keenan sambil menatap tajam, tetapi Zetta tidak gentar sedikit pun.


"Tapi, aku tidak mau menjawabnya. Dan kamu tidak punya hak untuk memaksaku."


"Jangan menguji kesabaranku, Zetta!" Keenan kembali menegaskan.


"Dan kamu berhentilah menggangguku! Antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kita sudah bercerai jika kamu lupa, Tuan Keenan!" jawab Zetta dengan nada tinggi.

__ADS_1


__ADS_2