
Setelah Theo membawa Zetta ke rumah sakit, Keenan dan Helia pun beranjak pulang. Namun, tidak ada obrolan apa pun selama mereka duduk bersama di dalam mobil. Keenan masih terpaku pada rasa curiganya, sedangkan Helia masih berpuas diri karena Zetta benar-benar terluka.
"Sekarang tidak ada lagi yang menganggu jalanku," batin Helia dengan hati yang berbunga-bunga. Namun, sebisa mungkin tidak ditunjukkan kepada Keenan.
Setelah cukup lama berkendara, Keenan tiba di rumahnya. Helia pun tetap ikut dengannya. Mereka masuk ke rumah bersama-sama dan menuju kamar masing-masing.
"Sudah tidak sabar menunggu Keenan menikahiku." Helia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, lalu tersenyum menatap langit-langit kamar. Gambaran pernikahan yang indah, sudah terbayang-bayang dalam pikirannya.
Puas berkhayal tentang Keenan, Helia bangkit dan menuju kamar mandi. Masih dengan perasaan riangnya, ia membersihkan diri di sana.
Sesaat setelah Helia selesai berganti baju, Keenan mengetuk pintu kamar itu. Helia kegirangan, dia pikir Keenan sudah rindu dan ingin berlama-lama lagi dengannya.
"Masuk, Keen! Aku baru saja mandi," ucapnya dengan manja.
"Iya."
Meskipun jawaban Keenan sangat singkat, tetapi dia langsung masuk dan berhenti sebentar di samping ranjang. Kemudian, kembali berjalan dan menuju kamar mandi.
"Keenan, kamu mau ke mana?" tanya Helia, agak heran karena tak biasanya Keenan menggunakan kamar mandi itu.
Keenan tidak menjawab. Hanya menoleh sekilas, lalu kembali melanjutkan niatnya. Karena penasaran dengan apa yang dilakukan Keenan, Helia pun mengikutinya di belakang.
"Aroma ini," batin Keenan ketika mencium wangi sabun di sana.
Niat Keenan memang untuk memastikan pelakunya benar-benar Helia atau bukan. Dan ternyata, aroma sabun milik wanita itu sama persis dengan yang ada di tempat Zetta terjatuh. Sekarang Keenan yakin bahwa kekasihnya itulah yang mencelakai Zetta.
"Keenan, kamu kenapa? Apa ada yang salah dengan kamar mandinya?" Helia menatap Keenan dengan heran. Dia bingung dan tak bisa menebak apa yang dipikirkan oleh Keenan.
Mendengar pertanyaan Helia yang seakan-akan tidak melakukan kesalahan, Keenan langsung menatapnya.
__ADS_1
"Apa kamu ada hubungannya dengan kecelakaan yang menimpa Zetta tadi?" tanyanya.
Helia sangat terkejut, sampai-sampai lidahnya kelu dan kesulitan bicara. Keenan tersenyum miring saat melihat wajah Helia yang mendadak kaku itu.
"Aku tidak menyangka kamu bisa melakukan hal sejahat itu, Helia," ucapnya sebelum Helia menyahut.
Helia pura-pura tak mengerti, "Apa maksudmu? Aku saja tidak tahu jika tadi Zetta ada di sana. Kamu kenapa menuduhku seperti itu?"
"Yang kukatakan ini bukan tanpa alasan, Helia, tapi berdasarkan bukti. Aroma sabun yang ada di kamar mandi ini, sama persis dengan sabun yang ada di sana tadi. Apa kamu akan menjawab kalau semua ini hanya kebetulan?" Suara Keenan naik satu oktaf, begitu pula dengan tatapannya, jauh lebih tajam dari sebelumnya.
Helia menggelengkan kepala. Dia ingin membela diri, tetapi tidak menemukan alasan yang paling tepat. Sebelumnya dia tidak menyangka jika ternyata Keenan mencurigainya.
"Aku jadi ragu. Benarkah kamu sahabat penaku?" Keenan lebih mendekati Helia. "Setahuku, sahabat pena yang kukenal adalah wanita yang lembut dan baik, bukan licik dan jahat seperti ini," sambungnya.
Helia semakin gelagapan, sangat takut jika Keenan benar-benar ragu dengan identitasnya. Habis sudah mimpi-mimpinya andai Keenan berhasil mengungkap kebenaran, dan sadar bahwa Zetta-lah sahabat pena yang sesungguhnya.
"Aku minta maaf, tadi memang aku yang salah. Aku tidak bisa berpikir jernih dan dengan bodohnya mencelakai Zetta," ujarnya dengan kepala yang terus menunduk.
"Kamu keterlaluan, Helia. Kamu ...," ucap Keenan, terpotong karena Helia menyahutnya dengan cepat.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku bersikap seperti ini karena takut Zetta akan merebut kamu dariku. Kalian pernah menikah dan hidup bersama, pasti banyak kenangan yang berkesan, apalagi Zetta sangat mencintai kamu. Aku takut, Keenan." Helia bicara sambil menangis, membuat Keenan tidak tega dan langsung memeluknya.
Helia tersenyum seketika. Tidak sia-sia dia berusaha mengeluarkan air mata, karena akhirnya Keenan iba dan mulai luluh padanya.
"Aku tidak sanggup kehilangan kamu, Keenan. Aku sangat mencintaimu," ujar Helia.
Keenan menarik nafas panjang, "Apa yang kamu takutkan? Aku dan Zetta sudah bercerai, sekarang hanya kamu yang menjadi kekasihku."
"Tapi, Zetta mencintaimu," jawab Helia, masih terus mencari alasan untuk membenarkan sikapnya.
__ADS_1
"Itu kan dia, bukan aku. Kamu tahu sendiri yang aku cintai itu kamu. Tidak ada kenangan yang berkesan, dulu aku juga terpaksa menikah dengannya. Tidak perlu kujelaskan lagi, kamu juga sudah tahu seperti apa jalan pernikahanku dengannya."
"Maaf," bisik Helia. Sudah tidak ada kalimat lain yang bisa ia katakan. Jadi, sekadar kata maaf yang ia lontarkan untuk menjawab ucapan Keenan yang panjang lebar.
"Untuk kali ini aku maafkan, tapi jangan sampai kamu mengulanginya lagi. Meskipun aku tidak mencintai Zetta, tapi aku juga tidak mau dia celaka, terlebih lagi karena kamu," Keenan mengurai pelukan dan menatap Helia lekat-lekat.
Lekung senyum terulas sempurna di bibir Helia, sangat bahagia karena Keenan mau memaafkannya. Ia merasa dicintai dan kembali mendapatkan hati Keenan secara utuh. Ya, memang harusnya seperti itu. Keenan mencintainya dan akan memaklumi setiap tindakannya.
"Jika kamu melakukan hal seperti ini, itu sama saja dengan meragukan perasaanku untukmu, Helia" ujar Keenan setelah cukup lama saling diam.
"Iya, aku memang salah. Aku janji ini yang pertama dan terakhir. Aku selalu percaya dengan ketulusan dan kesetiaanmu. Tadi aku hanya khilaf karena perasaanku padamu terlalu besar, jadi rasa takut kehilangan juga sangat besar."
"Baiklah, aku paham. Sudah, jangan menangis lagi, yang penting sekarang kamu mengerti kalau itu salah."
Dengan lembut Keenan menenangkan Helia, mengusap sisa-sisa air mata di wajahnya, juga menggenggam hangat jemarinya. Tentu saja Helia semakin bahagia mendapat perlakuan yang semanis itu, atau mungkin lebih tepatnya semakin merasa besar kepala.
Sementara di lain tempat, Zetta sudah terbaring di rumah sakit dan ditangani oleh dokter. Theo sempat khawatir akan kondisi Zetta. Namun ternyata, dia baik-baik saja. Dokter hanya mengatakan bahwa Zetta hanya mengalami gegar otak ringan.
Setelah pingsan semalaman, pagi ini Zetta mulai siuman. Dia membuka mata dan menyadari jika dirinya berada di rumah sakit.
"Theo, kenapa aku ada di sini?" tanya Zetta kepada Theo. Lelaki itu dengan setia menjaga sahabatnya sampai rela tidak pulang.
"Kamu terjatuh di pemandian. Kepalamu terluka dan mengeluarkan banyak darah, aku sampai ketakutan saat pertama kali melihat keadaanmu," jawab Theo. Dia merasa sedikit lega karena Zetta sudah sadar meskipun keadaannya masih lemah.
"Terjatuh?" gumam Zetta. Kemudian, dia mengingat kejadian terakhir di pemandian. Dia terjatuh dan setelah itu semuanya menjadi gelap.
"Zetta," panggil Theo.
"Theo, kenapa aku bisa jatuh, ya?" tanya Zetta dengan raut wajah penuh tanda tanya.
__ADS_1