
Zetta tersenyum senang saat melihat Razta diam dan hanya memasang wajah kesal, bahkan Helia pun tak bisa membelanya. Regina memang patut diacungi jempol.
"Jangan senang dulu! Kita masih bermain dan kamu pasti akan kalah!" seru Helia dengan nada tinggi. Dia tidak suka melihat senyuman Zetta yang seakan-akan sengaja menertawakan masalah rumah tangga Razta.
"Kamu pasti bisa, Zetta." Regina menepuk pelan bahu Zetta, lalu duduk di tempatnya.
Ketika Zetta dan Helia kembali melanjutkan permainan, tiba-tiba ada seseorang yang memasuki room. Ternyata dia adalah Keenan. Dia datang ke sana karena sebelumnya dikirimi foto oleh Rayden. Temannya itu menyelinap ke sana dan mengambil foto Zetta yang sedang bertanding permainan kartu bersama Helia.
Dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana, Keenan melangkah dan mendekati meja tempat Helia bermain. Meski wajahnya tetap tampan dan penampilan elegan seperti biasa, tetapi tidak ada senyum yang menghiasi bibirnya, malah wajahnya terkesan dingin.
"Keenan!" Helia menyambut kedatangan Keenan dengan senyuman lebar. Dia pun langsung menggamit mesra tangan Keenan ketika menghampirinya. Helia sengaja melakukan itu untuk membuat Zetta cemburu.
"Kamu sedang tidak sehat, kenapa malah bermain kartu di sini, bukan beristirahat?" Keenan duduk di sebelah Helia sambil menatap lembut.
"Sudah mendingan, kok. Aku suntuk di rumah terus, jadi jalan-jalan bentar sama mereka, dan kebetulan pas ke sini ketemu Zetta. Dengar-dengar dia pandai bermain kartu, jadi aku ajak main," jawab Helia.
"Sungguh kondisimu sudah lebih baik? Aku tidak tega melihat kamu batuk-batuk terus seperti kemarin." Keenan terlihat begitu perhatian pada Helia.
"Iya, sungguh. Kamu tidak perlu khawatir lagi," ujar Helia sambil menolah sekilas ke arah Zetta dengan bangga. Puas rasanya saat Keenan menunjukkan cinta dan perhatiannya di hadapan mantan istri Keenan itu. Zetta memang harus tahu bahwa dirinya tidak punya tempat di hati Keenan.
"Baiklah.Tapi, pakai ini ya biar tidak dingin." Keenan melepas jas miliknya dan memakaikannya ke tubuh Helia.
Di hadapan mereka, Zetta memutar bola mata dengan jengah. Melihat Keenan muncul saja dia sudah kesal, apa lagi kini melihatnya mengumbar kemesraan bersama Helia, sangat kekanak-kanakan. Zetta benar-benar muak dan tak ada lagi keinginan untuk bertarung dengan Helia.
'Kalah juga tidak ada ruginya. Hanya menghapus tato, tanpa kalah main pun suatu saat juga akan kuhapus,' batin Helia sambil melempar asal kartu yang ada di tangannya.
Sussana hati sudah buruk, jadi Zetta pun sengaja mengalah dan membiarkan Helia menang.
"Kamu kalah!" seru Helia setelah permainan berakhir dan Zetta kalah darinya.
__ADS_1
"Iya, kamu yang menang." Zetta mengakui kekalahannya dengan santai. Tak peduli meski Helia tersenyum remeh atau menatap angkuh, Zetta hanya menanggapinya dengan tenang.
"Karena kamu sudah kalah, maka tidak boleh ingkar dengan kesepakatan kita sebelumnya. Kamu harus mebersihkan tato yang ada di pinggangmu," kata Helia sambil melipat tangan di dada.
"Tidak masalah," jawab Zetta sama sekali tak keberatan.
Helia tersenyum puas karena berhasil memaksa Zetta menghapus tatonya. Setelah ini, Zetta tidak punya kenangan apa-apa lagi tentang Keenan. Tanpa membuang-buang waktu, Helia memanggil pelayan dan menyuruhnya mencari tukang tato.
'Tato apa yang ada di tubuhnya, kenapa Helia sampai menggunakan itu sebagai bahan taruhan?' Keenan bergumam dalam hati sambil sesekali mencuri pandang ke arah Zetta.
Berbeda dengan Zetta yang masih tenang, Keenan mulai bingung dan penasaran. Enam tahun menikah, dia tidak tahu jika mantan istrinya itu punya tato.
Tak lama kemudian, pelayan datang bersama tukang tato. Jantung Keenan makin berdetak cepat saat Zetta mulai menyingkap bajunya dan menunjukkan tato yang ada di pinggangnya.
"Keenan, sebelumnya maaf ya. Aku tidak ada maksud buruk sama Zetta, tapi aku benar-benar mencintai kamu. Aku cemburu jika ada wanita lain yang mengabadikan nama kamu di tubuhnya, walaupun itu mantan istri kamu," ucap Helia dengan lemah lembut.
"Iya. Dia menato tubuhnya dengan namamu, Keenan."
Helia tertawa dalam hatinya. Dia yakin setelah ini Keenan akan semakin tak suka pada Zetta dan tidak mau lagi dekat-dekat dengannya.
Namun di luar bayangan, Keenan malah merasa cemas dan aneh. Apa lagi saat melihat sendiri tato milik Zetta yang siap dibersihkan, benar-benar namanya yang digambar di sana. Keenan langsung teringat dengan orang yang sering menulis surat dengannya. Orang itu mengatakan bahwa dirinya juga mentatokan nama orang yang dia suka pada tubuhnya.
"Apakah ini hanya kebetulan?" batin Keenan.
Kemudian, dia menatap Helia dan mengungkit masalah tato itu dengannya.
"Helia, dulu waktu kita sering menulis surat, kamu juga bilang bahwa dirimu mentatokan nama orang yang kamu suka. Itu namaku, bukan?" tanya Keenan.
Helia agak melebarkan matanya dan tampak terkesiap. Dia tak menyangka jika tato itu bahkan disebutkan pula di dalam surat yang dikira Keenan dikirim oleh dirinya.
__ADS_1
"Aku, aku lupa. Kejadian itu sudah lama sekali. Yang kuingat hanyalah perasaanku yang begitu besar padamu dan rasa bahagia saat menulis surat untukmu." Helia sangat gugup saat memberikan alasan.
"Lupa?" Keenan kurang percaya dengan jawaban Zetta.
"Iya. Setelah mengalami kecelakaan kemarin, banyak hal yang tidak aku ingat. Mungkin, itu efek benturan di kepala. Lagipula, meskipun aku membuat tato, sepertinya orangtuaku sudah menghapusnya saat aku koma, tepatnya saat kamu menikah dengan Zetta," ujar Helia berusaha meyakinkan Keenan.
Namun, Keenan hanya menunduk dan tak memberikan tanggapan apa pun. Dia merasa ada yang janggal dari pengakuan Helia.
"Kamu tidak percaya padaku? Sebenarnya, aku juga tidak mau mengalami hal ini. Tapi yang namanya musibah, siapa yang bisa menghindar?" sesal Helia.
Keenan mendongak saat mendengar Helia bicara dengan suara pelan. Lalu, dia mengulas senyum lebar dan mengusap pipi Helia dengan lembut.
"Aku percaya padamu. Maaf sudah menanyakan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman," ujarnya.
Melihat mata Helia yang memerah dan berkaca-kaca, Keenan tidak tega untuk bertanya lebih lanjut. Dia justru menyalahkan diri sendiri karena sudah meragukan Helia. Sementara wanita itu, sangat senang karena Keenan kembali percaya dengannya.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya tato di pinggang Zetta tinggal sedikit lagi. Zetta merasa bosan, terlebih karena dirinya mesti menyaksikan drama murahan antara Keenan dan Helia. Dia ingin sekali menyela dan membongkar kebohobgan Helia, tapi melihat sikap Keenan yang mau dibodohi dengan mudahnya seperti itu, sudah pasti dia tidak akan percaya dengan ucapan Zetta. Yang ada, malah Zetta akan dituduh menjelek-jelekkan Helia. Zetta pun memutuskan untuk tak mengatakan apapun. Biar saja Keenan tertipu dan terjebak bersama perempuan licik itu seumur hidupnya, karena sepertinya mereka cukup serasi. Lelaki bodoh dan perempuan licik.
Tiba-tiba saja seorang pelayan datang dan memberikan kantong kecil untuknya. Ternyata itu adalah pemberian Alex yang saat ini masih berada di luar negeri.
"Terima kasih," ucap Zetta sebelum pelayan pergi.
Ketika Zetta menerima barang itu, semua mata yang ada di sana tertuju padanya, termasuk Keenan dan Helia yang tadi saling bermesraan. Karena merasa diperhatikan, Zetta langsung membuka kantong tersebut, ternyata isinya adalah cincin yang cantik, hasil rancangan desainer terkenal yang hanya ada satu di dunia.
Helia dan kedua temannya langsung memandangi cincin Zetta dengan mata yang panas. Mereka tidak rela jika Zetta memiliki barang yang istimewa. Apa lagi yang hanya ada satu di dunia yang mereka saja tidak bisa memilikinya.
'Ini tidak adil! Perempuan rendah seperti Zetta, mana pantas memiliki cincin itu!' umpat Helia dalam hatinya.
__ADS_1