
"Minggir! Kamu tidak pantas menolong Zetta!" bentak Theo yang saat ini sudah berdiri di samping Zetta dan merangkul tubuhnya.
Keenan meradang saat mendengar bentakan itu, terlebih lagi pemandangan yang disuguhkan juga membuatnya sakit mata.
"Apa maksudmu mengatakan aku tidak pantas? Jangan mentang-mentang kamu dekat dengannya lalu bisa bertindak sesuka hati. Ingat ya, dia itu mantan istriku. Kami pernah punya hubungan yang sangat-sangat dekat, paham!" Suara Keenan naik satu oktaf. Ia tersinggung dengan ucapan Theo barusan.
Mata Theo memicing saat melihat ekspresi Keenan yang diselimuti emosi. Sungguh pria yang egois. Setelah dulu mengabaikannya, sekarang mendekat kembali dan pura-pura peduli. Sangat memuakkan.
"Sebelum kamu marah dan menegaskan bahwa hubungan kalian sebatas mantan, coba perhatikan dulu tindakan kekasih idamanmu itu. Apa yang terjadi dengan Zetta kali ini, dialah yang lebih tahu." Theo bicara sambil menunjuk Helia, yang saat itu sedang berdiri di samping Keenan.
"Kamu jangan menuduh sembarangan! Aku hanya berseluncur, tidak ada hubungannya dengan dia. Kalau tadi dia jatuh, mungkin memang kemampuannya saja yang payah," jawab Helia sambil melipat tangan di dada. Matanya pun memandang remeh ke arah Zetta.
"Aku tidak buta! Aku tahu kamu sengaja menabrak Zetta! Meski aku tidak punya bukti rekaman, tapi orang-orang di sini juga banyak yang tahu. Aku bisa membawa mereka sebagai saksi kalau kamu terus berkilah!" seru Theo, kesabarannya hampir habis saat berhadapan dengan Helia, wanita paling licik yang pernah ia kenal.
Helia gelagapan, sama sekali tidak disangka jika Theo bisa melihat semuanya. Dengan gugup Helia menatap Keenan, dan kekasihnya itu sedang melihat ke arahnya seolah-olah meminta penjelasan. Mau tidak mau Helia mengulas senyum canggung untuk mencairkan suasana.
"Aku tadi berselancar terlalu cepat, jadi ... tidak sadar jika menyerempet Zetta. Maaf ya, aku tidak sengaja membuatmu jatuh," ujarnya sambil menatap Zetta. Dia terpaksa berpura-pura demi menenangkan hati Keenan.
Zetta memutar bola mata dengan jengah. Sungguh pintar bersandiwara, pikirnya. Namun karena sudah bosan berurusan dengan Helia, Zetta tak lagi memperpanjang perkara itu. Dia langsung memaafkan Helia dan mengatakan bahwa itu bukan masalah.
"Ayo pergi!" Setelah selesai berbicara dengan Helia, Zetta menggandeng tangan Theo dan mengajaknya pergi dari sana. Namun, lelaki itu menolak dan tetap berdiri di tempatnya.
Melihat sikap Theo yang tidak mau pergi, Zetta lekas membisikkan sesuatu di telinganya.
"Barusan Direktur kirim pesan ke aku. Dia tidak ada di sini sekarang, tapi sedang di hotel. Aku dengar Rayden juga sedang ada urusan di hotel tersebut. Aku tidak mau dia sampai bertemu dengan Direktur. Theo, Rayden dan Keenan itu teman baik. Jangan sampai mereka menyabotase akuisisi yang sudah kita rencanakan. Kita harus bergerak cepat."
Mendengar itu, Theo langsung tersadar dan menyetujui ajakan Zetta. Kemudian, mereka pun pergi dan meninggalkan arena skating tanpa menghiraukan Helia dan Keenan lagi.
Tak lama setelah pergi dari tempat itu, Zetta tiba di hotel dan menemui direktur perusahaan yang akan diakuisisi. Keduanya berbicara mengenai masalah akuisisi, dan sayangnya berakhir dengan penolakan. Zetta kesal dan kecewa, tetapi tak bisa berbuat banyak. Bahkan, dia hanya bisa diam saat direktur itu menyudahi perbincangan dan meninggalkannya.
"Sulit sekali menghadapi orang ini," ucap Zetta dalam hatinya. Ia terdiam beberapa saat sambil memijit kepala yang tiba-tiba pening.
__ADS_1
Setelah agak lama berpikir keras, Zetta kembali teringat dengan lelaki yang melakukan one night stand dengannya. Kemudian, satu petunjuk mulai muncul di otaknya.
"Sepertinya orang itu kenal baik dengan Direktur. Mungkin aku bisa mendapatkan bantuan dengan menghubunginya," gumam Zetta pada dirinya sendiri.
Zetta kemudian memberanikan diri untuk mengirim pesan pada lelaki yang tak lain adalah Keenan itu.
'Halo, Tuan. Apakah Anda sedang sibuk? Bisakah kita bicara serius?'
Tanpa diduga, pesan tersebut langsung dibalas.
'Kebetulan tidak. Kenapa?'
'Sepertinya Anda memgenal secara pesonal sosok direktur yang akan mengakuisisi perusahaannya dengan saya. Benar?'
Pesan kembali mendapatkan balasan.
'Ya? Kenapa?'
'Kalau begitu, saya ingin meminta bantuan pada Anda menyangkut dengan Direktur.'
'Apa yang bisa saya bantu?'
Zetta tersenyum tipis. Dia pikir lelaki itu tak akan mau membantunya, tapi rupanya dia bersedia.
Zetta kembali menuliskan pesan untuk lelaki itu, dan kali ini pesannya cukup panjang. Dia menjabarkan secara detail bagaimana negosiasinya dengan direktur tadi. Negosiasi yang berjalan alot dan berakhir dengan penolakan.
Tak lama setelah pesan itu dikirim, Zetta kembali mendapatkan balasan yang berisi analisis serta solusi apa yang mesti Zetta lakukan.
Untuk kedua kalinya, senyum Zetta mengembang. Sekarang dia tahu harus melakukan apa pada direktur agar akuisisi perusahaan disetujui.
'Terima kasih, Tuan. Saya jadi tahu apa yang mesti saya lakukan. Ngomong-ngomong, boleh saya tahu nama Anda?' Zetta kembali mengirim pesan.
__ADS_1
'Sama-sama. Anda bisa memanggil saya Duck.'
Zetta sedikit menautkan alisnya. Duck artinya bebek. Sepertinya lelaki itu tak mau identitas aslinya diketahui oleh Zetta.
"Baiklah, tidak apa-apa. Aku cukup tahu namanya Duck," gumam Zetta sembari menyimpan ponselnya.
Setelah beberapa saat, Zetta pun kemudian kembali mengajak Theo untuk menemui direktur.
Awalnya, direktur agak keberatan dan enggan menemui Zetta. Namun karena terus dibujuk, akhirnya dia mengiyakan permintaan Zetta dan memberinya satu kesempatan lagi. Keduanya pun sepakat melakukan pertemuan pada jam makan malam di sebuah restoran.
***
Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 malam, Zetta dan Theo tiba di restoran yang sudah dijanjikan bersama direktur. Dalam pertemuannya kali ini, Zetta dan Theo mempersiapkan segala sesuatunya dengan lebih matang. Harapannya, akuisisi yang diajukan berjalan lancar dan keputusan final sesuai keinginan.
Beberapa menit setelah Zetta tiba di sana, direktur yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang juga. Ketiganya saling melempar senyum dan berbasa-basi sejenak. Kemudian, Zetta mulai bernegosiasi sesuai dengan arahan Duck tadi siang.
Selama Zetta berbicara, direktur mengangguk-angguk dan mendengarkannya dengan saksama.
"Luar biasa sekali, Nona Zetta," ucapnya ketika Zetta sudah selesai.
Zetta tersenyum tipis, "Terima kasih. Jadi, bagaimana keputusan Anda, Tuan?"
Direktur tidak langsung menjawab. Dia lebih dulu menarik nafas panjang, setelah itu menyandarkan punggung sambil menyilangkan satu kaki. Tatapannya lekat dan sejak tadi tidak teralih dari Zetta.
"Gaya negosiasi Anda sangat mirip dengan seseorang," ucap direktur itu. Ia memberikan tanggapan yang agak menyimpang dari pertanyaan yang diajukan Zetta.
Zetta dan Theo saling pandang, kemudian sama-sama mengernyitkan kening karena merasa bingung dengan ucapan direktur.
"Benarkah? Kalau boleh tahu, siapa orang itu?" tanya Zetta penasaran.
"Keenan Pieters."
__ADS_1
Jawaban dari direktur membuat Zetta terdiam dan berpikir keras. Tanpa dipinta, ingatannya kembali pada lelaki yang menamai dirinya sendiri Duck.
"Mungkinkah dia adalah Keenan?" batin Zetta dengan ekspresi yang sedikit mengeras.