
"Zetta."Keenan dan Theo membatin dengan perasaan yang sama-sama cemas. Keduanya melihat rekaman CCTV yang menampilkan sosok Zetta. Wanita itu masuk ke ruang pemandian dan tidak keluar dalam waktu yang cukup lama. Walaupun awal masuk terlihat baik-baik saja, tetapi entah apa yang terjadi di dalam sana. Bisa saja Zetta mengalami sesuatu yang buruk.
"Aku harus melihatnya sekarang juga. Jangan sampai terjadi sesuatu padanya, atau aku akan merasa bersalah selamanya." Theo bermonolog dalam hati.
Rasa khawatirnya semakin besar setelah melihat rekaman CCTV itu. Tak terbayang olehnya jika Zetta benar-benar celaka, pasti dia merasa sangat menyesal, karena tadi dialah yang mengusulkan datang ke pemandian.
Tanpa membuang waktu lagi, Theo melangkah pergi menuju ruang pemandian. Tak ada ajakan atau ucapan lain yang ia katakan kepada Keenan dan Helia, tetapi kedua orang itu turut serta mengikutinya.
Keenan juga sangat khawatir saat itu. Dia ingin melihat Zetta dan memastikan bahwa mantan istrinya baik-baik saja. Helia pun tidak membantah ketika Keenan mengajaknya ke sana. Untuk kali ini, dia tidak merasa cemburu dengan Zetta. Karena apa Zetta alami saat ini sudah membuat hatinya puas.
Setelah berlari selama beberapa saat, mereka bertiga hampir tiba di tempat tujuan. Theo mempercepat larinya menuju ruang pemandian di mana Zetta berada. Namun sebelum sampai di sana, ia terlebih dahulu berpapasan dengan seorang wanita yang bekerja sebagai tukang bersih-bersih. Wanita itu lari tergopoh-gopoh sambil meminta tolong. Wajahnya terlihat panik dan tegang.
"Apa yang terjadi, Bu? Kenapa Anda sampai berlari?" tanya Theo.
"Tolong, Tuan. Di sana ada wanita yang meninggal. Tubuhnya sudah dingin dan pucat." Wanita itu bicara sambil menunjuk ke ruang pemandian.
Theo dan Keenan tersentak seketika. Keduanya kini punya pemikiran yang sama, yaitu Zetta. Jangan-jangan dialah yang dimaksud oleh wanita itu.
"Bawa kami ke sana!" seru Theo dengan suara yang tertahan di tenggorokan. Keringat dinginnya pun mulai bercucuran, membasahi wajah dan tubuh yang gemetaran.
"Mari, Tuan!"
Theo dan Keenan tidak bicara lagi, cepat-cepat mengikuti langkah wanita itu. Helia juga masih ikut di belakang, tetapi langkahnya pelan dan tak terlihat panik sedikit pun.
Tak lama kemudian, mereka tiba di depan ruang pemandian. Dugaan Keenan dan Theo tidak meleset, memang Zetta yang dimaksud oleh tukang bersih-bersih itu. Dia tergelatak di lantai dengan darah segar yang menggenang di bawah kepala. Theo terkejut dan langsung berlari ke tempat Zetta.
__ADS_1
"Zetta! Zetta!" teriaknya sambil mengguncang lengan Zetta. Namun, tidak ada respon dari sahabatnya. Dia tetap diam dengan mata yang menutup rapat.
Di belakang Theo, Keenan terpaku dengan nafas yang memburu. Jantungnya berdetak kencang, seakan-akan meloncat dari tempatnya. Wajah pucat Zetta, serta tubuhnya yang tak berdaya, membuat Keenan merasa ketakutan. Dia tak percaya jika tubuh wanita yang tergeletak tak berdaya itu adalah Zetta.
"Tidak, Zetta. Apa yang terjadi?" gumam Keenan panik.
"Zetta, bertahanlah, Zetta!" Theo berusaha meyakinkan diri bahwa Zetta belum meninggal. Dan benar saja, masih ada denyut nadi di pergelangan tangannya.
Ucapan Theo yang sarat akan ketegangan itu kembali menyita perhatian Keenan. Sekarang dia tahu bahwa Zetta masih hidup, dan hal itu membuat hatinya agak lega. Setidaknya masih ada harapan Zetta bisa diselamatkan.
"Cepat hubungi ambulans. Dia harus segera diberi pertolongan," ujar Keenan sambil berjongkok dan meraih pergelangan tangan Zetta. Dia seakan ingin memastikan sendiri jika Zetta masih hidup.
Nafas lega Keenan embuskan saat dia merasakan denyut nadi perempuan itu. Dadanya yang sebelumnya bergemuruh tak menentu, kini perlahan sedikit mereda. Rasa bersalah, takut dan entah apalagi namanya, semua itu kini memenuhi hati Keenan. Wajah pucat Zetta yang kini dilihatnya membuat nafasnya terasa begitu sempit dan berat.
Theo bangkit dan memgeluarkan ponselnya. Dengan nada panik, Theo menghubungi ambulans dan memintanya untuk segera datang ke tempat pemandian itu.
"Ambulans sedang dalam perjalanan," ujar Theo sembari kembali berjongkok. Dia membawa tubuh Zetta ke pangkuannya dan sebisa mungkin menahan darah Zetta agar tak semakin banyak keluar.
Suasana hening sesaat. Mata Theo beralih ke arah Helia, sehingga Helia pun langsung pura-pura memasang wajah panik dan khawatir.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" gumam Helia seolah ketakutan.
Theo memicingkan matanya ke arah perempuan itu.
"Awas saja kalau semua ini ada hubungannya denganku, Helia." Theo memperingatkan.
__ADS_1
"Aku tidak ada hubungannya dengan ini," sanggah Helia.
"Sudah, jangan berdebat. Lebih baik kita fokus dulu pada Zetta." Keenan menengahi. Dalam hati dia juga sebenarnya mencurigai Helia, tapi ditepisnya kecurigaan itu.
"Kekasihmu itu patut dicurigai, Tuan Keenan. Dia selalu berusaha untuk mencelakai Zetta di setiap kesempatan." Theo bersikeras.
"Tidak. Kapan aku begitu?" Helia tak terima.
"Kita cari tahu semuanya nanti. Sekarang lebih baik pikirkan bagaimana caranya agak Zetta bisa cepat dibawa ke rumah sakit." Keenan menyela.
"Aku sudah bilang, ambulans sedang dalam perjalanan. Jangan berbicara seolah Anda palung peduli dan paling takut Zetta celaka. Mestinya Anda lebih memperhatikan kekasih Anda itu agar tak terus mencelakai Zetta," sahut Theo ketus.
Helia hendak membalas perkataan pedas Theo, tapi Keenan langsung mengisyaratkan wanita itu untuk diam. Tentu Helia agak membeliakkan matanya tak suka. Dia tak menyangka kalau Keenan tak mrmbelanya sedikit pun.
Tak lama kemudian, ambulans pun datang. Theo segera mengangkat tubuh Zetta dan membawanya masuk ke dalam ambulans, dibantu oleh Keenan. Namun, jika Theo ikut mengantar Zetta ke rumah sakit, Keenan justru kembali ke tempat Zetta terjatuh.
Keenan menatap ke seluruh tempat itu dengan perasaan yang masih tak menentu, sehingga dia mesti menghela nafasnya beberapa kali.
Setelah hatinya agak tenang, Keenan memindai tempat sekeliling. Ada bekas darah Zetta yang tertinggal di sana. Keenan mendekat. Dilihatnya ada cairan lain yang berceceran di tempat itu. Keenan mengamatinya sejenak dan mencium aromanya. Tak salah lagi, itu sabun cair.
"Kenapa?" tanya Helia ketika melihat Keenan bergeming di tempatnya.
"Tidak apa-apa." Keenan menggelengkan kepala.
Dalam hati Keenan pun mengambil kesimpulan jika Zetta terpeleset karena sabun cair tersebut. Pertanyaannya, apakah sabun cair tersebut sengaja dituangkan seseorang? Jika iya, siapa kira-kira yang melakukannya?
__ADS_1
Keenan bangkit dan melihat ke arah Helia. Tiba-tiba kecurigaannya pun semakin menguat. Mungkinkah orang yang melakukan hal itu benar Helia?