My Beloved Ex-wife

My Beloved Ex-wife
Bab 47


__ADS_3

Zetta sedikit melongo. Dia tak setengah tak percaya meilhat sosok yang menjadi sopirnya saat ini. Rayden, sosok yang pernah membantunya mendapatkan sebuah proyek penting beberapa waktu yang lalu.


Dalam diamnya, Zetta mengamati Rayden sekilas. Penampilan lelaki itu tetap formal dan elegan, sama seperti terakhir kali mereka bertemu.


"Sepertinya perusahaanmu tidak bangkrut, lalu kenapa kamu melamar menjadi sopir?" tanya Zetta akhirnya.


Rayden hanya tersenyum dengan agak meringis.


"Aku tidak menyangka jika kenalan yang dimaksud Regina itu kamu. Kupikir ... benar-benar orang yang butuh pekerjaan. Tapi, aktingmu bagus sekali. Sayang sekali kamu tidak menjadi seorang aktor. Bahkan Regina saja sampai sangat percaya pada tipuanmu," ujar Zetta. Meskipun canggung dan agak tak nyaman, tetapi dia juga penasaran dengan alasan di balik tindakan Rayden kali ini.


Rayden tersenyum tipis. Bukan merasa lucu dengan ucapan Zetta yang mengandung sindiran, melainkan merasa lucu dengan tingkahnya sendiri. Pekerjaan di kantor menumpuk, tetapi dia malah menerima tawaran Regina yang tidak penting. Padahal, dia juga bisa menolak dan menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Namun, dia malah menyetujuinya tanpa banyak bertanya.


Karena Rayden diam cukup lama, Zetta memberanikan diri untuk menatapnya.


"Kenapa? Kamu tersinggung dengan ucapanku?" tanya Zetta.


Rayden tampak mendesah.


"Sebenarnya ini hanya kesalahpahaman. Waktu itu kami bertemu di saat yang tidak pas. Aku sedang mengantar minuman untuk teman-teman dan dia salah menilaiku sebagai pelayan. Lalu kami saling tukar kontak, dan katanya dia mau mencarikan pekerjaan untukku. Aku tidak mempermasalahkan hal itu karena kupikir tidak serius, tapi ternyata ...," terang Rayden sambil tetap tersenyum.


"Begitu? Tapi kenapa tidak kamu jelaskan dari awal?" tanya Zetta dengan tatapan menyelidik.


"Terlalu rumit. Waktu itu aku buru-buru, jadi kubiarkan saja dia dengan pemikirannya. Tadi juga tidak enak mau menolak. Dia sudah mau repot, demi menghargai usahanya ya aku terima saja tawaran ini."


Jawaban Rayden membuat Zetta menggerutu dalam hati. Dia tak habis pikir dengan cara berpikir Rayden. Ia tak mau menjelaskan dengan alasan menghargai, tetapi dengan cara membohongi. Apa dia tidak sadar betapa mengecewakannya sebuah kebohongan? Zetta sangat benci dengan orang yang suka berbohong, karena itu mengingatkannya pada Helia.


"Tapi, kamu juga tidak bisa seperti ini terus." Akhirnya Zetta kembali bicara.

__ADS_1


"Aku tahu."


Zetta terdiam, bingung harus mengatakan apa lagi. Bahkan, sampai Rayden mulai melajukan mobilnya pun Zetta masih tetap bergeming.


"Kita mau ke mana?" tanya Rayden.


Dengan agak enggan Zetta menyebutkan alamat sekolah Roan. Lelaki itu pun mengiyakan meski dalam hati bertanya-tanya. Untuk apa Zetta datang ke sekolah tersebut?


Sepanjang perjalanan, Zetta dan Rayden tak banyak berbincang. Rayden fokus dengan kemudi dan menepis rasa penasarannya, sedangkan Zetta lebih sering menatap ke luar untuk mengusir kecanggungan.


Sekitar empat puluh menit kemudian, mereka tiba di sekolah Roan. Rayden turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Zetta.


"Kamu tidak perlu melakukan ini, aku bisa sendiri," ucap Zetta ketika turun dari mobil.


"Tidak apa-apa," jawab Rayden sambil tersenyum.


"Kalau begitu terima kasih."


Pada saat yang sama, Jordan tampak sibuk di ruang kerjanya. Dia tahu bahwa Zetta akan mengakuisisi sebuah perusahaan, dan dia sudah menyusun rencana untuk mengacaukannya. Jordan sudah tidak sabar untuk menyingkirkan perusahaan peninggalan ayah Zetta, lalu menjadikannya penghormatan kepada putrinya yang telah meninggal.


"Jangan pikir kau bisa hidup tenang dan mempertahankan aset yang ditinggalkan ayahmu, Zetta. Heh, itu hanya mimpimu saja! Sebentar lagi kau akan hancur dan tak bisa bangkit lagi. Dengan begitu perbuatan ayahmu bisa terbayar impas," kata Jordan sambil menyeringai. Dendamnya masih membara dan tidak akan padam sebelum Zetta menderita atau meninggal seperti putrinya.


Saat Jordan masih sibuk memikirkan kehancuran Zetta, tiba-tiba komputer di hadapannya menunjukkan layar hitam. Jordan mengernyit heran, tidak biasanya komputernya eror.


Belum sempat Jordan beranjak, tiba-tiba layar komputer kembali menyala. Namun, bukan lagi deretan angka yang ditampilkan, melainkan sosok pria bertopeng yang sangat asing baginya.


"Jordan!"

__ADS_1


Jordan terkejut saat pria itu menyebut namanya. Dengan suara yang berat dan tegas, Jordan mulai waswas dibuatnya. Dia sadar jika komputernya bukan eror, melainkan diretas seseorang. Sangat tidak disangka karena selama ini sudah memasang sistem keamanan yang cukup tangguh.


"Dengar baik-baik ucapanku ini! Berhenti mencari masalah dengan Zetta, karena jika tidak, hidupmu akan berakhir saat itu juga."


Jordan membelalak. Sungguh sulit dipercaya jika orang yang meretas komputernya ada di pihak Zetta. Memangnya siapa wanita itu? Mengapa ada yang melindunginya?


"Selama ini kamu sudah melakukan banyak hal terhadap Zetta, dan sudah saatnya aku menghentikanmu. Sebagai ganti kata maaf yang tidak pernah kau ucap, aku mengambil tiga miliar dari perusahaanmu ini."


Jordan makin tertegun. Mulutnya seakan terkunci, lalu tanpa sadar dia menjadi tegang. Tiga miliar bukan jumlah yang sedikit, dan semudah itu diambil oleh pihak asing. Tidak! Seharusnya ini tidak boleh terjadi!


Ingin rasanya Jordan melakukan sesuatu untuk melawan pria itu. Namun, tubuhnya hanya bergeming seperti patung di depan layar.


"Jangan berpikir aku menindasmu, Jordan. Kamu sendiri paham ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan apa yang telah kamu lakukan. Dan ... aku pun tidak hanya mengambil uangmu, tapi juga memberimu hadiah. Sekarang sudah kupersiapkan dan sebentar lagi akan tiba di tempatmu. Semoga kamu menyukai hadiah istimewa dariku, Jordan." Pria itu tertawa usai menyelesaikan ucapannya.


Sesaat kemudian, layar komputer kembali mati. Video pria bertopeng itu hilang dan tak meninggalkan jejak apa pun. Berulang kali Jordan berusaha melacak, tetapi gagal. Bahkan, saldo miliknya pun hanya terlihat berkurang tanpa ada keterangan ke mana perginya. Pria bertopeng tadi benar-benar ahli dalam meretas.


"Siapa dia? Kenapa melindungi Zetta?" Jordan menggeram dengan embusan nafas yang memburu.


Selama ini, dia tak pernah berpikir bahwa ada orang hebat yang berdiri di belakang Zetta. Setahunya, Zetta hanyalah wanita lemah yang pasti mudah disisihkan. Namun, ternyata dia salah. Zetta tidak seremeh yang ia pikirkan.


"Aku harus bagaimana sekarang? Tidak mungkin aku membiarkannya berhasil mengakuisisi perusahaan!" Jordan berseru pada dirinya sendiri. Tapi kemudian, dia agak termangu dengan ekspresi yang buruk.


"Tapi ... tidak mungkin juga aku mengabaikan ancaman barusan. Dia sudah mengambil uangku, bagaimana kalau nanti benar-benar membunuhku? Dan apa katanya tadi, hadiah? Apa kira-kira yang dia maksud?"


Jantung Jordan makin berpacu cepat. Mengingat ancamannya yang tidak main-main, Jordan yakin hadiah yang dimaksud bukan sesuatu yang baik. Tanpa sadar, tubuh Jordan lemas dan nyaris tak bertenaga. Dia bersandar di kursi kerja dengan pikiran yang kacau.


"Apa pun masalah yang akan terjadi, semoga masih bisa kuatasi," batin Jordan. Hilang sudah sikap angkuhnya, yang tertinggal hanyalah rasa takut akan kemungkinan-kemungkinan terburuk.

__ADS_1


***


Guys, yg mau gabung di GC emak, dipersilakan🄳


__ADS_2