My Beloved Ex-wife

My Beloved Ex-wife
Bab 61


__ADS_3

Helia mengepalkan tangan, marah dan kecewa dengan permintaan Zetta yang keterlaluan. Meskipun dia takut dipenjara, tetapi tidak rela juga jika tanah yang luasnya puluhan hektar itu diberikan secara cuma-cuma kepada Zetta.


"Sudah cukup dia merampas hadiah pertunanganku, sekarang tidak akan kubiarkan mengambil hadiah pernikahan. Apalagi tanah ini sangat berharga, Zetta tidak pantas memilikinya." Helia bermonolog dalam hati.


"Aku sudah setuju dengan syaratmu, jadi sekarang maafkan Helia dan jangan memperpanjang masalah ini lagi," ujar Keenan sambil menatap Zetta.


"Keenan, seharusnya kamu tidak perlu melakukan ini. Tanah itu untuk hadiah untukku di pernikahan kita nanti, mana boleh diberikan kepada orang lain, apalagi hanya karena masalah ini. Kamu jangan mau menuruti keinginannya. Kamu tidak tahu, kah? Dia itu ingin merampas semua yang aku miliki, seperti dia merampas posisiku dulu. Biar saja jika dia ingin melaporkanku ke polisi." Helia menyahut sebelum Zetta membuka mulut.


Helia berusaha menggagalkan keputusan Keenan yang sangat merugikan. Pikir Helia, jika Zetta memang serius mempermasalahkan tindakannya kemarin, dia akan meminta bantuan sang ayah untuk menghadapi hukum. Dengan kedudukan ayahnya yang lebih tinggi, Zetta tidak mungkin menang darinya.


"Aku tidak pernah merampas apapun darimu, Helia, baik sekarang ataupun sebelum-sebelumnya." Zetta menjawab. Dia lalu beralih kepada Keenan.


"Baiklah, Keenan. Aku tidak berminat lagi memperpanjang masalah ini. Kompensasi yang diberikan olehmu sudah cukup dan ... dengan senang hati aku akan memaafkan Helia," jawab Zetta kemudian sambil tersenyum.


Zetta tahu bahwa tidak mungkin memasukkan Helia ke penjara karena Keenan sangat melindunginya, dan di samping itu juga ada Jordan yang punya kekuasaan tinggi. Zetta tidak mau terkecoh dan pada akhirnya terjebak pada masalah yang lebih pelik. Lagipula, mendapatkan kompensasi tanah hadiah pernikahan untuk Helia tidak buruk juga. Tanah tersebut luas dan terletak di dekat pusat kota. Bisa dibayangkan seberapa besar nilai tanah tersebut.


"Sudah, jangan dipikirkan lagi. Aku bisa memberimu hadiah lain yang jauh lebih berharga dari ini," ucap Keenan pada Helia. Dia berusaha menenangkan Helia yang masih keberatan dengan keputusannya.


"Tapi, Keenan ...."


"Aku tidak mau menempatkan kamu dalam bahaya, mengertilah!" Keenan berujar dengan lebih tegas.


Zetta memutar bola mata dengan jengah saat mendengar ucapan Keenan yang memuakkan. Bisa-bisanya dia membela Helia mati-matian, bahkan sampai rela kehilangan properti yang sangat berharga.


"Jika tidak ada kepentingan lagi, cepat kalian pergi dari sini. Aku lelah dan butuh istirahat," ucap Zetta kemudian dengan nada malas..


"Baik, kami akan pergi. Masalah tanah yang kamu minta, akan kuurus secepatnya."


"Bagus. Aku tunggu." Zetta menjawab tegas.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Keenan dan Helia pergi dari ruangan itu. Zetta menghela nafas panjang, merasa lega karena dua manusia pengganggu sudah menghilang dari pandangannya.


"Selalu saja mencari masalah. Apa mereka tidak ada pekerjaan lain selain menggangguku? Heh, untung saja bisa mendapatkan keuntungan. Coba kalau tidak, tak terbayang lagi betapa kesalnya aku."


Theo tersenyum. Puas dengan sikap Zetta sekarang, tegas dan tidak mudah ditindas. Berbeda jauh dengan waktu lalu, ketika masih menjadi istri Keenan. Zetta terlalu banyak mengalah dan membiarkan harga dirinya diinjak-injak. Ah, untung saja masa itu sudah berlalu.


"Kalau boleh aku tebak, dari awal kamu tidak berniat melaporkan dia ke polisi, kan? Kamu hanya mencari cara untuk mengambil keuntungan dari mereka?" tanyanya.


Zetta mengembuskan nafas panjang, "Awalnya aku juga tidak berpikir sampai ke sana. Tapi, melihat kebodohan Keenan yang sudah akut dan kelicikan Helia yang benar-benar memuakkan, sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan."


"Iya, Keenan memang sangat bodoh." Theo terkekeh-kekeh. "Ngomong-ngomong, apa yang akan kamu lakukan dengan tanah itu nanti?" lanjutnya.


"Untuk mengembangkan bisnis tentunya. Aku ingin membangun perusahaan sendiri agar tidak bergantung terus dengan perusahaan lain. Sebenarnya rencana ini sudah ada sejak awal, tapi karena terkendala biaya jadi masih tertunda. Sekarang ada kesempatan tidak akan aku sia-siakan," ujara Zetta, mengungkapkan rencana yang sudah agak lama ia simpan sendirian.


"Brillian! Aku dukung rencana kamu." Theo tersenyum sembari mengacungkan jempolnya.


Sambil tetap berbaring, Zetta juga ikut tersenyum. Semangatnya kembali membara karena mendapat dukungan dari seorang sahabat.


***


Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, kesehatan Zetta kembali pulih dan dia diizinkan pulang. Kemarin, ia beristirahat sehari sebelum bekerja seperti biasa.


'Nanti Gerry akan ke sana dan mengantarkan akta tanahnya.'


Satu pesan dari Keenan baru saja Zetta terima. Sebuah kabar yang membuat wanita itu mengulum senyum lebar di atas kursi kerjanya.


"Cinta memang membuat orang bodoh." Zetta bergumam sambil menyandarkan punggungnya.


Kebodohan Keenan sekarang membuatnya teringat dengan masa-masa pernikahan. Dirinya juga sangat bodoh dalam mencintai Keenan, sampai rela membuang waktu yang begitu lama demi sebuah luka. Sangat konyol.

__ADS_1


"Semua sudah berakhir. Aku tidak akan bodoh seperti dulu lagi." Zetta membuang nafas kasar. Cukup sudah mencintai lelaki seperti Keenan, ke depannya tidak akan ada lagi.


Setelah dua jam lebih Zetta berkutat dengan pekerjaannya, Gerry pun tiba di sana. Gerry terkejut saat pertama kali berbicara dengan Zetta. Wanita yang dulu dikenal lembut dan pendiam, sekarang tampak tegas. Perbedaannya sangat mencolok.


"Pantas saja Tuan Keenan sampai memberikan tanah ini untuk Nona Zetta. Ternyata dia sudah banyak berubah," batin Gerry setelah duduk di depan Zetta.


Tanpa mengulur waktu lagi, Gerry pun mengeluarkan akta yang dia bawa dan menyodorkannya kepada Zetta.


"Nona Zetta, kedatangan saya ke sini atas perintah Tuan Keenan. Beliau menyuruh saya mengantarkan akta tanah ini untuk Nona," ucapnya.


Zetta mengangguk pelan, lalu mengambil akta itu dan memeriksanya. Setelah dipastikan bahwa isinya sama persis seperti yang ia inginkan, Zetta kembali menatap Gerry.


"Sesuai dengan yang saya mau. Terima kasih," ujarnya dengan datar dan tanpa senyuman.


Gerry pura-pura tersenyum meski hatinya masih diliputi kebingungan atas perubahan Zetta yang cukup drastis. Namun, dia hanya memikirkannya sendiri. Sedikit pun tidak berani bertanya langsung kepada Zetta. Tatapan wanita itu sudah membuat nyalinya menciut, jadi tidak akan mengambil resiko dengan memancing emosinya.


"Nona Zetta, karena akta tanahnya sudah Anda terima, kalau begitu saya permisi dulu."


Gerry pamit dan bangkit dari duduknya. Kemudian, menyalami Zetta dengan badan yang agak membungkuk, sebagai bentuk rasa hormat kepada mantan atasan.


Untuk kedua kalinya Zetta mengucapkan terima kasih sebelum Gerry benar-benar pergi dari ruangannya. Ia juga mengantar lelaki itu sampai ke ambang pintu.


Setelah kepergian Gerry, beberapa orang saling berbisik. Mereka mempermasalahkan kehadirannya yang diketahui untuk mengantarkan akta tanah, yang tak lain atas suruhan Keenan.


"Bukankah Tuan Keenan dan Nona Zetta sudah cerai, kenapa sekarang masih menghadiahi sebidang tanah?"


"Apakah Tuan Keenan dan Nona Zetta akan rujuk? Lalu bagaimana dengan Nona Helia, dengar-dengar dia dan Tuan Keenan sudah bertunangan?"


"Sebidang tanah itu bukan hal sepele, pasti ada sesuatu antara Tuan Keenan dan Nona Zetta."

__ADS_1


Bermacam-macam pendapat terlontar dari mereka yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


__ADS_2