
Pertama kali menapakkan kaki di dalam room, Regina disuguhi pemandangan yang tak mengenakkan. Senyuman Helia sangat lebar, terlihat jelas jika dirinya sedang puas.
"Pasti Zetta kalah total," batin Regina diiringi embusan nafas panjang.
Meskipun saat itu wajah Zetta tampak tenang, tetapi Regina yakin bahwa Zetta kalah. Karena kalau yang kalah Helia, tidak mungkin wanita itu mengumbar senyuman.
Permainan pun dimulai. Benar dugaan Regina, sejauh ini Zetta sudah kalah sebanyak dua kali. Namun, dia tetap memilih bermain tanpa khawatir ataupun takut. Seolah dia memang sengaja memberikan Helia kemenangan.
"Kamu sudah kembali, Regina?" Zetta menyapa Regina sambil tersenyum.
Regina pun mengangguk dan kemudian bernafas lega. Apapun yang terjadi dalam permainan itu, setidaknya Zetta baik-baik saja. Lalu, Regina duduk di tempatnya. Dia menonton permainan sambil berharap ada nasib mujur yang menyertai Zetta.
Sementara itu, Kania dan Razta mengobrol sambil menyaksikan jalannya permainan kartu. Zetta diam-diam mencuri dengar pembicaraan mereka di sela-sela permainannya tersebut.
"Aku sudah tidak punya pilihan lagi. Aku akan cerai dengannya."
"Aku akan mendukung apapun keputusanmu, Razta. Jika memang harus cerai, semoga itu yang terbaik untuk kamu. Aku juga tidak rela kalau kamu diselingkuhi terus. Lagipula, kamu berasal dari keluarga yang terpandang. Suamimu yang rugi jika dia kehilangan dirimu."
Mendengar curhatan Razta yang akan cerai, tiba-tiba ingatan Zetta kembali pada keluarganya. Andai waktu itu tidak mengalami masalah yang fatal, keluarganya tidak akan bangkrut dan ayahnya pasti belum meninggal, kemungkinan besar ibunya Keenan juga akan menghormatinya, tidak merendahkan dan menghina seperti kemarin.
'Hais, ngapain juga aku pikirkan? Tidak ada gunanya. Yang harus aku lakukan sekarang hanyalah membongkar kejahatan Fernandez dan mencari keadilan untuk Ayah,' batin Zetta.
"Oh ya, sebentar lagi Helia akan mengadakan acara pertunangan dengan Keenan," ucap Kania setelah menanggapi curhatan Razta. Suaranya sedikit keras, sengaja agar Zetta ikut mendengar.
"Loh, bukannya Helia memang sudah tunangan dengan Keenan?" tanya Razta dengan suara yang mengimbangi Kania.
__ADS_1
"Sebenarnya iya, tapi tiba-tiba ada orang yang merebut kalung pertunangan yang akan Keenan berikan untuk Helia." Kania menjawab sambil menatap Zetta dengan sinis. Namun, yang ditatap tetap tenang dan fokus dengan permainannya, seakan-akan tidak mendengar apapun.
"Hah, serius?"
"Iya."
"Tidak tahu malu sekali dia. Aku penasaran siapa orang tak tahu diri yang melakukan itu," ujar Razta.
"Dia adalah wanita tak tahu diri yang terang-terangan mengejar lelaki yang sama sekali tidak mencintainya. Sudah tahu Keenan hanya mencintai Helia, tapi masih berharap mendapat tempat. Akhirnya ya begitu, bertingkah bodoh. Dia pikir sudah menang karena berhasil merebut kalung itu, tidak tahu saja kalau Keenan akan menggantinya dengan yang lebih bagus."
Kania sengaja menekan kalimat terakhirnya untuk memanas-manasi Zetta. Namun, wanita itu hanya tersenyum tipis dengan ekspresi yang tenang, sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan Kania.
"Setelah melangsungkan pesta pertunangan, Helia dan Keenan akan menikah. Dan pernikahannya itu bertepatan dengan hari Valentine. Romantis sekali, kan?"
Zetta mengembuskan nafas panjang saat Kania membahas pernikahan Helia dengan Keenan. Bukannya kecewa atau sakit hati, melainkan bosan karena dua wanita itu seolah-olah memang sengaja mengganggunya.
Sejak tadi dia mengamati wajah Zetta, mencari tahu bagaimana tanggapannya saat mendengar obrolan Razta dan Kania. Helia merasa bangga ketika Zetta mengembuskan nafas panjang, dia pikir itu adalah bentuk kekecewaan dan rasa sakit hati. Demi membuat Zetta makin bersedih, Helia mulai mengungkit acara pernikahan enam tahun lalu.
"Dengar-dengar dulu pernikahanmu dengan Keenan sangat sederhana. Bahkan, hanya mengenakan baju pernikahan saja. Tidak ada undangan, tidak ada pesta, dan tidak ada cinta juga tentunya," ujar Helia sambil tertawa pelan, sangat menyebalkan.
"Tapi, setidaknya aku sudah pernah menikah dengan dia, bukan sekedar 'akan'," jawab Zetta dengan santainya. Namun, berhasil memancing emosi Helia.
"Memangnya kenapa kalau sudah menikah? Keenan tidak pernah mencintai kamu, dia juga tidak pernah menganggapmu istri. Hanya kamu saja yang tidak tahu diri dan terus memaksa tinggal di sisinya. Asal kamu tahu ya, Zetta, Keenan itu sangat mencintaiku. Walaupun baru rencana, tapi Keenan pasti menikahiku dan memberikan cinta yang tidak pernah dia berikan padamu." Helia mencengkeram kartunya dan menatap Zetta dengan mata yang memicing.
Meskipun dipandang dengan penuh kebencian, tetapi Zetta tetap tenang. Bahkan, bibirnya malah mengulas senyum tipis.
__ADS_1
"Baguslah kalau dia mencintaimu, jadi tidak akan sembarangan lagi menganggu orang. Kamu sudah melihat videonya, kan? Selagi matamu tidak buta, pasti bisa melihat kalau dia masih terus berusaha mendekatiku." Walau tidak sebanyak ucapan Helia, tetapi jawaban Zetta sangat menohok dan membuat Helia makin emosi.
"Keenan tidak akan mendekatimu kalau kamu tidak pura-pura sakit. Kamu sengaja melakukan itu untuk menarik simpatinya, kan? Kamu ingin merusak hubunganku dengannya, kamu tidak rela jika aku dan Keenan menikah. Begitu, kan?" Suara Helia naik satu oktaf, diiringi dengan embusan nafas yang memburu dan dada yang naik turun.
Tak jauh dari tempat Zetta dan Helia bermain kartu, Regina bangkit dari duduknya. Dia tidak tahan melihat Helia dan kedua temannya merendahkan Zetta.
"Omonganmu lucu sekali, persis seperti ABG yang masih labil. Bisa-bisanya mengatakan Zetta merusak hubungan. Padahal, selama ini malah kamu yang merusak hubungan mereka," ujar Regina setelah berdiri di dekat Helia.
"Kamu tidak tahu apa-apa, tidak usah ikut campur!" Helia menatap Regina dengan tajam, sangat tidak senang jika ada yang membela Zetta.
"Aku sangat tahu. Kamu mencintai Keenan tanpa peduli dengan statusnya yang sudah beristri. Lalu demi memuaskan egomu, kamu datang sebagai orang ketiga dan menggodanya. Kamu merusak pernikahan mereka!" ujar Regina tidak mau kalah. Dia akan mempermalukan wanita itu agar tahu jera dan ke depannya tidak lagi mengganggu Zetta.
"Aku bukan orang ketiga. Dari awal memang aku yang dicintai Keenan!"
"Menyedihkan sekali. Sudah jelas salah, tapi masih berkilah. Apa tidak bisa belajar dari pengalaman teman. Rasanya diselingkuhi itu seperti apa, jadi bisa pikir-pikir dulu sebelum nekat merebut suami orang." Regina langsung menyahut. Dia tidak memberi kesempatan pada Helia untuk bicara lebih panjang lagi.
"Apa maksudmu? Kenapa membawa-bawa masalah rumah tanggaku?" bentak Razta. Ekspresinya berubah buruk saat Regina menyinggung 'masalah teman'. Jujur, dirinya memang merasa.
"Aku tidak menyebut namamu. Harusnya kamu tidak marah, kecuali kamu memang korban perselingkuhan," jawab Regina dengan tenang.
Zetta bersikeras menahan tawa saat mendengar jawaban itu. Sangat lucu menurutnya, apalagi ketika melihat ekspresi Razta yang datar dan tidak sedap dipandang.
"Jangan ikut campur urusan orang lain. Aku tahu Helia seperti apa. Dia dan Keenan memang saling mencintai. Hanya saja hubungan mereka diganggu oleh wanita yang tidak tahu diri," ujar Razta membela Helia.
Regina tertawa, lalu menatap Razta dengan lekat.
__ADS_1
"Kamu sudah tahu rasanya diselingkuhi itu seperti apa, terus kenapa sekarang malah membela orang ketiga? Apa karena dia temanmu? Kalau memang iya, aku cuma mau pesan satu hal. Hati-hati. Orang terdekat bisa menjadi musuh yang paling berbahaya. Tidak lucu kan, kalau selingkuhan suamimu ternyata adalah temanmu sendiri?" ucapnya dengan senyuman lebar.
Raut wajah Razta makin keruh saat mendengar ucapan Regina, tetapi wanita itu hanya diam dan enggan memberikan jawaban.