
Setelah mendengar kabar bahwa Helia mengalami mengalami kecelakaan dan kini dirawat di rumah sakit, Nyonya Brenda datang menjenguk. Tak lupa juga ia bawakan sup untuk calon menantu kesayangannya itu.
Ekspresi Nyonya Brenda penuh kekhawatiran, seakan-akan kesehatan Helia adalah hal paling berharga dalam hidupnya.
"Helia, bagaimana keadaan kamu, Sayang? Mama bawakan sup untukmu, dimakan ya biar lekas pulih," kata Nyonya Brenda setelah duduk di depan Helia.
"Harusnya tidak usah repot, Ma. Dengan Mama datang menjenguk saja aku sudah senang," jawab Helia dengan lemah lembut. Seperti biasa, dia selalu menunjukkan cosplay menantu idaman di hadapan calon mertuanya itu.
"Hanya membawa sup untuk menantuku, tidak bisa dikatakan repot, Helia." Nyonya Brenda menyahut dengan penuh kasih sayang. Sikap yang tak pernah sekalipun dia tunjukkan terhadap Zetta.
Helia tersenyum lebar, kehadirannya benar-benar diterima dengan baik oleh Nyonya Brenda. Sekarang tinggal menjerat Keenan saja agar tidak tergoda dengan Zetta.
"Oh ya, tadi sebelum ke sini Mama sempat melihat berita tentang Zetta. Dasar dia perempuan murahan, selalu saja membuat ulah yang memalukan. Mama sangat bersyukur perempuan tak tahu malu itu sudah bukan istri Keenan lagi."
Karena terlalu kesal dengan Zetta, Nyonya Brenda mengatakan beberapa hal buruk tentang wanita itu. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah dia melihat sekilas berita Zetta yang menjalin hubungan resmi dengan Theo.
Helia menanggapi ucapan Nyonya Brenda dengan antusias. Dengan pura-pura terkejut dan tak percaya, dia terus menanggapi ocehan Nyonya Brenda. Helia sengaja melakukan itu untuk membuat Keenan sadar bahwa dirinyalah yang paling pantas menjadi istri Keenan, bukan Zetta.
Akan tetapi, apa yang dirasakan Keenan tidak seperti yang diharapkan Helia. Keenan malah memalingkan wajah karena tidak nyaman dengan pembahasan itu. Dia tahu pandangan ibunya terhadap Zetta lebih banyak salahnya. Dia pun menyadari bahwa selama ini ibunyalah yang sering mencari masalah dengan Zetta. Meski mantan istrinya itu sudah diam dan tak mengganggu, tetapi ibunya selalu saja mengusik. Kebenciannya sungguh mendarah daging.
"Keenan, kenapa kamu diam saja?" tegur Nyonya Brenda. Dia tak suka dengan sikap Keenan yang banyak diam dan tampak melamun. Jangan-jangan sedang memikirkan Zetta, pikirnya.
"Aku agak mengantuk," jawab Keenan beralibi.
__ADS_1
"Maafkan aku ya, gara-gara jagain aku kamu tidak sempat tidur. Aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba semalam pusing dan akhirnya terpeleset. Sebenarnya, aku juga tidak mau seperti ini. Rumah sakit adalah tempat terburuk bagiku."
Helia menunduk sedih. Helaan nafasnya terdengar panjang dan berat, seakan-akan sangat menyesali apa yang telah terjadi. Keenan masih terdiam. Tidak ada ucapan atau gerakan untuk menanggapi perkataan Helia. Hanya Nyonya Brenda yang langsung menyahut dan mengusap lembut.
"Jangan katakan itu, Helia. Kamu tidak perlu meminta maaf karena sudah menjadi kewajiban Keenan untuk menjagamu. Datangnya musibah tidak ada yang tahu, jadi kamu jangan banyak berpikir. Fokus saja dengan pemulihan agar secepatnya keluar dari sini," ucap Nyonya Brenda.
"Iya, Ma." Helia tersenyum lebar, puas rasanya mendapat perhatian dan kasih sayang yang berlebih dari calon mertuanya ini.
Keenan terus larut dalam lamunannya. Enam tahun ini, sungguh tidak adil bagi Zetta. Mamanya tidak pernah memperlakukannya dengan baik, begitu pun dengan dirinya sendiri. Setiap waktu mereks selalu menyakitinya. Entah bagaimana cara Zetta melewati semua itu sendiri dan bertahan sampai begitu lama. Apakah hati perempuan itu yang teramat tegar, ataukah ada alasan lain yang membuatnya terpaksa bertahan? Ah, apa pun itu yang jelas saat ini Keenan amat sangat merasa bersalah. Kini dia sadar jika dirinya telah menjadi sosok suami yang menyengsarakan istriku sendiri.
Melihat sikap Nyonya Brenda yang sangat baik terhadap Helia tidak membuat Keenan merasa senang, dia malah makin merasa bersalah pada sang mantan istri. Terlalu banyak luka yang ia berikan selama pernikahan, yang masuk akal jika sekarang tidak ada kata maaf. Namun egoisnya, Keenan masih saja mengharapkan kata itu atau mungkin juga yang lebih.
"Maafkan aku, Zetta," batin Keenan dengan perasaan yang makin sesak.
"Aku langsung mabuk dan hampir tak ingat apa-apa setelah meminum air yang diberikan oleh pelayan. Kamu juga tahu, bukan hanya semalam aku minum-minum, tapi aku tidak pernah semabuk itu," ujar Zetta setelah Theo menjawab teleponnya.
Di seberang sana, Theo menarik nafas panjang. Dia masih menyesalkan peristiwa semalam. Zetta salah karena banyak minum, dirinya pun salah karena terlalu asyik bermain game dan tak memperhatikan wanita itu. Sampai akhirnya beredar video yang tak mengenakkan hari ini.
"Aku yakin ada sesuatu dengan pelayan itu. Theo, kamu bisa kan membantuku memeriksa masalah ini?" lanjut Zetta.
"Tentu bisa, nanti akan kuperiksa secara rinci. Siapa pun yang berusaha mencelakaimu, tidak akan bisa kabur," jawab Theo.
"Terima kasih banyak ya, kamu memang sahabat yang terbaik."
__ADS_1
"Jangan lupa, sekarang aku adalah pasanganmu," sahut Theo.
Zetta tertawa renyah mendengar jawaban Theo, yang menurutnya hanya bercanda. Theo pun ikut tertawa meski sebenarnya kalimat itu adalah harapan yang nyata.
Usai berbincang dengan Theo, Zetta merasa agak tenang. Walaupun belum terungkap secara gamblang, tetapi setidaknya sudah ada jalan. Dalam pikirnya, Zetta sungguh yakin jika semalam bukan mabuk biasa.
"Semoga Theo berhasil," gumam Zetta sambil menghela nafas panjang. Kemudian, dia menenangkan pikiran dan kembali fokus dengan pekerjaan.
Setelah sehari penuh menghabiskan waktu di kantor, Zetta bersiap pulang. Dia tenteng tas kerjanya dan membawanya keluar ruangan. Lalu, masuk mobil dan mengemudikannya dengan kecepatan tinggi. Zetta agak lelah dan ingin secepatnya tiba di rumah, beristirahat dengan nyaman tanpa ada yang mengganggu.
Setibanya di depan rumah, Zetta mengernyitkan kening. Keberadaan seseorang di depan pintu membuat Zetta kebingungan.
"Benarkah itu dia, bocah tengik itu?" Zetta menajamkan penglihatan dari balik kaca mobil, memastikan bahwa pandangannya tidak keliru.
Sosok lelaki yang ada di depan rumahnya adalah Roan, mantan adik iparnya. Lelaki itu duduk tanpa melakukan apa pun, seperti sengaja menunggu sang pemilik rumah.
Sambil melepaskan sabuk pengaman, Zetta memejam sesaat. Dia menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum turun dan menemui Roan. Walaupun sekarang sikap lelaki itu tidak seburuk dulu, tapi tetap saja menguras emosi. Ah, apa pun yang berhubungan dengan Keenan memang selalu menaikkan tekanan darah.
"Mau apa lagi dia?" batin Zetta saat melihat Roan berdiri dan menatap ke mobil, sepertinya tahu jika yang datang adalah dirinya.
Tanpa membuang waktu, Zetta membuka pintu mobil dan bergegas turun. Lalu melangkah mendekati Roan yang kini meyambutnya dengan lambaian tangan. Namun, Zetta masih tak acuh.
"Kak Zetta!"
__ADS_1
Zetta memutar bola mata dengan jengah, kemudian dengan terpaksa menatap Roan yang berdiri tak jauh darinya.