My Beloved Ex-wife

My Beloved Ex-wife
Bab 63


__ADS_3

Sekitar jam empat sore, Jordan tiba di rumahnya. Langkahnya agak tergesa-gesa ketika sudah turun dari mobil. Ia tak sabar untuk bertemu dengan Helia dan bicara serius dengannya. Kecerobohan gadis itu kemarin patut ditegur agar tidak terulang di kemudian hari, atau Zetta akan makin beruntung karena itu.


Sesaat kemudian, Jordan sudah masuk ke rumah dan tiba di ruang keluarga. Di sana Helia sedang duduk bersama Alma. Keduanya melihat-lihat album lama dan bernostalgia.


"Ini siapa, Ma?" tanya Helia sambil menunjuk foto anak perempuan yang bukan dirinya.


Alma mengembuskan nafas panjang, seakan ada beban berat yang ia pendam terkait foto perempuan itu.


"Dia adalah Alena, kakak perempuanmu. Dia sudah meninggal," sahut Alma kemudian dengan nada sedih.


Helia tertegun. Dia baru tahu kalau dirinya punya kakak perempuan yang sudah meninggal. Baru kali ini juga mamanya menunjukkannya album yang saat ini sedang mereka lihat.


"Memangnya Kak Alena meninggal karena apa?" Helia kembali bertanya.


Alma tak langsung menjawab. Dia terlihat mengusap foto Alena sejenak.


"Dulu ... dia diculik oleh ayahnya Zetta dan akhirnya meninggal."


Terang saja Helia terkejut dibuatnya.


"Jadi aku punya kakak perempuan? Dan dia dicelakai oleh ayahnya Zetta?" tanya Helia lagi.


Alma mengangguk pelan.


"Kejam sekali dia, pantas saja anaknya juga jahat. Memang patut diberi pelajaran." Helia menggerutu, tak rela dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya Zetta di masa lalu.

__ADS_1


"Pelajaran apalagi yang kamu maksud? Kamu mau bertindak bodoh seperti kemarin?" timpal Jordan dengan suara yang tinggi. Dia masih kesal dengan perbuatan Helia yang sangat merugikan.


Helia pun menoleh ke arah papanya itu dengan semakin terkejut.


"Kemarin apa, Pa?" Helia bertanya dengan agak gugup.


Jordan tidak langsung menjawab, tetapi lebih dulu mendaratkan tubuhnya dengan kasar di hadapan Helia dan Alma. Lalu, melayangkan tatapan tajam kepada putrinya.


"Jangan pura-pura, kesalahanmu itu sangat fatal! Kamu bertindak ceroboh, sama sekali tidak dipikirkan dulu. Dan akhirnya malah kamu yang dirugikan. Hadiah pernikahan yang seharusnya menjadi milikmu, sekarang sudah menjadi milik Zetta. Apa kamu masih tidak sadar dengan kebodohanmu itu?" ucap Jordan dengan suara yang masih meninggi.


"Ini sebenarnya ada apa? Apa yang sudah dilakukan Helia?" Alma kebingungan karena tak tahu apa yang dibahas Jordan.


"Dia mencelakai Zetta, tapi tidak dengan cara yang rapi. Tindakannya terendus, sehingga Zetta punya kesempatan untuk menjebak dan membalikkan keadaan. Tanah puluhan hektar yang seharusnya menjadi hadiah pernikahan, sekarang malah diberikan kepada Zetta. Dan dengan bangganya wanita itu mengunggahnya di sosial media. Benar-benar penghinaan!" sungut Jordan.


Alma terkejut mendengar penjelasan suaminya itu, tetapi tidak tega juga jika turut menyalahkan Helia. Dia pikir, Helia pasti punya alasan mengapa melakukan itu. Sebelumnya Zetta pernah menjadi istrinya Keenan, jadi wajar jika sekarang Helia kerap cemburu padanya.


Mendengar jawaban sang istri, emosi Jordan naik satu tingkat.


"Jika tahu wanita itu licik, harusnya Helia menyusun taktik yang cerdik! Bukan malah melakukan tindakan bodoh yang sekali tidak terencana!" ucapnya dengan bentakan.


Alma tak lagi menyahut. Dia memilih diam dari pada memperkeruh keadaan. Helia juga tidak berani membantah atau sekadar mengangkat kepala. Dia hanya bergeming dan menunduk agar emosi ayahnya berangsur reda.


Helia paham, masalah yang ia perbuat kali ini tidak sepele. Terbukti dari pengorbanan Keenan yang sampai rela membayar mahal, demi menyelamatkannya dari tuntutan Zetta.


Selain itu, Helia juga paham dengan sifat ayahnya. Lelaki itu akan selalu marah setiap kali mengetahui suatu masalah dari orang lain, bukan dari dirinya sendiri. Akan tetapi, soal kemarin dia memang tidak berani untuk jujur. Dia berencana menutupinya sampai nanti, tetapi sialnya Zetta justru mengunggah di sosial media. Wanita itu memang mencari gara-gara dengannya.

__ADS_1


"Lain kali berpikir dulu sebelum bertindak! Jangan buat Papa menyesal karena sudah mengasuh kamu dan menjadikanmu bagian dari keluarga ini!"


Jordan kembali membentak, tetapi kali ini langsung dihentikan oleh Alma. Dengan tatapan penuh arti, Alma beranjak dan menenangkan Jordan yang terlihat marah. Alma menatap suaminya cukup lama. Dia sengaja menyiratkan hal penting lewat tatapan matanya.


"Cepatlah mandi," pinta Alma dengan suara pelan, namun penuh penekanan.


Jordan pun tidak membantah lagi. Dia sadar jika barusan hampir saja keceplosan terkait identitas Helia. Beruntung Alma cepat menghentikannya, jadi fakta itu tidak sampai terbongkar di hadapan sang anak. Kemudian, dengan ekspresi yang masih agak gugup Jordan bangkit dan pergi meninggalkan ruangan itu. Alma menatapnya sekilas, sedangkan Helia menatapnya cukup lama. Dia merasa janggal dengan ucapan terakhir Jordan. Kira-kira apa maksudnya?


Setelah Jordan pergi dan tubuhnya tidak terlihat lagi, Helia beralih menatap ibunya. Lalu, mengungkit tentang ucapan Jordan yang menurutnya mencurigakan.


"Maksud omongan Papa tadi apa, Ma? Mengasuhku dan menjadikanku bagian dari keluarga ini, kesannya ... aku ini bukan darah daging Papa dan Mama."


Helia bicara dengan suara pelan. Diam-diam hatinya terasa sesak ketika memikirkan ucapan ayahnya itu. Bagaimana jika dirinya memang bukan anak kandung Jordan?


"Kamu itu seperti tidak kenal dengan papamu saja. Kalau marah, kan, kata-katanya memang suka melantur."


"Tapi, Ma ...," ucap Helia, sangat tidak terima dengan jawaban ibunya yang acuh tak acuh.


"Tapi, apa lagi? Masa begitu saja kamu pikirkan dan kamu anggap serius? Sudahlah, itu hanya ucapan orang marah. Papamu sendiri tidak mungkin sadar tadi bicara apa saja," ujar Alma.


Dia tetap mengatakan bahwa ucapan Jordan hanyalah pelampiasan amarah, bukan sesuatu yang mengandung arti.


Namun, Helia masih tidak puas dengan jawaban itu. Walaupun Jordan sering marah dan membentak, tetapi tidak pernah mengatakan kalimat semacam tadi. Bagi Helia itu bukan lagi ujaran caci atau maki, melainkan kalimat penuh makna yang tidak sengaja keluar karena emosi yang tidak terkendali.


"Aku akan menyelidiki masalah ini. Dan aku juga akan membuat perhitungan lagi dengan Zetta. Gara-gara dia, Papa jadi marah dan bicara seperti barusan. Aku tidak terima ini," batin Helia sambil mengepalkan tangan.

__ADS_1


Kemarin dia sudah kesal karena Zetta merampas hadiah pernikahannya, sekarang kembali dibuat kesal karena tingkahnya yang kekanak-kanakan. Coba saja Zetta tidak mengunggah masalah itu ke media sosial, maka Jordan tidak akan tahu. Jika seperti ini, bukan hanya Jordan yang marah, tetapi orang-orang di luar sana juga tahu dan pasti menertawakannya.


"Kamu tunggu saja pembalasanku, Zetta!" Helia membatin sembari mengembuskan nafas kasar.


__ADS_2