My Beloved Ex-wife

My Beloved Ex-wife
Bab 48


__ADS_3

Karena terlalu syok menghadapi pria bertopeng yang misterius itu, Jordan pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Dalam hitungan menit, berita tersebut sudah menyebar dan menjadi trending topik. Hampir semua orang melihatnya, termasuk Zetta.


Wanita itu tersenyum puas saat mengetahui musibah yang menimpa Jordan. Rekening dibobol dan saldo diambil, oh betapa menggembirakannya kabar itu.


"Cukup sepadan dengan apa yang sudah kamu lakukan terhadap ayahku di masa lalu," batin Zetta sambil tersenyum puas.


Kemudian, Zetta berjalan memasuki sekolah Roan. Namun, langkahnya kembali terhenti karena ada notifikasi di ponselnya.


"Hah!" Zetta agak terperangah ketika membuka notifikasi tersebut. Ada uang sebanyak satu miliar masuk ke rekeningnya. Setelah diperiksa, ternyata pengirimnya adalah Alex. Zetta makin terkejut menyadari hal itu.


"Apa-apan dia, kenapa memberiku uang sebanyak ini? Jangan-jangan ...," gumam Zetta.


Karena curiga, Zetta langsung menghubungi Alex. Pada panggilan pertama tidak ada jawaban darinya, dan Zetta agak kesal. Namun, dia tak menyerah, terus menelepon sampai Alex menanggapinya.


"Halo, Kak Zetta." Alex menyapa ramah tanpa rasa bersalah.


"Alex, jujur sama aku! Apa kamu yang membobol rekening Jordan?" tanya Zetta langsung pada inti masalah.


"Apa?" Alex balik bertanya.


"Kamu yang membobol rekening Jordan?" ulang Zetta lagi.


"Membobol rekening? Jordan?" Alex terdengar tak paham dengan apa yang Zetta tanyakan.


"Kamu tidak ada hubungannya dengan itu?"


"Astaga, Kak. Bagaimana bisa Kakak sampai berpikir kalau aku yang melakukan itu? Aku saja baru tahu sekarang kalau rekening Jordan dibobol orang," jawab Alex.


Zetta terdiam sesaat.


"Memangnya berapa banyak uang yang hilang? Lagipula, bagaimana bisa hal itu terjadi? Bagaimana ceritanya?" sambung Alex. Dia terdengar sangat antusias saat mendengar berita tentang Jordan.


"Sudahlah. Kalau kamu memang tidak tahu apa-apa, jangan bahas lagi. Sekarang jelaskan saja kenapa kamu mengirim uang sebanyak itu."


Karena Alex mengelak dan menyangkal keterlibatannya, maka Zetta pun menyudahi pembahasan tentang itu.


"Mengirim uang untuk Kak Zetta apa perlu alasan?"


"Kalau sedikit tidak, tapi kalau sebanyak itu jelas perlu." Zetta menyahut cepat.

__ADS_1


Embusan nafas Alex terdengar kasar sebelum menjawab perkataan Zetta.


"Pekerjaanku sedang bagus-bagusnya. Baru-baru ini aku mendapatkan bonus yang lumayan, jadi uangnya juga agak lebih. Aku hanya ingin berbagi dengan Kak Zetta, mana tahu bisa sedikit membantu," ucapnya.


"Begitu?" tanya Zetta masih agak ragu.


"Iya, Kak Zetta. Memangnya mau bagaimana lagi? Aku di sini sibuk, mana sempat mengurusi Jordan. Apalagi sampai membobol rekeningnya segala. Kakak kira aku tokoh film Mission Impossible?" Alex sedikit terkekeh.


Setelah mendapat jawaban yang meyakinkan dari adik angkatnya, Zetta mengakhiri obrolan dan kembali melanjutkan langkah. Tak lama kemudian, Rayden menyusul dan menjajari langkahnya.


"Tidak apa-apa, kan, kalau aku ikut? Sendirian di mobil rasanya agak bosan," ucap Rayden sebelum Zetta bertanya.


"Tentu saja tidak. Terserah kamu saja," jawab Zetta.


Sementara itu, di kelasnya, Roan berulang kali berdecak kesal. Matanya tak henti menatap ke arah pintu yang terbuka lebar, berharap ada sosok Zetta yang hadir di sana. Namun, sudah cukup lama menunggu, wanita itu tak juga menampakkan batang hidungnya.


"Kenapa mukamu kusut begitu? Kakak atau ibumu tidak mau datang?" ucap salah satu teman sekelas Roan.


"Dia saja tidak bisa apa-apa, untuk apa kakak atau ibunya datang? Memang sanggup menahan malu?" Teman yang lain ikut menyahut sambil tertawa.


"Dasar anak tidak berguna! Dari pada capek-capek sekolah, lebih baik diam di rumah. Belajar merajut dan menyulam, lalu temani ibumu yang sok itu."


Di tengah-tengah tawa yang sangat merendahkan, Roan mengepalkan tangan. Sudah cukup dia mengalah dan membiarkan teman-temannya membully sesuka hati. Makin dibiarkan, mereka makin menjadi. Kali ini Roan tidak tahan lagi.


"Cukup!" Roan sambil berteriak sambil berdiri dan menggebrak meja.


Teman-teman yang tadi tertawa sekarang diam dan menatap ke arah Roan. Salah seorang dari mereka tersenyum miring dan kemudian mendekati Roan.


"Berani melawan kami?" tanyanya dengan mata yang menyorot tajam.


"Kalian sudah keterlaluan!" bentak Roan.


Lelaki itu tidak memberikan jawaban, tetapi langsung mengambil tindakan. Dengan kasar dia mencengkeram kerah serag Roan, lalu mendorong tubuhnya hingga membentur kursi.


"Katakan sekali lagi!" geram lelaki itu.


"Kalian keterlaluan!" Setelah mengumpulkan keberanian, Roan berhasil melontarkan bentakan yang lebih keras dari sebelumnya.


Mendengar itu, teman Roan sangat emosi. Amarahnya tersulut dan tidak bisa dibendung lagi. Tanpa melepaskan cengkeraman, tangan sebelahnya diangkat tinggi-tinggi dan siap melayangkan tamparan.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan?" bentak seseorang yang baru saja hadir di ambang pintu.


Lelaki yang akan menampar Roan langsung melepaskan cengkeraman dan menoleh ke sana. Dengan agak kesal dia menjauhi Roan dan pura-pura tidak terjadi apa pun, sedangkan Roan mengulum senyum saat tahu siapa yang datang, Zetta.


"Akhirnya Kak Zetta datang juga," batin Roan.


"Apa yang kamu lakukan tadi? Kamu membully Roan lagi?" tanya Zetta. Suaranya rendah namun menekan, membuat mereka semua secara bersamaan menundukkan kepala.


"Selain dia, siapa lagi yang ikut membully Roan?" Zetta kembali bertanya sambil menunjuk lelaki yang hampir menampar Roan.


"Saya tidak ikut-ikutan, Kak."


"Saya juga tidak, Kak."


"Jika semua tidak, berarti hanya dia sendiri?" sahut Zetta setelah hampir semua anak membela diri.


"Tidak, Kak. Mereka bertiga ikut mengolok Roan, dan mereka semua juga ikut tertawa," adu lelaki yang tertangkap basah. Dia tidak mau menanggung masalah itu seorang diri.


"Tapi, kami hanya tertawa. Kami ...."


"Cukup!" pungkas Zetta dengan nada tegas.


Zetta melayangkan pandangan ke seluruh ruangan dan menatap satu per satu remaja yang ada di sana. Kemudian, Zetta melipat tangan di dada sambil menarik nafas panjang.


"Kalian ini pelajar, harus punya attitude. Jangan karena merasa hebat, lalu menindas yang sekiranya bisa ditindas. Percuma kalian punya prestasi, punya kedudukan tinggi, jika tabiat minim seperti ini," sambung Zetta.


Tidak ada sahutan dari para remaja. Mereka hanya menggerutu dalam hati masing-masing, tidak ada yang berani menjawab meski hanya satu kata.


"Apa perlu perbuatan ini kuberitahukan kepada guru, agar kalian diajari lagi tentang cara beradab?" Suara Zetta masih terdengar tegas dan agak tinggi.


Namun, seluruh penghuni kelas masih setia dengan diamnya.


"Jawab!"


Mendengar ucapan Zetta yang makin meninggi, salah seorang anak memberanikan diri untuk menjawab. Dia meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulang lagi di kemudian hari.


Akan tetapi, Zetta belum puas. Dia menatap lelaki yang hampir menampar Roan dan menunggu permintaan maaf darinya. Namun, hingga beberapa saat berlalu tidak ada reaksi dari lelaki itu.


"Sudah, Kak, aku tidak apa-apa kok. Terima kasih ya sudah mau datang," ucap Roan kemudian menenangkan Zetta.

__ADS_1


__ADS_2