My Beloved Ex-wife

My Beloved Ex-wife
Bab 68


__ADS_3

Karena heran dan tidak mengerti dengan maksud calon mertuanya, Keenan bertanya lebih detail lagi. Mengapa tidak boleh melapor pada polisi, padahal itu adalah cara yang paling efektif untuk menemukan Helia, sekaligus memberikan sanksi untuk penculik.


Menanggapi pertanyaan Keenan yang dipenuhi keraguan, Jordan menghela nafas berat. Mau tidak mau dia harus menceritakan masalah kelam dulu, agar Keenan mengerti dan tidak salah paham terhadapnya.


"Paman," panggil Keenan.


"Kami punya trauma besar dengan polisi. Mungkin sulit dimengerti, tapi itulah kenyataannya."


Keenan masih tidak puas dengan jawaban Jordan. Tak ia alihkan pandangannya yang penuh selidik, sampai pria itu memberikan penjelasan yang lebih masuk akal.


"Dulu, Helia punya kakak perempuan. Sayangnya, dia diculik di usia yang masih muda. Aku menelpon polisi untuk menangkap pelaku, tapi ... kami malah tertipu. Bukannya mendapat pertolongan, kakaknya Helia justru celaka dan tidak bisa diselamatkan. Kami kehilangan dia selamanya."


Belum sempat Keenan menyahut penjelasan Jordan, tiba-tiba ponsel pria itu berdering nyaring. Ternyata sebuah panggilan video dari nomor yang tak dikenal. Baik Jordan, Alma, maupun Keenan, semuanya menegang. Detak jantung ketiganya berdetak cepat, mereka mengira itu berhubungan dengan penculikan atas Helia.


Benar saja. Satu detik setelah panggilan terhubung, layar ponsel Jordan menampilkan sosok pria bertopeng. Ciri-cirinya sama persis seperti yang dikatakan Gerry beberapa menit lalu. Jordan dan Keenan pun terpaku sesaat, syok hingga kesulitan menelan ludah.


"Apa kabar, Tuan Jordan? Bagaimana rasanya kehilangan seorang putri? Menyenangkan, bukan?" ucap pria bertopeng tanpa rasa bersalah.


"Kamu ...,"


"Sebelumnya aku sudah memperingatimu agar tidak mengusik wanitaku. Tapi, kamu meremehkannya begitu saja. Jadi, sudah sepantasnya jika sekarang aku memberimu hadiah kedua." Tawa mengerikan mengiringi ucapan pria itu.


Rahang Jordan mengeras saat mendengarnya. Dia teringat dengan waktu lalu, ketika sistem di perusahaannya diretas dan dia kehilangan saldo hingga miliaran. Sekarang, pria itu kembali muncul dan menculik Helia. Untuk kedua kalinya Jordan kalah telak dari pria misterius itu.

__ADS_1


"Laki-laki brengsek! Rupanya kamu yang menculik Helia, cepat lepaskan dia! Aku tidak akan segan jika kamu berani menyakitinya!" teriak Alma, menyela lebih dulu sebelum Jordan membuka suara.


Pria bertopeng kembali tertawa, "Punya hak apa kamu memerintahku? Mau kulepaskan, kubu_nuh, atau kucin_cang sekalian, itu urusanku. Kamu tidak akan bisa ikut campur meski dia adalah anakmu!"


Alma gelagapan. Sepertinya orang yang dia hadapi sekarang, bukan orang sembarangan. Dia adalah pria gila, tapi bisa jadi punya kekuasaan. Bisa saja ucapannya barusan itu benar. Membu_nuh Helia, oh tidak. Alma jadi teringat lagi dengan kematian anaknya di masa lalu.


Karena sekarang Helia sudah ada di tangan pria itu, dan entah apa yang akan dilakukannya nanti, Alma tak bisa berkutik lagi. Dia harus memohon agar Helia bisa dilepaskan tanpa disakiti sedikit pun.


"Tolong lepaskan Helia, saya akan menyetujui syarat apa pun yang Anda minta. Asalkan Helia Anda lepaskan dalam keadaan baik-baik saja."


Suara Alma melemah, sangat takut jika Helia disakiti dan berakibat fatal seperti kakaknya dulu. Tidak, cukup sekali dia kehilangan anak. Jangan sampai terulang kedua kalinya.


"Sayangnya aku tidak tertarik dengan syarat apa pun. Karena apa yang kalian punya, sudah kumiliki semuanya. Malah sebaliknya, apa yang aku punya, belum tentu kalian miliki." Lagi, tawa itu terdengar mengerikan. Jordan dan Keenan makin geram dibuatnya.


Pria di seberang sana mencondongkan tubuhnya ke depan, hingga tampak lebih dekat. Kali ini tidak ada tawa yang mengiringi suaranya.


"Helia melakukan kesalahan yang sangat besar, dan aku tidak suka itu. Dengar baik-baik ya, aku tidak akan memaafkan siapapun yang menyakiti Zetta. Dan wanita sialan ini sudah melakukannya berulang kali, jadi ... sekarang harus menanggung akibatnya," ucapnya dengan tegas dan penuh penekanan.


Keenan tidak langsung menyahut, hanya menggertakkan gigi sambil mengepal erat. Kesal dan emosi yang tadi masih bisa dipendam, kini makin memuncak dan seperti sulit dikendalikan.


"Jadi bukan hanya Theo dan Alex yang berhubungan dengan Zetta, tapi masih ada laki-laki ini. Ah, mungkin juga ada laki-laki lain yang tidak aku tahu. Pantas saja dia terbuka dengan Duck, ternyata memang seperti ini di belakangku. Sialan!" umpat Keenan dalam hatinya.


"Zetta." Alma bergumam pelan, namun masih didengar oleh Keenan. "Lagi-lagi dia, kenapa kedua putriku harus tersakiti karena Zetta dan ayahnya? Apa salah kami terhadap mereka?"

__ADS_1


Keenan terkesiap sesaat. Kemudian bertanya pada Alma tentang maksud ucapannya. Pada saat itu pula, Jordan dan Alma menjelaskan kejadian masa lalu, yang menyangkut kakak Helia. Mendengar itu, Keenan membeliakkan matanya.


"Jadi kematian kakaknya Helia berkaitan dengan ayah Zetta. Kenapa? Apa motifnya dia melakukan itu? Hah, sepertinya banyak rahasia yang tidak aku tahu," batinnya.


Ketika orang tua Helia masih sibuk mengungkit kematian putri pertamanya, pria bertopeng kembali menyela. Dia meminta mereka untuk melihat video yang ada di komputer.


Tanpa membuang waktu, Jordan dan yang lainnya bergegas menuruti arahan pria itu. Sampai akhirnya, mereka melihat video yang menampilkan sosok Helia dan pria itu sendiri.


"Mama, Papa, Keenan, tolong aku! Gara-gara Zetta aku diculik dan disakiti seperti ini! Lakukan sesuatu, Pa, aku tidak mau mati konyol di sini. Beri peringatan juga untuk Zetta, dia harus membayar dua kali lipat atas apa yang aku rasakan sekarang!"


Dengan tubuh yang terikat dan air mata yang berderai membasahi pipi, Helia terbata-bata mengucapkan kalimatnya. Sebuah ucapan yang berakhir dengan tamparan keras.


Entah terbuat dari apa hati pria bertopeng itu atau malah sudah tidak punya hati. Tanpa belas kasih dia menampar Helia dengan kuat, sesaat setelah Helia menyebut nama Zetta. Akibat dari tamparannya, kepala Helia sampai berpaling.


Alma menggigit bibir, tidak tega melihat kondisi Helia yang buruk. Bekas telapak tangan yang kemerahan mengotori wajah mulus putrinya. Bisa dibayangkan betapa panas dan perihnya itu, sungguh penghinaan yang nyata.


"Dasar bajingan!" Dalam hatinya Jordan mengumpat.


Amarah tak bisa lagi dibendung. Pria bertopeng itu tidak hanya menampar satu kali, melainkan dua kali hingga Helia tidak sadarkan diri. Harga diri Jordan seakan diinjak-injak. Ingin sekali Jordan membunuhnya saat itu juga, tetapi apalah daya. Jangankan membunuh, melacak lokasi saja Jordan masih gagal.


"Bagaimana, kalian suka dengan videonya?" Bersamaan dengan berakhirnya video, pria bertopeng melontarkan ucapan yang sangat meremehkan.


Namun, belum sempat Jordan atau Keenan menjawab, sudah terdengar suara lain dari kejauhan sana. Ada seseorang yang datang menghampiri pria bertopeng, namun tidak terlihat seperti apa wujudnya.

__ADS_1


"Nona Helia belum sadar juga, Tuan." Laporan dari seseorang yang suaranya ikut tertangkap telinga Jordan dan Keenan.


__ADS_2