My Beloved Ex-wife

My Beloved Ex-wife
Bab 64


__ADS_3

Sehari setelah mengetahui masalah yang dibuat Helia, Jordan memutuskan untuk pergi menemui Zetta. Dan pagi ini, sebelum berangkat ke kantor dia menyempatkan diri datang ke perusahaan Zetta, dengan membawa emosi tentunya.


Jordan sudah menyusun rencana untuk mendapatkan kembali tanah itu. Tak akan ia biarkan Zetta merasa senang di atas kekalahan Helia.


Sekitar pukul 08.00 Jordan sudah tiba di sana. Ia langsung turun dari mobil dan melangkah masuk ke perusahaan itu.


"Selamat pagi, Tuan, ada yang bisa kami bantu?" sapa resepsionis yang menyambut kedatangan Jordan.


"Saya ingin bertemu dengan Nona Zetta. Apakah dia ada?" tanya Jordan sambil merapikan jas hitam yang dia kenakan.


Sebisa mungkin ia menjaga wibawa meski dalam hati sangat emosi dan ingin mencaci maki. Dia membenci semua hal yang berhubungan dengan Zetta, termasuk semua karyawan yang bekerja pada perempuan itu.


Jordan baru bisa menghela nafas lega setelah mendengar jawaban resepsionis. Katanya, Zetta baru saja tiba dan sekarang berada di ruangannya. Lalu, Jordan meminta pada resepsionis untuk mempertemukannya dengan Zetta.


"Nona Zetta menunggu Anda di ruangannya," ucap resepsionis. Lalu dia menunjuk salah satu karyawan untuk mengantarkan Jordan.


"Mari, Tuan."


Jordan mengangguk dan kemudian mengikuti langkah karyawan yang mengantarnya. Jordan tetap diam sampai tiba di depan ruangan Zetta. Bahkan saat karyawan membukakan pintu untuknya pun, Jordan langsung masuk begitu saja tanpa mengucap terima kasih.


Setelah beberapa langkah memasuki ruangan, Jordan beradu pandang dengan Zetta. Maksud hati ingin membuat wanita itu takut, namun ternyata malah dirinya yang terkejut. Tidak ada ketakutan atau keraguan dalam tatapan wanita itu, justru terlihat berani dan penuh percaya diri. Jordan sungguh heran sekaligus muak dibuatnya.


"Silakan duduk, Tuan Jordan." Zetta mempersilakan dengan sopan, tetapi Jordan malah menganggapnya sebagai penghinaan.


Dengan hati yang semakin kesal, Jordan duduk di hadapan Zetta. Dia menyandarkan punggungnya sembari mengangkat satu kaki. Tangannya pula dilipat di dada, sangat klop dengan tatapan matanya yang dingin dan tajam.


"Suatu penghargaan mendapat tamu seperti Anda. Tapi, saya penasaran, apa gerangan yang membuat Anda kemari." Zetta masih bersikap tenang. Dia juga pura-pura tak tahu apa alasan Jordan datang ke sana, meski dalam hati sudah bisa menebak bahwa itu berhubungan dengan hadiah tanah dari Keenan.

__ADS_1


"Berikan padaku tanah yang kamu dapat dari Keenan! Aku akan menggantinya dengan uang satu miliar." Tanpa basa-basi, Jordan langsung mengutarakan maksud kedatangannya. Dia tak mau membuang banyak waktu di sana, membosankan.


Namun, tanggapan Zetta meleset dari bayangan Jordan. Alih-alih menerima tawaran, dia malah tersenyum mengejek.


"Tidak, Tuan Jordan. Satu miliar sama sekali tak sebanding dengan tanah itu." Zetta menolak.


"Dua miliar."


Zetta menggelengkan kepala, "Dua puluh miliar. Itu baru sepadan."


Rahang Jordan mengeras saat mendengar nominal yang disebutkan oleh Zetta. Hatinya panas seketika, ia merasa direndahkan oleh wanita itu.


"Jangan terlalu mengada-ada. Uang dua puluh miliar itu tidak sedikit, kamu pikir pantas untuk mengganti sebidang tanah yang tak seberapa itu?" ujarnya dengan tegas.


"Sangat pantas, karena tanah itu cukup luas dan lokasinya juga strategis." Zetta sengaja mengulas senyum lebar, untuk menegaskan kepada Jordan bahwa dirinya bukan lagi Zetta yang dulu.


"Hentikan omong kosongmu! Katakan saja kalau kamu memang tidak mau menjualnya padaku!" bentak Jordan.


Mendengar bentakan itu, Zetta menghela nafas panjang. Lalu dengan gaya elegannya menyangkal tudingan Jordan.


"Saya tidak ada maksud begitu, Tuan. Tanah pasti akan saya jual jika harganya cocok, dan dua puluh miliar itulah nominal yang paling sepadan. Tapi, jika menurut Anda terlalu mahal, saya tidak memaksa. Saya bisa menyimpannya sendiri dan memanfaatkan untuk kepentingan perusahaan."


"Kamu!" geram Jordan dengan tangan yang mengepal erat.


"Jadi, bagaimana? Apa Anda bersedia membeli tanah saya?" Zetta menaikkan kedua alisnya. Kemudian bangkit dan menjajari tubuh Jordan yang sudah lebih dulu beranjak dari duduknya.


"Tidak akan pernah! Kamu ambil saja tanah itu dan boleh merasa menang untuk saat ini. Tapi ingat baik-baik ucapanku kali ini. Kamu tidak akan pernah berhasil membangun perusahaan. Camkan itu!" Bukan hanya suara terdengar semakin keras dan tajam, melainkan juga tangan yang ikut menunjuk-nunjuk.

__ADS_1


Jordan tidak hanya kesal sesaat, tetapi juga menyimpan dendam kesumat. Dia berjanji akan menggagalkan bisnis Zetta, membuatnya hancur hingga tak bisa bangkit lagi.


Setelah puas melontarkan amarahnya, Jordan pergi tanpa permisi. Bahkan, gerakannya sangat kasar ketika membuka dan menutup pintu ruangan.


"Apa pun yang akan kamu lakukan, aku tidak akan membuatmu menang, Jordan," batin Zetta ketika tubuh Jordan sudah menghilang dari pandangannya.


***


"Nona Zetta, tim kontraktor menolak bekerja sama dengan kita. Mereka menyarankan kita untuk mencari orang lain saja."


Baru satu hari berlalu, Zetta sudah mendapat laporan buruk dari sekretarisnya. Tim kontraktor menolak, otomatis pembangunan perusahaan pun akan tersendat.


"Jordan benar-benar licik." Zetta mengembuskan nafas berat, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


Zetta tahu pelakunya sudah pasti Jordan, pria itu memang tidak pernah main-main dengan ancamannya. Seperti yang terjadi di masa lalu, begitu banyak hal buruk yang dilakukan Jordan terhadap dia dan keluarganya.


"Apa pun caranya, aku harus bisa melawannya. Orang kejam dan licik seperti dia, jangan sampai menang untuk kesekian kali. Tapi ... ah."


Zetta menunduk dan memijit pelipis. Kepalanya tiba-tiba sakit ketika memikirkan itu semua. Belum terpikirkan jalan apa yang akan ia tempuh untuk keluar dari masalah itu, otaknya mendadak buntu.


Setelah cukup lama merenung dan tidak mendapatkan solusi, Zetta teringat kembali dengan Duck, sosok yang sampai sejauh ini belum disadari bahwa dia adalah Keenan. Zetta pun bercerita panjang pada lelaki itu. Bukan hanya tentang tindakan Jordan yang menyulitkannya sekarang, melainkan juga tindakan-tindakan buruk Jordan di masa lalu. Zetta menjelaskan dengan rinci melalui voice note.


"Ah, aku tidak percaya menceritakan hal ini pada lelaki asing," ucapnya ketika pesan sudah terkirim. Meski tak dipungkiri, ada perasaan lega karena telah membagi beban pikirannya dengan orang lain.


Kemudian, Zetta meletakkan ponsel itu dan berusaha fokus dengan masalah yang ada. Meskipun tempo hari Duck sudah membantunya, tetapi tidak berharap untuk kali ini. Masalah lebih pelik dan lawan yang dihadapinya juga lebih kuat, jadi besar kemungkinan Duck tidak mau ikut campur.


Di tempat yang berbeda, Keenan merasakan getaran di ponsel yang ia simpan di saku celana. Dia pun merogohnya, dan kemudian tanpa sadar senyumnya mengembang ketika tahu bahwa pesan itu dari Zetta.

__ADS_1


"Dia menghubungi lagi," gumam Keenan.


Masih dengan bibir yang menipis, lelaki itu membuka satu per satu voice note yang dikirimkan oleh Zetta. Keenan bergeming dan mendengarkan dengan seksama setiap kalimat yang Zetta ucapkan.


__ADS_2