My Beloved Ex-wife

My Beloved Ex-wife
Bab 66


__ADS_3

"Baik, saya menerima kerja sama yang Anda tawarkan. Saya akan membantu Anda membangun perusahaan dengan imbalan setengah dari tanahnya."


Zetta membelalakkan matanya ketika mendengar tanggapan dari tim departemen pertanahan. Tanpa negoisasi lagi, mereka langsung setuju dengan tawaran yang Zetta berikan. Zetta pun tersenyum lebar, tidak menyangka jika diskusi kali ini akan berjalan sangat lancar. Saran dari Duck memang bisa diandalkan.


"Terima kasih, senang bekerja sama dengan Anda," ucap Zetta sambil mengulurkan tangan dan berjabatan dengan perwakilan tim departemen tersebut, yang kemudian diikuti juga oleh Theo.


"Kami juga senang bekerja sama dengan Anda." Perwakilan tim departemen membalas ucapan Zetta dengan tak kalah sopan.


Setelah mencapai kesepakatan itu, Zetta dan Theo pamit undur diri karena sudah tidak ada masalah lagi dalam pembangunan perusahaan. Mereka tinggal menunggu waktu pelaksanaannya saja.


Zetta sangat lega dengan hasil itu. Langkahnya begitu ringan ketika keluar dari kantor departemen tersebut, begitu pun dengan senyuman, tampak terus tersungging di bibir ranumnya.


"Untuk merayakan keberhasilan kita kali ini, bagaimana kalau nanti makan malam bersama?" tanya Theo ketika keduanya hampir tiba di mobil.


"Baiklah." Tanpa berpikir panjang, Zetta langsung mengangguk dan mengiyakan ajakan Theo.


Jika dipikir-pikir, memang sudah agak lama mereka tidak pergi bersama, terakhir kali waktu di pemandian tempo hari.


"Mudah-mudahan saja saat pergi nanti tidak bertemu lagi dengan Helia." Zetta membatin sambil masuk ke mobil, mengingat kemana pun dia pergi selama ini, selalu saja bertemu dengan perempuan licik itu.


Helaan nafasnya terdengar berat saat mengingat Keenan dan Helia, sudah bosan dia berurusan dengan mereka. Namun, entah mengapa mereka terus saja bertemu. Sangat menyebalkan.


***


Malam hari pun tiba. Sesuai dengan rencana tadi siang, saat ini Zetta dan Theo akan pergi makan di luar. Zetta terlihat cantik dalam balutan gaun yang anggun. Dia duduk di samping Theo yang sedang mengemudi. Keduanya sedang dalam perjalanan menuju sebuah restoran.


Sepanjang perjalanan, Zetta dan Theo terus berbincang. Sesekali juga bercanda dan tertawa bersama, sehingga tidak bosan meski jalanan cukup padat dan menghambat laju mobil yang mereka bawa.

__ADS_1


Hampir satu jam, Theo dan Zetta baru tiba di halaman restoran. Keduanya pun menghentikan obrolan dan keluar dari mobil bersama-sama.


"Ayo." Theo menggenggam tangan Zetta dan mereka beriringan memasuki restoran.


Baru beberapa langkah Zetta menapakkan kaki di tempat itu, senyumnya langsung hilang dan berganti rasa kesal. Apa lagi alasannya kalau bukan Helia dan Keenan. Dua orang yang sangat dia hindari, malam ini juga ada di sana. Sungguh suatu kebetulan yang memuakkan.


"Zetta," sapa Keenan.


Zetta mengangguk dan tersenyum tipis, sebagai bentuk sopan santun belaka. Aslinya, dia sangat kesal dan ingin pergi jauh-jauh dari hadapan Keenan.


Tak beda jauh dengan Zetta, Theo dan Helia juga merasa kesal. Mereka tidak menyapa dengan kata-kata, sekadar melempar senyum masam sebagai formalitas. Kemudian, Theo langsung merangkul bahu Zetta dan mengajaknya ke meja kosong.


Melihat itu, Keenan langsung membuang pandangan. Dia tidak suka melihat Theo memeluk Zetta, namun dia juga tak bisa melakukan apa pun. Zetta bukan miliknya lagi, mereka hanyalah orang asing sekarang.


Melihat raut wajah Keenan yang keruh, mata Helia memicing seketika. Dia benci dengan pemandangan itu, sama sekali tidak rela jika Keenan memendam perasaan cemburu untuk Zetta.


"Kita juga duduk, yuk!" Helia menggamit lengan Keenan dan membimbingnya menuju meja kosong yang tak jauh dari sana.


Keenan sedikit menghela dan mengikuti Helia dengan pasrah. Melihat begitu intimnya Zetta dan Theo tadi, moodnya tiba-tiba saja menjadi buruk.


Sementara itu, di mejanya sendiri Zetta tampak memasang raut wajah kesal. Tak habis pikir mengapa setiap saat selalu bertemu Keenan dan Helia. Dia jadi bertanya-tanya, apakah sesial itu hidupnya?


"Sudah, jangan terus dipikirkan. Yang penting kamu hati-hati sama dia, jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi," ujar Theo menenangkan Zetta.


Zetta menggelengkan kepala, "Aku cuma heran. Dari sekian banyak orang yang aku kenal, kenapa harus mereka lagi? Aku sungguh sudah bosan bertemu dengan mereka, malahan kalau bisa mereka menghilang saja selamanya, tidak usah muncul-muncul lagi. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Bertemu lagi, bertemu lagi. Muak sekali aku."


"Aku paham apa yang kamu rasakan. Tapi kita bisa berbuat apa? Kita juga tidak merencanakan semua ini, kan?" Theo menatap Zetta cukup lama.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan dihiraukan. Jangan sampai suasana hatimu hancur hanya karena ini. Ingat, kita tadi datang ke sini untuk merayakan keberhasilan. Jadi, harus bahagia dong," sambungnya.


Mendengar ucapan Theo, kekesalan Zetta agak berkurang. Dia mulai bisa tersenyum dan menikmati hidangan yang baru saja disajikan.


Setelah beberapa menit berlalu, Theo dan Zetta sudah menghabiskan makanannya. Zetta pamit ke kamar mandi sebentar, sedangkan Theo menunggu di meja sambil menyesap minuman yang masih tersisa.


Sesampainya di kamar mandi, Zetta kembali mengalami kesialan. Di sana sudah ada Helia yang sedang membenahi riasan wajahnya. Zetta menatapnya sekilas, kemudian memutar bola mata dengan jengah. Dia juga menggerutu dan memaki dalam hati, kekesalannya saat ini sudah mencapai level tinggi.


Di saat Zetta masih menenangkan hati dan pura-pura tak peduli, Helia malah melakukan hal yang lebih memuakkan. Dia mendekati Zetta dan bicara dengan ekspresi yang dibuat-buat.


"Zetta, bagaimana keadaan kamu sekarang? Maaf ya, setelah hari itu aku belum sempat jenguk lagi."


Demi mengimbangi sikap Helia yang selalu bermuka dua, Zetta menanggapi ucapan itu dengan tawa renyah.


"Aku sudah mendapat kompensasi tanah, jadi tentu saja keadaanku baik. Dan akan lebih baik lagi kalau sekarang kamu pergi dan tidak menggangguku," sahut Zetta dengan tegas dan keras.


Helia mengertakkan gigi, sangat benci dia diperlakukan seperti itu. Tangannya pun mengepal, seakan siap melayangkan tamparan. Namun, Zetta sama sekali tidak takut. Dia malah melotot tajam dan mengusir Helia untuk kedua kalinya.


Helia pun akhirnya keluar dari toilet dengan memasang muka masam.


Zetta hanya menggeleng-geleng. Tak mau tahu lagi dengan Helia, yang penting dia pergi dari hadapannya.


Namun tanpa sepengetahuan Zetta, Helia melangkah keluar sambil menutup hidung dan mulut. Ia bekap dengan kuat dalam waktu yang agak lama, sampai kehabisan nafas dan pingsan. Entah apalagi yang dia rencanakan kali ini.


Di sisi lain, Keenan mulai gelisah. Helia sudah pergi cukup lama, tetapi belum juga kembali. Dia khawatir, takut terjadi sesuatu dengan kekasihnya itu.


"Kemana Helia? Bukannya tadi hanya ingin membenahi riasan, lalu kenapa begitu lama?" Keenan menatap jarum jam yang melingkar di lengannya, sudah lima belas menit Helia pergi.

__ADS_1


Akhirnya, Keenan bangkit dan melangkah menuju kamar mandi. Dia memutuskan untuk mencari Helia di sana dan memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja.


__ADS_2