My Beloved Ex-wife

My Beloved Ex-wife
Bab 50


__ADS_3

Bunyi notifikasi pesan mengalihkan perhatian Keenan yang saat itu sedang berbincang dengan Gerry dan seorang pria asing yang sepertinya adalah orang suruhannya. Awalnya Keenan tak acuh dan hanya meliriknya sekilas ke arah ponselnya. Tetapi setelah tahu bahwa nama kontak Rayden yang ada dalam notifikasi tersebut, Keenan pun melihatnya dengan lebih seksama. Dan karena yang dikirimkan oleh Rayden adalah video, Keenan bergegas membukanya.


"Waktu itu foto Zetta dan Helia yang sedang taruhan, sekarang apa lagi yang dia kirim?" batin Keenan.


Tak lama kemudian, video berhasil diputar. Keenan agak mengerutkan keningnya karena yang ada di dalam video tersebut rupanya Zetta dan Roan. Setelah menyimak selama beberapa saat, Keenan bisa menangkap jika saat ini Zetta tengah mrmbantu Roan.


Keenan tersenyum miris, lalu tertawa dengan perasaan yang bercampur aduk tak menentu. Antara marah, lucu dan merasa ironi. Zetta yang telah disia-siakan dan selalu diperlakukan dengan buruk selama menjadi istrinya, ternyata masih peduli terhadap Roan. Padahal, adiknya itu dulu juga tak pernah menganggap Zetta sebagai kakak ipar. Ternyata sebaik itu kepribadian Zetta.


"Zetta, kenapa kamu melakukan ini?" batin Keenan sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Ada rasa malu setelah mengetahui kenyataan barusan.


Dalam video yang masih berjalan, kepedulian Zetta terlihat tulus. Tidak ada gambaran keterpaksaan di wajahnya, malah dia terlihat sesekali tersenyum, meski tipis.


Entah apa yang sebenarnya membuat Zetta tersenyum, bisa membantu Roan atau karena berdampingan dengan Rayden. Apa pun jawabannya, yang jelas Keenan kurang nyaman. Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan dengan kata-kata ketika melihat itu semua.


"Tuan, apakah ada masalah?" tanya Gerry karena Keenan menatap ponselnya dengan ekspresi yang sulit untuk ditebak.


"Mmm, tidak." Keenan meletakkan ponselnya dan berusaha tersenyum. "Oh, iya, sampai di mana kita tadi?" sambungnya.


"Saya sudah menemukan identitas pemilik benda ini, Tuan." Pria di samping Gerry memberikan penjelasan sambil menyodorkan sebuah pena perekam di hadapan Keenan.


"Siapa?" tanya Keenan dengan cepat. Rasanya ia sudah tak sabar untuk mengetahui pemilik benda tersebut.


Sembari menunggu jawaban dari pria itu, Keenan kembali mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Dia sangat terkejut karena tak sengaja menemukan pena perekam di meja kerjanya. Keenan kesal dan penasaran siapa pemiliknya, berani sekali mengambil keuntungan darinya.


"Tuan, pena perekam ini milik ...," jawab pria itu dengan kalimat yang menggantung.


Keenan mengernyit. Dia makin penasaran dibuatnya.

__ADS_1


"Dilihat dari ekspresinya yang agak gugup, jangan-jangan dugaanku memang benar, pemilik pena ini adalah orang yang dekat denganku." Keenan bermonolog sendiri dalam hati.


Sejauh ini, ruang kerja Keenan memang privasi dan hanya orang-orang tertentu yang diperkenankan masuk. Jadi, jika ada sesuatu yang tidak beres, sudah tentu berhubungan dengan orang-orang dekat. Entah sekadar bekerja sama dengan orang lain atau juga melakukan untuk diri sendiri.


"Pena perekam ini milik Nona Helia," ujar pria suruhan Keenan itu akhirnya.


"Helia?" ulang Keenan.


Keenan tampak terkejut, sampai-sampai matanya sedikit melebar. Sungguh tak menyangka jika itu adalah ulah kekasihnya sendiri, seseorang yang dia percayai melebihi siapapun.


Sebenarnya, tanpa sepengetahuan Keenan, Helia sudah lama menggunakan pena perekam itu, diambil dan diletakkan secara berkala untuk mendapatkan informasi yang dia butuhkan. Namun, baru beberapa hari yang lalu Keenan menemukannya. Lelaki itu kemudian meminta seseorang untuk mencari tahu siapa pemilik benda tersebut, dan ternyata pemiliknya adalah Helia.


"Ternyata aku tidak mengenalnya dengan baik. Selama ini dia kuanggap polos dan murni, tapi ternyata cukup licik. Ah, apalagi yang kulewatkan darinya selain ini?" Keenan kembali membatin.


Dia menunduk sambil memijit pelipis, sesekali pula mengembuskan nafas panjang dan kasar. Dalam kekecewaannya, Keenan mulai bertanya-tanya, benarkah Helia yang dikenalnya ini adalah sahabat pena yang sering berkomunikasi dengannya dulu? Lalu, mengapa makin ke sini keduanya makin terlihat berbeda?


"Dia selalu beralasan lupa saat aku membahas masa lalu. Walaupun dia pernah kecelakaan, tapi seharusnya masih bisa mengingat meski hanya sedikit. Apalagi soal tato, jika dia benar-benar sahabat penaku, pasti di pinggangnya ada tato namaku. Dengan begitu dia tidak mungkin melupakannya. Selain itu, makanan dan minuman kesukaan juga tidak mungkin berubah begitu saja, kecuali ... mereka memang orang yang berbeda," ucap Keenan dalam hatinya.


"Tuan Keenan." Panggilan dari pria yang disewanya, menyadarkan Keenan dari renungannya.


"Mengenai pena perekam itu, mungkin maksud Nona Helia hanya iseng, Tuan. Dia sekedar ingin tahu bagaimana keseharian Anda saat bekerja. Terkadang orang jatuh cinta itu memang berlebihan. Maklumi saja, Tuan, jangan diambil hati."


"Aku yang lebih paham dengan apa yang harus aku lakukan," jawab Keenan dengan agak kesal.


Baginya, pria itu hanyalah orang asing. Tidak selayaknya memberikan nasihat sok bijak. Karena pada dasarnya, perbuatan Helia bukanlah sesuatu yang berdasarkan keisengan semata. Wanita itu tidak sedang mencintai secara berlebihan, melainkan memanfaatkan kepercayaan demi mengambil keuntungan.


Tak lama kemudian, pria itu pamit undur diri. Keenan tak menahan karena urusan dengannya memang sudah selesai. Kini, tinggal Gerry seorang yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Tuan, saya sudah menemukan direktur perusahaan yang akan melakukan akuisisi dengan perusahaan Nona Zetta. Selain itu, saya juga sudah memeriksa tangga tempat Nona Helia terjatuh." Gerry memberikan laporan atas dua perintah yang diberikan Keenan.


"Apa yang kau temukan dari tempat itu?" tanya Keenan. Dia terlebih dahulu membahas tempat kecelakaan Helia. Dia butuh jawaban pasti atas dugaan-dugaan yang mulai memenuhi otak dan pikirannya.


"Lampu tangga di sana sangat terang, Tuan. Seharusnya tidak ada orang yang terpeleset, apalagi sampai jatuh dan terluka. Ini ... agak mengherankan," jawab Gerry.


Keenan mengangguk-angguk, "Baiklah. Aku sudah mengerti sekarang."


Lagi-lagi Keenan mengusap wajahnya dengan kasar. Sekarang dia paham bahwa kecelakaan itu bukanlah sebuah insiden, melainkan sesuatu yang telah direncanakan. Helia sengaja menjatuhkan dirinya di sana, entah dengan tujuan apa.


Keenan memejam sesaat. Dia teringat kembali dengan video kecelakaan yang menjadikan Zetta sebagai tersangka, yang ternyata hanya sebuah editan. Kemudian pena perekam dan sekarang kecelakaan di tangga. Helia ternyata tidaklah sepolos yang ia pikirkan.


"Helia bukan sahabat penaku," batin Keenan dengan penuh keyakinan.


"Tuan," panggil Gerry karena Keenan terlihat melamun.


Keenan agak terhenyak dan kembali menatap Gerry. Dia lalu meminta informasi terkait direktur dari perusahaan yang akan diakuisisi oleh Zetta.


Keenan tampak serius saat mengamati jadwal kegiatan direktur tersebut. Lalu, dia mengulas senyum tipis, seakan-akan lupa dengan emosinya beberapa saat yang lalu.


"Baiklah, semuanya sudah jelas. Silakan kamu lanjutkan pekerjaan yang lain," ujar Keenan kemudian.


"Baik, Tuan, kalau begitu saya permisi dulu." Gerry pamit undur diri.


Setelah Gerry keluar dari ruangan, Keenan mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk seseorang. Kali ini bukan Helia lagi yang dia hubungi, melainkan Zetta.


Sementara itu, di sekolah Roan pertandingan basket sudah selesai. Tiga rounde berhasil Roan lewati dengan performa yang sangat bagus. Dia menang dan berhasil lolos menjadi pemain inti.

__ADS_1


Senyum sempurna terus terukir di bibir Roan ketika berjalan meninggalkan lapangan. Rasa letih dan lelah tak ia hiraukan, begitu pula dengan keringat yang membasahi wajah dan sekujur tubuh. Baginya, semua itu sudah terbayar lunas dengan kemenangan.


__ADS_2