
Setelah mengucapkan terima kasih, Roan mengajak Zetta menuju gedung olahraga. Rayden pun tetap ikut dan berjalan di belakang mereka. Selain Roan dan Zetta, teman-teman yang lain juga ke sana bersama keluarga pendampingnya.
Setibanya di dalam gedung, Roan membawa Zetta ke hadapan pelatih basket. Keduanya pun disambut ramah. Usai berbasa-basi sebentar, pelatih basket menyampaikan hal penting terkait kemampuan Roan dalam bermain basket.
"Sejujurnya, Roan belum terlalu layak menjadi pemain inti dalam tim basket. Tapi melihat kesungguhannya dalam berusaha, saya akan memberikan kesempatan terakhir. Saya akan menggunakan tiga rounde untuk memberikan penilaian. Jika performa Roan bagus, dia bisa menjadi pemain inti. Tapi jika sebaliknya, maaf, dengan berat hati saya tidak bisa menerimanya," terang pelatih basket.
Zetta mengangguk paham. Lalu, menatap Roan yang berdiri di sebelahnya. Pemuda itu menunduk dan tangannya tampak meremas ujung seragam. Dari sana Zetta tahu bahwa Roan sangat ingin menjadi pemain inti, hanya saja selama ini kemampuannya belum mumpuni.
"Sebenarnya aku sibuk, tapi masih sempat datang ke sini. Kamu harus tahu terima kasih, jangan membuang waktuku dengan hal yang sia-sia," bisik Zetta sambil menepuk pelan bahu Roan.
Roan tersenyum. Di balik ucapan Zetta yang terdengar ketus, Roan menangkap kata-kata penyemangat. Hal itu membuat perasaannya membaik. Dalam hati Roan berjanji untuk tidak mengecewakan mantan kakak iparnya itu.
"Saya pasti bisa, Pak," ucap Roan dengan penuh percaya diri.
"Bagus." Pelatih basket tersenyum lebar, lalu kembali menatap Zetta, "Kalau begitu ini silakan ditandatangani, surat kontrak masa percobaan," ucapnya.
"Terima kasih." Zetta menerima surat itu sambil tersenyum. Lalu, membubuhkan tanda tangan sebagai orang tua Roan.
Setelah menyelesaikan urusan dengan Zetta, pelatih basket melangkah pergi dan menyelesaikan urusan lain. Pada saat itu, para wali murid banyak yang memberikan tatapan tak suka terhadap Roan dan Zetta.
"Anak zaman sekarang banyak yang tidak tahu diri. Memanfaatkan nama besar keluarga demi mencapai keinginan. Aslinya kalau tidak mampu ya belajar, bukan mengandalkan kekuasaan demi kesempatan," sindir salah seorang wali murid yang berdiri tak jauh dari tempat Zetta.
"Betul itu. Lagian ya, kalau masuknya lewat jalur curang begitu, yang ada malah merugikan sekolah. Performa tim akan buruk dan pasti sering kalah kalau bertanding dengan sekolah lain."
__ADS_1
"Sayangnya tidak banyak yang bisa berpikir sejauh itu. Yang penting terlihat keren, mau merugikan atau tidak mana peduli. Benar-benar egois!"
Sindiran demi sindiran terus terdengar di telinga Zetta dan Roan. Zetta menanggapinya dengan memutar bola mata, sedangkan Roan menunduk sambil mengepal erat.
"Bungkam mulut mereka dengan jantan! Jangan hanya emosi atau bersedih, kecuali kamu ingin menjadi lelaki lemah," bisik Zetta. Kemudian, dia beralih menatap wali murid yang sudah menyindir Roan.
"Dari pada kita sibuk bicara yang macam-macam dan belum tentu benar, lebih baik kita lihat saja nanti. Dia hanya mengandalkan nama besar kakaknya atau memang punya kemampuan." Zetta tersenyum miring dan mengabaikan mereka yang terlihat kesal.
Setelah berhasil membungkam mulut-mulut wali murid yang hobi bergosip, Zetta dan Rayden berjalan keluar, sedangkan Roan mempersiapkan diri untuk pertandingan yang akan dilangsungkan hari itu juga.
"Aku tidak menyangka kamu seberani ini, Zetta. Tanpa sepengetahuan Keenan, kamu datang ke sini sebagai orang tua dan menandatangani surat kontraknya Roan," ucap Rayden.
Sejak tadi dia sudah gatal untuk memberikan komentar. Masih tidak disangka jika kedatangan Zetta ke sekolah ternyata demi seorang Roan. Lebih tidak disangka lagi hal itu dilakukan tanpa sepengetahuan keluarga Keenan. Sungguh mengejutkan.
"Tapi, apa kamu tidak takut?"
"Takut apa?" Zetta balik bertanya.
"Bisa saja kan Keenan menyalahkanmu dan menuduh yang macam-macam," jawab Rayden. Bukan bermaksud menakut-nakuti, tetapi bisa saja kemungkinan itu terjadi.
Zetta tertawa. Kemudian, menarik napas panjang dan menjawab ucapan Rayden.
"Kenapa harus takut? Sejak dulu dia sering menuduhku yang macam-macam, bahkan saat aku tidak melakukan apa pun. Dalam benaknya aku ini hanyalah wanita buruk, sama sekali tidak ada kesan baiknya."
__ADS_1
Rayden diam sejenak. Apa yang dikatakan Zetta memang benar, sejak dulu Keenan tidak pernah menganggap perempuan itu baik. Semua yang ada pada Zetta selalu salah di mata Keenan.
"Tapi, kenapa kamu mau membantu Roan? Dia kan adiknya Keenan. Setelah apa yang Keenan lakukan ke kamu, apa masih bisa menganggapnya keluarga?"
Pertanyaan Rayden membuat Zetta bergeming. Dulu dia juga benci dengan Roan, mengingat sikapnya yang tengil dan arogan. Namun setelah mengetahui beberapa fakta tentangnya, hati Zetta agak melunak. Sampai akhirnya, dia bersedia membantu pemuda itu.
"Maaf, aku sudah lancang," sambung Rayden. Dia merasa tak enak hati saat melihat Zetta diam dan tidak menanggapi ucapannya.
"Tidak apa-apa, aku paham. Memang aneh aku masih membantu Roan, tapi aku mau melakukan itu karena kasihan dengannya. Terlepas dia masih keluarga atau bukan, niatku hanya ingin membantu, tidak ada yang lain. Tapi, aku juga berharap Keenan bisa merenung dan memikirkan kehidupan seperti apa yang diinginkan adiknya." Zetta mengembuskan nafas kasar di ujung penjelasan panjangnya.
"Kehidupan adiknya? Maksudmu?" Meskipun sudah meminta maaf karena merasa lancang, tetapi Rayden tak bisa berhenti bertanya. Rasa penasaran telah mengalahkan rasa malunya.
"Keinginan setiap anak tidak sama. Mereka punya kelemahan dan kelebihan di bidang yang berbeda. Keenan memang sukses dalam bisnisnya, banyak yang menganggap itu adalah pencapaian yang sempurna. Tapi, bukan berarti semua orang berpendapat begitu, termasuk Roan. Bisa jadi dia malah menginginkan pencapaian yang lain, yang tidak ada hubungannya dengan bisnis," jawab Zetta.
Rayden mengangguk-angguk. Dia sungguh salut dengan pemikiran Zetta yang sangat bijak, bahkan lebih bijak dari Keenan sendiri. Rayden pun tak bisa berkata banyak, hanya mengiyakan dan memuji pendapat itu.
Rayden jadi penasaran bagaimana tanggapan Keenan jika tahu kejadian hari ini. Zetta datang untuk Roan dan menandatangani kontrak masa percobaan. Perempuan itu juga membahas masa depan anak itu.
Tanpa sepengetahuan Zetta, Rayden memang merekam videonya secara diam-diam. Sejak dia tahu bahwa Zetta datang sebagai wali murid Roan, Rayden sudah tergerak untuk memberikan kejutan kepada Keenan.
Malam itu Keenan langsung datang ke room ketika Rayden mengirim foto Zetta dan Helia yang sedang taruhan. Kalau sekarang dia mengirim video Zetta yang sedang menggantikan posisi Keenan, kira-kira bagaimana tanggapan Lelaki itu. Langsung ke datang menyusul ke sekolah Roan atau hanya marah-marah di sana? Rayden merasa sangat penasaran.
Rayden pun akhirnya mengirim video yang diambilnya tadi kepada Keenan, lengkap dengan tulisan yang cukup menarik perhatian. Setelah berhasil, Rayden menunduk dan pura-pura berdehem, demi menyembunyikan senyuman yang sangat lebar. Sepertinya akan seru.
__ADS_1