
"Di mana Helia?"
Keenan tak segan melayangkan pertanyaan ketika bertemu Zetta di kamar mandi. Dia tak menemukan keberadaan Helia di sana, dan itu membuatnya cemas.
"Helia sudah keluar sejak tadi," jawab Zetta tanpa tersenyum atau sekadar membalas tatapan Keenan.
Keenan menghela kasar, "Dia belum kembali, aku sudah lama menunggunya."
Zetta memutar bola mata dengan jengah, sungguh bosan dengan sikap Helia. Entah apa lagi sekarang yang dimainkan olehnya, yang jelas Zetta muak dengan semua itu.
"Kamu lihat sendiri dia tidak ada di sini. Dia sudah keluar sejak beberapa saat yang lalu. Kalau kamu tidak percaya, cek saja CCTV," ucapnya dengan agak menyergah.
Melihat tanggapan Zetta yang kurang bersahabat, Keenan pun berhenti bertanya. Dia percaya Zetta tidak melakukan apa-apa, karena dia tahu Zetta tidak selicik itu.
Akhirnya, Keenan keluar dari kamar mandi dan mencari ke tempat lain, tapi nihil. Di sudut mana pun tidak ada tanda-tanda keberadaan Helia.
"Kita sudah selesai, ayo pergi saja." Zetta mengajak Theo untuk pergi dari sana. Ia tak peduli Helia akan ditemukan atau tidak. Itu sama sekali bukan urusannya, pikir Zetta.
Theo pula tidak membantah. Dengan senang hati dia mengiyakan ajakan Zetta dan pergi dari sana. Dia juga tidak tertarik dengan Helia dan Keenan, yang ada malah kesal dan muak. Theo justru berpikir akan lebih baik kalau Helia hilang dan tidak pernah kembali, agar Zetta bisa tenang dan tidak terusik lagi.
Sementara itu, Keenan mulai panik karena Helia tak juga ditemukan, sedangkan rekaman CCTV belum berhasil ia dapatkan karena petugas bagian itu masih ada kepentingan lain. Dan di tengah kebingungannya, Keenan menelepon Gerry.
"Datanglah ke sini dan cari Helia! Aku akan menemui Paman Jordan untuk menyampaikan kabar buruk ini."
"Baik, Tuan," jawab Gerry dari seberang sana.
Setelah itu, Keenan mengirimkan alamat restoran tempatnya saat ini. Kemudian, menyimpan kembali ponselnya dan bergegas pergi meninggalkan tempat itu.
Keenan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menembus jalanan yang padat dengan kendaraan. Di tengah fokusnya mengemudi, Keenan menerka dan menduga, ke mana kira-kira Helia. Pergi sendiri atau atas paksaan orang lain.
"Apa mungkin dia diculik? Tapi, siapa yang melakukan itu? Apa mungkin Paman Jordan sedang ada masalah dengan rekan bisnisnya? Ahh!" Keenan memukul kemudi, perasaannya campur aduk memikirkan hilangnya Helia.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Keenan tiba juga di kediaman Jordan. Kedatangannya disambut ramah oleh pelayan yang bekerja di sana. Sampai ia diantar masuk dan bertemu dengan orang tua Helia.
"Di mana Helia? Kenapa kamu pulang sendiri?" Jordan bertanya karena tak memdapati Helia bersama Keenan, padahal sebelumnya mereka pergi bersama.
Dengan kepala yang menunduk, Keenan menarik nafas dalam-dalam. Lalu mendongak dan menatap orang tua Helia dengan agak ragu.
"Keenan?" Alma ikut membuka suara. Dia pun heran karena tak mendapati sosok anaknya.
"Helia menghilang. Saya sudah mencoba mencarinya, tapi belum ketemu. Barusan saya sudah menyuruh Gerry untuk memeriksa rekaman CCTV di restoran tempat kami makan tadi," ungkap Keenan.
"Apa? Kenapa itu bisa terjadi? Bagaimana kamu menjaganya?" Jordan tampak murka, bahkan dadanya sampai naik turun karena nafas yang memburu.
Keenan mengusap wajahnya dengan kasar, "Tadi dia pamit ke kamar mandi, Paman. Cukup lama tidak kembali, lalu saya cari ... tapi ternyata dia tidak ada."
"Ini tidak mungkin. Helia ... Helia."
Alma menyela pembicaraan Keenan dan Jordan. Suaranya terdengar lemah dan langsung menyita perhatian Jordan. Namun, belum sempat pria itu bertanya, tubuh Alma sudah ambruk di sofa. Perempuan paruh baya itu pingsan.
"Helia." Satu nama yang digumamkan Alma ketika dirinya baru saja membuka mata.
Jordan mendekat dan menggenggam erat tangan Alma, "Tenangkan diri kamu. Percaya padaku, Helia akan baik-baik saja. Orang-orang kita sangat hebat, pasti bisa menemukan Helia dalam waktu cepat."
"Tapi ...,"
"Apa lagi yang kamu takutkan? Helia tidak mungkin kenapa-napa. Jadi, cukup tunggu dan tenangkan diri kamu. Masalah ini, serahkan semuanya padaku." Jordan menggenggam tangan Alma lebih erat lagi, agar dia tenang dan tidak hilang kesadaran.
Bersamaan dengan tenangnya perasaan Alma, ponsel Keenan berdering. Dengan cepat Keenan menerimanya, sebuah telepon yang tak lain dari Gerry.
"Tuan, saya sudah mendapatkan rekaman CCTV-nya," lapor Gerry.
"Cepat katakan!"
__ADS_1
"Nona Helia dibawa pergi oleh seorang pria. Tapi tidak jelas seperti apa wajahnya. Dia memakai topeng, Tuan."
Mendengar penuturan Gerry, kening Keenan mengerut. Ternyata Helia memang diculik. Namun, Keenan masih gagal menebak. Belum ada satu nama pun yang ia curigai melakukan hal itu.
"Rekaman CCTV berakhir saat dia menuju samping restoran. Di sana gelap dan tempatnya juga tidak terjangkau, jadi tidak ada rekaman yang berhasil ditangkap untuk melacak plat mobilnya," sambung Gerry.
Keenan memijit pelipis, mencoba mengurangi rasa pening yang menyerang tiba-tiba.
"Baik, sudah cukup informasinya."
Setelah telepon berakhir, Keenan menatap Jordan dan Alma, yang sudah sejak tadi ingin tahu isi dari perbincangannya dengan Gerry.
"Dari rekaman CCTV, terlihat bahwa Helia dibawa pergi oleh pria bertopeng." Keenan memberitakan informasi yang dibawa Gerry, tanpa menambah atau mengurangi.
Alma menutup wajahnya dengan kedua tangan, "Kenapa Helia harus mengalami semua ini? Sekarang apa yang bisa kita lakukan?"
Keenan mencoba mendekat dan ikut menenangkan Alma. Bagaimanapun juga Helia hilang saat pergi bersamanya, jadi dia bertanggung jawab untuk segera menemukan tunangannya itu.
"Tante tenang saja, aku akan melaporkan kasus ini kepada polisi. Helia pasti akan segera ditemukan. Semuanya akan baik-baik saja," ucapnya dengan penuh keyakinan.
Namun, baru saja Keenan hendak menghubungi polisi, Alma menahannya dengan keras. Tubuh lemah itu sampai bangkit dan menatap Keenan lekat-lekat.
"Tidak." Alma menggelengkan kepala. "Jangan sekali-kali menelepon polisi. Kita cari Helia dengan usaha sendiri, jangan sedikit pun melibatkan poilsi sedikit pun," sambungnya.
Keenan terkejut karena saran dari Alma sangat aneh menurutnya. Apa salahnya melibatkan penegak hukum, sudah jelas itu penculikan dan termasuk dalam tindakan kriminal. Lalu mengapa malah dilarang menghubungi polisi?
"Dia benar. Jangan sampai kamu menghubungi polisi," ujar Jordan, seolah mengerti dengan apa yang Keenan pikirkan.
Keenan tak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya diam dengan sedikit terperangah, tak habis pikir dengan sikap calon mertuanya.
"Kenapa tidak boleh menghubungi polisi? Bukannya lebih baik kita segera melaporkan hal ini pada polisi dan meminta bantuan mereka?" tanya Keenan kemudian sembari memasang ekspresi keheranan.
__ADS_1