My Beloved Ex-wife

My Beloved Ex-wife
Bab 41


__ADS_3

Pandangan Zetta tiba-tiba menjadi agak buram dan kepalanya semakin terasa berat. Pengaruh minuman alkohol yang dia konsumsi sebelumnya membuat otaknya tak bisa bekerja dengan baik. Seketika pandangan Zetta berubah. Wajah Keenan kini terlihat seperti orang lain.


"Astaga, kamu siapa? Aku pikir kamu Keenan, ternyata aku salah mengenali orang," gumam Zetta sembari menatap Keenan dengan tatapan yang agak sayu.


Terang saja Keenan mengernyitkan keningnya mendengar apa yang dikatakan oleh Zetta barusan. Tapi sesaat kemudian, dia pun menyadari jika saat ini mantan istrinya itu sedang mabuk berat. Apalagi saat Zetta terkekeh dengan tubuh yang agak sempoyongan. Keenan langsung bisa menebak jika sebelumnya Zetta pasti minum dengan jumlah yang cukup banyak. Pantas saja tadi dia sampai digoda oleh seorang lelaki hidung belang.


"Aku tadi sempat heran, kenapa mantan suamiku yang brengsek itu tiba-tiba datang dan sok peduli padaku. Ternyata bukan dia ... haha... haha ... astaga... bagaimana bisa aku salah mengenali orang?" Zetta menggerutu sambil menertawakan dirinya sendiri.


Keenan menatap mantan istrinya itu dengan tatapan yang tak dapat dijabarkan dengan kata-kata. Entah dia harus mengakui jika Zetta tidak salah mengenali orang atau tidak.


"Tapi bagaimana kamu bisa tahu siapa namaku? Kamu mengenalku?" tanya Zetta kemudian.


Lagi-lagi Keenan hanya diam.


"Siapa namamu? Sangat tidak adil kalau kamu tahu namaku, tapi aku tidak tahu namamu. Bagaimana bisa kamu begitu mirip dengan lelaki brengsek itu. Posturmu bahkan wajahmu juga mirip. Tapi kalau dilihat-lihat, wajahmu jauh lebih tampan," ujar Zetta lagi sambil menyentuh rahang Keenan, lalu menarik-narik pipi lelaki itu seolah sedang merasa gemas dengan seorang anak kecil.


Mata Keenan membeliak mendapatkan perlakuan itu. Antara merasa terkejut, juga tak percaya Zetta akan melakukan hal tersebut padanya. Tapi entah kenapa, emosinya yang bangkit sebelumnya menjadi reda seketika hanya karena Zetta menyentuh wajahnya, meski dengan agak tak lazim.


"Kenapa kamu diam saja? Tadi kamu bertingkah seolah kamu mengenalku dan dekat denganku. Lalu saat aku bertanya siapa namamu, kenapa kamu tidak mau memberitahu? Kamu mau menjadi sok misterius, ya?" Zetta kembali bertanya sembari terkekeh. Tampaknya kesadaran perempuan itu benar-benar telah hilang sehingga dia tak ragu tertawa di hadapan seorang lelaki yang bahkan dia tak yakin itu siapa.


"Kamu sudah mabuk berat. Sebaiknya langsung pulang saja. Biar aku antar," tawar Keenan kemudian sambil merangkul bahu Zetta.


Zetta langsung menepis tangan Keenan begitu saja.


"Aku tidak mau pulang. Lagipula, aku juga tidak mengenalmu," sahut Zetta dengna nada yang agak berubah.

__ADS_1


Keenan agak menghela nafasnya. Entah perasaan apa yang tengah dia rasakan saat ini terhadap Zetta, tapi yang jelas dia tak mau membiarkan mantan istrinya yang sedang mabuk ini kembali menjadi korban keisengan lelaki hidung belang seperti yang hampir terjadi tadi.


"Kalau kamu tidak mau pulang, mari ikut denganku," ajak Keenan kemudian sambil menarik tangan Zetta.


"Hei, apa yang kamu lakukan?" tanya Zetta sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Keenan di pergelangan tangannya.


Keenan tak menggubris pertanyaan Zetta . Dia melangkah menuju ke sebuah ruangan sembari tak melepaskan genggeman tangannya, yang tentu saja hal itu membuat Zetta mau tak mau mengikutinya.


"Berhenti! Kamu mau membawaku ke mana, hah? Aku tidak mengenalmu, berani-beraninya kamu menyeretku seperti ini!" Zetta agak berotak dan berusaha melepaskan tangannya. Tentu saja hal itu tak berhasil.


"Stop!" Zetta akhirnya sedikit memekik, sehingga Keenan pun sontak menghentikan langkahnya.


"Kamu benar-benar kurang ajar dan tak mendengarkan apa kata orang, ya? Benar-benar persis seperti mantan suamiku yang berengsek itu. Apa maumu sebenarnya?" tanya Zetta kemudian.


"Aku hanya ingin mengamankanmu karena sekarang kamu sedang mabuk. Kamu tidak mau kuantar pulang, makanya aku mau membawamu ke tempat yang aman," sahut Keenan.


Lagi-lagi Keenan tak bisa menjawab pertanyaan itu. Dia agak terkesiap karena Zetta saat ini sedang menatapnya tajam.


"Ah, gila. Semakin dilihat, kenapa kamu semakin mirip dengan lelaki itu. Tapi sepertinya kamu lebih perkasa, tidak payah seperti dia," ujar Zetta lagi tanpa beban.


"Apa maksudmu?" tanya Keenan dengan dahi yang mengerut.


"Mantan suamiku, dia adalah lelaki paling payah yang pernah aku kenal. Aku menikah dengan selama enam tahun dan tak pernah sekali pun dia memuaskanku," ujar Zetta dengan frontal. Perempuan itu kemudian tertawa terbahak-bahak setelah mengucapkan kalimatnya barusan.


"Apa katamu? Dia lelaki payah?" tanya Keenan dengan perasaan yang agak bergemuruh. Emosinya yang baru saja reda, kini bangkit kembali.

__ADS_1


"Iya, dia benar-benar payah. Dia bahkan tidak menyentuhku sama sekali selama kami menikah. Sepertinya dia mengidap semacam kelainan yang membuat senjatanya tak bisa bekerja. Ah, sial sekali aku. Tapi untung sekarang kami sudah bercerai, jadi nasibku terselamatkan. Aku tidak perlu menghabiskan seluruh hidupku bersama lelaki tidak normal seperti dia." Zetta kembali mengucapkan kalimat frontal dan memprovokasi dengan sangat santainya. Pengaruh alkohol benar-benar membuatnya kehilangan kewarasan.


Tak bisa digambarkan lagi betapa muramnya raut wajah Keenan saat ini.


"Kenapa wajahmu terlihat tak suka seperti itu? Kamu terkejut mendengar ceritaku, ya? Tidak usah ikut merasa buruk. Sekarang aku baik-baik saja setelah bercerai dari mantan suamiku itu. Tak lama lagi, aku pasti akan bertemu dengan seorang lelaki yang jauh lebih baik daripada dia. Tentu saja yang lebih perkasa dan bisa memuaskanku," tambah Zetta lagi.


"Kamu ...." Keenan benar-benar merasa emosi dan direndahkan dengan tuduhan yang tak masuk akal. Dia pun menyudurkan tubuh Zetta ke dinding dan mengurung mantan istrinya itu dengan menggunakan tubuhnya yang jauh lebih besar.


"Apa yang kamu katakan tadi, kamu harus mempertanggungjawabkannya, Zetta. Kamu bilang aku tidak normal dan tak bisa memuaskanmu? Sepertinya aku harus menunjukkannya padamu," ujar Keenan sembari memeluk tubuh Zetta dan mencumbu bagian lehernya.


"Apa-apaan ini" Zetta mendorong tubuh Keenan sehingga pelukannya mengendur. "Aku sedang membicarakan mantan suamiku, bukan kamu!"


Keenan tak peduli jika saat ini Zetta sedang meracau tak karuan karena pengaruh alkohol. Dia juga tak peduli meski tahu Zetta mengira dirinya orang lain. Lelaki itu langsung membopong tubuh Zetta dan membawanya masuk ke dalam sebuah ruangan. Hal tersebut ternyata dilihat oleh Kania dari kejauhan. Sahabat Helia itu sampai membekap mulutnya sendiri karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Segera dia kembali ke ruangan tempat Helia dan Razta berada dan mengatakan pada Helia tentang apa yang dilihatnya barusan.


"Perempuan kurang ajar! Berani-beraninya dia menggoda Keenan." Helia yang mendengar itu langsung berang.


Raut wajah Helia langsung berubah menjadi sangat mengerikan. Keenan bahkan menolak saat dirinya terang-terangan menggoda lelaki itu dengan pakaian minim, bagaimana bisa Keenan malah tergoda pada Zetta.


"Keenan milikku. Dia tidak boleh menyentuh perempuan manapun selain aku," ujar Helia lagi.


Helia memang selalu mengklaim jika Keenan adalah miliknya sejak dulu. Meski dia mengakui jika yang sebenarnya menjadi sahabat pena Keenan adalah Zetta, tapi dirinyalah yang menggantikan menemui lelaki itu di masa lalu. Sejak itu, dia selalu merasa kalau Keenan adalah miliknya.


Helia buru-buru pergi ke tangga darurat dan sengaja menjatuhkan dirinya dari sana. sebelum melakukan hal itu, dia lebih dulu berpesan pada Kania untuk menghubungi Keenan dan memastikan Keenan tak menghabiskan malam bersaman Zetta.


Sementara itu, Keenan yang berhasil membawa Zetta ke sebuah ruangan tampak tertegun memandangi Zetta yang tertidur. Dia batal memberikan hukuman pada Zetta karena mantan istrinya itu telah terlelap bahkan sejak berada dalam gendongannya. Keenan benar-benar tak tahu apa yang mesti dia lakukan pada Zetta saat ini.

__ADS_1


Namun, sebuah panggilan telepon kemudian membuyarkan isi kepala Keenan. Seseorang menghubunginya dan mengatakan Helia mengalami sebuah kecelakaan dan sekarang sedang dibawa menuju rumah sakit. Keenan pun langsung beranjak. Tapi sebelum itu, dia meninggalkan sebuah catatan berisi nomor kontaknya di samping Zetta. Nomor kontak tersebut adalah nomor telepon miliknya yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja. Bahkan Helia pun tidak mengetahuinya.


__ADS_2