My Beloved Ex-wife

My Beloved Ex-wife
Bab 55


__ADS_3

Selama beberapa saat, direktur dan Zetta sama-sama terdiam. Mereka tampak larut dengan pikiran masing-masing. Melihat hal itu, Theo berinisiatif untuk memberikan penjelasan, agar direktur tidak ragu lagi dan mau menyetujui pengajuan akuisisi.


"Nona Zetta memang mantan istri Keenan Pieters, Tuan. Tapi, dalam perceraian itu dia tidak mendapatkan tunjangan sepeser pun. Jadi, apa yang kami tawarkan dalam akuisisi ini tidak ada hubungannya dengan Keenan. Semua murni usaha kami, terutama Zetta."


Direktur masih bergeming, tetapi mendengarkan penjelasan Theo dengan serius.


"Ke depannya kami akan memberikan keuntungan yang lebih banyak lagi, jika Anda menyetujui akuisisi ini," sambung Theo dengan penuh percaya diri.


Akan tetapi, direktur terpaksa menunda jawabannya karena ada orang yang datang. Mereka adalah Keenan dan Helia. Tanpa basa-basi keduanya langsung duduk dan bergabung di sana. Menyapa direktur dengan ramah, seolah-olah tidak melihat keberadaan Theo dan Zetta.


"Apa kalian sengaja mengikuti kami?" tanya Theo dengan tatapan tajamnya. Dia sudah kesal karena Zetta dan Keenan seperti ada di mana-mana. Pertemuan tadi siang saja sudah memuakkan, tetapi sekarang masih bertemu lagi. Sungguh kebetulan yang menjengkelkan.


"Kamu terlalu percaya diri. Kamu pikir hanya kalian yang punya urusan?" Helia menatap remeh, dan hal itu membuat Theo semakin emosi.


"Kamu," geram Theo dengan tangan yang mengepal. Hampir saja ia bangkit dan melampiaskan amarah, untung ditahan oleh Zetta.


"Jangan membuat kekacauan. Kamu tidak lupa kan dengan tujuan kita ke sini?" bisik Zetta tanpa melepaskan lengan Theo.


Lelaki itu tidak menjawab dan hanya membuang nafas kasar. Lalu pelan-pelan menurunkan emosi dan kembali berpikir jernih. Apa yang dikatakan Zetta memang benar, dia tidak boleh ceroboh atau rencana akuisisi akan gagal.


"Dasar wanita sialan!" umpat Theo dalam hatinya.


Dia benar-benar kesal dengan keberadaan Helia, sangat mengganggu. Apalagi jika menatap wajahnya yang sok polos, namun angkuh dan licik itu, rasanya tangan Theo gatal untuk mendaratkan tamparan.

__ADS_1


"Tuan, langsung saja pada intinya. Saya ingin menanyakan keputusan Anda terkait pengajuan akuisisi yang kita bahas tempo hari. Jadi, bagaimana keputusan Anda?" Keenan mengabaikan perselisihan antara Theo dan Helia, karena ada masalah lain yang jauh lebih penting dari itu.


Direktur mengusap wajahnya dengan agak kasar. Dan setelah berpikir sebentar, dia menjawab pertanyaan Keenan.


"Untuk saat ini saya masih belum bisa mengambil keputusan. Akan saya pertimbangkan dulu dengan matang. Karena kebetulan, saya dan Nona Zetta tadi juga sedang membahas masalah akuisisi."


"Baiklah kalau begitu." Keenan menyahut sambil menghela nafas berat, seolah-olah jawaban direktur tidak sesuai dengan keinginannya.


Padahal, Keenan memang sengaja mengatur semua itu agar Zetta tidak meragukan identitas Duck, dan ternyata usahanya tidak sia-sia. Setelah mendengar dan melihat perbincangannya bersama direktur, Zetta mulai berpikir lain. Dia tidak lagi curiga seperti tadi, malah sangat yakin bahwa Keenan dan Duck adalah orang yang berbeda.


"Aku terlalu banyak berpikir, mengira dia adalah Duck hanya karena punya kesamaan dalam bernegoisasi. Padahal, itu bisa saja terjadi karena kebetulan. Tapi, untunglah kalau dia bukan Duck. Aku sudah malas berurusan dengannya," batin Zetta sembari bernafas lega.


Sementara itu, Helia merasa kesal dan kecewa dengan jawaban direktur. Menurutnya, tidak perlu dipertimbangkan lagi karena sudah jelas Keenan-lah yang lebih layak. Zetta dan Theo sama sekali tidak sebanding dengan kekasihnya itu.


"Tuan, menurut saya lebih baik langsung disetujui saja pengajuan akuisisi dari Keenan. Tidak perlu dipertimbangkan lagi karena itu hanya membuang waktu. Semua orang sudah tahu bagaimana kemampuan Keenan. Anda pasti mendapatkan banyak keuntungan jika memilih dia," ujar Helia. Tanpa dia sadari, tampang angkuhnya terlihat dengan jelas. Dia begitu yakin jika direktur akan memilih Keenan.


Zetta dan Theo menahan tawa saat melihatnya. Keduanya sangat menikmati wajah Helia yang tampak menahan malu. Di sampingnya, Keenan sibuk meminta maaf kepada direktur. Namun, semua itu dia lakukan hanya untuk meyakinkan Zetta, agar tidak ada kecurigaan sedikit pun.


"Sebelumnya maaf, Tuan Keenan, sepertinya saya akan mengecewakan Anda. Akuisisi yang Anda ajukan, dengan berat hati saya tolak. Selebihnya, saya akan menerima pengajuan dari Nona Zetta," ucap direktur setelah cukup lama berbincang dengan Keenan.


Keenan terlihat menghela nafas berat.


"Baik, saya terima keputusan Anda," ujar lelaki itu kemudian. Sedangkan Helia jelas menunjukkan kekesalannya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Keenan dan Helia pamit undur diri. Keenan merasa puas karena akhirnya Zetta berhasil mengakuisisi perusahaan tersebut. Keenan tidak peduli meski hal itu membuat kekasihnya kecewa.


Sepeninggalan Keenan dan Helia, direktur meneruskan kembali perbincangannya dengan Zetta. Wanita itu sangat berterima kasih karena pengajuan akuisisinya akhirnya diterima. Tidak sia-sia dia terus berusaha, karena hasil akhir sesuai dengan harapan.


"Surat kontraknya sudah saya tanda tangani. Saya harap kerja sama ini berjalan dengan baik dan menguntungkan kedua belah pihak," ucap direktur setelah selesai membubuhkan tanda tangan di atas surat kontrak.


"Saya akan berusaha semaksimal mungkin, Tuan. Sekali lagi, terima kasih banyak untuk hari ini." Zetta mengangguk hormat, kemudian menyimpan surat kontrak itu.


Karena urusan akuisisi sudah selesai, mereka melanjutkan pertemuan dengan menyantap makan malam. Di sela-sela kegiatannya itu, Zetta kembali mengirim pesan pada Duck.


'Selamat malam, Tuan. Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya. Berkat bimbingan Anda, saya berhasil meyakinkan direktur perusahaan yang akan saya akuisisi.'


Senyum Zetta mengembang saat pesan itu sudah terkirim. Satu detik, dua detik, dia menunggu pesan balasan. Namun, sampai beberapa menit berlalu tak ada juga balasan dari Duck.


"Mungkin dia sedang sibuk," batin Zetta sambil menyimpan ponselnya. Kemudian, dia kembali fokus dengan hidangan yang ada di meja.


Tidak membutuhkan waktu lama, mereka sudah menghabiskan makan malamnya. Ketiganya berjalan beriringan saat keluar dari restoran. Kemudian, saling berjabat tangan sebelum masuk ke mobil masing-masing.


"Aku masih tidak menyangka jika ini benar-benar berhasil. Sungguh pencapaian yang luar biasa, Theo," ujar Zetta ketika mobil sudah meluncur di jalanan.


"Kamu saja yang pesimis. Aku dari awal sudah yakin kalau ini akan berhasil." Theo melirik Zetta sekilas.


"Dasar sombong." Zetta mencubit lengan Theo sambil tertawa keras, dan Theo pun ikut tertawa saat melihat reaksi Zetta.

__ADS_1


"Untuk merayakan keberhasilan hari ini, bagaimana kalau sekarang kita pergi ke pemandian air panas? Sepertinya seru," tawar Theo beberapa saat kemudian.


"Mmm, boleh. Kupikir-pikir aku memang butuh relaksasi." Zetta mengangguk mengiyakan ajakan Theo.


__ADS_2