
Zetta tersenyum puas. Suasana hati yang semula sedikit buruk, mendadak sangat baik saat mendapatkan hadiah dari Alex. Rasa kesal dan muak atas kehadiran Keenan, perlahan menghilang dengan sendirinya.
Karena terlanjur senang, Zetta langsung memakai cincin tersebut pada jari manis, sangat pas dan terlihat cantik menghiasi jemari lentiknya. Diam-diam Keenan memalingkan wajah, rasanya sangat sakit dan berat melihat pemandangan itu. Namun, dia menampik keras saat kata 'cemburu' terlintas di pikirannya.
"Sepertinya gosip yang pernah beredar itu memang benar, berselingkuh dengan lelaki lain padahal statusnya masih menjadi istri. Heh, sangat tidak tahu diri," ujar Razta dengan sinis. Sejak tadi dia kesal melihat cincin Zetta. Jadi, tidak ragu lagi melampiaskan kekesalan ketika ada kesempatan.
"Namanya juga wanita rendahan, tidak heran jika mau sana sini. Dulu, dengan tidak tahu malu memanfaatkan keadaan dan minta dinikahi. Setelah itu, dengan tidak tahu malu bermain api dengan lelaki lain. Makanya sekarang diceraikan," jawab Kania tak kalah sinisnya. Dia pun sangat iri dengan hadiah yang Zetta terima.
"Heran ya, udah nyata-nyata kesalahan sendiri, tapi malah melimpahkan kesalahan pada orang lain. Menuduhnya menjadi orang ketiga, padahal hanya untuk menutupi kebobrokannya." Razta berucap sambil melirik Regina. Dia ingin membalikkan omongan yang tadi membuatnya naik pitam.
Namun, Regina hanya bergeming. Sedikit pun tidak terpengaruh dengan perkataan Razta. Regina lebih percaya dengan ucapan Zetta.
Di sisi lain, Zetta mengembuskan nafas panjang. Dia tersenyum dingin dalam hati, lalu melemparkan pandangan ke arah Keenan. Zetta penasaran dengan tanggapan lelaki itu, berani atau tidak mengakui kesalahan. Namun ternyata, wajah Keenan tetap datar dan dingin. Sedikit pun tidak ada tanda-tanda akan menjelaskan jalannya pernikahan mereka. Akan tetapi, mau bagaimana Keenan menjelaskan. Saat itu saja dia sedang kacau dengan perasaannya sendiri.
'Dasar pecundang! umpat Zetta dalam hatinya.
Sebenarnya, Zetta sangat ingin membalas ucapan Razta dan Kania dengan kalimat sarkas. Namun, dia masih menanggapi ucapan tukang cuci tato yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
"Terima kasih." Zetta tersenyum lebar, seakan-akan menghapus tato adalah hal yang menyenangkan baginya, dan melihat itu Keenan makin tidak senang.
'Seharusnya dia sedih karena sudah tidak ada lagi namaku di tubuhnya. Tapi, kenapa dia tenang-tenang saja?' Keenan bergumam dalam hatinya.
Bersamaan dengan tukang cuci tato keluar room, tiba-tiba seorang lelaki melesak masuk dengan wajah yang penuh amarah. Lelaki itu adalah Theo, emosinya tak bisa dibendung ketika mendengar Helia menantang Zetta dan mengajaknya bertaruh.
"Apa yang kamu lakukan pada Zetta? Belum puas kamu membuatnya menderita selama ini, masih ingin mengganggunya terus? Kamu sudah memfitnahnya dan mencemarkan nama baiknya atas kecelakaan yang menimpamu. Padahal, kamu tahu dia sudah mendonorkan darahnya selama kamu sekarat. Tanpa dia, mungkin sekarang kamu tinggal nama. Tapi, kamu terus saja mengusiknya. Apa kamu benar-benar buta? Atau malah bodoh, jadi tak bisa menilai mana yang benar dan mana yang salah, hah!" teriak Theo.
__ADS_1
Suaranya menggema memenuhi ruangan dan membuat para wanita menciut, terutama Helia. Dia ketakutan dan kemudian menunduk di balik tubuh Keenan.
Theo melayangkan pandangan ke seluruh ruangan. Lalu, dia tertawa dingin saat menatap Keenan. Kekesalannya pada lelaki itu makin menjadi saat melihatnya menjaga dan melindungi Helia, setelah dulu menyakiti Zetta tanpa rasa iba.
"Kalian menindas Zetta, kan?" tanya Theo masih dengan nada tinggi.
"Jangan menuduh yang tidak-tidak! Zetta dan Helia hanya bermain kartu," bela Razta.
"Mereka tadi sengaja menantang Zetta dan kemudian menindasnya." Regina bangkit dan memberikan kesaksian atas tindakan Helia terhadap Zetta. Dia ceritakan secara rinci tanpa ada yang terlewati.
"Kalian memang keterlaluan, aku akan membuat perhitungan!"
Theo makin emosi dibuatnya. Tatapannya sangat tajam dan seakan-akan menerkam lawan. Menyadari hal itu, Zetta pun bangkit. Kemudian, menghampiri Theo dan menenangkannya.
"Aku tidak apa-apa kok, kamu tidak perlu semarah itu. Kamu sudah kenal lama denganku, pasti tahu kalau aku bisa mengatasi mereka," ucap Zetta sambil menepuk bahu Theo.
"Tidak apa-apa, malahan aku jadi tahu kalau tingkat kepercayaan dirinya itu sangat rendah. Makanya takut banget kalau nanti calon tunangannya jatuh cinta padaku."
Helia mengepalkan tangan saat mendengar jawaban Zetta. Selain kalimatnya yang sengaja menyindir, Zetta juga sedikit tertawa ketika mengucapkannya, sangat merendahkan. Namun, Helia tak bisa berbuat banyak. Theo terlalu menyeramkan saat marah. Helia tidak mau mengambil resiko.
"Pergilah bersama Regina ke tempat yang telah kureservasi. Nanti aku susul," kata Theo beberapa saat kemudian.
"Oke."
Setelah Zetta dan Regina pergi, Theo kembali memberikan peringatan kepada Helia dan kedua sahabatnya. Jika tadi mereka yang menantang Zetta, kali ini berganti Theo yang menantang mereka.
__ADS_1
"Jika aku yang kalah, aku akan memberikan uang untuk kalian. Tapi jika sebaliknya, kalian harus melepaskan baju dan pergi dari room ini. Bagaimana? Kalian berani?" Theo tersenyum miring.
"Kamu jangan gila, Theo!" bentak Keenan.
"Kenapa? Kamu takut pacarmu ini kalah?" Theo menaikkan kedua alisnya, sengaja membuat Keenan makin kesal.
Benar saja, Keenan tak menjawab satu kata pun. Dia tetap bergeming dan begitu pula dengan Helia.
"Padahal tiga lawan satu, tapi masih tidak berani. Ternyata kalian selemah itu, ya?" ejek Theo sambil menatap remeh.
Razta tidak tahan lagi dengan sikap Theo. Dia merasa harga dirinya terinjak-injak. Demi membalas kesombongan Theo, Razta bangkit dan berteriak lantang padanya.
"Oke, kami terima tantangan kamu!"
Helia dan Kania menatap Razta, seakan melayangkan protes bahwa mereka keberatan dengan tantangan itu. Namun, Razta meyakinkan mereka bahwa semua akan baik-baik saja. Theo hanya sendiri, sedangkan mereka bertiga. Kalaupun yang dua kalah, masih ada satu orang yang akan menang, pikir Razta kala itu.
"Bagus. Kalau begitu, ayo kita bermain!" Theo kembali tersenyum miring. Dia tahu sebatas mana kemampuan ketiga wanita itu, sama sekali tidak sebanding dengan dirinya.
"Jangan terlalu senang hanya karena tadi berhasil mengalahkan Zetta. Ingat, sebentar lagi kamu akan menangis karena aku tidak akan membiarkanmu menang," batin Theo sambil menatap Helia, seorang wanita yang menjadi target utamanya.
Tak lama kemudian, permainan pun dimulai. Helia dan kedua temannya merasa tegang karena taruhan yang disepakati sangat berat. Keenan pun merasakan hal yang sama. Dia tidak rela jika kekasihnya kalah dan harus melepas baju.
'Zetta pasti tertawa keras jika melihat wajah-wajah kalian yang setegang ini.' Theo membatin sambil menahan senyuman.
Setelah beberapa saat berlalu, permainan berakhir. Helia dan kedua temannya menunduk takut, sedangkan Theo tersenyum puas. Dia berhasil memenangkan permainan itu.
__ADS_1
"Helia, silakan lepas bajumu dan keluar dari room ini!" Theo menatap Helia sambil tersenyum miring. Sejak tadi memang Helia yang diincar dan ternyata cukup mudah mendapatkannya.