My Beloved Ex-wife

My Beloved Ex-wife
Bab 62


__ADS_3

Zetta menyadari bahwa di luar sana banyak yang bergosip tentangnya, tepatnya tentang hadiah tanah dari Keenan. Zetta sangat puas, lalu tanpa sadar tercetus ide baru dalam hatinya.


Dengan senyum yang terkulum sempurna, Zetta foto sambil membawa akta tanah. Kemudian, menulis ucapan terima kasih yang cukup manis. Tak lupa juga ia menyematkan nama Keenan di sana.


"Selesai. Tinggal menunggu bagaimana reaksinya," ujar Zetta ketika foto dan tulisan itu sudah terunggah di media sosial.


Tujuan utama Zetta adalah Jordan. Dia sangat percaya pria tua itu akan marah begitu melihat kelakuan calon menantunya. Memberikan hadiah tanah untuk wanita lain, sedangkan sebelumnya sudah direncanakan untuk hadiah pernikahan, sungguh menarik.


Akan tetapi, rencana Zetta agak meleset. Bukan Jordan yang pertama kali terpancing dengan isi postingannya, melainkan Alex. Adik angkatnya itu menelepon sebelum satu menit Zetta mengunggah tulisannya.


"Kenapa Keenan memberimu hadiah tanah, Kak? Tidak mungkin tanpa alasan, kan?" Alex langsung menanyakan masalah itu setelah berbasa-basi sebentar.


Zetta menarik nafas panjang, "Semua terjadi karena Helia."


"Helia?"


"Iya. Wanita itu memang licik, tapi juga bodoh, sama persis seperti Keenan. Sudah tahu kekasihnya salah, masih saja dibela mati-matian. Ya sudah, aku manfaatkan saja sekalian." Zetta terkekeh di akhir ucapannya.


Namun, di seberang sana Alex tak ikut tertawa. Pikirannya agak tidak enak, takut jika terjadi sesuatu dengan Zetta.


"Apakah Helia telah melakukan sesuatu padamu, Kak?"


"Yah, sedikit," jawab Zetta. Kemudian, menjelaskan dengan gamblang kepada Alex tentang kejadian kemarin. Mulai dari dirinya jatuh di tempat pemandian, sampai dirawat di rumah sakit dan berhasil menjebak Keenan.


"Lain kali lebih hati-hati, Kak. Ada baiknya tidak usah dekat-dekat dengan dia."

__ADS_1


Alex memberi sedikit nasihat sebelum mengakhiri perbincangannya. Zetta pun mengiyakan tanpa membantah. Kemarin memang dirinya kurang waspada, sehingga Helia punya celah untuk mencelakainya. Walaupun berakhir baik karena mendapat sebidang tanah, namun tetap saja berbahaya.


Berbeda dengan Zetta yang masih tersenyum senang, di kejauhan sana Alex merasa marah. Dia tidak rela Zetta disakiti, apalagi sampai masuk rumah sakit. Akhirnya, Alex menghubungi bawahan dan menyuruhnya melakukan sesuatu.


"Helia, karena kamu berani menyakiti Kak Zetta, maka harus siap menerima bayaran yang setimpal." Alex menarik ujung bibir hingga membentuk senyum miring.


Pada saat yang bersamaan, ada kemarahan besar yang juga dirasakan oleh seseorang. Siapa lagi kalau bukan Jordan. Wajahnya merah padam ketika melihat gambar dan tulisan yang diunggah oleh Zetta.


Jordan merasa terhina karena hadiah pernikahan untuk putrinya malah diberikan kepada Zetta, yang notabenenya mantan istri Keenan. Apalagi ketika membaca komentar-komentar netizen, yang banyak berasumsi bahwa Keenan masih mencintai Zetta dan ada harapan rujuk, makin panas hati Jordan.


"Lelaki tidak tahu diri! Apa belum tahu siapa aku, berani-beraninya memperlakukan Helia seperti ini. Sangat keterlaluan! Dasar brengsek kamu, Keenan!" umpat Jordan sambil mengepalkan tangan. Andai saja Keenan ada di hadapannya, pasti sudah habis dihajar.


Sambil tetap memaki penuh emosi, Jordan mendaratkan tubuhnya dengan kasar di atas kursi kerja. Lalu menghubungi nomor Keenan dengan perasaan yang tak sabar. Bahkan, ia rela meninggalkan pekerjaannya sementara waktu demi mengurus masalah itu.


Tak lama setelah telepon terhubung, suara Keenan menyambutnya dengan ramah, seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Hal itu membuat Jordan makin marah, merasa dibodohi oleh calon menantunya.


Jordan tidak segan lagi. Rasa marah dan kecewa membuatnya lepas kendali, sehingga suaranya agak meninggi. Sementara di sana, Keenan terkejut dan mendadak gugup. Dia tidak berpikir tentang sebidang tanah, karena sejak tadi sibuk kerja dan tak tahu jika Zetta sudah mengumbarnya di sosial media.


"Maaf, tapi saya benar-benar tidak mengerti dengan maksud Paman," ujar Keenan di tengah keterkejutannya.


"Jangan pura-pura. Aku sudah tahu apa yang kamu lakukan! Kamu memberikan sebidang tanah untuk mantan istrimu, padahal sebelumnya itu akan kamu jadikan sebagai hadiah pernikahan. Apa maksudnya itu? Jangan bilang kamu akan rujuk dengannya!"


Suara Jordan naik satu oktaf, kesabarannya benar-benar habis saat menghadapi Keenan yang tidak merasa bersalah. Dalam hati, Jordan mengumpat kasar karena Keenan berani meremehkannya.


Dari tuduhan yang dilayangkan Jordan, Keenan mulai tersadar. Calon mertuanya salah paham atas kejadian kemarin, dan Keenan sangat menyesalkan sikap Helia yang tidak jujur sejak awal kepada ayahnya.

__ADS_1


"Soal itu saya bisa menjelaskannya, Paman. Ini hanya kesalahpahaman," ucap Keenan berusaha menenangkan Jordan.


"Salah paham apa maksudmu? Sudah jelas kamu memberi Zetta sebidang tanah, bahkan aktanya saja sudah kamu kirim ke sana. Mau berkilah apa lagi, Keenan?"


Keenan menarik nafas panjang, berusaha tenang dalam menghadapi emosi Jordan yang sepertinya sudah memuncak.


"Saya terpaksa melakukan itu demi Helia, jadi tolong jangan berprasangka buruk lagi," ucapnya ketika Jordan sudah selesai membentak dan mencaci maki dirinya.


"Jangan bicara omong kosong!" sahut Jordan, sama sekali belum percaya bahwa Keenan melakukan itu demi kebaikan.


"Saya bicara apa adanya. Helia ceroboh dan membuat Zetta celaka, cukup fatal sampai mengancam nyawanya. Saya harus memberi Zetta sebidang tanah agar dia berhenti memperpanjang masalah. Karena jika tidak, maka Helia yang dipenjara. Saya tak mungkin membiarkan Helia masuk penjara. Hadiah pernikahan bisa saya ganti dengan yang lain, tapi jika Helia yang dipenjara, semuanya tentu akan kacau. Bukan hanya merugikan saya, tapi saya rasa akan merugikan Paman juga. Saya harap, Paman Jordan bisa mengerti ini," ungkap Keenan dengan kalimat panjang.


"Kamu tidak berbohong?" Jordan mulai melunak meski belum sepenuhnya percaya.


Keenan kembali menarik nafas panjang, "Tidak ada gunanya saya berbohong."


Setelah itu tidak ada lagi sahutan dari Jordan, hanya embusan nafas berat yang berulang kali terdengar di telinga Keenan.


Keenan pun akhirnya ikut diam. Pikirnya, mungkin Jordan butuh waktu untuk mencerna semua itu. Memang mengejutkan, dirinya pula sempat tidak percaya bahwa Helia akan sanggup melakukan itu. Sebuah kecerobohan tanpa alasan, yang pada akhirnya malah merugikan diri sendiri.


"Paman Jordan," panggil Keenan karena terlalu lama Jordan diam. Bukan hanya sekian detik, melainkan sekian menit.


"Ya, baik. Sepertinya memang Helia yang salah, bukan kamu. Nanti biar aku yang bicara dengan dia, agar kejadian ini tidak terulang lagi di kemudian hari," jawab Jordan dengan suara lebih rendah daripada sebelumnya, tetapi menyiratkan kekesalan.


"Terima kasih, Paman. Saya juga minta maaf tidak menjelaskan ini lebih awal, jadi membuat Paman Jordan salah paham."

__ADS_1


Jordan tidak menyahut banyak, sekadar mengiyakan dan kemudian menutup sambungan telepon. Lalu dengan agak kasar meletakkan ponselnya ke atas meja.


"Ah, Helia, Helia." Rahang Jordan mengeras, tak habis pikir dengan sikap putrinya yang tidak cerdas.


__ADS_2