
"Aku pulang, Kak," pamit Roan setelah menyimpan kembali ponselnya. Dia tak punya pilihan dan terpaksa menuruti perintah Keenan.
"Iya." Zetta menjawab singkat tanpa mengubah posisi duduknya.
Roan pun menghela nafas panjang. Dia kurang nyaman dengan tanggapan Zetta yang kesannya biasa saja mendengarkan dirinya berpamitan. Boro-boro mau menahannya. Namun, dia juga tak bisa menuntut banyak. Sudah untung Zetta menyuruhnya masuk dan mau memberi makan.
Tanpa bicara lagi, Roan bangkit dan melangkah meninggalkan Zetta. Wajahnya ditekuk dan embusan nafasnya terdengar kasar.
Melihat hal itu, Zetta menggeleng-gelengkan kepala. Lalu turut bangkit dan mengikuti langkah Roan hingga ke pintu depan. Di sana, Zetta melihat Keenan sudah menunggu Roan. Ah, pantas saja Roan tiba-tiba mau pulang. Zetta pun menggerutu dalam hati, agak menyesal karena mengantar Roan sampai keluar. Andai tetap diam di dalam, tidak akan bertemu dengan mantan suami yang menyebalkan itu.
Karena terlanjur kesal, Zetta tidak menyapa atau sekadar mengulas senyuman, malah berpaling dan pura-pura tak melihat. Sesaat kemudian, dia berbalik dan hendak kembali ke dalam. Namun, ucapan Roan menahan kakinya yang siap melangkah.
"Jangan lupa ya, Kak Zetta, Sabtu nanti harus datang ke sekolahku," ucap Roan, seolah-olah Zetta sudah menyetujui permintaannya.
'Dasar anak menyebalkan! Sama persis seperti kakaknya. Oh salah, sama persis seperi keluarganya. Satu pun tidak ada yang benar, semua menyebalkan.' Zetta menggerutu dalam hati. Sangat kesal menghadapi sikap Roan yang keras kepala dan seolah tak mengindahkan penolakannya tadi.
"Iya." Akhirnya Zetta meluluskan permintaan Roan. Bukan karena kasihan atau peduli, melainkan agar mereka segera pergi dari halaman rumahnya. Zetta sudah malas menghadapi dua bersaudara itu lebih lama lagi.
"Roan, kamu jangan bertingkah! Kenapa terus mengganggu Zetta? dia juga punya kesibukan lain!" Keenan memperingati adiknya sambil menatap tajam. Dia agak malu karena sudah dua kali ini Roan meminta bantuan kepada Zetta. Padahal, dulu tidak ada satu pun yang memperlakukan Zetta dengan baik.
"Aku hanya meminta tolong sedikit, tidak sampai mengganggu. Lagi pula Kak Zetta juga tidak keberatan dengan itu. Iya kan, Kak?"
"Hmm." Hanya gumaman asal yang keluar dari mulut Zetta.
"Kamu bisa meminta tolong padaku, tidak usah merepotkan Zetta!"
"Iyakah? Memangnya Kak Keenan bisa memasak seenak Kak Zetta?" tanya Roan sambil memasang raut wajah tanpa dosa.
"Roan, jangan keterlaluan kamu!" Keenan terlihat agak geram.
"Apanya yang keterlaluan? Aku hanya kangen dengan masakan Kak Zetta. Masakan di rumah tidak seenak masakan Kak Zetta."
Jawaban Roan membuat Keenan terdiam seketika. Ia merasa tertampar dengan kenyataan. Bahkan, emosi yang tadi hampir terpancing, sekarang hilang dan berganti rasa bersalah.
__ADS_1
Akhirnya, Keenan hanya menunduk sambil tersenyum masam. Miris sekali, dia menyadari kebaikan Zetta setelah terjadi perpisahan di antara mereka. Dulu, selama enam tahun bersama Keenan tak bisa melihat hal itu. Hanya hal buruk yang selalu tampak olehnya, hingga rasa benci tersemat erat dalam hati.
Sudah banyak hal baik yang Zetta lakukan, tapi hanya perlakuan buruk yang dia dapatkan sebagai balasannya. Ingin rasanya Keenan mengucapkan kata maaf di hadapan Zetta saat ini, tapi pasti akan terdengar sangat konyol.
Jika dulu, perceraian adalah sebuah hal yang dia harapkan, tetapi sekarang hal itu menjadi beban yang menyesakkan.
***
Akhir-akhir ini Zetta disibukkan dengan banyak pekerjaan. Dia akan mengakuisisi sebuah perusahaan, dan itu memerlukan persiapan yang matang. Banyak hal yang mesti dilakukannya sebelum hari pelaksanaan.
Namun, meski demikian dia tak bisa mengabaikan Roan begitu saja. Di sela-sela kesibukan, dia berusaha mengosongkan jadwal dan mendatangi sekolah Roan. Sangat beruntung dia mendapat penawaran menarik dari Regina.
"Halo, Zetta, apa kabar?" sapa Regina ketika meneleponnya pada pagi di hari Sabtu, sebelum dia pergi ke sekolah Roan.
"Aku punya kenalan yang butuh pekerjaan. Kamu mau tidak menjadikan dia sebagai sopir pribadimu?" Usai berbasa-basi, Regina menyodorkan Rayden untuk bekerja dengan Zetta. Regina menganggap serius pertemuannya dengan Rayden malam itu dan kini benar-benar mencarikan lelaki itu pekerjaan. Namun, Zetta tak sadar jika yang disebut kenalan oleh Regina adalah Rayden.
"Tentu saja mau, kebetulan aku sedang butuh sopir." Zetta menerima tawaran Regina dengan antusias, tidak merasa curiga sedikit pun.
"Baiklah, nanti kusampaikan padanya. Ngomong-ngomong, kapan bisa mulai kerja?" tanya Regina.
"Bisa, kok, bisa. Hari ini dia tidak ada kesibukan."
Zetta tersenyum senang setelah mendengar jawaban Regina. Akhirnya, dia bisa ke mana-mana tanpa lelah mengemudi. Cukup duduk tenang dan langsung tiba di tempat tujuan. Belakangan dia terlalu sibuk dan tak sempat merekrut seorang sopir meski membutuhkannya.
Namun, Zetta lupa menanyakan siapa nama orang yang akan bekerja padanya. Dia terlalu gembira, jadi hanya fokus mengucap terima kasih berkali-kali, sampai lupa dengan hal lain yang lebih penting.
"Ya sudahlah, kenalan nanti saja. Sebentar lagi dia juga ke sini," gumam Zetta seorang diri.
"Sekarang lebih baik bersiap-siap saja. Nanti kalau dia datang bisa langsung berangkat, jadi tidak sampai telat," sambung Zetta sambil beranjak dari duduknya.
Zetta pun pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah selesai, Zetta keluar dan membalut tubuhnya dengan pakaian formal. Tak lupa pula menata rambut serapi mungkin dan memoles wajah dengan riasan tipis. Meski tidak glamour, tetapi kecantikan Zetta pagi ini mendekati sempurna.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar diketuk dari luar. Zetta menyahut sembari memeriksa penampilannya, ada yang kurang atau tidak.
__ADS_1
"Di depan ada orang, Nona, katanya sopir baru Nona Zetta," ujar pelayan dari luar ruangan.
Zetta pun membuka pintu dan menemui pelayan. Lalu, menyerahkan kunci mobil padanya.
"Berikan ini padanya, Bi, dan suruh menunggu sebentar," perintah Zetta.
"Baik, Nona."
Sepeninggalan pelayan, Zetta memeriksa ponselnya sebentar. Setelah selesai membalas pesan-pesan penting, ia memasukkannya ke dalam tas yang akan dibawa. Lalu, Zetta melangkah keluar dan menemui pelayan yang kini berada di dapur.
"Bi, saya pulang nanti belum pasti jam berapa. Kalau misalkan telat, Bibi tidak usah menunggu, langsung pulang saja," kata Zetta.
Selama ini, jam kerja pelayan hanya sampai pukul 03.00 sore. Namun jika tidak diberi izin dari sebelumnya, terkadang dia menunggu sampai Zetta pulang.
"Baik, Nona."
Zetta menanggapinya dengan senyum simpul. Kemudian, keluar rumah dengan langkah yang agak cepat. Sesampainya di halaman, mobil sudah terparkir dan menghadap jalan. Zetta tersenyum karena sopir barunya cukup cekatan.
"Kalau lelet tidak mungkin juga ditawarkan Regina padaku," batin Zetta sambil membuka pintu mobil dan kemudian duduk di kursi penumpang.
Sembari memasang sabuk pengaman, Zetta mencondongkan diri ke depan dan hendak berkenalan dengan sopir barunya. Akan tetapi, ia terkejut dan membelalak saat mendapati sosok Rayden. Bagaimana mungkin? Seseorang yang pernah membantunya mendapatkan proyek sekaligus teman Keenan, tiba-tiba melamar menjadi sopir pribadi?
"Kamu? Zetta menunjuk ke arah Rayden sambil menganga tak percaya.
"Hai, Zetta," jawab Rayden sambil tersenyum dengan agak kikuk.
***
Gaess, temenan sama Mak Othor di sosmed, yuk.
FB : Tiwie Sizo
IG : tiwie_sizo08
__ADS_1
Btw, aku mau minta tolong sama kk2 reader, nih. Sambung di kolkom, ya😘