
Sesampainya di tempat pemandian, Theo dan Zetta turun bersama-sama dari mobil. Keduanya berjalan beriringan sambil bercanda tawa.
"Zetta," panggil Theo di tengah-tengah candaannya.
Zetta menoleh sambil bergumam pelan.
"Hubungan kita sudah sangat dekat dan orang-orang bahkan menganggap kita pasangan, harusnya kita pergi ke pemandian campuran saja. Benar, kan?" goda Theo sambil menaikkan kedua alisnya. Pemandian campuran yang dimaksud adalah pemandian di mana lelaki dan perempuan bebas mandi bersama.
"Tidak mau! Enak saja." Zetta menyahut cepat dengan mata yang melotot tajam. Theo hanya menanggapinya dengan tawa.
"Kamu membayangkan yang macam-macam ya, kalau kita berada dalam pemandian yang sama?" Theo kembali menggoda.
"Aku baru tahu kalau ternyata kamu genit juga, ya. Menyebalkan." Zetta menggerutu sembari mencubit pinggang Theo dengan keras, sampai lelaki itu protes dan menyebutnya kejam.
Tak lama kemudian, mereka tiba di depan pintu pemandian khusus perempuan. Zetta masuk ke sana dan Theo hanya duduk di luar karena lelaki tak diperkenankan masuk. Mau tak mau, dia dengan sabar menunggu sahabatnya itu. Agak membosankan memang, tetapi mau bagaimana lagi. Demi menyenangkan Zetta, Theo rela melakukannya.
Belum lama Theo duduk di sana, tiba-tiba ia dikejutkan dengan kehadiran dua orang yang sangat menyebalkan, Keenan dan Helia. Entah kebetulan macam apa namanya, selalu saja mereka muncul di sekitar dirinya dan Zetta. Dunia yang terlalu sempit atau mungkin mereka memang sengaja mengikuti.
"Tahu begini tadi langsung pulang saja, malas sekali bertemu mereka," batin Theo sambil melirik Helia dan Keenan.
Dua orang itu tampak fokus dengan urusannya sendiri dan tidak sedikit pun menatap ke arahnya. Theo merasa agak lega karena bosan juga jika terus-menerus berdebat, membuang waktu dan tenaga dengan sia-sia.
Sementara itu, Helia sudah melangkah masuk ke pemandian. Keenan berdiri dan hendak pergi, tetapi tangannya ditahan oleh Helia.
"Jangan pergi!" pintanya dengan agak manja.
"Ini pemandian khusus untuk perempuan, aku tidak mungkin ikut masuk." Keenan menolak sembari melepaskan genggaman Helia.
Wanita itu menarik nafas panjang, "Seharusnya kita pergi ke pemandian campuran saja, biar aku tidak sendirian."
__ADS_1
"Jangan aneh-aneh, di dalam juga banyak orang. Sudah, masuklah! Aku tunggu di sini," ujar Keenan tidak mau dibantah lagi.
Dengan agak kesal, akhirnya Helia masuk ke pemandian seorang diri. Di sana kekesalannya makin menjadi karena bertemu lagi dengan Zetta.
"Tidak menyangka ketemu kamu lagi di sini. Kamu sengaja mengikuti kami, ya? Masih belum bisa melupakan Keenan? Masih tidak sadar kalau yang dia cintai itu aku?" ujar Helia dengan sinis. Matanya pula ikut memicing, menyiratkan kebencian yang mendalam.
Zetta menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis, "Aku ... mengikutimu? Apa tidak keliru? Di restoran tadi aku yang datang lebih dulu, dan di sini juga sama. Jadi sebelum kamu bertanya itu padaku, sebaiknya tanyakan dulu pada dirimu sendiri."
"Kamu!" geram Helia dengan tangan yang mengepal erat.
Zetta mengembuskan nafas kasar, "Terkadang aku sampai bingung, kenapa kamu sangat membenciku. Padahal, aku dan Keenan sudah bercerai. Dan kami juga tidak pernah berhubungan lagi, tapi kamu selalu saja mencari gara-gara seolah aku masih mengejar Keenan. Apa sebenarnya kamu itu tidak percaya diri dan meragukan cinta Keenan padamu?"
"Jangan sok polos! Kesalahanmu sangat banyak, bahkan sampai tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata lagi. Kamu sudah merebut Keenan ketika aku masih koma. Kamu sengaja memanfaatkan keadaanku untuk kepentinganmu sendiri. Kamu sangat egois!" maki Helia sambil menunjuk-nunjuk wajah Zetta. Kebetulan sedang tidak ada Theo atau Keenan, jadi dia tidak perlu menahan diri.
Zetta kembali tersenyum. Dia tetap tenang dan tidak terpengaruh dengan emosi Helia yang berlebihan.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Zetta melangkah pergi dan meninggalkan Helia yang masih bergeming di tempatnya. Zetta pun langsung masuk ke ruang pemandian, tak peduli meski Helia menahan marah di sana. Bahkan, Zetta malah sengaja bersenandung merdu agar wanita itu makin kepanasan.
"Dasar wanita sialan!" umpat Helia dalam hatinya.
Kini bukan hanya tangan yang mengepal, tetapi juga kaki yang berulang kali mengentak kasar. Helia benar-benar marah, terlebih lagi saat mengingat ucapan Zetta barusan. Dia mengatakan bahwa sebelumnya sangat akrab dengan Keenan, Helia paham yang dimaksud adalah sahabat pena.
"Sepertinya ... akan lebih aman kalau dia mati saja. Jadi, identitas sahabat pena yang sesungguhnya tidak akan pernah terungkap. Selamanya Keenan akan menganggap akulah sahabat penanya." Helia bermonolog dalam hati.
"Ya, aku harus melakukan sesuatu agar tidak ada lagi kerikil yang mengganggu jalanku," sambungnya.
Kekesalan Helia pun perlahan mengendur ketika rencana licik sudah terlintas dalam otaknya.
***
__ADS_1
Sudah cukup lama Theo menunggu di luar pemandian, tetapi Zetta belum juga menampakkan batang hidungnya. Theo mulai cemas dan merasa ada sesuatu yang menimpa Zetta. Kemudian, tanpa pikir panjang dia memutuskan untuk masuk ke sana dan menanyakan keberadaan Zetta.
Namun, sebelum bertemu dengan petugas, Theo terlebih dahulu berpapasan dengan Helia dan Keenan. Karena telanjur khawatir dengan keadaan Zetta, Theo terpaksa bertanya pada Helia.
"Di mana Zetta?"
"Mana aku tahu, bukannya kamu yang biasa bersamanya?" jawab Helia sambil melipat tangan di dada.
"Aku menunggu di luar, kamu yang tadi masuk ke ruang pemandian. Jadi, pasti tahu di mana Zetta sekarang," ujar Theo. Dia yakin Helia mengetahui keberadaan Zetta, tetapi enggan memberitahunya.
"Apa maksudmu? Aku memang dari sana, tapi tidak melihat keberadaan Zetta. Pemandian ini luas dan banyak pengunjungnya, kamu pikir aku akan membuang waktu untuk menghampiri Zetta di sini?" Helia terus menyangkal tuduhan Theo. Dia tidak mau kejadian barusan diketahui oleh orang lain, termasuk Theo dan Keenan.
"Di sini ada CCTV, coba cek saja itu. Nanti kamu akan tahu keberadaan Zetta." Keenan ikut menyela.
Sebenarnya, dia juga mengkhawatirkan keadaan Zetta. Namun karena ada Helia di sana, dengan terpaksa Keenan membatasi diri. Dia tak ingin sampai Helia curiga bahwa dirinya masih sangat peduli pada mantan istrinya itu.
Akan tetapi, bukan hal itu yang sebenarnya ada dalam pikiran Helia sekarang, melainkan rencana licik yang dikhususkan untuk Zetta. Rencana yang ia susun matang demi seorang Keenan.
"Baiklah, aku akan mengeceknya sekarang," ujar Theo setelah berpikir beberapa saat. Lalu, dia bergegas pergi dan meninggalkan Keenan.
Awalnya, Keenan berniat tak acuh dan akan langsung pulang. Namun, perasaan khawatirnya makin menjadi dan memaksanya mengikuti langkah Theo. Dia ingin melihat dengan mata kepala sendiri, apa yang terjadi dengan Zetta. Beruntung Helia tidak banyak protes dengan hal itu.
"Kuharap dia baik-baik saja," batin Keenan sambil melangkah cepat, mengikuti Theo yang sudah berada jauh darinya.
Keenan terlalu fokus dengan langkahnya, sampai-sampai tak menyadari ekspresi Helia di sampingnya. Wanita itu berulang kali tersenyum puas karena apa yang direncanakan berjalan sesuai dengan harapan.
***
Perasaan ketemu sama Helia mulu. Capek, dehπππ
__ADS_1