
"Theo hari ini berulang tahun?" Regina bertanya sembari memeriksa tanggal di layar ponselnya.
"Oh, astaga, aku lupa," ujar Regina lagi sambil menepuk keningnya sendiri.
Zetta tersenyum.
"Sebenarnya saya juga tidak akan ingat kalau Theo tidak terus-terusan mengingatkan," ujarnya.
"Aduh, bagaimana ini? Masa aku ikut merayakan ulang tahun Theo tanpa membawa kado. Teman macam apa aku ini?" Regina tampak menggerutu pada dirinya sendiri.
"Tidak apa-apa. Kado kan bisa menyusul. Theo pasti akan merasa sangat senang kalau Nona Regina ikut hadir," ujar Zetta lagi.
Regina tampak tertegun sejenak, tampak mempertimbangkan apa yang Zetta katakan barusan.
"Bagaimana?" tanya Renata setelah Regina terdiam selama beberapa saat.
"Baiklah, aku ikut," jawab Regina akhirnya.
Zetta kembali tersenyum pada perempuan itu. Meskipun baru kali ini berinteraksi dengannya, tapi Zetta sudah bisa merasakan kalau Regina adalah orang yang menyenangkan.
Mereka pun sama-sama berjalan meninggalkan pusat pertokoan sembari terus berbincang-bincanh santai. Tapi tak lama kemudian, Theo menghubungi Zetta melalui panggilan telepon.
"Kamu sekarang di mana?" tanya Theo.
"Aku masih di jalan," sahut Zetta. Dia tak ingin menyebutkan jika barusan habis membeli hadiah untuk Theo.
"Aku minta maaf karena sepertinya akan terlambat. Nenekku tiba-tiba menghubungi dan memintaku datang ke rumahnya. Katanya beliau ingin sekali merayakan ulang tahunku bersama-sama biarpun hanya sebentar," ujar Theo. Dia terdengar tidak enak mengatakan hal itu pada Zetta, pasalnya dia sendiri yang terus-terusan mengingatkan Zetta tentang ulang tahunnya.
"Oh, tidak apa-apa. Pergi dulu saja ke rumah nenekmu," sahut Zetta.
"Kamu tidak apa-apa menunggu sedikit lebih lama?" tanya Theo.
"Iya, tidak apa-apa. Aku juga sekarang sedang bersama dengan seseorang."
"Seseorang?" tanya Theo lagi. Saat ini lelaki itu pasti sedang mengerutkan keningnya.
"Iya, coba tebak siapa?" Zetta sedikit menggoda Theo.
"Siapa?" ulang Theo dengan nada penasaran.
__ADS_1
"Nona Regina," ujar Zetta akhirnya.
"Regina? Kamu bertemu dengan dia di mana?" Theo terdengar tak percaya.
"Aku bertemu dia di lift mall tadi. Sekarang kami sedang berjalan berdua. Nona Regina juga mau ikut merayakan ulang tahunmu."
Terdengar Theo tertawa senang di seberang sana.
"Astaga. Dia mau memberikan kejutan padaku rupanya, pulang tanpa memberi kabar lagi," ujar Theo di sela tawanya.
Selama beberapa waktu terakhir, Regina memang berada di luar negeri untuk urusan bisnis. Saat Theo menghubunginya untuk meminta bantuan berkaitan dengan Zetta, Regina juga masih sedang berada di luar negeri dan mengatakan belum tahu kapan akan kembali.
"Ya sudah, cepat pergi ke rumah nenekmu sana,. Aku dan Nona Regina mau pergi ke tempat yang sudah kamu reservasi. Nanti kalau acaramu dengan nenekmu sudah selesai, kamu langsung menyusul, ya."
"Oke, oke. Sekali lagi maaf kalau harus membuat kalian menunggu."
"Iya, tidak apa-apa." Zetta pun lalu mengakhiri panggilan teleponnya dan kembali beralih pada Regina.
"Tampaknya kita mesti pergi ke tempat yang telah direservasi oleh Theo lebih dulu, Nona Regina. Theo masih ada urusan sebentar sedang neneknya. Tapi sebelum itu, sepertinya kita makan saja dulu," ujar Zetta pada Regina.
Berganti Regina yang terkekeh mendengar itu.
"Iyakah?" Zetta tampak tak percaya.
"Iya, tapi tentu saja dia tidak ingin sampai orang lain tahu. Dulu sewaktu kami masih bersekolah, dia bahkan suka menangis kalau sedang rindu dengan neneknya," ujar Regina.
"Wah, segitunya." Zetta ikut tertawa. Dia tak menyangka akan mengetahui sisi lain dari seorang Theo karena bertemu dengan Regina.
Kedua perempuan itu pun akhirnya pergi ke sebuah restoran untuk makan terlebih dahulu sebelum pergi ke tempat yang telah di reservasi oleh Theo. Hal itu karena sebelumnya Zetta hanya makan sesuatu yang ringan saja untuk mengganjal perutnya, lalu Regina juga tampaknya belum makan siang.
"Nona Regina mau pesan apa?" tanya Zetta sambil melihat-lihat daftar menu.
"Jangan terus berbicara formal padaku. Panggil saja Regina, tidak pakai Nona," pinta Regina.
"Apa tidak apa-apa kalau seperti itu? Rasanya agak kurang sopan," sahut Zetta.
"Kamu kan teman Theo, berarti temanku juga. Mana ada sesama teman memanggil dengan panggilan formal."
"Ah, baiklah ...." Zetta mengangguk sembari tersenyum tipis. Dia memang pernah mendengar dari Theo kalau Regina adalah orang yang menyenangkan dan sangat bersahabat. Ternyata itu memang benar adanya.
__ADS_1
"Kalau begitu, Regina, aku tidak akan sungkan lagi," ujar Zetta kemudian.
"Ya, seperti itu." Regina mengacungkan jempolnya pada Zetta sembari agak terkekeh. Mereka kemudian sama-sama memilih menu makanan dan memesannya.
Tak lama kemudian, pesanan keduanya pun datang. Mereka makan dengan santai sambil terus mengobrol ringan.
"Kita sungguh tidak apa-apa makan duluan seperti ini, kan? Padahal yang ulang tahunnya mau kita rayakan belum datang?" tanya Regina setelah mereka selesai makan.
"Tidak apa-apa. Toh, di rumah neneknya juga Theo pasti sudah makan," sahut Renata.
"Benar juga," gumam Regina.
"Ah, iya. Bagaimana kabar suamimu. Aku ingat kalau kamu itu istrinya Keenan Pieters, kan? Aku dulu bahkan menemani Theo datang ke pernikahan kalian," ujar Regina lagi. Tampaknya perempuan ini belum tahu kalau Zetta dan Keenan sudah bercerai. Mungkin karena dia baru kembali dari luar negeri.
"Kabar Keenan sudah pasti baik. Tapi sekarang dia bukan suamiku lagi. Kami sudah bercerai," sahut Zetta santai.
"Hah? Bercerai?" Regina terlihat kaget, sedangkan Zetta hanya menanggapi dengan menganggukkan kepalanya saja.
"Kenapa? Padahal aku melihat kalian sangat serasi," ujar Regina lagi dengan nada tak percaya.
"Kamu pasti salah lihat kalau mengatakan kami serasi." Zetta agak terkekeh. " Dia mencintai perempuan lain, makanya aku lepaskan. Sekarang dia dan perempuan itu malah sudah bertunangan."
"Ah, begitu." Regina tampak setengah bergumam dengan raut wajah tak percaya. Dia pun memilih untuk tak menyinggung tentang Keenan lagi karena sepertinya itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan dibahas untuk Zetta.
Mereka pun akhirnya keluar dari restoran dan hendak menuju tempat yang telah Theo reservasi. Namun, langkah Zetta mendadak berhenti kala melihat sekelompok perempuan. Hal itu juga membuat Regina menghentikan langkahnya.
Zetta agak terperangah karena di antara para perempuan itu ada Helia. Sepertinya hari ini bukan hari yng terlalu bagus untuk Zetta, pasalnya sejak tadi dia terus bertemu dengan tunangan Keenan yang menyebalkan itu. Belum lagi, sekarang Zetta harus bertemu lagi dengan Helia bersama dengan para perempuan satu kelompoknya. Zetta mengenali salah seorang dari para perempuan tersebut. Namanya Kania, teman dekat Helia. Perempuan itu saat ini berpenampilan sangat glamor dan mewah, sampai-sampai penampilan semua perempuan yang ada di dekatnya kalah jauh.
Zetta menghela nafasnya, membuat Regina langsung melihat ke arah Helia juga. Sementara itu, Helia yang juga melihat Zetta tampak langsung memperlihatkan wajah marahnya.
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Regina pada Zetta.
Zetta langsung menggeleng.
"Apa kamu mengenal perempuan yang sedang menatapmu itu? Kenapa auranya jahat sekali? Tatapannya padamu seperti tatapan Dewi iblis saja," ujar Regina lagi.
Hampir saja Zetta tertawa mendengar itu. Bahkan Regina yang baru pertama kali melihat Helia saja langsung bisa melihat sisi gelap perempuan itu.
"Hustt, jangan sembarangan. Dia itu perempuan paling baik dan lembut sejagad raya ini. Satu-satunya perempuan yang pantas menerima banyak cinta. Dia itu tunangan sekaligus perempuan idaman Keenan," sahut Zetta dengan agak sarkas.
__ADS_1