
"Ternyata selama ini aku salah menilai. Sepertinya Paman Jordan lebih buruk daripada yang aku kira," batin Keenan setelah mendengar semua cerita Zetta.
Pandangan Keenan terhadap calon mertua mulai berubah. Dia memang tahu kalau Jordan bukanlah sosok yang benar-benar baik. Tapi sungguh tak disangka jika calon mertuanya itu sanggup melakukan hal licik untuk menjatuhkan Zetta, bahkan sejak Zetta masih berstatus sebagai istrinya. Sama halnya dengan Helia yang tak sepolos dan selembut kelihatannya, Jordan pun sepertinya tak jauh berbeda.
Di saat Keenan masih sibuk berargumen dengan diri sendiri, ponselnya kembali bergetar. Ada satu pesan masuk yang tak lain dari Zetta. Bergegas Keenan membukanya.
'Aku harus bagaimana menghadapinya? Kemampuanku belum seimbang jika dibandingkan dengan dia.'
Sebuah voice note yang menyuguhkan suara Zetta. Tidak sinis atau ketus, malah suaranya cukup enak didengar, sama seperti sebelumnya. Ternyata bersama orang lain Zetta bisa melakukan itu. Mungkin nada sinisnya memang khusus untuk dirinya dan Helia. Menyadari hal itu, Keenan hanya bisa mengembuskan nafas berat. Dulu memang dia yang bersalah. Enam tahun diabaikan bukan waktu yang sebentar, dan mungkin itu akan selalu membekas dalam hati Zetta.
Tak ingin mengingat-ingat kenangan itu lagi, Keenan mengalihkan perhatiannya pada isi pesan tersebut. Dia diam sambil berpikir, bagaimana caranya membantu Zetta. Jangan sampai rencana Jordan yang berhasil dan Zetta mengalami kendala.
Setelah cukup lama memutar otak, akhirnya Keenan mendapat solusi terbaik. Bibirnya pun mengulas senyum tipis, sementara tangannya dengan lincah mengetik pesan balasan.
'Ambil setengah dari tanahnya, lalu berikan pada departemen yang terkait. Dengan begitu, mereka pasti tertarik dan mau membantumu membangun perusahaan. Mereka akan melupakan apa yang ditawarkan Jordan kemarin dan memilih bekerja sama denganmu. Jangan pesimis meski Jordan punya kekuasaan, karena kamu juga punya kemampuan.'
Pesan yang dikirim Keenan langsung masuk ke ponsel Zetta. Wanita itu pun dengan cepat membukanya, dan tak lama kemudian menghela nafas lega. Sebaris pesan yang ia terima seperti angin yang menyegarkan. Ada jalan keluar dari masalah pelik yang sejak tadi menguras pikiran, hingga kepala pening dibuatnya.
"Duck memang bisa diandalkan. Beruntung aku bisa mengenalnya."
Zetta bergumam sambil tersenyum senang. Dia menganggap Duck sebagai lelaki baik yang tidak perhitungan dalam membantunya. Zetta sama sekali tidak curiga bahwa Duck adalah Keenan, sang mantan suami yang dia benci. Entah bagaimana nanti jika tahu kebenarannya.
Dengan senyum yang masih mengembang, Zetta membalas pesan tersebut dan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. Setelah itu, ia langsung menghubungi Theo, yang sejak tadi juga berpikir keras karena tim kontraktor tiba-tiba menolak tawaran.
__ADS_1
"Kamu serius sudah mendapatkan solusinya?" tanya Theo dari seberang sana. Dia agak terkejut karena secepat itu Zetta sudah menemukan jalan keluar, sementara dirinya masih terus berpikir dan berakhir buntu.
"Tentu saja aku serius. Jadi, nanti tanah itu kita bagi dua. Yang setengah untuk membangun perusahaan, setengahnya lagi kita berikan ke mereka. Dengan penawaran yang menarik ini, aku yakin mereka tidak akan menolak lagi." Zetta menjelaskan dengan penuh percaya diri.
Dia tidak ragu sedikit pun dengan solusi itu. Dia sangat percaya Duck tidak pernah gagal dalam mengusulkan saran. Sama seperti masalah tender beberapa waktu lalu, berkat bantuannya Zetta bisa memenangkan kontrak. Dan dalam masalah ini pula, Zetta yakin akan berhasil jika menggunakan solusi yang diberikan olehnya.
"Aku setuju. Sepertinya solusi itu memang cukup efektif. Mmm, kalau begitu bagaimana jika sekarang saja kita bicarakan ini dengan mereka? Dari pada menunda waktu lagi, nanti pembangunannya juga ikut tersendat," ujar Theo dengan antusias.
"Kamu benar, kita harus ke sana sekarang. Lebih cepat memang lebih baik." Zetta menyetujui saran Theo. Pikirnya, memang lebih baik jika masalah itu cepat selesai dan perusahannya pun secepatnya dibangun.
Karena Zetta sudah setuju, saat itu juga dia dan Theo pergi ke departemen terkait. Mereka akan menawarkan kerja sama sampai deal, sehingga Jordan tidak ada celah lagi untuk menghalangi.
Sementara itu, di tempat lain, Keenan baru membuka pesan dari Zetta, yang isinya adalah ucapan terima kasih. Terdengar jelas suara Zetta dalam voice note itu. Bahkan, seseorang yang berada di samping Keenan pun turut mendengar, dan dia juga paham bahwa itu adalah suara Zetta.
"Kamu bertukar pesan dengan Zetta? Dan dia ... bicara seramah itu padamu? Kok bisa sih, bagaimana ceritanya?" Seseorang yang tak lain adalah Rayden, sangat terkejut dan spontan menghujani Keenan dengan bermacam pertanyaan.
"Dia tidak tahu kalau itu aku," sahutnya kemudian.
Rayden mengernyitkan kening karena tak paham dengan maksud Keenan.
Melihat ekspresi Rayden, Keenan menarik nafas panjang dan kemudian memberikan penjelasan.
"Aku menyembunyikan identitasku dan Zetta tidak curiga. Dia menganggapku orang lain makanya sering mengirim pesan. Tak jarang juga meminta bantuan jika ada kendala dalam bisnisnya," terangnya.
__ADS_1
Rayden makin terkejut. Ia tak bisa berkata-kata dan hanya menatap lekat ke arah Keenan. Namun, lelaki itu mengacuhkannya, malah dengan santai menyandarkan punggung sembari melipat tangan di dada.
"Sekarang dia sedang ada rencana membangun perusahaan. Kamu harus bantu dia mempermudah urusannya," ujar Keenan tanpa memedulikan keterkejutan Rayden.
"Dari dulu sampai sekarang, kamu selalu membantu dia dari jauh. Jangan-jangan ... sekarang kamu sudah jatuh cinta pada mantan istriku itu." Rayden menaikkan kedua alisnya, dan itu tampak menyebalkan di mata Keenan.
Sesaat kemudian, decakan kesal keluar dari mulut Keenan. Dia agak kesal mendengar perkataan Rayden yang mengungkit perasaannya terhadap Zetta.
"Memang terkadang wanita itu terlihat lebih menarik jika sudah menjadi mantan."
Mendengar ucapan Rayden yang makin berani, Keenan tidak hanya berdecak, melainkan juga melotot tajam.
"Jangan sembarangan bicara. Itu tidak mungkin terjadi," sahut Keenan.
Rayden tertawa, "Begitukah? Tapi, kelihatannya meragukan. Karena kalau tidak ada ketertarikan, untuk apa kamu peduli sejauh ini? Bahkan, sampai menyembunyikan identitas segala. Padahal, bisnisnya terkendala atau tidak, itu bukan urusan kamu kan?"
Keenan berpaling, sangat enggan menatap Rayden. Bibirnya begitu lemas bicara omong kosong, Keenan benar-benar jengkel dibuatnya.
Alih-alih berhenti bicara, Rayden justru gencar menggoda Keenan. Dia mengungkit masalah-masalah yang telah lalu, yang berhubungan dengan Keenan dan Zetta. Rayden terus saja bicara meski tampang Keenan sudah masam dan tak sedap dipandang.
"Hentikan omong kosongmu, aku sudah mual mendengarnya! Tidak ada ketertarikan atau cinta seperti yang kamu kira. Aku murni hanya ingin membantunya," sahut Keenan ketika Rayden masih asyik berbicara.
Mendengar jawaban Keenan, Rayden hanya mengangguk-angguk. Tidak protes lagi, tetapi juga tidak memercayai.
__ADS_1
"Kamu jangan terlalu banyak berpikir. Lakukan saja yang aku perintahkan tadi, tidak usah menebak yang macam-macam!" Keenan bicara sembari menatap Rayden dengan intens.
"Semakin kamu mengelak, aku semakin yakin jika kamu mulai tertarik dengannya," batin Rayden sambil menahan tawa.