My Beloved Ex-wife

My Beloved Ex-wife
Bab 52


__ADS_3

Setelah jam sekolah berakhir, Roan langsung pulang dan tidak mampir ke mana-mana. Dia sudah tak sabar memberitahukan kabar keberhasilannya masuk tim basket nasional kepada Nyonya Brenda. Siapa tahu, setelah ini dia akan mendapatkan dukungan untuk menekuni minatnya tersebut.


"Ma! Mama!" teriak Roan setibanya di rumah. Dia masuk begitu saja melintasi ruang tamu dengan penuh semangat.


Karena cukup lama tidak ada jawaban, Roan terus masuk sambil tetap berteriak. Namun, alangkah terkejutnya Roan ketika tiba di ruang keluarga. Bukan ibunya yang pertama kali dia lihat, melainkan Keenan. Kakaknya itu sedang duduk sambil melipat tangannya di dada dengan tatapan lurus menarap ke arah Roan.


Roan terkejut dibuatnya, sampai-sampai bibirnya mengatup rapat dan berhenti tersenyum. Dia sungguh tak menyangka akan bertemu dengan Keenan, karena setahunya, selama ini Keenan tak pernah pulang secepat itu. Ah, belum siap rasanya Roan memberitahu kakaknya ini tentang dirinya yang ingin menekuni basket sebagai hobi sekaligus profesi.


Dengan agak takut Roan melangkah menghampiri Keenan. Sebisa mungkin dia berusaha tersenyum, tetapi yang tercetak malah wajah kaku dan gugup.


"Kak Keenan sudah pulang?" Roan berbasa-basi. Perasaannya makin tidak nyaman ketika melihat Keenan menyambutnya dengan senyuman. "Pasti setelah ini aku dimarahi," lanjutnya dalam hati.


"Duduklah!" perintah Keenan.


Roan menurut. Dia duduk di depan Keenan dengan kepala yang ditekuk.


"Hari ini Zetta datang ke sekolahmu?" tanya Keenan. Pertanyaan yang tak butuh jawaban.


Roan membeliak sekilas, sebelum kembali menunduk kembali. Bodohnya dia berpikir kalau Keenan tak tahu apa yang dia lakukan. Tentu saja kakaknya itu akan tahu. Apalagi tadi ada Rayden bersama Zetta, lelaki yang setahu Roan adalah teman sang kakak.


Pikiran Roan pun mendadak buntu dan tak bisa merangkai kalimat untuk menjelaskan kejadian hari ini. Dia memang salah karena lagi-lagi berurusan dengan Zetta, padahal kakaknya sudah cerai dengan wanita itu. Namun, mau bagaimana lagi, ia tak punya pilihan.


"Aku dengar hari ini kamu lolos masuk tim basket nasional?" tanya Keenan lagi.


"I-iya." Kali ini Roan menyahut meski dengan agak terbata. Dia menghela nafas sejenak, bersiap jika Keenan hendak memarahinya.


"Selamat," ujar Keenan.


Roan membelalak seketika, tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Keenan memberinya selamat?

__ADS_1


Selagi Roan masih terdiam dalam keterkejutannya, Keenan memberikan pujian padanya, bahkan juga memberikan beberapa nasihat. Sebagian masuk dalam pendengaran Roam, sebagian lagi lewat begitu saja seperti angin, karena saat ini Roan hanya fokus dengan matanya. Melihat Keenan bicara lembut dan diiringi senyuman tulus merupakan pemandangan yang langka, Roan masih mencerna itu nyata atau sekadar ilusinya saja.


"Kenapa malah melamun?" tanya Keenan setelah cukup lama melihat adiknya menatap tanpa kedip.


"Kak Keenan tidak marah?" tanya Roan dengan suara pelan. Dia agak ragu saat mengutarakan pertanyaan itu, khawatir jika nanti malah memancing emosi Keenan. Namun, tetap diam juga ia tak bisa. Rasa penasaran memaksanya untuk bertanya.


Mendengar pertanyaan Roan, Keenan langsung memijit pelipis. Apa seburuk itu dirinya di mata sang adik?


"Maaf, Kak. Aku ...."


"Aku tidak marah. Kamu sudah besar, sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah. Kamu juga pasti punya cita-cita yang ingin diraih. Aku tidak akan melarang, justru memberimu dukungan sepenuhnya. Jadi, tetaplah bersemangat," jawab Keenan.


Roan terdiam cukup lama, hanya matanya yang masih tak henti memandangi wajah Keenan. Dia masih tidak percaya dengan perubahan sikap kakaknya kali ini.


"Kamu bebas melakukan apapun yang ingin kamu lakukan, Roan, selagi itu adalah hal positif. Dan aku senang jika kamu berhasil mendapatkan apa yang kamu inginkan," sambung Keenan.


"Terima kasih banyak, Kak. Aku janji setelah ini akan berusaha lebih giat lagi." Setelah yakin bahwa kakaknya tidak marah, Roan berulang kali mengucap terima kasih. Rasanya jauh lebih melegakan ketika mendapat dukungan dari keluarga.


Meski terlihatnya seperti bercanda, tetapi Roan tak berani menjawab. Dia hanya mengangguk pelan sambil melirik Keenan sekilas.


Melihat tanggapan Roan, Keenan langsung tersenyum miris. Benar apa yang dikatakan Zetta di dalam video yang dilihatnya tadi, dirinya harus memikirkan kehidupan yang diinginkan Roan, bukan hanya egois dan sering memaksakan kehendak.


"Pantas dia malah memilih Zetta, ternyata aku terlalu keras dan tak memberinya ruang untuk berkembang," batin Keenan.


"Oh ya, hari ini kamu dan Zetta makan apa? Apa dia ... memasak lagi untukmu?" tanya Keenan setelah beberapa saat terdiam.


Kini berganti Roan yang tersenyum miris. Dia tahu di balik pertanyaan itu ada maksud yang tersembunyi. Sang kakak hanya ingin memancingnya bercerita tentang Zetta.


"Roan?" panggil Keenan.

__ADS_1


Namun, Roan masih saja bergeming. Mengingat kebaikan Zetta, dirinya tak mungkin bicara banyak kepada Keenan, apalagi jika nanti didengar ibu yang sering bersikap kasar itu. Makin runyam urusannya.


"Gara-gara bahas makanan, aku jadi lapar, Kak. Aku mau makan dulu." Roan bangkit dan bersiap pergi.


"Makan saja sana," sahut Keenan dengan agak ketus. Dia merasa kesal karena Roan sengaja menghindari topik tentang Zetta.


Beberapa hari kemudian, Zetta dan Theo pergi ke area skating untuk menemui direktur perusahaan yang akan diakuisisi.


"Itu dia," kata Zetta ketika melihat direktur tersebut. Theo pun mengangguk dan keduanya langsung pergi menyapa.


Mereka disambut ramah oleh direktur itu. Dalam sesaat, ketiganya saling berbasa-basi dan mengobrol ringan. Sampai akhirnya, Zetta dan Theo mulai menyinggung soal akuisisi.


"Sebelumnya maaf, Nona Zetta, soal itu ... bagaimana kalau kita bahas nanti saja? Saya akan beristirahat dulu sambil memikirkannya lebih lanjut. Anda silakan kembali ke sini setelah saya hubungi," ujar direktur.


Theo dan Zetta saling pandang. Sebelum mereka memberikan jawaban, direktur kembali menegaskan bahwa dirinya butuh waktu untuk istirahat. Akhirnya, Theo dan Zetta setuju. Mereka akan menunggu kabar dari direktur untuk membahas akuisisi. Setelah itu, mereka pun pamit pulang.


Keesokan harinya, Theo datang ke kantor Zetta dan menjemputnya. Mereka sepakat pergi ke area skating meski direktur belum menghubungi.


"Tepat waktu sekali," ujar Zetta ketika masuk mobil dan duduk di samping Theo.


"Setiap pergi denganmu, rugi rasanya kalau aku terlambat." Theo menjawab.


"Astaga, sejak kapan kamu jadi perayu ulung?" Zetta menanggapi sambil tertawa kecil.


Theo menatap Zetta sejenak. "Ternyata kamu cantik kalau sedang tertawa."


"Memangnya selama ini kamu tidak sadar?" Zetta makin tergelak. "Sudahlah, ayo jalan!" sambungnya sembari memasang sabuk pengaman.


Theo pun menurutinya. Dia langsung menyalakan mesin mobilnya dan melakukan kendaraan tersebut meninggalkan kantor Zetta. Sepanjang perjalanan, keduanya terus mengobrol, membahas berbagai topik.

__ADS_1


Diam-diam Theo merasa senang. Zetta yang sekarang jauh lebih baik dibandingkan dulu. Dia tidak lagi menjadi budak cinta Keenan yang rela menjatuhkan harga diri hanya demi dekat dengan lelaki itu, bahkan sampai rela mengorbankan banyak waktu. Kini, Zetta sudah bisa memikirkan kebahagiannya sendiri, sudah bisa melupakan dan menghapus perasaannya kepada Keenan. Lelaki brengsek itu memang tidak pantas mendapat cinta tulus dari Zetta.


__ADS_2