
"Jake dari mana saja kau?" tanya William.
seakan tak percaya, kini mereka semua melihat Jake yang kini bersama dengan Jay dan Felix.
Jake terdiam.
"Bagaimana keadaan Maria?" tanya Jay.
"Dia masih di dalam. Ero mengatakan jika kondisi Maria masih kritis." jelas Mark. "Luka tusukannya sangat dalam. karena itu janin Maria tidak bisa di selamatkan. Ero juga mengatakan jika kemungkinan besar Maria akan sulit hamil. karena luka tusukan tersebut. dan berkemungkinan jika Maria hamil maka dia akan mati."
(BTW Ero itu Dokter ya gays 🤭)
Deg...
Rasanya Jake begitu hancur.
Jake, dia bimbang,, bagaimana caranya untuk menjelaskan hal ini kepada istrinya. jika Maria tidak bisa hamil.
semuanya sudah hancur berkeping-keping.
keinginan Maria untuk memiliki anak sirna. keinginannya untuk menjadi wanita sungguh kini telah hancur.
dia tidak akan pernah bisa hamil..
pasti itu sangat menyakitkan.
semua ini adalah salahnya.. karena sudah membuat Maria terseret kedalam masalahnya, hidupnya dan obsesi Anaya.
Gila..! semua ini sungguh gila!!
takdir Sudah mempermainkannya!
"Persetan dengan hamil, atau anak!! aku tidak peduli!! buatku Maria lebih dari segalanya.. tanpa anakpun aku masih bisa hidup bahagia bersama dengannya.!!" tegas Jake.
"Lalu?Apa yang akan kau katakan kepada Maria?Jika janinnya kini sudah di angkat..dan dia tidak akan pernah bisa hamil. itu akan sangat menyakitkan." tanya William.
"kau benar Will." timpal Victor "Lebih baik mati dari pada mengetahui hal yang akan membuat diri kita sendiri hancur. Hal yang lebih menyakitkan dari pada kematian adalah kehancuran!".
"**** ! aku bersumpah.. aku akan menghancurkan ja*ang itu sampai tak tersisa!!! kan ku buat Anaya memohon ampun kepada istriku!! dan aku bersumpah jika terjadi sesuatu kepada Maria,, kan ku siksa dia hingga dia menjerit memohon untuk mati!!!" glegar suara khas otoriter berat yang di miliki Jake membuat semua orang yang ada di sana termasuk para sahabatnya hanya diam. tanpa memiliki niat untuk menimpali.
mereka semua tau jika Jake sudah marah..
maka yang mengusiknya akan mendapat hukuman yang setimpal!
bagi para tawanan yang sudah lama di siksa oleh la Savas, dari kalangan para musuh, pemberontak, sampai penghianat, dan lainnya. jika mereka sudah berani bermain-main dan menyalakan api kepada la Savas khususnya Jake. maka para tawanan itu akan terus di siksa sampai mati.
jika mereka belum mati, maka mereka semua akan terus di siksa tanpa ampun. mereka semua selalu menangis darah, menjerit, dan memohon untuk mati. bagi para tawanan kematian awal lebih baik dari pada mati setelah di siksa. itu lebih berkali-kali lipat menyakitkan.
.......
para dokter berlari..
tergesa-gesa menuju ruangan Darurat VVIP yang di tempati Maria.. entah apa yang terjadi.. tetapi para dokter dan juga perawat membawa beberapa alat yang membuat semua orang di sana terheran-heran.
pasalnya Jake yang sedari tadi menunggu Maria dia tak tau jika para dokter kini melewatinya dengan raut wajah khawatir.
"Ada apa ini??!!" teriak Jake "Apa terjadi sesuatu pada Istriku??!!!".
tapi pada dokter dan perawat termasuk Ero hanya terdiam.
"Hei kenapa kalian diam saja??!!" sambung Jake.
Jake mencekal salah seorang di antara pengawal hendak melewatinya.. Jake mengangkat tangan. hendak akan mencekik lehernya.
Victor, William, Jay dan Mark pun segera berdiri untuk menghentikan Jake.
"Sialan! aku sedang berbicara dengan kalian!!! kenapa kalian diam saja ha?!".
pengawal rumah sakit itupun ketakutan.
__ADS_1
"M-maaf sir.. tapi istri anda sedang kritis. darah yang keluar cukup banyak hingga membuat detak jantung istri anda lemah."
deg..
hati Jake bagai tersambar oleh glegar petir yang aneh.
dadanya sesak. rasanya tersumpal oleh berton-ton batu hingga membuatnya merasa sangat ketakutan.
"Jake lepaskan!! kau akan membunuhnya." ujar William.
Jake melepaskan pengawal itu dengan kasar. hingga membuat pengawal rumah sakit itu terbatuk.
"Ini tidak mungkin!!!Maria!!!!!" Jake hendak memasuki ruangan Darurat. tetapi terkunci.
dari jendela Jake dapat melihat, wajah istrinya yang cantik kini terbaring lemah.
wajahnya yang cantik kini terlihat pucat pasi.
tubuhnya yang indah kini telah terbaring lemah.
banyak infus di mana-mana. membuat Jake tak tega melihat istrinya itu.
"Percayalah dia akan baik-baik saja.." lirih Victor sembari menepuk bahu Jake.
"Ya Jake,, Maria adalah wanita yang kuat." sambung Mark.
"benar, apa yang di katakan Mark dan Victor Jake." ujar Jay.
Jake hanya diam.
fikiranya kini sedang berkecamuk..
Tit.......
tiba-tiba detak jantung Maria terhenti. menandakan Maria kini telah mati.
jika istrinya itu sudah tiada.
betapa hancurnya Jake!
mendengar dua kabar menyakitkan sekaligus..
kehilangan calon bayi dan juga istri.
betapa menyedihkannya..
entah apa yang akan Jake lakukan sekarang..
pria itu sangat hancur. wajahnya menunjukkan Kekhawatiran sekaligus Amarah yang tercampur aduk menjadi suatu adonan yang tidak bisa di jelaskan.
"Aku tidak mau tau!!! kalian harus menyelamatkan Istriku!! jika tidak,,, akan Ki bunuh kalian semua!!!" glegar suara khas Jake yang berat. mampu melemahkan Syaraf sadar semua orang.
terdengar dari suaranya, Jake memang merasakan rasa sakit yang teramat. dan bisa di lihat pula jika Jake benar-benar teramat sangat mencintai Maria berkali-kali lipat.
Jake, pria arogan otoriter dan kejam kini menjadi lemah dengan meneteskan air mata. wajahnya yang tampan telah menjadi menyedihkan. air mata yang keluar dari pelupuk matanya tidak bisa berhenti.
Victor, William, Jay dan Mark hanya diam.
mereka tau tentang rasa sakit yang di alami Jake sekarang..
"Sayang,, kumohon bangunlah..." lirih Jake.
dari luar jendela, Jake dapat melihat, para dokter dan perawat sedang berusaha menyelamatkan Maria. dengan peluh keringat yang membasahi, Ero dan para dokter yang lainnya kembali berusaha mengembalikan detak jantung Maria dengan beberapa alat canggih untuk di gunakan.
tapi semua itu sia-sia.
Maria benar telah mati.
usaha para Dokter untuk menyelamatkan Maria, kini Sirna sudah..
__ADS_1
"Persetan!!! Kenapa kalian semua berhenti ha???!!!"
"Maaf sir, kami sudah berusaha semampu kami,, tetapi istri anda memang benar-benar sudah tiada." ujar Ero.
Jake mencekal kerah kemeja ero, dengan raut wajah penuh amarah dan penyesalan. Jake pun meninju wajah ero dengan membabi-buta.
"Apa kau bilang?Istriku sudah tiada??!"
bugh...
bugh....
bugh...
"Maria tidak mungkin mati!! Dia tidak akan pernah meninggalkanku sendiri disini!!!"
Ero tersungkur dengan keras, wajahnya di penuhi banyak lebab, sebab pukulan Jake, hidung dan sudut bibirnya mengeluarkan darah. sebelah matanya mengalami luka membiru.
Jake kembali menyentuh kerah kemeja Ero.. dan kembali memukulnya.. Jake menendang perut serta kaki ero. membuat ero pingsan seketika.
Jake hendak memukulnya kembali tapi, Felix menghentikannya. hingga kini tatapan keduanya bertemu.
"Lepaskan aku brengsek!!" titah Jake.
"Hentikan kegilaan ini!!! percuma kau memukuli semua orang yang ada disini,, itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa Maria sudah mati." jelas Felix.
"Tidak.. itu tidak mungkin!!!"
"Itu adalah kebenaran.." sambung Felix.
"Mariaaaaaa!!!" teriak Jake.
.....
"Mariaaaaaa!!!" teriak Jake.
"Hei Jake ada apa? Kenapa kau berteriak?" tanya William.
"Dimana Maria? Bagaimana keadaannya?"
"Maria sudah membaik, bahkan sekarang Maria sudah pindah ke ruang lain." jelas Victor.
"Dia tidak mati?" Jake kembali bertanya.
"Oh astaga,,, kau ingin istrimu mati?!Yang benar saja.." William menimpali.
"biar ku tebak.." sambung Mark. "kau pasti bermimpi jika Maria sudah mati.." sambungnya.
Jake terdiam.
semuanya pun tertawa,, dengan ketakutan Jake yang begitu besar kehilangan Maria. hingga terbawah suasana, hingga ke alam mimpi.
"Sir,,, kau terbawa suasana.. sampai kau berfikir jika istrimu mati?" Marcus terkekeh. "Yang benar saja.." sambungnya.
"Mungkin saja, Jake terlalu mencintai Maria, sehingga takut kehilangannya.." timpal Felix.
"Yah,, mungkin saja begitu.." Seth angkat bicara.
"Hei Jake Kenapa kau diam saja?Apa kau tidak ingin melihat Maria?" kata Jay.
"Ya, Ero mengatakan, jika kau ingin menemuinya,,, maka kau di perbolehkan.. tapi tidak boleh terlalu lama.. karena Maria harus banyak istirahat." jelas Mark.
"Apa dia sudah sadar?" tanya Jake.
"belum, Maria masih belum sadar.. wajahnya sangat pucat. mungkin dia butuh kau." sambung Mark.
"Aku akan melihatnya.." lirih Jake.
Bersambung~
__ADS_1