
pembantaian masih berlangsung sangat sengit,
bahkan si tua Bangka Charlie yang kini terluka pun masih sanggup berdiri untuk kembali melawan Felix.
Felix menyeringai,
"Ternyata wajah, dan umurmu saja yang tua, tapi tenagamu boleh juga.." ujar Felix sembari terkekeh.
"Jangan menghinaku anak muda,," Charlie menatap Felix dengan tatapan Nyalang, seakan mengibarkan bendera perang.
Charlie yang tadinya terluka akibat tusukan dari Felix, kini Charlie membalas Felix dengan menghantam kepala felik menggunakan tongkat bisbol yang terletak tak jauh dari jangkauannya.
Felix sempat mundur, ia berusaha menetralisir rasa sakitnya, dengan santai, Felix melawan Charlie dengan Adu tinju.
pertarungan keduanya sangat sengit, hingga wajah keduanya tampak babak belur, dengan memar yang juga berada di sekujur tubuh. paha Charlie yang tadinya terkena tusukan itu mulai mengeluarkan banyak darah yang menetes-netes. membuat Charlie sesekali meringis kesakitan.
kini Felix berhasil mengambil tongkat bisbol yang tadinya di pakai Charlie untuk memukulnya, Felix yang mulai marah terus menerus memukuli Charlie menggunakan tongkat bisbol itu dengan keras, membuat tubuh Charlie tumbang.
"Daddy..!!" Anaya menjerit histeris melihat ayahnya di pukuli dengan membabi-buta. membuatnya murka. dan mengigit tangan Jake hingga berdarah.
Jake sempat meringis kesakitan, Anaya pun meninju perut Jake dan menendang meja mengenai punggung Felix, membuat Felix terhyung tumbang.
"Bajingan kau Felix!!!!" teriak Anaya.
Anaya pun mengambil pisau, pisau tersebut adalah pisau yang di gunakan Felix untuk menusuk paha Charlie.
dengan kemarahannya, Anaya hampir menebas kaki Felix dengan pisau tajam tersebut, Felix yang belum sempat terbangun, ia merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya yang kini mulai nyeri.
Tangan Anaya yang tadinya memegang pisau untuk menebas kaki Felix, harus berakhir dengan kehilangan tangannya. karena Jay lebih dulu memotong tangannya menggunakan pisau lipatnya.
Anaya menjerit keras, tangannya mengeluarkan darah segar begitu banyak.
pertarungan itu masih berlanjut.
Anaya menatap Jay dengan sorot mata mematikan. gadis itu langsung menghantamkan kepalanya sendiri ke kepala Jay hingga berdarah, kini sudut dahi Jay mengeluarkan darah yang mengucur deras.
Jay hampir terhyung, tetapi ia berusaha untuk tidak pingsan.
Jake yang melihat adegan tersebut, langsung menembaki Anaya.
Anaya yang gesit, mampu menghindari serangan Jake, yang menembakinya dengan membabi buta.
matanya yang jeli, dengan konsentrasi,dan mengeluarkan jurusnya sebagai sniper, Jake mampu menembak perut Anaya.
"****!!!" ujar Jake.
Anaya bersembunyi di sebalik kayu yang tak jauh dari ruangan, dengan rasa sakit yang teramat Anaya berusaha untuk bangkit, ia merobek bajunya, dan mengikatkannya di bagian perut agar sedikit menghentikan darah yang mulai mengucur deras.
pertarungan darah sudah di mulai bukan?
Felix terbangun, ia membawa Charlie, menyuruhnya untuk berdiri sejajar dengannya, Charlie yang mulai terkulai lemah hanya bisa pasrah.
dengan tubuhnya yang sudah di penuhi darah, wajahnya yang memar. berada tepat di depan Felix.
Felix menodongkan pistol di kepalanya,
Jake menyeringai.
"Ternyata dia sangat pengecut Jake.." felix terkekeh.
__ADS_1
"dia bukanlah gadis tangguh, buktinya dia bersembunyi. bahkan dia tak mampu untuk melawan." sambung Jay.
"Keluarlah!!!Atau ku tembak mati ayahmu di sini!!!" glegar suara serak basah Jake yang otoriter mampu membuat Anaya menelan ludah susah payah.
sebenarnya Anaya ingin keluar dan melawan, tapi ia tak mampu,karena tubuhnya sudah babak belur, tangannya terluka karena tusukan karena Jay dan sekarang ia terkena tembakan di area perut. membuat Anaya tak berkutik.
ia tak Mampu menyelematkan ayahnya.
sejenak Anaya sangat menyesal karena mengusik Jake.
seandainya saja dia tidak mengusik Jake apalagi mencelakai Maria dengan menusuknya dan membuatnya tak bisa hamil. maka ini semua tak kan pernah terjadi.
Anaya meneteskan air matanya, tanda penyesalan.
"Maria maafkan aku.." lirih Anaya.
Dor...
Suara tembakan itu, terdengar keras. Anaya terkejut setengah mati. perlahan-lahan ia mendengar suara langkah kaki yang mulai mendekat. Anaya menutup mulutnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak bersuara.
tetapi Jake berjalan perlahan-lahan Mencari keberadaan Anaya. ah pria itu sudah tidak sabar untuk membunuhnya bukan?
"Hei Jake, kita apakan pria tua ini?Aku sudah tidak sabar untuk membunuhnya. atau kita perlu untuk menyiksanya dulu sebelum membunuhnya?" tanya Felix. pria itu mulai menggerutu tak jelas.
"Terserah mau kau apakan pria tua itu." ujar Jake.
"Lalu?apa yang sedang kau lakukan disana?" tanya Jay.
"aku sedang menghidupkan bom, dalam waktu 10 menit maka tempat ini akan meledak, dan menjadi abu hingga tak tersisa." kata Jake, dengan seringai jahat bak iblis yang kental.
"Kau memang bajingan, dan licik!" timpal Felix
bagaimana caranya untuk lari? Sedangkan ia mulai lemah dan tak Mampu untuk berdiri apalagi lari.
bagaimana ini?
"Kau masih tak mau keluar juga?" Jake kembali melangkah dengan gagah.
sebenarnya Jake tau jika Anaya bersembunyi di sebalik kayu yang tak jauh darinya, terlebih ia melihat darah segar yang menetes-netes di sana. tapi pria itu ingin Anaya menunjukkan dirinya bukan malah ia yang menghampirinya.
"Felix sepertinya kau harus menebas kaki pria tua itu agar dia tak bisa melarikan diri." titah Jake.
"Ide yang bagus." Felix menyeringai.
tanpa berlama-lama, pria itu mengambil kapak dan menebas kaki Charlie tanpa ampun. hingga Charlie menjerit histeris. suaranya seakan terdengar tersiksa.
Anaya Mendengar jeritan tersebut hanya menangis tanpa mengeluarkan suara. ia sangat menyesal.
ya Anaya menyesal karena sudah mengenal Jake dan mengusik hidupnya. ia juga menyesal karena sudah membuat Maria Sekarat. bahkan Anaya tidak tau jika Maria sudah kembali pulih. yang Anaya tau, pada saat tragedi itu. Anaya beranggapan jika Maria sudah mati akibat ulahnya.
Lagi-lagi Charlie berteriak, karena Felix menggunakan paha Charlie yang terkena tusukan, sebagai asbak rokok yang ia taruh di atas paha. dan menjadikan paha itu sebagai asbak untuk mematikan batang rokoknya.
"Kau berisik sekali!!" Felix membungkam mulutnya Charlie menggunakan kain.
"Felix kau benar-benar psikopat." Jay terkekeh.
"Jake, kita harus pergi dari sini, karena bom akan segera meledak dalam waktu 5 menit." sambung Felix "Apa kita akan meninggalkannya disini?Atau kita bunuh saja sekalian."
"Ya bunuh saja dia. sepertinya putri kesayangannya itu sudah tak mampu untuk menyelamatkannya." ujar Jake.
__ADS_1
Anaya pun keluar dari tempat persembunyiannya.
dan menatap ketiga pria di hadapannya itu Dengan sorot mata penuh kobaran api yang membara.
"Cukup!!!Jangan siksa Daddy." ujar Anaya.
"Kenapa kau bersembunyi hm?" tanya Jake "Kau terlihat berbeda, dimana Anaya yang sok percaya diri itu?Aku seperti tidak mengenal Anaya satu ini."
"Ya dia tampak menyedihkan." hina Jay.
"Terserah apa yang kalian katakan." ujar Anaya. "Tapi jangan bunuh Daddy."
"Kau memohon?"
"Ya Jake aku memohon padamu,, tolong jangan bunuh aku dan Daddy. aku sungguh minta maaf. karena sudah menusuk Maria dan membuat Maria tak bisa hamil." Anaya bersimpuh di bawah kaki Jake, sembari menangis tersedu-sedu.
Jake berfikir sejenak, atas apa yang sudah Anaya perbuat kepadanya dan Maria. tidak mungkin dengan meminta maaf Jake dapat melepaskannya begitu saja.
"Jay, keluarlah. katakan pada semua untuk menungguku di mobil. karena sebentar lagi Markas ini akan meledak." titah Jake.
Jay mengangguk.
"Aku dan Felix akan segera menyusul." sambungnya.
Jay pun bergegas untuk pergi.
"Jake, ku mohon jangan bunuh aku.. maafkan aku.." lirih Anaya.
Felix hanya menyeringai.
"Sayangnya itu sudah terlambat." ujar Jake singkat dan langsung menembak tepat di kepala Charlie, dan itulah akhir hangat dari hidupnya.
seakan tak puas, Felix langsung menusuk-nusuk tubuh Charlie, wajah tampannya terciprat darah segar milik Charlie. yang membuat Felix menyeringai bak real psikopat.
Anaya yang geram, permohonannya tak di pedulikan. ia yang melihat pisau lipat Jake, Anaya mengambil pisau tersebut dan langsung menusuk kaki Jake.
"Fu*k!!!" teriak Jake.
"Rasakan itu brengsek!!!" Anaya menyeringai.
Felix membulatkan matanya, tanpa berlama-lama dan berbasa-basi Felix langsung melemparkan belati yang ia simpan di dalam saku, tepat mengenai dada Anaya. gadis itu mendelik dan bibirnya mengeluarkan darah yang begitu banyak. ia pun tewas dengan tragis.
Felix dengan cepat membawa Jake keluar dari Markas tersebut, karena dalam hitungan detik markas itu akan meledak.
10... 9....8....7...6....5...4....3....2....1
tit... tit... tit...
Duar.......
Jay, Mark, Victor, William, Marcus dan Seth yang menunggu Felix dan Jake keluar.. ia di buat terkejut akibat ledakan dasyat bom tersebut. mereka pun khawatir, dengan mencari Jake dan Felix di sekitar markas yang kini hancur tak tersisa.
naas sekali nasib Anaya dan Charlie dengan beberapa anak buah nya. harus terbunuh dengan tragis tak tersisa bahkan terkena ledakan bom pula.
sungguh mengerikannya.
itu adalah balasan yang setimpal untuk orang-orang yang sudah berani mengusik kebahagiaan Jake.
Bersambung~
__ADS_1