
"Sir...."
tiba-tiba Helen datang dan memanggil Jake seakan ingin mengatakan sesuatu. wajah Helen terlihat terkejut dan sangat berantusias untuk memberitahu Jake sesuatu.
"Ada apa Helen? kenapa kau sangat tergesa-gesa?!." ujar Jay.
"Sir Jake. Miss Maria.. dia...." sebelum Helen melanjutkan bicaranya,
"Ada apa dengan Istriku?!"
"Miss Maria. dia...?"
.......
Jake yang tidak bisa menunggu, dia langsung memasuki ruangan tersebut, degup jantungnya berpacu dengan sangat Cepat. dia takut..
Mata Jake membulat sempurna, dengan air mata yang tiba-tiba menetes dengan sendirinya,,,
dia tak bisa berkata apa-apa, dia tak mampu berbicara, dia tau ini akan terjadi.. dia tau tuhan akan mengabulkan doanya..
"Jake..." lirih Maria.
Maria terduduk di ranjang, sembari menggendong dua bayi kembar yang lucu. menyusu dengan sangat rakus. sesekali Maria tersenyum, melihat wajah anak kembarnya yang sangat menggemaskan.
pemandangan indah semacam inilah yang Jake impikan.
dia tak percaya,,, tuhan benar-benar mengabulkan doanya.
Jay, Mark, Victor, William, dan Seth menyusul Jake. yang tadinya tergesa-gesa memasuki ruangan, kini di suguhi oleh pemandangan di indah dengan kelahiran dua bayi kembar yang sangat lucu.
"Sir Jake.. tadinya saya akan memberitahu Anda. jika Miss Maria melahirkan dengan selamat. dan keduanya bayi anda sehat." ujar Helen.
"Lalu kenapa tadi Ghea mengatakan kepada ero jika 'Gawat' apa maksudnya?" ujar Jake.
"Ku pikir Miss Maria tak bisa melewati kritis karena tadi Miss Maria sempat tak sadarkan diri, dan wajahnya pun pucat pasi, seperti mayat. saat kami sedang menjalankan operasi pengangkatan rahim. tetapi saya salah. justru mendengar tangisan dari bayi anda. tak di sangka Miss Maria bisa melewati kritis. Miss Maria benar-benar wanita yang kuat dan memiliki semangat untuk tetap hidup." jelas Ghea.
"Yes sir.. maaf sebelumnya membuat anda khawatir. tadinya Miss Maria memang tak ada semangat untuk hidup, dan detak jantungnya pun melemah. tapi dengan bantuan tuhan, semuanya berjalan dengan lancar." sambung ero. "Tapi maaf ini akan menjadi terakhir kalinya Miss Maria mengandung. karena setelah ini, Miss maria tak akan pernah bisa hamil lagi. rahimnya sudah kami angkat. jika tidak,maka itu akan merusak seluruh organ-organ yang ada di tubuh Miss Maria, karena tusukan tersebut belum pulih di tambah lagi rahim Miss Maria mengandung 2 janin sekaligus. jadi kami mengambil jalan buntu dengan mengangkat rahim tersebut." sambung Ero.
"Tidak masalah,, karena aku sudah pernah merasakan bagaimana rasanya bisa hamil, mengidam, dan bisa melahirkan." ujar Maria. "Aku sangat berterimakasih kepada Tuhan, karena sudah menganugerahiku menjadi wanita yang lengkap sekarang. menjadi seorang putri, istri, dan seorang ibu. semua berkat campur tangannya. tanpa tuhan ini semua tak akan pernah bisa terjadi." imbuh Maria.
"Ku pikir kalian butuh waktu berdua saja.." ujar Jay.
"Ya. Jake,, kami tunggu di luar." sambung William.
"Jika anda sudah menyusui, bolehkah saya membawa kedua bayi anda?Untuk di masukkan kedalam inkubator, karena mereka tidak lahir secara normal. mereka masih sangat kecil. bahkan mereka lahir saat usia kehamilan anda baru menginjak bulan ke 7." ujar Helen.
__ADS_1
"Tentu saja dokter." Maria memberikan kedua bayinya kepada Helen dan Ghea untuk di bawa ke ruangan lain. Lebih tepatnya inkubator. karena Maria melahirkan bukan 9 bulan tapi baru 7 bulan. tentu saja kedua bayi munggil itu butuh perawatan intensif.
"Tunggu sebentar," ujar Jake.
Ero, Helen, dan Ghea pun berhenti.
dan saling menatap satu sama lain, takut jika mereka melakukan kesalahan.
"Kalian bertiga akan ku kirim untuk liburan selama sebulan di Dubai." singkat Jake. "Aku akan memesan tiket untuk keberangkatan kalian besok. Rekening kalian sudah ku isi dengan sejumlah uang, bersenang-senang lah.." imbuhnya.
Ero, Helen dan Ghea membulatkan matanya tak percaya.
sungguh?
"Benarkah tuan?" timpal Ghea.
"Hm.."
"Terimakasih banyak Sir..." ujar mereka bertiga bersamaan.
"Hm.. segarang pergilah.."
"Baik sir terimakasih.." imbuh Helen
kini tinggal mereka berdua.
jake tak menyangka, jika dia bisa memiliki anak, dia bahkan tak memiliki harapan memiliki anak saat mengetahui maria tak bisa hamil. dan jika Maria hamil maka itu akan merenggut nyawanya.
setelah mengetahui tragedi itu, membuatnya takut dan sangat membenci hal-hal yang menyangkut tentang hamil.
ia tau Maria sangat ingin hamil, tapi pada waktu itu rahim Maria belum pulih, bahkan masih dalam masa perawatan. mereka sempat bertengkar menyangkut soal anak. tapi itu tak mengubah keinginan Maria untuk menjadi seorang ibu dan bisa hamil.
Maria memang sangat keras kepala.
"Sayang,, apa kau baik-baik saja hm..?" tanya Jake.
Maria tersenyum "Aku sangat baik." ujar Maria "Sayang,, apa kau tau?Aku sangat-sangat bahagia. sekarang aku benar-benar percaya jika keajaiban itu ada, dan tuhan akan membantu siapa saja yang mau berusaha dan terus berdoa. bersabar dan memiliki keyakinan sepenuhnya kepadanya." imbuh Maria.
Jake tersenyum, menyentuh pipi Maria menggunakan jarinya lembut. "Aku sangat bangga padamu." ujar Jake.
Jake memeluk Maria, mendekapnya erat, mencium kening Maria dalam. menyalurkan kebahagiaannya melalui pelukan tersebut.
"Kau tidak hanya memberikanku kebahagiaan, tapi juga semangat untuk terus hidup bersamamu dan juga anak-anak kita." lirih Jake.
Maria tersenyum, sembari mendekap tubuh Jake lebih dalam.
__ADS_1
"Terimakasih sudah memberiku sebuah kebahagiaan, tidak hanya satu, tapi dua sekaligus. terimakasih banyak sayang...." sambung Jake.
"Kau tidak perlu berterimakasih sayang, justru aku yang berterimakasih padamu, walaupun kau sempat mendiamiku, tapi kau sudah melaksanakan kewajiban mu sebagai seorang suami dengan baik." ujar Maria. "Walaupun kau tau aku adalah wanita yang serakah dan egois. kau tetap mau memaafkanku, bahkan kau menuruti segala keinginan ku. walaupun kau tak menginginkan kehamilanku." sambung Maria "You are the best husband in the world" lirih Maria, suaranya terdengar biasa tapi memiliki arti yang dapat membuat Jake tersentuh.
"I love you...." lirih Maria.
"I love you more.."
"Omong-omong siapa nama mereka Daddy?" ujar Maria.
Jake mengerang. di cubitnya hidung Maria dan terkekeh.
"Aku belum memikirkannya.."
Maria berdecak sebal.
"Ck. Daddy. lalu bagaimana semua orang bisa tau, siapa nama si kembar jika kau juga belum memikirkannya?Kau sangat payah." gerutu Maria.
"Itu karena suamimu harus berbicara terlebih dulu padaku Maria..." ujar kara yang tiba tiba datang bersama dengan bara.
bagaimana mereka bisa tau jika Maria melahirkan?di rumah sakit pula. siapa yang sudah membocorkannya?.
kara menjewer telinga Jake keras, membuat Jake meringis kesakitan.
"Mom hentikan,, apa yang mom lakukan?!" gerutu Jake.
"Itu hukuman. karena kau tidak memberitahu mom jika istrimu sedang melahirkan. kau bahkan tidak pernah menghubungi dad dan mom setelah menikah. oh hei apa kau sudah mulai melupakan kami?" ujar kara.
"Ya son. kenapa kau tidak memberitahu kami?" timpal bara.
"Dad, mom. kami tidak memberitahu karena Tidak ingin membuat kalian khawatir." ujar Maria.
"Tetap saja Maria, kalian harus memberitahu kami, karena kami adalah orang tua kalian. untunglah Seth memberitahu jika kau melahirkan. jika tidak maka mom dan dad tidak akan pernah tau jika kau mengandung dan sekarang sudah melahirkan." sambung kara. "Lalu dimana cucuku?" imbuhnya.
"Mereka sedang di pindahkan di ruang lain." singkat Jake.
"What?Kalian itu sangat bodoh. kalian hanya diam saja, saat bayi kalian berada di ruangan lain tanpa seorang pengawal untuk mengawasi?" kara benar-benar.. datang-datang langsung mengomel.
"Mom itu karena mereka lahir belum usianya, mereka lahir saat Maria mengandung 7 bulan." jelas Jake. "Mereka sedang di masukkan kedalam inkubator. mereka juga butuh perawatan intensif.".
"Tapi kau harus menjaga mereka , jangan sampai mereka luput dari pengawasan kalian. mengerti?" timpal bara. "Aku akan meminta pengawal untuk menjaga." imbuh bara.
"Maria.. apa kau sudah merasa baikan nak?" tanya kara, menghampiri Maria, dan duduk di tepi ranjang. menyentuh tangan Maria lembut.
"Sudah mom. aku baru saja menyusui si kembar." Lirih Maria.
__ADS_1
bara melirik putranya, "Jake, dad ingin berbicara padamu..." singkatnya.
Jake mengangguk.