
Setelah pergumulan panas yang mereka lakukan, Jake merengkuh tubuh Maria agar merapat kepadanya, sedangkan Maria, terlentang dengan menggunakan tangan kekar Jake sebagai bantalan.
mereka hanyut dalam pemikirannya masing-masing.
Maria menatap langit-langit kamar, dia seakan memikirkan sesuatu.
Maria sangat penasaran dengan nasib Anaya, sudah lama sejak kejadian itu, Maria tak pernah lagi melihatnya, bahkan hanya sekedar berita di televisi pun, sepertinya tak ada berita yang meliput tentangnya.
Anaya seakan hilang di telan bumi.
Maria bukannya memiliki dendam, justru Maria ingin keadilan. agar Anaya di penjara, Karena gadis itu sangat berbahaya. terlebih profesinya sebagai mafia, dan seorang pembunuh berantai, membuat semua orang dalam bahaya jika berurusan dengan gadis seperti Anaya itu.
"Jake."
"Hmmm...?"
"bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Maria.
"Katakan saja sayang, apa yang ingin kau tanyakan hm?" suara berat khas Parau seksi milik Jake membuat Maria menelan ludah susah payah.
"Bagaimana dengan nasib Anaya?Sudah 3 bulan setelah kejadian itu, sepertinya tidak ada berita yang meliput tentangnya,, dan juga tak ada polisi yang mencari keberadaannya, dia seakan hilang di telan bumi."
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya soal wanita itu?" tanya Jake.
"Tidak. aku hanya penasaran saja." imbuh Maria "Lagipula Bukankah Anaya adalah gadis berbahaya?Dia adalah seorang mafia dan seorang pembunuh berantai, jika polisi tidak bisa menangkapnya, sudah pasti dia akan melakukan tindakan kriminal yang lebih parah, dengan terus-menerus membunuh orang lain."
"Tak perlu memikirkannya, dia sudah mati." jawab Jake dengan santai.
Maria membulatkan matanya tak percaya dengan ucapan Jake, ia pun terduduk dan langsung bertanya kepada Jake, "Anaya sudah mati?!!" tanya Maria, seakan ingin memastikan lagi.
"Ya. dia sudah mati."
"Jangan bilang, kau yang membunuhnya..." ujar Maria dengan nada khas menyelidik.
"Kau benar sayang,, akulah yang sudah membunuh Anaya."
"Kau tidak waras!!"
Jake mengerutkan keningnya, "Aku terpaksa melakukan itu. karena dia sudah membunuh calon bayi kita, membuatmu tak bisa hamil, dan kau sekarat di rumah sakit!!."
"Jake, kenapa kau begitu mudah membunuh orang lain?" tanya Maria.
__ADS_1
"Perlu kau tau Maria. aku tidak akan membunuh seseorang, jika seseorang itu tidak mengusikku."
"Tapi kau juga membunuh Axel waktu itu, apa Axel mengusikmu?"
sorot mata Jake berubah tajam, saat Maria mulai menyebut nama mantan kekasihnya itu, seakan dirinya di kuasai oleh Amarah, yang kini mulai menghantam ubun2.
"Ya dia sudah mengusikku!! karena kau yang memaksaku melakukan semua itu. jika saja kau tak melarikan diri untuk menemuinya, maka aku tidak perlu Membunuhnya.!!" geram Jake.
"Kenapa kau sangat jahat sekali." sambung Maria. "Kau juga yang sudah mencelakai Dean Christon hanya karena dia mantan kekasihku, dan kami pernah berciuman?!"
"Aku jahat?" Jake tersenyum kecut "Ya Maria, aku adalah pria yang jahat, brengsek dan sangat bajingan!!!Aku sangat mencintaimu. cintaku padamu begitu besar, aku hampir gila karena kau!! seakan-akan hidupku tak ada apa-apanya tanpa adanya kau disisiku!! karena itu, aku lebih memilihmu dari pada calon bayi kita yang sudah mati. bagiku kau segalanya,,, Aku tak butuh seorang anak, jika itu akan merenggut nyawamu. lebih baik kita tak perlu memiliki anak selamanya, jika dengan memiliki anak itu akan membuatmu pergi." imbuh Jake, pria itu seakan menumpah ruahkan apa yang terjadi, terlihat dari raut wajah dan kata-katanya, Jake begitu tulus mencintai Maria walaupun caranya salah.
Jake hendak pergi, tetapi Maria lebih dulu mencekal tangannya, Jake menatapnya dalam, kini mereka berdua bertatapan, seakan ada benang tak kasat mata, yang mulai membuat keduanya hanyut dalam tatapan penuh cinta yang menggelora.
Maria mendekatkan wajahnya, menatap bibir Jake yang sedikit berbuka, dengan mengejamkan matanya, Maria menabrakkan bibirnya dengan bibir Jake, mencium bibir seksi itu dalam, ********** sensual, menecap rasa mint dari dalam bibir Jake. deru nafas yang mulai memanas, membuat Jake terbakar api gairah.
Jake membalas ciuman Maria dalam, lidahnya membelit, dan menari-nari, saling mengejar kepuasan Masing-masing.
"I love you hubby.." lirih Maria di sela-sela ciuman panasnya.
"I love you more My Wife.." jawab Jake.
mereka berpandangan sejenak, lalu kembali berciuman dengan sangat ganas dan menuntut.
ciuman Jake beralih ke leher, menggigit telinga sekilas, dan menggoda dua bongkahan gunung kenyal itu dengan lidahnya.
tubuh Maria menegang nikmat,
tangannya meremas kuat seprei dan rambut Jake bersamaan. seakan menginginkan lebih.
Jake tersenyum, dan kembali melanjutkan permainannya, dengan mencium pusar, dan beralih ke inti Maria.
"Ini adalah kesukaanku." seringai bak predator membuat Maria begidik ngeri. tak sabar dengan pemanasan yang akan Jake lakukan.
jari-jari Jake menusuk di dalam inti Maria,
Jake sangat seksi, terlebih saat Jake memasukkan jarinya kedalam mulutnya sendiri, membuat Maria tak kuasa menahan Glora nikmat yang membara.
dirasa Maria sudah siap, Jake menancapkan miliknya kedalam milik maria, menyentuh titik berdenyut yang mulai menguasai saraf sadarnya.
Jake seakan di jepit dengan kuat, hingga sejenak, Jake menghentikan aktifitasnya untuk memberi jeda bernafas kepada Maria.
__ADS_1
Jake kembali memompa Maria, Perlahan mengikuti irama.
suara yang saling bersahutan, menyebut nama masing-masing.
dirasa Jake ingin mengeluarkan sesuatu, ia mempercepat tempo gerakannya, dan mengeluarkannya, dengan membasahi rahim Maria.
Semoga saja ada keajaiban, dengan adanya kabar baik tentang kehamilan yang aku tunggu-tunggu selama ini.(Batin Maria).
Jake terengah-engah, ia mencium pucuk kepala Maria sekilas, mencabut penyatuannya. dan memeluk Maria.
"Terimakasih sayang,," lirih Jake.
Maria tersenyum sebagai balasan.
"Kapan kau datang bulan?" tanya Jake.
"Seharusnya 3 hari yang lalu." jelas Maria. "Tapi tak perlu memikirkannya, hal itu sudah biasa terjadi."
Jake tersenyum.
"Baguslah kalau begitu.."
"Jake aku sangat haus, bisakah kau Ambilkan aku air?Aku sangat lelah,, lagipula aku tak bisa berjalan."
"Baik sayang, tunggu sebentar... aku akan mengambil air untukmu.." Jake berdiri, memakai celana dan juga jubah besar,untuk menutupi tubuhnya.
Jake tersenyum sekilas, dan keluar dari kamar. guna untuk mengambil air untuk Maria yang sedang kehausan.
melihat Jake yang sudah keluar dari kamar, Maria segera membuka nakas, mengambil benda pipih, membukanya dan menelan sebuah obat kecil. obat itu adalah pemberian dari Helen. sampai sekarang Maria masih mengonsumsi obat itu. karena obat itu akan membuatnya segera hamil, dan di konsumsi hanya setelah melakukan hubungan percintaan.
Maria terpaksa berbohong kepada Jake, karena dia tak mau jika Jake tau. Maria memang sangat egois dan serakah. karena ingin hamil tanpa persetujuan dari suaminya. dan pasti Jake akan marah jika mengetahui hal ini.
Jake pasti beranggapan, jika Maria egois karena tak memikirkan perasaannya. Maria tau betul Jake sangat mencintainya dan tak ingin kehilangannya dengan hamil dan membuat Maria mati.
tapi Maria masih bersikukuh ingin hamil, dan mempercayai keajaiban dari Tuhan. ia ingin membuktikannya sendiri, jika keajaiban memang benar adanya, dan dia sendiri yang sudah mengalami. tapi jika itu berhasil.
jika tidak, sudah pasti. Maria akan mati.
tanpa mendapat apa-apa.
janinnya tak bisa berkembang, rahimnya di angkat dan kemungkinan besar dia tak bisa selamat.
__ADS_1
Bersambung~