
Seminggu sudah berlalu,, Hari ini adalah hari kepulangan Maria dari rumah sakit.
sedari tadi Jake hanya diam. bahkan saat di mobil pun Jake tidak berbicara kepada Maria.
Mengapa Jake seperti ini?
rasanya hati Maria sangat sakit. Maria merasa Jake mulai tidak memperdulikannya.. apakah Jake sudah bosan dengannya?Karena dia tidak bisa hamil anaknya?
Entahlah,, fikiran Maria berkecamuk sekarang.. hatinya sangat sakit.
"Kita sudah sampai." singkat Jake datar. bahkan Jake berbicara tanpa menatap wajah Maria.
Maria hanya menatap Jake sekilas. berusaha untuk tersenyum,, ya lebih tepatnya senyum getir.
Maria segera turun dari mobil. saat Maria berbalik. mobil Jake sudah maju,, dan pergi.
Maria menatap dirinya di cermin. dia menyentuh perutnya, Maria percaya tuhan pasti akan membantunya dalam masalah yang kini sedang menimpa keluarganya,, hubungannya.. dan suaminya.
Maria hanya mempercayakan keajaiban tuhan sekarang.
ia percaya bahwa keajaiban itu ada dan dia akan mendapatkan salah satu keajaiban itu dari Tuhan.
tok.. tok..
"Miss.." ujar sang pelayan.
Maria membuka pintu kamarnya,
"iyaa?"
"Ini makanan untuk anda,, sir Jake meminta kami membuatkan anda makanan sehat, agar anda kembali pulih seperti sediakala." jelas sang pelayan.
Hati Maria mendesir, dia telah salah berprasangka buruk kepada suaminya,, jika Jake sudah tidak peduli lagi padanya,, lalu kenapa Jake meminta pelayan untuk membuatkannya makanan sehat? mungkinkah Jake hanya kecewa padanya? karena dia sangat Egois.
tapi apakah salah jika dirinya ingin hamil?
Maria hanya ingin menjadi wanita sungguhan. dan menjadi istri yang sempurna untuk suaminya,, memberikannya keturunan. tapi kenapa Jake malah mendiamkannya seperti ini? itu membuat Maria sangat sedih.
terlebih seharusnya di dalam kondisi Maria yang seperti ini,, Jake sebagai suami, bukankah Jake harus berada di sisinya,, mendukungnya, memberikan cinta yang besar, perlakukan romantis. bukan malah mendiamkannya seperti ini.
Maria tersenyum,
"Terimakasih.." lirihnya sembari mengambil nampan berisikan makanan tersebut kedalam kamar.
"kalau begitu saya permisi Miss."
Maria mengangguk. dan kembali menutup kamarnya.
Maria meletakkan nampan berisi makanan tersebut ke nakas, dia hanya melihat tapi tidak memakan sedikitpun makanan yang tersaji di hadapannya.
Maria hanya duduk. dan berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan suaminya.
.....
#Markas La Savas.
"Jake kau? Disini?".
"hmm."
"Bukankah Maria baru saja pulang dari rumah sakit? Kenapa kau malah disini?Kau meninggalkan istrimu di mansion sendiri?Suami macam apa kau itu?" ujar William.
Jake hanya terdiam.
memang benar ucapan William. seharusnya dia berada di sisi Maria, menjaganya,, bukan malah meninggalkan Maria di dalam kondisi seperti ini. terlebih Maria baru saja keluar dari rumah sakit.
"William!" tegas Felix.
"Aku memang suami yang buruk!"
"Jake, apa yang kau katakan?Bodoh sekali kau itu!!" ujar Felix.
"Yah William memang benar,, seharusnya aku tidak menyeret Maria ke dalam hidupku. semua yang sudah terjadi adalah salahku.. jika saja Maria tidak menikah dan hamil anakku.. ini semua tak kan pernah terjadi." Jake tersenyum kecut. menertawakan takdir yang sedang mempermainkannya.
"Jangan katakan itu Jake.. mungkin saja ini adalah rintangan yang perlu kau dan Maria lewati, karena hidup memang terkadang bercanda. Oleh sebab itu. kau harus bisa melaluinya.." jelas Mark.
"Ya Mark memang benar, kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri Jake,, karena semua ini bukanlah salahmu,, Anaya lah yang bersalah dalam hal ini, karena sudah berani mencoba membunuh Maria dan calon bayimu hingga membuat Maria sekarat di rumah sakit. gadis itu sangat terobsesi untuk memilikimu." timpal Jay.
"Karena itulah, aku menyuruh kalian berkumpul disini." ujar Jake.
Victor mengerutkan keningnya,
"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud."
__ADS_1
Felix, Jake dan Jay tersenyum miring. seakan menyimpan rencana yang jahat.
"Kita akan menjebak kelompok mafia Gloria dan menciptakan konflik lagi dengan Rex blood." jelas Jake.
"Bagaimana caranya?" tanya William.
Jake melirik Victor dan William.
"seperti biasa, bukankah besok kita akan mengirimkan kontainer kokain kita yang ada di Palermo menuju Miami?" tanya Jake.
"Ya, malam ini aku dan William akan berangkat ke Palermo untuk mengirimkan kontainer kokain kita ke markas Gloria." ujar Victor.
"Bagus.." Jake tersenyum miring, wajahnya misterius. seperti merencanakan sesuatu.
"Jay hubungi polisi sekarang juga!" titah Jake.
Victor, William dan Mark mengerutkan keningnya tak percaya dengan kegilaan Jake.
apa Jake sudah gila?Melaporkan dirinya ke polisi?Apa Jake ingin menghancurkan bisnis gelapnya sendiri?
Victor, William dan Mark bertanya tanya. dengan apa yang terjadi,, apa rencana Jake sebenarnya..
"Menghubungi polisi?" tanya Victor. "Apa kau gila?Kau ingin kita semua masuk penjara?Apa kau berniat menghancurkan la Savas?? Kegilaan apa yang kau rencanakan?!".
"kalian tidak akan masuk penjara.."
"Lalu?" tanya William
"Kalian hanya akan ku tugaskan untuk menjebak Gloria. khususnya Charlie." jelas Jake.
"Ah ya aku tau rencana mu Jake." timpal Mark.
Victor dan William berfikir sejenak.
"Sekarang aku tau isi otakmu itu Jake.." Victor menyeringai.
"Apa yang kalian tau?Kenapa aku tak tau sama sekali?" tanya William.
"Apa yang kau tau Will?Yang kau tau hanya lubang kewanitaan saja.." timpal Marcus..
semuanya pun tertawa.
"kau benar Marcus.." Seth ikut menimpali.
"Marcus.. ku tugaskan kau untuk menjaga istriku di rumah!" titah Jake.
"Baik sir." ujar Marcus sedang dalam mode Bekerja.
"Bersiaplah kalian semua.." Jake menyeringai "Kita akan membuat wanita ****** satu ini bertekuk lutut di hadapanku untuk meminta ampun. aku sudah tidak sabar menunggu kehancurannya,, kan ku siksa dia hingga menangis darah.. itu adalah balasan yang setimpal untuk orang yang sudah berani mengusik keluargaku..." suara serak berat yang khas menglegar, nada bicara datar tapi memiliki makna yang menakutkan dan tajam.
semua orang pun mengangguk pasti.
.....
Jake pulang ke mansion.
pria itu berjalan perlahan-lahan menuju kamar, pintu kamar terbuka,, memperlihatkan Maria yang kini tengah tersenyum manis kepadanya sembari mengenakan lingerie satin berwarna hitam. kulitnya yang bersih dan mulus terpampang nyata di hadapan Jake.
Jake tertegun.
kamar terlihat sangat indah, dengan desain serta riasan berupa kelopak bunga bertaburan di mana-mana. lilin yang menyala-nyala dan meja bundar yang di penuhi oleh beberapa camilan ringan dan wine.
Maria datang perlahan-lahan menghampiri suaminya itu, hingga kini Maria sudah berada tepat di hadapannya.
Jake menatap wajah cantik Maria, dengan sedikit polesan make up, wajahnya yang pucat pasi kini telah berubah menjadi cantik dan segar seketika.
tanpa berlama-lama, Maria pun ******* bibir Jake dengan dalam dan penuh gairah . lidah Maria menari di dalamnya, Jake pun membalas ciuman tersebut dan menghentikannya.
"Maafkan aku..." lirih Maria "Aku tau aku egois,, aku tidak bermaksud untuk membuatmu kecewa sayang,,," sambung Maria.
Maria menundukkan kepalanya,
"Aku tidak tahan jika kau terus mendiamiku seperti ini... " Maria meneteskan bulir air mata, seakan menumpahkan segala sesuatu yang ia rasakan selama seminggu ini. "Apa aku salah jika aku ingin menjadi wanita sungguhan,, dengan menjadi istri yang baik, memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri, dan bisa hamil,, agar memberikanmu keturunan...?" .
"Aku memang egois. aku tau kau juga bersedih. dalam hal ini kau juga terpukul,, tapi percayalah aku lebih frustasi saat kau tidak berada di sampingku di saat-saat terpuruk kehilangan calon bayi kita sayang,,," Maria menangis.
Jake mengangkat kepalanya Maria menggunakan kedua tangannya,, kini mereka berdua bertatapan dalam.
"Aku tidak peduli dengan anak sayang..!! Percayalah hubungan kita akan baik-baik saja tanpa kehadiran seorang bayi.!" jelas Jake.
"Tapi bagaimana dengan mom dan dad? mereka pasti menginginkan seorang penerus."
"F*CK!! aku tak peduli!! yang ku pedulikan hanya kau di dunia ini!!"
__ADS_1
"Jake bolehkah aku bertanya padamu?" tanya Maria.
Jake menatap mata Maria yang berlinang air mata, dan menyimpan kesedihan mendalam.
"Jika aku tak bisa hamil, apa kau akan menikah lagi?" tanya Maria.
"Apa yang kau katakan?! Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Aku hanya bertanya,, ku mohon jawablah sayang,, ini hanya sekedar omong kosong semata."
"Aku tak kan pernah menikah lagi!!Bagiku kau adalah segalanya, istriku satu-satunya. sekalipun kita tidak punya anak, kita akan selalu bersama.. karena aku sangat mencintaimu!! dan ingin hidup bersama denganmu selamanya.!"
Maria kembali meneteskan air mata. seakan tak percaya dengan ucapan Jake. yang begitu tulus mencintai dirinya.
seharusnya Maria bahagia dan bangga jika Jake sangat mencintainya,, tapi Maria malah bersedih.
yang membuat Maria bersedih adalah dia ingin hamil, anak dari Jake.. setidaknya satu. maka Maria akan sangat berterima kepada Tuhan. karena yang Maria inginkan adalah memiliki buah hati sekaligus buah cintanya bersama dengan Jake suaminya... dan Maria juga akan memberikan keturunan kepada Jake sebagai pewaris sah keluarga Valentino selanjutnya.
Maria memeluk Jake dalam..
seolah menyalurkan rasa sakit yang ia alami.
kehilangan anak dan tak bisa hamil.
itu sangat menyakitinya..
"Sayang,, apakah aku tidak akan pernah bisa hamil lagi?" lirih Maria bertanya kepada Jake, di sela pelukan hangat suaminya itu.
"Rahimmu tidak di angkat, hanya saja luka tusukan itu mengenai area rahim. oleh sebab itu, kau tidak di izinkan untuk hamil terlebih dahulu, jika kau hamil maka resikonya adalah kau akan merenggang nyawa." jelas Jake.
"Apakah itu artinya, aku bisa hamil tapi tidak untuk sekarang?" tanya Maria antusias.
"Begitulah,,,"
"Jake,, aku ingin hamil.."
"Kau akan hamil.."
"Benarkah?"
"Hmm.. bersabarlah sayang.."
"Jake apa kau percaya jika keajaiban itu ada?" tanya Maria lagi.
"Entahlah,, terkadang aku merasa Tuhan tidak berlaku adil pada kita."
"Kenapa berbicara seperti itu?"
"Itu kenyataannya.."
"Tidak seperti itu."
"Lalu?"
"Aku percaya dengan keajaiban.. jika tuhan akan memberi hal baik untuk kita." Maria tersenyum "Mungkin saja suatu saat Tuhan merencanakan sesuatu yang membuat kita menangis bahagia,, tapi sekarang tuhan ingin kita berjalan bersama melewati ujian dan beberapa rintangan yang sedang menimpa keluarga kita." jelas Maria.
"Begitukah?"
"Hmm" Maria mengangguk pasti. "Apa kau tak percaya?"
"Sekarang aku percaya.."
"Jake bisakah kau berhenti mendiamiku?"
"Aku tidak pernah mendiamkanmu sayang,,"
"Lalu yang kemarin apa?"
"Aku hanya memberimu pelajaran."
"Pelajaran apa?"
"Pelajaran kerena kau egois, dan tidak memikirkan aku! kau hanya memikirkan dirimu sendiri."
"memberikan pelajaran dengan cara mendiamkan aku."
"Yah kurang lebih seperti itu.." Jake terkekeh.
"Jake kau itu benar-benar Brengsek!Entah mengapa aku begitu mencintaimu.." ujar Maria.
"I love you more.."
Jake menyentuh bibir Maria dan mencium bibir itu dalam.
__ADS_1
Bersambung~