
Setelah di rasa semuanya sudah berjalan dengan lancar,
rencana pun sudah di susun dengan matang, Jake dan lainnya bergegas menuju ruang senjata untuk membawa beberapa senjata berupa pistol dan pisau tajam.
dalam hal ini, Jake tidak melibatkan anggota la Savas untuk ikut serta, dan anggota The Rex blood juga.
karena Jake yakin jika dia bisa menghabisi musuhnya sendiri tanpa membawa para anggotanya, dia hanya di bantu oleh Felix, Jay, Mark, Victor, William, Marcus dan Seth. tanpa keikutsertaan Lucas.
Jake sangat ahli dalam menggunakan berbagai senjata, bahkan ia mampu membunuh seseorang hanya dengan sebatang pensil.
dengan berhati-hati, kini mereka semua sudah berada di kawasan markas Gloria.
dengan perbekalan senjata dan juga rencana yang matang, dengan hati-hati. Jake datang secara terang-terangan.
dengan langkah santainya, Jake dapat membekukan para gangster yang mencoba untuk melawannya.
satu persatu para gangster itu sudah tewas dengan tragis.
dan saat Jake mulai lengah, Seorang gangster mencoba membunuhnya dari belakang, untunglah Victor dapat membunuh gangster itu dengan pelurunya.
"Tepat sasaran." ujar Victor sembari menyeringai.
"kau hebat bung." William menepuk bahu Victor sembari terkekeh.
seperti yang kita tau, la Savas adalah para anggota mafia tak terkalahkan, terlatih dan menguasai senjata apapun.
terlebih anggota inti dari la Savas sendiri.
mereka sangat hebat, dan yah sudah pasti mereka akan di segani oleh para mafia lain. bahkan tak ada satupun kelompok para mafia yang tak mengenali mereka. khususnya pemimpin la Savas yakni Jake sendiri.
William yang di tugaskan hanya menunggu di mobil, sedangkan Victor yang mengawasi Jake sembari membatu dengan keahliannya sebagai sniper.
Marcus dan Seth. ia sedang mengendap-endap untuk memasuki markas dari belakang, tapi naasnya para gangster itu mengetahui keberadaannya, merekapun saling adu tinju dan baku hantam.
Jay dan Mark telah berhasil memasuki markas, terlihat Jay yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran, tentu itu sangat mudah baginya untuk membunuh beberapa anak buah Charlie.
__ADS_1
walaupun Jay membunuh dengan pisau, ia juga sempat terkena goresan saat melawan para petarung handal dari anggota Gloria sendiri, sedangkan Mark.. ia sedang melawan 7 diantara kelompok Gloria dan gangster.
mereka melawan dengan keahlian bela diri yang sangat lihai dan gesit, bahkan satu persatu dari mereka tumbang, dan terbunuh dengan sangat mengerikan.
Kini William yang berada di dalam mobil sendiri, di kejutkan oleh adanya gangster yang tiba-tiba berada di dalam mobil. sontak William yang terkejut pun mendapatkan bogem keras dari gangster tersebut.
"****!" teriak William. "Keparat kau!!" William yang tak terima, ia langsung membekukan kedua gangster tersebut yang kini mencoba untuk melawannya dan membunuhnya menggunakan pedang samurai yang panjang dan tajam.
tentu William hanya menyeringai, baginya itu bukanlah masalah besar, karena ia mampu menggunakan senjata itu dengan baik dan ia pula bisa dengan gesit menghindar, hingga pedang itu mengenai teman se gangster nya hingga tewas mengenai kepala.
Felix masih menghabisi para gangster dengan keahliannya, ia menembaki para gangster satu persatu hingga semuanya tewas, bahkan Felix juga sempat adu tinju dengan beberapa anak buah dari Anaya dan sekelompok gangster yang tak kunjung berhenti.
mereka terus-menerus melawan, sehingga saat Felix kelelahan dan ia mulai lengah, ada yang ingin menusuknya dari belakang, untunglah Jake membekukan orang itu dengan menembak tepat di bagian jantung. membuat orang itu tersungkur dengan bibir yang mengeluarkan darah.
Felix dan Jake saling memberi isyarat lewat anggukan kepala dan kedipan mata, sehingga keduanya bersama-sama menghabisi para musuh itu dengan membabi-buta.
Jake, pria itu sudah sangat marah, dia sudah tersulut emosi,
Jake sempat mendapat tembakan di bagian lengan sebelah kanan, karena tadi ia sempat menyelamatkan Victor.
karena Victor yang sedang fokus membantunya dengan membunuh satu persatu dari mereka sebagai sniper, ia hampir terbunuh , karena ada orang membekap mulutnya, dan yang satunya lagi menyodorkan pistol yang di arahkan ke kepala hendak untuk menembak otak Victor.
"Kau tidak apa-apa!" tanya Felix.
Jake hanya diam, "Lukamu cukup parah jake, kau terkena tembakan."
"Ini hanya peluru biasa." singkatnya.
"Dasar bodoh." Felix terkekeh.
bahkan di suasana Genting seperti ini, mereka masih bisa tertawa. bahkan mereka tak memiliki rasa takut sedikitpun.
walaupun Jake mengeluarkan darah cukup banyak, itu tidak membuat dirinya tumbang, melainkan kemarahan yang membabi buta, hingga dengan sekejap ia dapat membunuh semua anggota Gloria hingga tak tersisa. dengan keahlian bela diri yang tinggi dan berbekalan rencana yang matang. ia sudah mulai memasuki markas tersebut dengan langkahnya yang gagah.
sorot matanya yang tajam Mampu menembus langsung jantung siapa saja yang menatapnya.
__ADS_1
"Kau datang rupanya.."
Jake menatap tajam Wanita yang ada di hadapannya, ya dia begitu dendam dengan wanita gila satu ini. karena obsesinya telah membuat istrinya sekarat dan juga kehilangan anaknya. sehingga Maria tak bisa hamil.
Anaya tertawa mengejek.
Felix yang berada di belakang Jake, hanya diam. mata tajamnya tak bisa beralih untuk tidak melihat kelicikan gadis gila satu ini.
rahang Jake mulai menegang.
"Sudah kuduga,, kau akan datang." lagi-lagi Anaya hanya tertawa.
Charlie yang sedari tadi tak menampakkan batang hidungnya, tiba-tiba berada tepat di belakang Felix dengan menodongkan pistol di bagian kepala Felix.
"Sudah lama kita tidak bertemu Felix." lirih Charlie.
Felix hanya tersenyum geli karena tingkah orang tua dan anak yang tak jauh berbeda. sama-sama pengecut, licik dan gila.!
"Ah ku kira kalian adalah musuh, ternyata kalian adalah sekutu." ujar Anaya. kini suara gadis itu terdengar dingin, datar yang menyimpan dendam "Beraninya kau menjebak ayahku, hingga tertangkap polisi?Dan karena kelicikanmu, kau membuat kelompok kami hancur. kau bahkan berniat untuk membunuhku?" Anaya tertawa. "Itu tidak akan terjadi sayang.." Anaya mendekat, sembari menyentuh wajah tampan Jake menggunakan jari-jari tangannya.
Jake menyentuh tangan Anaya kasar, melilitnya kebelakang. hingga tubuh Anaya menempel pada tubuh Jake. Anaya memekik kesakitan.
"Lepaskan dia!!Atau ku bunuh keparat ini.!!" ancaman Charlie tak berpengaruh pada Jake. bahkan Jake mengeratkan lilitan tangan tersebut hingga Anaya menjerit keras.
Felix terkekeh, "Ancamanmu, tak kan berpengaruh padanya.. jika kau mau, tembak saja aku. kenapa kau harus mengancamnya?Itu akan membuang waktu dan nafasmu yang bau itu pria tua?!!! Di usiamu yang sudah tua, seharusnya kau itu beristirahat dan hidup tenang, lihatlah dirimu dan bercerminlah,, Ubanmu ternyata sudah cukup banyak,, dan mungkin sebentar lagi kau akan mati!!.".
"Hei Jake, sepertinya Dendammu akan segera terbalas.." sambung Felix.
mendengar penghinaan yang keluar dari mulut Felix membuat Charlie murka, dan hendak menarik pelatuk pistolnya tepat di kepala Felix.
Felix yang dulunya adalah seorang petarung handal, ia mampu mengalihkan keadaan, dengan menendang kaki Charlie, hingga Charlie meringis kesakitan akibat tendangan maut yang keras ulah Felix.
kini Felix dan Charlie bertarung dengan sengit, tidak ada yang melerai pertarungan keduanya, Felix sempat terpental hingga merobohkan pagar, pria itu masih tetap berdiri dengan gagahnya, ia melangkah mendekat ke arah Charlie. Jake memberi isyarat lewat kepala, jika ada sebuah pisau yang tak jauh, yang berada di belakang Charlie. dengan gesit Felix mengeluarkan jurus handal meluncur, melewati kedua kaki Charlie dari bawah dan mengambil pisau.
lalu Felix menancapkan pisau tersebut di paha Charlie, darah segar pun keluar, membuat pria itu menjerit histeris.
__ADS_1
"Daddy!!!!!" teriak Anaya.
Bersambung~