My Desire Obsession

My Desire Obsession
ESCAPE.


__ADS_3

Jake kembali ke rumah sakit.


ah ternyata Maria sudah bangun, bahkan wajahnya terlihat lebih segar dari kemarin,


"Jake,, darimana saja kau? Istrimu sedang di rawat, kau malah pergi." gerutu Sarah.


"Aunty, Jake sedang sibuk, lagipula Aunty dan uncel sudah menjagaku dengan baik disini, terimakasih.." Maria membela suaminya.


"Tapi tetap saja Maria,,,"


"Sudahlah sayang, lagipula Jake juga sudah kembali. untuk apa di perbesar?" timpal Sam.


Jake masih diam, tidak memiliki niatan untuk menimpali.


Sam menatap Jake,


"Dimana Seth?"


"Dia ada di luar." singkat Jake.


"sayang, kemarilah,,," Sarah pun datang menghampiri suaminya, "Jake dan Maria sepertinya butuh waktu berdua."


"Baiklah aku mengerti,, Jake dan Maria, aunty dan uncel pamit, besok kami harus kembali lagi ke Vanesia. sebenarnya kami datang hanya ingin mengunjungi Seth, tapi pelayan mengatakan jika Seth berada di rumah sakit, karena itu kami kemari, ternyata Maria yang sakit. Mark mengatakan Seth dan yang lain sedang berkumpul di markas, aunty pun menyuruh Mark untuk pergi." ujar Sarah sembari menjelaskan.


"terimakasih banyak aunty, uncel, karena sudah menjagaku." ujar Maria.


Sarah menyentuh dagu Maria lembut.


"Sama-sama sayang,,"


Maria tersenyum.


"Uncel" panggil Jake


Sam menoleh.


"Bolehkah aku meminta tolong?"


"Tentu saja, apa yang bisa kami bantu?" ujar Sam.


"Tolong jangan katakan hal ini kepada mom dan dad."


Sarah mengerutkan keningnya "Kenapa?Orang tua kalian berhak tau bukan?"


"Aunty ku mohon,, aku hanya tidak ingin membuat mereka khawatir,," timpal Maria.


"Baiklah nak, kami berjanji untuk tidak mengatakan hal ini kepada orang tua kalian." ujar Sam tanpa berfikir panjang.


"Tapi.."


sebelum Sarah berbicara, Sam sudah memotong ucapannya.


"Mengertilah sayang, mereka hanya tidak ingin membuat kara dan tuan bara khawatir." ujar Sam memberi pengertian.

__ADS_1


"Baiklah." kata Sarah.


"Terima kasih uncel." singkat Jake.


"Back." Sam menepuk bahu Jake sekilas, sembari tersenyum dan pergi.


Jake menghampiri Maria, pria itu duduk di tepi ranjang dan merengkuh wajah Maria sembari memberikan ciuman sekilas.


"Sayang, apa kau mencariku hm?" lirih Jake.


"yah,,, tadi saat aku terbangun aku sempat mencarimu, tapi kau tidak ada, Justru saat aku terbangun sudah ada aunty Sarah dan uncel Sam, mereka mengatakan jika kalian semua sedang sibuk membicarakan hal penting di markas, oleh karena itu Aku dan aunty berbincang-bincang lama, dan kau tiba-tiba datang." jelas Maria.


Jake tersenyum,


"Sayang aku takut,,," lirih Maria.


"Apa yang kau takutkan hm?"


"Bagaimana jika mom dan dad tau jika aku tidak bisa hamil?Aku takut mereka akan memisahkan kita." nada bicara Maria terselip kegelisahan dan takut yang tercampur aduk menjadi satu.


"Itu tidak akan terjadi, kau tidak perlu takut sayang,, aku akan selalu ada untuk melindungimu dan berada di sisimu.. walaupun kita tidak memiliki anak, kita akan tetap bahagia dengan cara kita sendiri." lirih Jake, suaranya terdengar lirih dan tulus.


Maria meneteskan air matanya,


"Terimakasih,, terimakasih banyak sayang, karena kau sudah mau menerimaku apa adanya,,"


"kau adalah istriku, belahan jiwaku.. mana mungkin aku meninggalkanmu? Sedangkan hidupku tidak lengkap tanpa adanya dirimu di sisiku..." lirih Jake.


Maria pun memeluk erat tubuh atletis suaminya, menghirupnya dalam seakan mencari kehangatan di sana.


tentu saja Jake harus bisa menahan diri, karena Maria sedang berada dalam proses pemulihan, tidak mungkin kan, jika jake membuat Maria kembali sekarat di rumah sakit lagi?.


"Sayang,, segeralah bersiap, bukankah kita akan pulang hari ini?"


"Iya sayang sebentar lagi,,,"


Maria menggelengkan kepalanya, sesekali menepuk dahinya dan tersenyum geli karena tingkah Jake yang kekanakan. sedari tadi Jake belum juga keluar dari kamar mandi, entah apa yang pria itu lakukan..


bahkan tadi Jake sempat mengungkung Maria di dalam kamar mandi, Jake sangat manja,, sempat-sempatnya Jake meminta Maria untuk memandikannya, sesekali ingin di pijat dan yah tak mungkin itu saja kan?Suami istri butuh privasi yang tidak bisa di jelaskan, walaupun itu tidak semuanya menyangkut tentang percintaan panas, yah hanya pemanasan saja.


Maria merapihkan kamar, ia pun sempat membereskan beberapa pakaian yang sempat mereka bawa dan beberapa camilan ringan, karena Maria sangat suka makan di malam hari. dia selalu kelaparan jika bangun tengah malam.


Jake keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang melingkar rendah di pinggangnya, perutnya yang indah terpahat terpampang nyata di depannya, kulitnya yang bersih mengkilap bak perungu berwarna kecoklatan.tubuh atletisnya, serta rambut basah menambah kesan seksi yang dapat membuat Maria birahi seketika.


Maria menelan ludah susah payah.


"Sayang, tolong siapkan pakaian,," lirih Jake.


Maria masih tak bergeming, seakan menginginkan sesuatu yang lebih darinya, lihatlah bibir maria hampir mengeluarkan liur karena mengagumi keindahan tuhan yang ada di depannya..


tentu saja Maria sedang mengagumi ketampanannya..


Jake memang percaya diri!.

__ADS_1


"Sayang.."


Maria tersadar, ah ternyata ia sempat melamun dan memikirkan hal liar dengan melihat suaminya?.


oh hei, sejak kapan Maria menjadi wanita ja*ang di depan suaminya?


"Kau melamun?Apa yang sedang kau fikirkan hm?" Jake mencubit hidung Maria gemas, sesekali terkekeh karena tingkat Maria yang tertangkap basah sedang birahi dengan menatapnya, Jake tau jika istrinya itu sedang memikirkan hal liar, entah sejak kapan Maria menjadi wanita hyper, tapi Jake menyukainya.


"T-tidak! aku hanya sedang,,, melihat cicak.. ah yaa melihat cicak di belakangmu..." maria memang seorang gadis yang menjunjung tinggi harga dirinya, sudah ketahuan masih saja mengelak. dan mencari alasan. tak masuk akal pula.


Jake tertawa.


"Benarkah?Dimana cicaknya?"


"Ah,, ternyata cicaknya sudah pergi.." ujar Maria.


Maria membalikkan badannya, kembali membereskan hal yang sempat tertunda, Jake yang melihat hanya tersenyum geli dengan tingkah Maria yang semakin hari semakin menggemaskan,


Jake merengkuh tubuh Maria, memeluknya dari belakang, mencium aroma mawar sabun dan menciumi tengkuk leher Maria, sejenak Maria terbuai dengan permainan Jake yang lihai. sesekali Jake menjilat lehernya dan kecupan basah itupun harus berhenti karena dering ponsel Jake yang menganggu aktivitas panasnya.


"Halo!"


"Sir, gawat!." ujar Marcus di sebalik telefon.


"Ada apa?"


"Charlie dan Anaya berhasil Lolos. mereka melarikan diri!"


"Apa??!! Persetan!! Dasar bodoh!!! bagaimana mungkin mereka bisa lolos?Apa kalian semua tidak bisa menjaga para keparat itu dengan benar?!!" teriak Jake.


"Kami tidak tau sir,, para anggota yang lain bahkan terluka cukup parah, karena Anaya berhasil membekukan mereka semua." jelas Marcus.


"Bagaimana bisa kedua bajingan itu lolos?Siapa yang sudah melepaskannya?!"


"Kami belum tau pasti sir, tapi Seth sudah melacak keberadaan mereka." jelas Marcus.


"Baiklah aku akan segera kesana!!" teriak Jake.


Jake mematikan ponselnya, denga cepat Jake memakai pakaian.


pria itu membuang nafasnya kasar.


"Ada apa sayang?Apa yang terjadi?" tanya Maria yang berusaha menenangkan suaminya yang terlihat kacau dan marah.


"Tidak ada, kau tidak perlu khawatir,, hanya ada sedikit masalah, semuanya akan baik-baik saja." jelas Jake.


Maria hanya menatap Jake yang kini sedang sibuk memakai pakaian,


"Aku akan mengantarmu pulang terlebih dulu.. lalu aku akan meminta anak buahku untuk menjagamu dengan ketat. kali ini biarkan para pengawal dan yang lain berjaga di dalam." lirih Jake sembari menyentuh wajah Maria.


"Baiklah.."


setelah di rasa sudah, Jake pun membawa beberapa barang yang Maria bereskan sembari menggandeng tangan Maria dan mengantarnya pulang.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2