MY DOKTER Is My WIFE

MY DOKTER Is My WIFE
Episode 36


__ADS_3

Malam ini sama seperti kemaren, setelah beberapa menit Rendra meminum obatnya dia mulai kesakitan, panas nyeri mendera kedua kakinya, sekarang dia bisa duduk jadi tidak seperti kemaren yang menggeliat seperti cacing kepanasan.


Banyak air yang dia minum, tangan Rendra meremas meremas kakinya, merasakan sakit dan ngilu yang luar biasa. dia terus mendesah dan tidak mau berteriak.


"Oourgh, sakit banget, tolong pijit kakiku Rei, ooorgh, ini tidak begitu panas, tapi sangat ngilu, lebih sakit dari yang kemaren." Keringat dingin. mengalir deras di tubuh Rendra, dia melepas kaos yang dia kenakan dan membuangnya ke segala arah .


Raisha dengan telaten memijit kaki Rendra, mengikuti arah petunjuk Rendra.


Baru setelah satu jam lebih, dia sudah mulai agak tenang, suara erangannya juga sudah jarang jarang, terdengar.


"Re, sayang tolong buatkan aku jus lemon, yang dingin. tenggorokanku masih terasa panas!" Rendra meminta Raisha untuk membuatkan minuman dingin.


Ketika Raisha menuju ke dapur, Rendra mulai menggerakkan jari jari kakinya. mereka sudah bisa di gerakkan tapi kaki kirinya masih lemes.


"Ah yang kiri nampaknya perlu minum sekali lagi." gumam Rendra. Dia menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang, sambil menerima telpon dari Rocky.


" Bos, kita sudah berhasil memblokir masuk jalannya obat obatan terlarang itu dan sekarang sudah di ambil alih oleh kepolisian. Di dalam truck muatan itu terdapat 1 ton ganja yang akan dikirim ke Filipina." Rocky melaporkan kalau penyelundupan ganja dari perusahaan Romeo sudah di amankan polisi, sebenarnya polisi tidak berbuat apa apa, mereka datang setelah semua beres, tinggal mengamankan barang bukti saja.


"Oke, besok akan ada juga permen anak anak yang akan masuk dari malaysia, pastikan semua juga beres, besok itu akan ada 5 jadwal pengiriman makanan anak ke negara kita, pastikan semua bergerak sesuai instruksi dan hubungi komandan Adam, dia juga akan membantu kita langsung, karena ini misi besar kepolisian juga." ucap Rendra.

__ADS_1


Raisha yang hendak masuk ke kamar mendengar semua apa yang di katakan Suaminya, kalau Keluarga ibrahim beda dari mafia mafia pada umumnya.


"Mas ini jus lemonnya, tadi esnya aku tambahkan biar seger." Raisha menyodorkan segelas besar jus lemon yang sangat segar untuk Rendra.


"Uhmm, tenggorokanku terasa segar, bagai mata air kering yang dia aliri air hujan, thank you my wife." kata Rendra, dia menyerahkan gelas kosong itu pada Raisha.


"Kamu tidak minum juga? tanya Rendra.


"Aku sudah minum satu gelas tadi di dapur, sangat menggoda sih tampilannya, hehe."


Rendra mengangkat tangannya meminta Raisha naik ke ranjang lagi.


"Mas, kamu adalah suamiku, ini adalah tanggung jawabku sebagai seorang istri, dan aku kamu adalah imamku." jawab Raisha.


"Maafkan aku juga karena cara kita menikah adalah salah, kami bahkan memaksamu dan tidak memberi waktu untuk berfikir sama sekali." Rendra mencium tangan putih itu dengan lembut. Baru kali ini Rendra merasakan sebuah kelembutan dan ketulusan seorang perempuan.


"Aku ikhlas mas, mungkin ini adalah jalan Allah untuk kita, dan jodoh pun dia yang menentukan, mau seorang ustad, berandal, kaya miskin, kalau nama kita sudah di pasangkannya maka akan ada jalan menuju ke sana. Aku juga minta maaf, kalau status keluarga kita sangat jauh berbeda, aku hanya...! Rendra menempelkan jari telunjuknya ke bibir Raisha.


"Sstt, kamu tahu kan bagaimana kedudukan manusia di hadapan Allah bukan." kata Rendra dengan lembut.

__ADS_1


"Hik hik." Raisha memeluk Rendra dengan erat


"Terimakasih, mas Rendra mau menerima ku yang banyak sekali kekurangannya, dan bolehkan dada mas menjadi tempatku bersandar, berbagi kesusahan dan kebahagiaan." kata Raisha dengan lirih.


Rendra memeluknya juga, mengelus rambut panjang Raisha. menyandarkan kepalnya di dada dia.


"Bersandar Lah sayang, bahu dan dadaku sangat lebar, pasti akan lapang untukmu, tapi meskipun lebar, dada ini hanya muat untuk satu orang saja, dan namanya sudah di ukir disana, putri cahyani adalah namanya."


Air mata Raisha malah makin deras, dia menangis haru, baru kali ini dia nyaman di peluk oleh seorang pria, selain papanya. Apalagi si Salman, ngakunya cinta tapi dia bukannya sebagai sandaran tapi malah bersandar pada bahu Raisha.


"Jangan menangis hmm, aku Narendra tidak akan pernah membiarkan wajah cantik ini di tutupi air mata, aku hanya mau kamu tersenyum bahagia, tapi satu senyuman tulus ini hanya untukku seorang bukan untuk yang lainnya." Rendra menghapus air mata tersebut dengan penuh kelembutan. Raisha malah cemberut.


"Kok cemberut, tambah cantik lho."goda Rendra.


"Ih, mas aku kan dokter, masak harus pasang muka masam atay judes, ya nggak seru lah. di kira dr psikopat lagi, mas ya, tapi senyumanku untuk mu beda dengan senyuman untuk pasienku, senyuman penuh cinta dan kasih sayangku hanya untuk tuan Narendra seorang." kata Raisha.


"Meleleh dek hati abang" Rendra menggodanya, membuat Raisha sangat malu, mukanya memerah bak tomat yang baru di panen.


" Jangan salting begitu, kamu harus terbiasa dengan semua ini, dokterku, istriku, Cinta itu tidak butuh kata kata, tapi tindakan, mungkin diantara kita, perasaan yang timbul ini apa sudah bisa di namakan cinta atau belum, aku belum tahu, tap yang pasti saat ini aku nyaman bersama denganmu, ingin selalu dekat dan timbul perasaan marah jika kamu dekat dengan pria lain, terserah aku di sebut egois atau posesif, aku tidak peduli, tapi yang jelas, aku tidak mau milikku di dekati atau bahkan diambil orang lain. jika kamu bukan seorang dokter, mungkin saat ini aku sudah mengurung dirimu di rumah." Rendra memajukan wajahnya menempelkan bibir seksinya ke bibir mungil Raisha, mereka bermain pelan dan berirama syahdu.

__ADS_1


Malam itu mereka tidur membawa perasaan lega dan bahagia. Raisha mendusel ke dada Rendra yang putih dan polos, aroma maskulin dan menyegarkan terpancar disana, walaupun Rendra baru saja mengeluarkan keringat yang sangat banyak tapi tidak merubah aroma tubuh Rendra.


__ADS_2