
Dalam waktu sekejap Rendra sudah kembali dengan kantong berisi kerak telor yang masih panas.
" Lho mas kok sudah kembali saja?" Heran Raisha. Rendra menyerahkan Kerak telor tersebut pada Raisha yang duduk di kursi kosong.
"Siapa dulu suami Dr Raisha kalau cuma begini mah gampang." Jawab Rendra.
"Ayo di makan, aku tidak mau anak anakku ileran hanya karena kerak telor, bisa aku basmi penjual kerak telor itu.
Raisha segera membuka dan memakannya dengan lahap.
Mereka melihat ada seorang pemuda yang menggunakan trik Rendra, tapi pemuda tadi malah di pukuli ibu ibu disana, karena tidak terima antrian mereka di serobot lagi.
"Haha, sayang lihatlah pria itu, di mau mencoba menyerobot antrian seperti aku tadi, eh dia malah di pukuli ibu ibu itu, haha." Rendra menunjuk ke arah pemuda yang di pukuli tersebut
"Ya Allah, lalu bagaimana cara mas tadi supaya bisa menyerobot?" Tanya Raisha heran.
"Rahasia." Jawab Rendra dengan santai.
Ibu ibu yang tadi memberikan tempatnya pada Rendra mendekati mereka.
" Nak, ini ya istrinya yang lagi ngidam itu?" tanya ibu tersebut. Mereka menoleh ke arah sumber suara.
" Oh Iya bu, ini istri saya." Jawab Rendra.
Raisha bangun dan tersenyum ke ibu tersebut.
"Nak kamu hamil kembar 3 beneran?" Tanya ibu tadi.
"Iya alhamdulillah, mari silahkan duduk!" Raisha memberi tempat pada ibu tersebut.
"Sayang ibu ini tadi yang sudah baik memberikan tempatnya padaku, dan kamu bisa dengan segera memakan kerak telor ini." Ucap Rendra.
"Suami kamu sangat perhatian nak jaga hubungan kalian baik baik, apalagi dia ganteng begini, pasti banyak yang mengincarnya." Ibu tadi menasehati Raisha.
__ADS_1
"Iya terima kasih bu." Jawab Raisha
"Sek sek, sebentar, ya Allah dr Raisha ya masyaAllah, ibu sampai lupa, ternyata bu dokter to istri cah bagus itu." Ternyata ibu tadi suaminya pernah menjadi pasien Raisha.
Raisha tersenyum lebar karena ibu tadi masih ingat dengannya.
"Bagaimana keadaan bapak, sudah membaik?" tanya Raisha.
"Sudah, ini besok kami mau pulang kampung, sudah lama tidak ke jogya, ibu membeli kerak ini untuk bekal di jalan nanti."
Mereka kembali ke rumah setelah puas berkeliling, Bahkan ada makanan yang tidak boleh di bayar, karena pernah menjadi pasien Raisha.
"Mas, perutku kenyang sekali, kita tadi makan apa saja ya?" Cengir Raisha.
"Tidak apa apa sayang, yang penting kita happy dan triple junior juga suka, kiya harus membiasakan mereka sejak dini supaya tidak pilih pilih makanan." kata Rendra.
"Benar mas, harta, jabatan, ketenaran hanya. Bersifat sementara, semua hanya titipan Allah, sewaktu waktu Allah bisa mengambilnya, jadi kita nanti harus membiasakan mereka hidup sederhana." tambah Raisha.
"Jadi malu, kalau tidak ada mas Rendra yang ganteng ini, mungkin aku sudah di laporkan ke satpam atau bahkan ke polisi, dikira mau makan gratis." Raisha tertawa geli mengingatnya.
"Haha, mana jual mahal pula." goda Raisha.
"Kan kita belum kenal, mana ada orang belum kenal tiba tiba membayar bill tagihan, takut dan deg degan juga mas, baru dua atau tiga hari ya ,Rei tinggal di jakarta. malah ditipu tunangan." Cemberut Raisha.
"Tapi syukur alhamdulillah, berkat Salman menipuku waktu itu, aku jadi mengenal dirimu, pangeran narsis yang ternyata pangeran berkuda putih yang selalu melindungi ku." kata Raisha.
Rendra mengecup dahi Raisha.
" Aku juga bersyukur mengenal dirimu, wanita lain pasti akan jijik dan tidak mau menikah dan merawat , pemuda lumpuh yang tidak bisa apa apa, duduk saja tidak bisa. Tapi dokter cantik di sampingku ini, dengan sabar dan telaten merawat dan melayani pangeran narsis satu ini." Ucap Rendra.
" Satu kuncinya yaitu ikhlas, kalau tidak aku mungkin juga akan kabur, sudah sakit, narsis banyak omong, ngeselin, pokoknya komplit plit." Jawab Raisha.
"Hahaha, tapi hanya satu wanita yang bisa membuat aku tidak bisa berkutik, bahkan aku di bilang suami takut istri oleh Naela."
__ADS_1
"Mana ada begitu." heran Raisha.
"Iya betul aku takut jauh darimu, takut kehilanganmu, kalau sampai kamu dan anak anakku tidak bisa ku temukan mungkin aku sudah gila." ucap Rendra.
"Ssttt." Raisha menutup mulut Rendra dengan jari telunjuknya, dia menitikkan air matanya mendengar ungkapan hati Rendra.
"Aku yakin, kamu bisa menemukanku, makanya aku tidak mau terlalu bersedih dan mendramatisir keadaan, kalau aku nangis terus, teriak teriak, emosi, maka yang ada mereka juga ikut merasakannya. Suamiku adalah ayah yang genius, pasti banyak cara yang akan dia lakukan untuk menemukanku.
Kalau kamu tidak bisa menemukan aku, aku akan terus bertahan dan menjadi kuat, demi anak kita. Kami akan terus menunggu di sana, walau ajal menjemput." Jawab Raisha.
Rendra yang tidak tahan langsung memeluknya, dan juga menciumi perut Raisha.
"Mas tahu tidak apa yang di lakukan anak kita selama disana?"
"Apa sayang apa mereka cerdas seperti papanya?" tanya Rendra.
"Kok tahu, mereka di buat pusing sekaligus tertawa meladeni ulah mereka."
"Haha, mereka memang anak anakku, papa bangga kalian, sayang itulah cara mereka melindungi ibunya. kamu juga senangkan, bisa mengerjai mereka."
"Iya mas, seneng banget."
" haha bos, nyonya anda harus menambah stok sabar lagi, karena sebentar lagi akan ada 3 lagi yang seperti tuan." Dani menyahut saja dari jok kemudi, dari tadi dia hanya mendengarkan percakapan mereka dan tersenyum sendiri.
" Iya benar Dan, atau aku sekolah psikologis kali ya, mau belajar bagaimana cara mengatasi kenarsisan mereka." jawab Raisha
"Haha, tidak perlu sekolah lagi, lebih baik belajar dari ahlinya." jawab Rendra tidal nyambung.
"Kalau belajar dari mas Rendra, malah jadi ikut ketularan narsis, piye to iki." kesal Raisha.
"Hahaha, ibu dokter sudah mulai mengeluarkan taringnya Dan." Rendra malah menertawakan Raisha.
"Emboh wis, untung saja cinta." Ucap Raisha sambil mengelus dadanya.
__ADS_1