
Ternyata orang yang mereka bicarakan berdiri bersandar di pintu belakang mereka. Pria itu tersenyum lebar melihat mertua dan menantu sedang asyik membicarakan dirinya. Ini sebuah kesenangan untuk Rendra, meski dirinya jadi sasaran, tapi tidak apalah asal dua wanita kesayangan senang.
"Ehm, siapa nih ya yang sore sore begini minta di suntik, dengan senang hati babang tampan akan menyuntik bidadari di dapur." Muka Raisha langsung masam, dan memerah malu sementara mama Kim tertawa cekikikan.
"Dasar bocah gemblung, tidak tahu malu." Kimmy memukul dahi Rendra dengan spatula.
"Bu dokter tolong, ada tindak kejahatan dari orang tua kandung, harus diobati nih." Adu Rendra dengan manja.
"Haha sukurin, makanya jangan melawan emak emak yang lagi masak." jawab Raisha.
"Ih bu dokter juga jahat, ada yang mendapat tindak kejahatan di biarkan, eh malah orang tak di kenal di bantuin." Cemberut Rendra.
Raisha baru ingat kalau Mata Rendra ada di mana mana. Raisha segera mencuci tangannya dan mendekati Si ganteng.
"Hehe , suamiku yang tingkat kegantengannya no 1 di bumi ini, maaf ya, tadi saya memang menolong orang, dia hampir tertabrak mobilku di tikungan kedua dekat Rs, dia di rampok, dan mendapat tembakan di punggung dan lengannya mas, lalu aku bawa ke rumah sakit dan mengambil pelurunya." jawab Raisha jujur.
"Sayangku dokterku yang baik, dia itu tadi yang menyerang mansion papa." Jawab Rendra. Raisha langsung menutup mulutnya, Raisha tidak tahu siapa orang tadi dan jiwa sosialnya meronta untuk membantunya.
"Ya Allah, benar ma?" tanya Raisha.
"Iya sayang, pemuda yang kamu selamatkan itu putra dari Vero, dan yang menyerang mansion kami, namanya Raja, dalam dirinya ada bagian tubuh adik Rendra, otak anak mami dicangkokkan padanya, tapi ternyata mereka salah sasaran, seharusnya Rendra lah yang yang mereka incar." jawab Kimmy.
"Astaghfirullah, kok ada ada saja ya orang jaman sekarang, tidak menerima pemberian Allah dengan baik, seharusnya mereka bersyukur dengan apa yang di miliki saat ini." Jawab Raisha.
"Kalau di fikir nalar memang iya nak, tapi mereka mafia, dan anak Si Vero Mengalami keterbatasan mental, jadi dia melakukan hal itu, selain itu mereka ingin menciptakan sesuatu yang bisa bahayakan dunia." jawab Kimmy.
__ADS_1
"Lalu Rei harus bagaimana mas, ma?" tanya Raisha, dia merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan itu.
" Tidak apa apa nak, yang kamu lakukan sudah benar, dan lagi, bersikaplah normal, seakan kamu tidak tahu siapa dia dan sembunyikan identitas kamu sebagai istri Rendra." Kimmy meminta Raisha bersikap normal, dan menyembunyikan statusnya.
" Baik ma, sekali lagi Rei minta maaf." Ucap Raisha sekali lagi.
"Tidak apa apa, sekarang sebaiknya kamu mandi dulu, sebentar lagi masakan sudah siap." Kimmy menyuruh Raisha untuk mandi saja, karena hari sudah senja.
Raisha menuruti permintaan Mertuanya, dia menuju ke kamar untuk Segera mandi.
Malamnya mereka bersikap biasa saja, membicarakan hal hal yang lucu dan seru.
Di Rumah sakit, Raja baru saja sadar, dia melihat Dave tidur di sofa yang tidak jauh dari ranjangnya.
Raja membayangkan, bagaimana pertemuannya dengan Raisha tadi.
"Aku Rela walau seratus peluru bersarang di tubuhku, asalkan kamu yang menolongku dokter, tapi bagaimana kalau dia tahu siapa aku yang sesungguhnya, akankah dia akan takut atau bahkan menyesal mengenal diriku" gumam Raja lagi.
Malam itu Rei meminta maaf sekali lagi pada Rendra, dia benar benar tidak tahu kalau orang tadi adalah musuh keluarganya.
" Mas, maafkan aku ya, aku benar benar tidak tahu." Raisha mendekati Rendra yang masih sibuk dengan komputernya, Raisha duduk di pinggiran meja ruang kerja Rendra.
" Hmm" jawab Singkat Rendra.
"Apa yang harus aku lakukan asal kamu dapat memaafkan aku, aku siap mendapat hukuman." Raisha memainkan ujung baju tidurnya, dan menggigit bibir bawahnya. Bukan niat dia menggoda Rendra, Raisha sungguh menyesal.
__ADS_1
Rendra melirik ke arah Raisha, sebenarnya dia tidak marah, kalau Raisha menolak membantu, maka identitasnya akan cepat ketahuan musuh. Muncullah ide jahil di otak Rendra. Dia menutup laptopnya, memperhatikan ekspresi wajah Raisha yang lucu, ingin rasanya dia melahap Raisha sekarang.
"Tapi kamu harua di hukum." jawab Rendra.
" kamu harus merayu dan membuatku puas malam ini, aku mau istriku yang aktif dan suami ganteng ini gantian yang pasif." jawab rendra. Raisha berfikir sejenak rayuan yang bagaimana yang bisa membuat Rendra puas, kalai soal menggombal atau merayu, orang di depannya itu adalah jagonya.
"Apa yang harus aku lakukan untuk merayunya, baiklah Rei, kalau perlu kamu menjadi pelacur di depannya hanya untuk membuat dia puas." batin Raisha.
Raisha pergi keluar dari ruang kerja tersebut, di sana ada sebuah pintu yang menghubungkan langsung ke kamar mereka.
" Eh, kemana dia, kok malah kabur." batin Rendra heran, dia tadi ingin mengerjai istrinya malah dia kini sendirian.
"Ah perempuan memang aneh, di suruh merayu malah ngambek, sabar jun, pasangan kita marah, lo puasa dulu ya." Rendra malah berbicara sendiri dengan junior, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi kerjanya, memejamkan mata sejenak.
"Aku harus lebih ekstra menjaganya, musuh sudah semakin di depan mata, bahkan mereka pasti akan menggunakan cara untuk mendapatkan aku, ku harap Narendra Junior akan segera hadir dalam perut istriku, seandainya aku tidak bisa bertahan, penerusku yang akan menjaganya." batin Rendra.
Rendra melihat ke sebuah kalender di mejanya, ternyata dia sudah dua bulan lebih menikah dan hampir satu bulan dia sembuh.
Sementara Raisha yang tadi kabur dari ruang kerja tersebut, pergi ke ruang ganti, dia mengganti baby doll nya dengan baju wajib istri yang sekarang lagi Viral.
"Ih baju apa ini, seperti sarangan tahu, apa tidak masuk angin nanti ya, dan lihat saja sekali tarik pasti sudah robek." Raisha mendesah pelan.
"Tidak apalah, demi suamiku, aku rela menggunakannya." Raisha bicara sendiri di depan cermin, lalu dia mengambil sebuah bath robe untuk menutupinya.
Raisha berjalan kembali ke ruang kerja Rendra, berharap suaminya masih berada di sana.
__ADS_1