
Mereka meninggalkan tempat tersebut bersama sedangkan anak buah Peter membereskan tempat tersebut dengan perasaan tenang, akhirnya orang orang yang selama ini mengganggu ketenteraman mereka sudah Musnah.
"Pa sebenarnya apa sih yang menyebabkan mereka membenci keluarga Ibrahim, dan si Romeo itu kan sahabat dekat om Jonathan, tapi dia juga yang menghancurkan keluarga om jonathan?" tanya Naela pada Zein.
"Sebuah dendam, membuat mereka buta, buta akan informasi, buta akan kebenaran, dan dendam lah yang akhirnya membuat mereka hancur dengan sendirinya." Nawab Zein.
"Dendam tentang apa, Kita semua kan tidak melanggar hukum ataupun menyakiti orang lain, sebelum mereka yang memulainya?" penasaran Naela.
"Moto kita dia yang memulai kita yang mengakhiri, iyakan?" goda Rendra.
" Ini juga, istrinya berada di tempat penyekapan, lo masih tenang tenang disini, sono jemput!" sinis Naela.
"Tenang kakakku yang cantik, Istri dan anak anakku masih bermain main disana, jdi kita birkan saja dulu mereka bersenang senang, aku akan menjemputnya besok, kita tuntaskan semuanya dulu hari ini." jawab Rendra.
Oh ya pa sampai lupa mai tanya apa tadi, ini gara gara lo, wek." Naela menjulurkan lidahnya di depan Rendra.
Zein lalu menceritakan semuanya, mulai dari persahabatan orang tuanya dan kenapa bisa jadi Romeo itu adalah kakak dari Vero, dan ini juga baru terbongkar belum lama ini, berkat usaha si narsis Rendra, yang curiga atas hubungan Jonathan dan Romeo yang di buat buat.
"Semua ini terbongkar, atas kerja keras Adikmu yang paling tampan ini, dia awalnya curiga, kenapa harta Jonathan bisa jatuh ke tangan Romeo, walau dengan cara diam diam, dan Romeo begitu gencar menjodohkannya dengan Rendra, dan dia mencari tahu semuanya, kalau ternyata musuh besar ada di sekitar kita, orang dekat kita, tapi Dia masih mengikuti permainan Romeo hingga akhirnya kecelakaan itu terjadi." Ucap Zein.
"Uluh uluh, terima kasih adikku yang paling ganteng dan baik sedunia, kamu adalah pahlawan keluarga kita, dan meski sikap kamu yang terkadang kelewatan itu, ternyata kamu diam diam sangat peduli pada kami pada kakak juga." Ucap Naela yang akhirnya mengakui kalau adiknya itu ternyata sangat berguna.
" Sudah di bilangin tidak percaya, kalau Narendra Ibrahim memang the best pokoknya." Jawab Rendra.
" Aku juga berhutang banyak padu Ren, berkat ide ide konyol mu itu akhirnya di judes ini sudah bisa di taklukkan." Peter juga ikutan nimbrung.
" Apa jadi selama ini dia biang kerok atas kelakuan kamu yang aneh selama ini?" Tanya Naela sambil berkacak pinggang memelototi kedua pemuda yang tidak lain suami dan saudara kembarnya.
__ADS_1
Naela mau menendang Rendra, tapi dengan sigap, dia segera menghindar.
" Wek tidak kena, tidak kena." Rendra malah mengejek Naela yang sudah kesal dengan Rendra, akhirnya dia mengejar saudara kembarnya tersebut, bahkan melempari dia dengan sepatu yang di pakainya.
" Sudah sudah, Nae yang waras ngalah, tidak akan afa habisnya kalau berdebat dengan Bocah itu, cuma satu yang bisa membuatnya mati kutu." ucap mama kim.
" Siapa ma? heran gue, kalau perlu gue akan berguru padanya." Ucap Naela sambil melirik ke arah Rendra.
"Siapa lagi kalau bukan Raisha, di sering diam tanpa bisa berkata apa kalau sudah berhadapan dengan Raisha." Jawab Kimmy.
"Haha, ternyata tipe suami yang takut istri." ledek Naela.
"Biarin tapi gue lebih hebat woi, sekali masuk gawang, tiga goal gue dapat, Pete mana punya lo gas kan eih, kita bikin kesebelasan Ibrahim, pasti seru." Seru Rendra yang tidak mau kalah di sebut suami takut istri.
Naela malah memukul kepala Rendra ketika saudaranya itu mendekat ke arah mereka.
" Dasar guru ndak nggenah." Cemberut Naela.
Kembali Naela meninju perut Rendra, hingga mangaduh.
" Auh, mami, anakmu yang judes ini meninju perutku, bagaimana kalau terjadi infeksi, dia harus bertanggung jawab." Rendra pura pura tersungkur dan kesakitan.
Hal itu membuat Naela khawatir, dia takut kalau pukulannya terlalu keras atau ada luka di perut Rendra.
" Ren, lo gak apa apa?" tanya Naela khawatir, dia meminta Peter untuk memapah Rendra ke mobil.
"Kak bantu dia ke mobil, mungkin ada yang luka di perutnya, di tinju begitu saja sudah Ko!" pinta Naela pada Peter.
__ADS_1
Dengan sigap Peter membantu Rendra dan memapahnya.
" Ayo gas terus, jangan pantang mundur, dia akan semakin ganas kalau sudah di ranjang, tiap hari cetak goal, kalau mau segera menyusul gue." Bisik Rendra pada Peter.
" Siap Bos kecil, idemu memang luar biasa, dia sampai tidak bisa jalan kalau kita sedang bertempur." Jawab Peter.
" Jangan kasar kasar juga, bisa pecah nanti, yang lembut tapi nagih bos, paham."
" Paham Guru." Jawab Peter.
Dua pemuda itu malah bisik bisik yang tidak tidak tidak.
Mereka segera menuju ke mobil Peter dan kembali ke mansion, merencanakan sesuatu untuk misi kedepan. Mereka juga harus membereskan Markas Vero, takutnya ada anak buah Vero yang tersisa, memanfaatkan semua fasilitas yang ada untuk kepentingan yang tidak bagus, karena di markas tersebut banyak sekali, temuan temuan mereka yang mangkrak belum selesai.
Menengok Raisha dengan tingkah anehnya.
Pagi itu Dia sudah membuat mereka kerepotan.
" nyonya anda ingin makan apa hari ini?" tanya Dora yang melihat Raisha sudah berada di dapur pagi pagi begini.
" Bu sudah saya bilang kan dari kemaren jangan panggil saja Nyonya, panggil saja Rei, itu lebih Rei suka, dan untuk sarapan, Apa saja bu, yang penting bukan nasi atau bubur, aku sudah sangat lapar." ucap Raisha, dia memang kelaparan sedari subuh tadi, bahkan sampai kurang Khusuk sholatnya.
" Kalau sekarang ada Roti atau apa yang sudah ready bu, buat pengganjal perut, dari subuh tadi sudah berbunyi." Kata Raisha.
"Ibu baru saja membuat bolu pisang, di makan saja dulu, sambil menunggu ibu masak." Bu Dora, mengambil Loyang berisi Bolu pisang yang masih anget ke hadapan Raisha, dia langsung duduk di tepi dapur, tidak perlu berpindah tempat kalau hanya untuk makan. Mata Raisha berbinar melihat tampilan bolu yang menul menul dan aromanya yang menggoda.
" Bu ini pasti enak sekali, Rei makan semua ya bu!" Ucap Raisha memelas.
__ADS_1
" Makan saja nak, kalau kue buatan ibu tidak di tolak oleh bayinya." Jawab Dora senang, karena ada yang menyukai hasil karya dia.
Raisha langsung memotong kue tersebut dan segera melahapnya, mulutnya tidak berhenti mengunyah, hingga kue bolu sebesar itu hampir habis Di makan Raisha sendiri.