My Enemy My Lovely

My Enemy My Lovely
episode 10


__ADS_3

Sudah hampir dua Minggu Maira tinggal bersama Lisa, dia masih saja memikirkan kakaknya


Apa Lo ga capek ya," tanya Lisa.


"Ha, apa Lis!" jawab Maira.


"Gue tu heran sama Lo, hobi banget berlarut larut gitu," ujar Lisa yang kesal melihat temanya terpuruk begini.


"Maksud Lo apa," tanya Maira.


"Kalo gak suka gue disini bilang aja, gue bisa pergi kok," tambahnya yang marah.


Yang ingin keluar dari rumah siapa, yang mau hidup mandiri siapa, gue perduli sama Lo, sedangkan Lo! Lo ga perduli sama diri Lo sendiri," ucap Lisa kesal.


"Gue ga mau tau, besok Lo harus masuk kantor, jadi sekretaris di kantor MaX.


"Gue ga bisa, gue ga mau berurusan sama dia lagi," ujar Maira.


"Gue ga nanya, gue nyuruh! ini perintah,"


Lisa begitu kesal kepada temannya yang selalu memikirkan kesedihannya saja.


Setiap orang pasti memiliki masalah, tapi seberapa besar masalah itu kita harus bisa move on dan melanjutkan hidup bukan.


Tidak perlu untuk meratapi setiap masalah, masalah bukan untuk di diamkan saja, tetapi sebuah masalah akan selesai jika kita berusaha menyelesaikannya.


Lisa mencoba memberi nasehat kepada Maira, Mira yang selalu ingin dimengerti, begitu kesal ketika disuruh untuk bekerja di tempat Max.


Tidak ada cara lain bagi Lisa, untuk membuat teman yang mengerti, maka Lisa akan sedikit keras untuk temannya itu.


Mau tidak mau Maira akhirnya berangkat ke kantor Max, di sana dia menemui Max dan meminta pekerjaan kembali kepada Max.


"Jadilah ingin bekerja lagi?" tanya Max yang sedikit memang agak kesal.


pertengkaran di antara Max dan Maira entah dimulai dari mana, tetapi setiap mereka bertemu ada saja masalah yang terjadi.


Masalah apapun itu dan sekecil apapun masalahnya mereka selalu membesar-besarkannya,


"Menurut gue nggak etis juga kalau lo mecat gue cuman karena masalah pribadi! gue punya potensi kok, dan menjadi sekretaris loh gue mampu."


"Seharusnya Lo mempertimbangkan kembali tentang niat lo yang ingin mengecek gue."Maira berkata dengan nada sombong.


"Jika lo mampu menaikkan omset perusahaan memberikan yang terbaik dan memiliki loyalitas yang tinggi bagi perusahaan, why not!" ucap Max dengan angkuhnya.


"Bukan hanya kenaikan gaji tapi gue juga akan memberikan lo bonus yang besar,"


"Tapi lo juga harus ingat jika omset perusahaan menurun bukan hanya gaji lo yang gue potong, tapi lo akan gue pencet secara tidak hormat,"

__ADS_1


Max bertambah sombong ketika dia sudah menjadi bos dalam perusahaan, ditambah ketika dia mengetahui bahwa Maira yang akan menjadi sekretarisnya.


Otomatis merah akan menjadi bawahannya dia pun bisa semena-mena kepadanya.


Juga tak mau kalah pada Max Maira pun akhirnya mengikuti semua keinginan Max dan dia pun membuktikan bahwa dirinya punya potensi.


"Gue sanggupi apapun syaratnya, tapi gue juga punya syarat untuk itu," lugas Maira.


"Apa," tanya MaX.


"Gue yang akan nentuin bonusnya," jawab Maira tegas.


Max pun menyetujui syarat dari Maira dengan sebuah kontrak 3 bulan yang akan mereka laksanakan.


Tepat pukul 02.00 sore Maira mengatur sebuah meeting yang akan dilaksanakan oleh Max di salah satu hotel.


Maira mengatur sedemikian rupa kamar hotel itu menjadi sebuah ruang meeting yang akan dilakukan oleh Max dan kliennya.


Ditengah-tengah meeting maira tanpa sengaja menumpahkan minuman keatas berkas persentase sehingga membuat MaX pun marah.


Plak...


"Maira.... jadi basah kan semua, Kamu sengaja buat meeting ini berantakan,"ucap Mak dengan nada tinggi dihadapan Klien.


Maira pun sontak terdiam ketika melihat klien yang reflek berdiri melihat Max marahi Maira.


"Bapak harus tau ini meeting yang sangat penting, dia memang salah menumpahkan minuman itu, tapi apakah pantas seorang bos memarahi bawahannya di hadapan klien penting seperti saya." ucap wanita itu sambil menunjuk kearah Maira.


"Kalau begitu sebaiknya kita batalkan saja," Ucap wanita itu lagi sambil pergi dari sana.


MaX yang kesal pun melampiaskan kepada Maira, Dia memaki dan membentak Maira, MaX seakan tidak rela wanita itu pergi karena wanita itu membawa keuntungan besar bagi MaX.


Maira yang hanya diam saja seperti tau akan membalas MaX seperti apa.


Maira pun membersihkan berkas yang terkena air tadi lalu merapikan segalanya lalu dia pergi dari sana.


MaX yang marah menjadi tambah kesal ketika melihat maira yang cuek dan tidak membalasnya sama sekali.


MaX mengira Maira akan membalasnya di hadapan Klien itu, Awalnya Max melakukan itu untuk menjebak Maira.


Tetapi malah seperti Dia yang sedang di jebak oleh Maira.


MaX pun keluar mengejar Maira, dan menanyakan kenapa dia melakukan itu, apakah dia sengaja membuat klien itu membatalkan kontrak nya.


"Saya sudah mengatakan bahwa saya memiliki potensi, dan jika saya jadi bapak, saya tidak akan melakukan itu." ucap Maira merendahkan MaX.


"Saya akan menemui wanita tadi dan saya akan membawa keuntungan kepada bapak, saya harap bapak ga asal main marah saja." tambah Maira sambil pergi dengan senyum sinis nya.

__ADS_1


MaX yang mendengar dan melihat tingkah Maira pun bertambah kesal dan menjadi marah lalu memukul tembok yang ada dihadapannya.


Di tempat lain Maira berhasil mengejar Wanita tadi dan melakukan negosiasi kepada nya.


"Nyonya Yin," panggil Maira yang melihat wanita itu keluar dari hotel.


"Maaf nyonya, boleh minta waktunya sebentar?"tanya Maira.


"Ada apa lagi, kamu sama atasanmu sama saja."jawabnya ketus.


"Maaf nyonya, sebelumnya saya minta maaf atas kejadian tadi, seharunya kejadian itu tidak terjadi, karena kelalaian saya sehingga membuat bos saya marah di hadapan nyonya. dan seharusnya juga nyonya tidak melihat kejadian barusan, bukan!" ucap Maira menjelaskan.


"Lantas saya harus bagaiman, saya sama sekali tidak punya waktu sama orang macam kalian, ucapnya bertambah marah dan meninggalkan Maira disana.


"Tunggu nyonya," Maira berusaha membujuk nya kembali.


"Didekat sini ada restoran Cina yang sangat enak, saya harap nyonya mau temani saya kesana, lagi pula nyonya juga belum makan malam bukan!" bujuk Amaira.


Wanita itu menghentikan langkahnya sesaat mendengarkan Maira berbicara, wanita yang asli dari keturunan cina itu memegang perutnya yang meronta sejak sore.


Dia membalikkan badannya dan mengatakan "kamu suka makanan Cina," Sambil tersenyum dia melihat dan menghampiri Maira seperti anak kecil yang meminta mainan kepada ibunya.


Maira melakukan langkah keduanya saat dia merasa mangsanya sudah masuk ke perangkapnya.


"Apa nyonya bisa mengajari saya?" tanya Maira.


Iss kamu suka tapi kamu tidak tau cara makannya," jawab nyonya Yin sambil menarik tangan Maira.


Meraka duduk sambil memesan makanan, Maira yang sama sekali tidak pernah memakan makanan Cina terasa kikuk di hadapan nyonya Yin.


Dia berusaha membiasakan diri seakan dia pernah melihat makanan itu dihadapan wanita itu.


"Maira coba kamu makan ini, trus yang ini, dan yang ini," ucap Nyonya Yin bersemangat.


"Aduh.. Nyonya, saya jadi bingung mau makan apa, habis banyak banget makanannya."ucap Maira, yang bingung melihat makanan sebanyak ini.


Nyonya Yin tertawa lepas mendengar cerita Maira, Melihat Maira Nyonya Yin Seperti melihat anaknya sendiri yang sudah meninggal dan itu membuatnya meneteskan air matanya.


Maira yang senang akhirnya mampu membuat nyonya Yin masuk dalam genggamannya, di saat Maira hendak mengutarakan tujuannya, dia melihat


air mata Nyonya Yin menetes.


Maira pun menjadi bingung apakah dia akan tetap melakukan tujuannya atau dia akan bersimpati terhadap kondisi nyonya Yin yang tengah merindukan anaknya?


Tetap baca kelanjutan ceritanya dan jangan lupa beri like dan komentarnya juga.


Terima kasih. 🙏

__ADS_1


__ADS_2