My Enemy My Lovely

My Enemy My Lovely
episode 2


__ADS_3

kring...


kring...


Bunyi alarm,menunjukkan pukul 06.30 wib.


"Maira udah siang, Lo ga sekolah," Tanya kakanya.


Nadin adalah kakanya Maira, yang sudah bangun dari subuh dan sekarang sedang memasak di dapur.


"dasar kebo," ucap Nadin kesal sambil tersenyum.


"Ya gue sudah bangun,lebay!"ucap Maira kesal


Akhirnya Amaira selesai merapikan diri untuk kesekolah Lalu mengepang rambutnya dan turun menuju meja makan.


Disana sudah tersedia sarapan, yang emang sengaja di siapkan oleh Nadin sang kakak.


Mereka hanya tinggal berdua dan walau mereka sering tidak cocok tetapi mereka sangat menyayangi satu sama yg lain.


seperti Nadin yang berusaha selalu menjaga adiknya walau kelihatan sangat cuek, gadis yang jaraknya cukup jauh dari adiknya ini sangat bisa mengayomi.


"Gue sudah selesai," ucap Maira.


"Gue berangkat ya!" ujar Maira sambil berdiri dan bersiap ke sekolahnya.


Di sekolah Maira terkenal sebagai murid yang pintar, walau tidak cukup banyak memiliki teman akrab tetapi Maira juga tidak memiliki musuh di sekolah.


"Hai, Lisa!" ucap Maira sambil duduk dan meletakkan ranselnya.


"Hai Maira," ucap Lisa.


"Tugas Lo sudah selesai," tanya Lisa.


"Sudah dong, Amaira gitu," jawab Maira.


"Mai kantin yuk!" ajak Lisa.


"Ayuk," jawab Maira sambil berjalan kearah Lisa.


sebelum sampai kantin,Maira si julukan siswi teladan mendadak di panggil kembali dengan gurunya.


"Ha, ada apa tan?"tanya Maira.


"Mana gue tau"jawab Tanu teman sekelasnya Maira.


"sudah gue duluan,"ucap Tanu.


Lisa Lo duluan aja," suruh Maira.


"Gue mau kekantor dulu,"ucap Maira lagi.


"Oke maira," ucap Lisa.


Lisa pun melanjutkan perjalannya ke kantin sedangkan Maira pergi kekantor menemui Bu Dewi.


"Ibu panggil saya!" ucap Maira sambil mengetuk pintu.


"Ya Maira! Masuklah," ujar Bu Dewi.


"Kamu sudah kenal Max kan?" tanya be Dewi.


"MaX yang anak baru itu bu,"ucap Maira.


"Betul, kalian sudah saling kenalkan?"tanya Bu Dewi.


Maira terkejut mendengar ucapan dari gurunya, ketika gurunya mengatakan jika MaX lah yang akan menjadi muridnya nanti.


Maira pun keluar dari sana dan menemui Lisa sahabatnya, lalu dia menceritakannya kepada Lisa tentang semuanya.


"Ha, Lo yakin Maira! Lo ga salah dengar kan," ucap Lisa


Sekali lagi Lisa meyakinkan temannya itu, apakah benar Max yang akan menjadi muridnya apa dia hanya salah menduga saja.


"ah..."Maira menghela nafas panjang."


"Lisa ...gue ga mau,"rengek Maira.


Maira sangat tidak mau mengajari MaX, tapi dia juga ga bisa bilang tidak kepada gurunya.


Dia tau ini sangat penting baginya,jika dia berhasil menjadi guru bimbel untuk MaX maka dia akan mendapatkan beasiswa tambahan.


Akhirnya Maira pun kesal sendiri karena dia tidak bisa berbuat apa-apa, tetapi demi kakanya dia menerima semuanya.

__ADS_1


"mungkin ini pertanda sih," ucap Lisa


"Pertanda apa lisa,"tanya Maira.


"Lo jangan nakut ya?"tanya Maira lagi.


"sudah lah, gue mau pergi ajha


ga nyambung ngomong sama lu,


bikin gue tembaga mumet aja,"ujar Maira


Maira pun pergi meninggalkan Lisa, Maira kesal dengan Lisa yang malah mengoloknya dari pada membantunya.


Entah kenapa Maira dan maX selalu saja bertengkar, ntah itu dikantin, di toilet, atau pun pas jam pelajaran selesai, hal sepele pun jadi topik besar bagi mereka.


Beberapa Minggu kemudian,Maira akhirnya menjadi guru buat MaX, mereka pun belajar bersama.


Sabtu sore harinya MaX dan Maira bertemu di sebuah cafe.


"hai Bu guru," ucap MaX ngeledek Maira.


"Sudah Lah ga usah gitu," ucap Maira.


Maira Kesal dengan candaan MaX, dia terpaksa mengajari MaX dan yang dia lakukan sekarang hanya untuk mengurangi beban kakanya dan mempertahankan beasiswa nya.


Max juga kesal dengan ucapan Maira, dan dia pun membalasnya dengan m ngatakan "jika memang tidak suka s baiknya lapor saja ke Bu Dewi.


Nada kesal MaX, membuat Maira tertegun, Maira merasa heran ketika MaX si anak baru bisa semarah dan sekesal ini pada nya.


Sudah hampir empat puluh lima menit mereka belajar,Maira mengatakan jika dia harus segera pergi karena ada urusan ditempat lain.


Akhirnya mereka mengakhiri belajar bersamanya,MaX mengucapkan ok lalu maira berdiri dan mengemas semua buku yang ada di atas meja dan pergi dari cafe itu.


Disamping itu Maira masih merasa kesal terhadap MaX dia mengintip dan menatap MaX dari kejauhan lalu mengerutkan matanya, dan akhirnya pergi dari sana.


Keesokan harinya disekolah, seperti biasa Maira langsung menuju kelas, disana sudah ada Lisa yg duduk sambil main hp.


"Lo ngapain Lisa,"ucap Maira.


"Gabut gue,"ucap Lisa.


"Gabu! banyak gaya lo," ucap Maira


"Ga ah! gue masih nyaman disini,"jawab Lisa.


Maira pun meninggalkan Lisa dan pergi menuju kantin, Maira yang sudah lapar sejak tadi langsung menjajal jajanan yang ada di kantin sekolah.


"Mang,siomai satu ya,"ucap Maira.


"Baik neng,"ucap mang Dami.


Maira pun duduk lalu mengeluarkan ponsel dari kantong baju nya.


Dia membuka foto dari galeri ponselnya lalu melihat beberapa foto keluarga nya, miliknya.


Gadis itu pun meneteskan air matanya.


"Ma, Pa Maira janji akan lulus dengan nilai yang terbaik, papa sama mama yang tenang ya disana."ucapnya sambil meneteskan air mata.


"Ini pesanannya neng," ucap mang Dami.


"Ya mang, terima kasih,"ucap Maira.


Maira menghapus air matanya lalu melahap makanannya sampai habis,dia memang tvelum sarapan dari tadi.


"Ehm enaknya...gue laper banget, gara- gara ngurusin si MaX tu dari kemaren gue jadi ga ada selera makan." ujar Maira.


Eh itu bukannya MaX ya." ucap MaX.


Maira melihat MaX memesan makanan kepada mang Dami, dia pun memiliki sebuah ide untuk mengerjai nya.


"Mang, ini pesanan buat cowok itu kan,"ucap Maira sambil menunjuk ke arah MaX".


"Ia neng,"ucap mang Dami.


"Sudah mang, biar saya aja yang antar,"kata Maira.


"Sini mang piringnya," ucapnyam


Maira meletakkan pesanan MaX di atas meja lalu sambil melirik kiri dan kanan dia memasukkan obat pencuci perut ke dalam siomainya MaX.


Maira sangat puas setelah mengerjai nya, dia melihat Dian yang berdiri di sekitaran kantin

__ADS_1


Maira pun menyuruh temannya itu untuk mengantarkan makanan MaX.


"Dian, Lo liat orang itu kan?"tanya Maira


"ehmm!"Dian mengangguk.


Lo maukan antarin makanan ini gue mau pergi soalnya," ujar Maira.


"Ok Maira," ucap Dian.


"lagian gue juga mau lebih kenal sama oppa gue." ujarnya


Sini biar gue aja yang antarkan," ucapnya lagi sambil mengambil piring soimai itu.


Maira pun tak sanggup menahan tawanya, setelah ngerjain MaX, lalu dia pergi dari tempat itu.


"Bocor-bocor deh Lo," ucap Maira sambil tertawa.


"Maira Lo kenapa? heboh banget gue liat,"tanya Lisa.


"Ada deh,Lo sih tadi gue ajakin ga mau." ucap Maira yang masih tertawa.


"ye...,"Lisa merasa kesal.


Lisa amat kesal dengan perkataan Maira tetapi Maira masih tidak memperdulikannya karena dia masih asik tertawa.


Setelah menghabiskan makanannya, MaX merasa heran dengan perutnya yang tiba tiba sakit, dia merasa tidak makan makanan yang aneh sejak semalam.


"Apa gue salah makan kali ya," ucap MaX.


"perasaan gue belum makan apa-apa sejak kemarin,"tanya MaX kepada dirinya sendiri.


"Gue cuman baru makan siomai,"ucapnya


MaX bingung dengan perutnya yang mulai Mules, dia merasa jika somaintidak mungkin m mbuat perutnya sakit.


Dia pun menduga jika ada orang yang sengaja membuat perutnya sakit.


Sambil mencari Tau siapa orangnya perut MaX yang tadi berangsur mules menjadi tidak karuan, dan tidak tertahankan.


Pret...


Put...


Aduh, ni perut ya...," ucap MaX sambil memegang perut.


MaX berlari menuju toilet dan mengulangi nya lagi terus-menerus.


Akhirnya MaX memasuki kelas,Karena pelajaran pertama telah di mulai, tetapi karena perutnya yang masih mules dia pun kembali lagi ke toilet.


Dia m lakukan itu hingga bel pulang sekolah berbunyi, MaX hendak mencari orang yang telah mengerjainya.


"Lo Dian kan?" tanya MaX.


"Oppa... saranghe oppa," Dian berkata manja.


"Lo udah ngasih apa ke makanan gue," tanya MaX.


"Bukan gue MaX,"jawab Dian.


"Terus siapa?"Tanya MaX lagi.


"Maira yang sudah nyuruh gue," jawabnya.


"Maira, sudah gue duga," ucap MaX.


"Emang ada apa MaX," ucap Dian yang bingung.


"Ga ada, aduh...ni perut gue mules terus," Ucap MaX sambil memegang perutnya dan" mencari Maira.


pret...


Ih, bau MaX!" kata siswa disana.


"Jorok Lo," ucap yang lainnya.


"Sana Lo pergi," ucap murid lain.


MaX, berlari sambil memegang perutnya yang mules sambil ketoiket dan mencari Maira.


"Amaira..."teriak MaX marah.


"Maira Lo dimana? ucapnya kesal.

__ADS_1


__ADS_2