My Enemy My Lovely

My Enemy My Lovely
episode 18


__ADS_3

Lisa pun menceritakan segalanya kepada Maira.


Pada saat hubungan Maira dan Lisa lagi renggang Lisa sangat galau antara memutuskan untuk tinggal atau pergi menemui ayahnya .


Saat itu lah Dia tidak sengaja bertemu dengan Ibnu yang membuatnya merubah fikiranya untuk tetap tinggal disini menunggu Maira pulang.


Awalnya Semua baik-baik saja, sampai Lisa di kenalkan ke orang tua Ibnu semua terasa sangat baik saat itu.


Sampai ketika entah dari mana datangnya Ibnu dan ibunya berubah total mereka seperti bukan mereka.


Ibnu dan ibunya alias nyonya Yin Sangat berubah mereka sangat kejam pada Lisa, nyonya Yin memaksa Lisa menikahi anaknya yang gila.


Dia sangat tau kondisi anaknya yang tidak waras karena di tinggal mati oleh pacarnya.


Ibnu pernah hampir menikah dengan seorang gadis bernama Tiara.


Ya Tiara, foto yang di perlihatkan oleh nyonya Yin kepada Maira bukanlah foto Anaknya tetapi melainkan foto kekasih dari Ibnu.


Nyonya Yin sengaja mengakui Tiara sebagai anaknya untuk menjerat gadis lain menikahi Ibnu yang psikopat.


Ibnu dulunya pebisnis yang sangat handal dia memiliki perusahaan dimana-mana dan dia sangat terkenal saat itu.


Siapapun gadis pasti ingin menikah dengan nya, Ibnu pun bertemu dengan Tiara dan mereka menjalin hubungan cukup lama dan memutuskan ingin menikah secepatnya.


Tiara yang awalnya menerima Ibnu menjadi menolaknya sesaat dia tau jika Ibnu orang yang sangat kasar dan tempramen.


Ibnu yang tidak terima akan penolakan itu tanpa sengaja membunuh Tiara.


Hingga saat ini nyonya Yin menutupi segalanya dan mengatakan kepada orang-orang jika foto itu adalah foto anaknya yang telah lama meninggal.


Gue tidak sengaja mendengar nya saat itu, dan gue berhasil kabur dan memutuskan untuk menemui ayah," ucap Lisa menjelaskan.


"Saat Lo bilang tentang nyonya Yin gue jadi ingat kejadian itu, gue mau ceritain ke Lo tapi gue bingung Mai,"


"Maafin gue ga langsung cerita saat itu," ucap Lisa.


"Ga apa Lisa, gue aman sekarang kan," ujar Maira.


"Belum Maira, Lo belum aman sama sekali, Ibnu pasti akan mengejar Lo," jelas Lisa.


"Lo harus santai dan berpura-pura seolah belum tau segalanya, sekarang kita ikuti aja dulu permainan mereka,"


"Lo yakin?" tanya Maira.


"Ya mudah-mudahan tidak ada korban lagi ya Mai," jelas Lisa.


Pukul dua lima belas menit siang, Maira menggunakan mobil mini Cooper nya melaju di jalan menuju lokasi meeting yang telah di tetapkan tempo hari.


Maira kesana ingin melakukan observasi terlebih dahulu.


Tepat nya di gedung yang paling tinggi di tempat dia tinggal gedung itu memang sering digunakan sebagai tempat bertemunya para pejabat dengan relasi-relasi nya.


Setelah sampai di gedung itu dan melakukan observasi Maira meyakini jika gedung ini sudah pas untuk di jadikan tempat mereka mengadakan rapat besok.


"Terimakasih ya mbak, besok kami kesini lagi." ucap Maira dengan pegawai disana.


"Baik terimakasih," jawabnya.

__ADS_1


Maira menuju parkiran dan memutar setirnya kearah jalan raya dan bergegas kembali kekantor lagi.


Betapa terkejutnya Maira melihat ada seseorang di dalam mobilnya.


"Hai Maira," ucap Ibnu.


"Kamu ngapain disini," tanya Maira tenang.


"Aku ingin kamu tau jika aku menyukai saat pertama kita berjumpa malam itu dirumah mama," jawab nya.


"Tapi memasuki mobil seseorang tanpa izin itu sebuah pelanggaran," jelas Maira lagi.


"Salah kamu dong sayang, kenapa kamu tidak mengunci pintunya!" ucap nya.


Maira mengingat kembali, kenapa dia tidak mengunci pintu mobilnya, "Astaga" gumam Maira sambil berfikir.


Akibat ceroboh saat menekan kuncinya saat masih dalam keadaan jauh dari mobil siapapun bisa masuk kedalam mobil kan.


"Apa mau mu," tanya nya pelan lagi.


"Aku menginginkan kamu sayang," sambil mencoba memegang tangan Maira.


Saat Maira reflek dan berteriak pria itu malah memukul kepala Maira Hingga membuat Maira pingsan, lelaki psikopat itu membawa Maira ke suatu tempat menggunakan mobil Maira.


Sesampainya disana, letaknya sangat terlalu jauh dari kota dan keramaian seperti gudang yang telah lama tidak digunakan, entah bagaimana Ibnu bisa menemukan tempat buruk ini.


Maira disekap disana bagaikan sandera, Ibnu melihat Maira yang terbaring lemah dan tak berdaya.


"Aku akan selalu bersama mu kau adalah milikku," ucapnya sambil mengelus pipi Maira.


"Hallo Max," Maira masih sama Lo."


"Ya Lisa, ga ada Lis dari sore Maira juga sudah pulang."


"Tapi dia tidak dirumah Max, gue kuatir Ama Maira.


"*Mungkin dia dirumah kakaknya," ucap MaX mencoba menenangkan.


"Ia kali ya, ya udah coba gue telfon deh*,"


Lisa pun mencoba menelpon Nadin,tetapi 3 kali panggilan telfon Lisa tidak di angkat oleh Nadin.


Lisa pun semakin cemas dengan keadaannya Maira, terbesit dalam benaknya jika semua ini ada sangkut pautnya dengan Ibnu.


Hal itu justru membuatnya bertambah gelisah saja, Lisa yang semakin gelisah memutari kamarnya sesekali melihat ke jendela untuk melihat Maira disana.


Kringgggg...


Kringgggg...


Lisa pun cepat mengambil lalu mengangkat telfon itu seketika berbunyi.


"Hallo, Maira Lo dimana,"


"Maira, Ini kak Nadin Lisa, kamu kenapa dimna Maira."


"Kak Nadin, gini kak_,"

__ADS_1


"Kak Nanti Lisa telfon lagi ya, sepertinya Maira sudah pulang." Ucap nya yang mengalihkan pembicaraan.


"Ya Lisa."


Lisa pun menutup telfon itu, dan dia semakin bertambah kuatir sekarang.


Ting... tong...


Ting...tong...


Bel rumah berbunyi, Lisa Sontang langsung turun kebawah membuka pintu berharap Maira yang pulang.


Saat membuka pintu Lisa terdiam karena yang datang bukanlah Maira melainkan Max.


"Max lo_," ucapannya terpotong Max.


"Sebaiknya kita cari Maira sekarang," ajak MaX.


"Tapi kemana gue enggak tahu, telfon Maira pun Mati MaX," jelasnya.


Setelah lama berfikir Lisa menyebut nama Ibnu, "karena memang mungkin Maira disana," gumam Lisa dalam hatinya.


"Gue Tahu Maira ada dimna," ucap Lisa.


Mereka pun bergegas menuju rumah Ibnu untuk mencari Maira.


Ditempat lain Nadin kakak Maira merasa kuatir setelah menelpon Lisa tadi, mendengar dari nada Lisa tadi, Nadin yakin Maira sedang tidak ada dirumah saat itu.


"Kamu kenapa kok enggak tidur, Bayu sudah tidur dari tadi loh," ucap Aldi yang melihat istrinya tidak kembali tidur sesudah memberi asi pada Bayu.


"Aku kuatir sama Maira," jelas nya.


"Kenapa memangnya?" tanya nya lagi.


"Aku enggak tahu cuman tadi itu Lisa nelpon, tapi kayak lagi nyariin Maira, pas aku tanya balik di matiin telfon nya." Jelas Nadin.


"Ya sudah kamu telfon lagi aja,"


Aldi berusaha menenangkan Istrinya, dengan menyuruhnya menelpon Maira, tetapi setelah di coba beberapa kali tidak ada jawaban dari Maira.


Nadin pun mencoba menelpon Lisa kembali tetapi selalu di alihkan olehnya, Ini sontak membuat Nadin semakin kuatir olehnya.


Di tempat Lain Max dan Lisa terus saja membunyikan dan mengetuk pintu rumah Nyonya Yin, tetapi sudah setengah jam mereka disana masih tidak ada jawaban dari dalam.


Max mencoba menghubungi nyoba Yin beberapa kali tapi juga tidak di angkat olehnya.


"Lo yakin Maira disini!" tanya Max kepada Lisa.


Max yang tidak tahu apapun tentang Nyonya Yin, mencoba meyakinkan Lisa bahwa tidak mungkin Maira berkunjung tengah malam begini.


"Max Lo enggak tahu apapun tentang nyonya Yin dan anaknya, mereka itu bukan orang yang baik," Jelas Lisa.


"Dan sekarang Maira sedang dalam incaran mereka, dan gue enggak tahu mereka membawa Maira kemana." ucapnya semakin Kuatir."


Mendengar keseriusan Lisa, Max juga semakin cemas dan takut terjadi sesuatu hal kepada Maira.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2