
Ketika di ajak untuk tinggal bersama dengan Lisa, Maira begitu bimbang. Perasaannya menjadi campur aduk, tapi menurutnya tinggal bersama Lisa lebih baik dari pada memilih tetap tinggal dengan kakaknya.
Maira memasuki ruangan di rumah sakit, tempat kakaknya dirawat. Dia menyusuri lorong dan disana maira melihat kakaknya yang sedang duduk menggunakan kursi roda dan menggendong seorang bayi.
"Kak Nadin," panggil Maira sambil mendekatinya.
"Hai Maira,"jawab Nadin.
"Udah selesai semuanya kak?"tanya nya lagi.
"Sudah seharusnya,tapi ga tau mas kamu kok lama banget,"jawabnya.
Tidak lama kemudian, Aldi pun datang membawa sebuah dokumen hasil pemeriksaan kandungan milik Nadin.
"Udah selesai semua Mas?"tanya istrinya.
"Sudah kok sayang,"jawabnya pelan.
Mereka pun keluar dari rumah sakit itu menuju kediamannya.
sesampainya dirumah Maira membantu kakaknya turun dari mobil sedangkan Aldi suaminya Nadin membawa semua perlengkapan masuk kerumah.
"Gimana perasaanya kak?" tanya Maira sambil mendudukkan kakaknya di sofa pelan.
"Rasanya Luar biasa Mai,"jawab kakaknya sambil melihat wajah bayi mereka.
"Menjadi seorang ibu itu sangat sempurna rasanya Mai,coba deh kamu menikah terus hamil dan melahirkan kayak gini kamu akan tau rasanya sendiri nanti."jelas Nadin panjang.
"Ah kak Nadin curang tau kak,"ujar Maira dan tersenyum melihat kakaknya memandangi wajah imut dari sang bayi.
"Curang apanya,"tanya Aldi yang baru masuk.
"Ini Lo mas maira tanya rasanya melahirkan, ya aku suruh dia rasakan aja nanti sendiri,"jawab Nadin.
"Gitu Mai, tapi yang di bilang kakakmu bener loh Mai," jawab iparnya itu.
"Udah ah jangan bahas itu lagi,"ucap Maira yang pipi nya memerah karena menahan malu.
Maira merasa malu kepada kedua kakaknya, dia pun menaiki tangga sambil membawa barang-barang dari kakaknya menuju kamar kakaknya lalu membersihkannya.
Maira membersihkan dan merapikan kembali kamar itu, walau kamar itu selalu terlihat rapi dan bersih tetapi dia tidak mau ada satu kuman pun yang menjangkiti keponakannya.
Setelah semuanya selesai Nadin pun Masuk kekamar nya dan melihat sekeliling dan meraba meja.
"Lihat ini aunty mu sangat pengertian,"ucap Nadin sambil meledek Maira yang sedang merapikan keperluan bayinya.
Maira lagi-lagi tersipu malu saat kakaknya mengungkit masa depannya kelak.
mereka sangat berbahagia saat itu, Ketika Aldi masuk kekamar bayinya pun menangis,reflek Aldi memanggilnya dengan sebutan Babay.
__ADS_1
Kata itu membuat Bayi itu terdiam dan seperti mengerti dia sedang di panggil saat itu.
Mereka yang melihat kejadian itu pun seketika terdiam dan tertawa lepas.
"Kamu harus makan sayuran yang banyak mulai dari sekarang,"ucap Aldi suaminya.
"Ia mas,"jawabnya manja.
Maira sungguh bahagia dan asik melihat kemesraan kakaknya dia tersenyum dan mulai melontarkan keinginan nya yang ingin keluar dari rumah ini.
Nadin pun sontak terdiam mendengar semua itu, Seakan dia sudah tidak nyaman lagi untuk tinggal bersama-sama, Aldi pun menjadi merasa tidak enak kepada adik iparnya itu.
Maira pun menjelaskan alasannya untuk keluar dari rumah ini, dia merasa harus mencari kehidupannya sendiri dan mulai belajar mandiri dari sekarang.
Jika dia terus disini,maka dia akan terus tergantung kepada sang kakak dan itu juga tidak baik bagi semuanya.
Maira menjelaskan bahwa dia hanya ingin menjadi yang lebih mandiri dan tidak mau ketergantungan kepada Nadin kakaknya.
Terlebih Sekarang Mereka sudah mempunyai anak dan kakaknya pasti akan lebih fokus dengan suami dan anaknya.
Nadin pun mengerti atas ucapan adiknya dan dia pun menanyakan kemana dia akan pindah.
"Ke rumah Lisa,"jawab Maira.
Kantor tempat dia kerja lebih dekat dari tempat Lisa, terlebih Lisa juga tinggal sendiri saat ini jadi menurutnya gak ada salahnya jika mereka tinggal bersama.
Maira pun berjanji akan sering datang kesini walau hanya sekedar bermain bersama keponakannya yang sangat tampan.
"Secepatnya mas," jawabnya.
Setelah kakaknya merasa baik kan pasca melahirkan, setelah semua dirasanya aman untuk dia tinggalkan Maira seakan sudah mengatur segala.
Dia tidak mau pergi tanpa perkiraan sebelumnya, dia juga tidak ingin terjadi apa-apa sama kakaknya setelah dia pergi nantinya.
"Baiklah Mai, jika itu keputusan kamu,"jawab kedua kakaknya.
"Hai kak Nadin,"ucap Lisa yang datang berkunjung.
"Eh Lisa, sini duduk!"ucap Nadin yang lagi menggendong Bayu anaknya.
"Ga terasa ya kak Bayu sudah besar,sudah mau satu bulan,"ujar Lisa.
Lisa yang datang mencari Maira celingukan melihat sekeliling,melihat keadaan rumah sepi Lisa yakin jika Maira sedang tidak dirumah.
Lisa yang memang tidak memberi kabar jika mau menemui Maira.
Titt...
Titt...
__ADS_1
Suara klakson mobil terdengar dari luar ketika Lisa dan Nadin tengah asih berbincang bermain bersama Bayu, putra dari Nadin.
Maira memarkirkan mobilnya perlahan dan masuk kerumah menyapa keponakannya.
"Lisa kapan datang,"tanya Maira kaget melihat Lisa yang tengah bermain bersama Bayu.
"Dari tadi gue disini,"jawab nya.
Maira yang menghampiri Lisa mengajaknya naik untuk berbincang dikamar ya.
Dikamar Lisa menanyakan tentang Maira yang ingin tinggal bersamanya,Lisa menanyakan bagaimana pendapat kakaknya jika dia ikut dengan Lisa.
Bagaimana pun Maira memiliki hak penuh atas dirinya sendiri, jika dia ingin pergi atau ingin tetap tinggal semua tergantung olehnya.
Tidak ada orang lain yang bisa merubah keputusannya, meskipun kakaknya sendiri.
"Semuanya baik-baik saja kan,"tanya Lisa yang melihat sahabatnya bingung akan keputusannya.
"Semua baik Lisa,"jawab Maira.
Maira mengatakan semua baik-baik saja, sedangkan Lisa sahabatnya yang melihat sendiri bahwa kondisinya tidak meyakinkan untuk pindah saat ini.
Meninggalkan seseorang yang telah lama kita menjadi teman hidup bagi kita memang sangat sulit rasanya.
Tetapi Maira harus tetap kuat dia berfikir jika tidak sekarang maka kapan lagi harus di mulai.
Keputusan besar baginya untuk meninggalkan rumah peninggalan orang tuanya.
"Bantuin gue berkemas ya Lis,"ucap Maira sambil memegang pundak Lisa.
"Yuk! kita mulai dari mana?" tanya Lisa.
"Dari sini aja," jawab Maira sambil menunjuk buku-bukunya.
Maira dan Lisa pun memulai berkemas, segala keperluannya di masukan kedalam box, selang berapa lama maira tidak sengaja melihat sebuah foto lama di salah satu box yang dia punya.
Tanpa sengaja dia mengingat kenangan lamanya terhadap kedua orang tuanya dan Nadin ketika mereka masih kecil.
Maira merapikan kembali segalanya, lalu kembali menyusun barang-barang yang akan dibawanya.
Barang-barang Maira tidak begitu banyak, jadi mereka tidak perlu menghabiskan waktu banyak disana.
"Jadi pindah hati ini?" tanya kak Nadin.
"Ia kak, semua sudah selesai kami berangkat sekarang kak."ucap Maira pamit kepada kakaknya.
"Beri salam buat mas Aldi ya kak, kayaknya aku ga bisa nungguin dia, masih ada keperluan lain,"tambah Maira.
"Baiklah Maira, kamu hati-hati ya! semoga kamu bahagia dengan pilihanmu." ucap kak Nadin sambil memeluk adik kecilnya.
__ADS_1
"Terimakasih kak atas segalanya,sekarang waktu nya kakak buat hidup bersama suami dan anak kakak."ujar Maira.
Lisa meletakan semua barang-barang milik Maira di bagasi, setelah maira masuk kedalam mobilnya mereka pun berangkat.