My Enemy My Lovely

My Enemy My Lovely
Episode 39


__ADS_3

Maira mendesak pria itu menjawab setiap pertanyaan yang dia lontarkan.


"Apa yang kamu mau, kalian sama saja. Ibu ku sudah meninggal sekarang, dia menyuruh ku pergi, tanpa melihat anakku dulu," ucap pria itu.


"Apa.. anak, apa maksudnya?" tanya Maira.


"Anak kembar yang berada dirumah mu itu, milikku.. mereka milikku," ucapnya sambil berteriak.


Rasa ingin pingsan rasanya, ketika Maira mendengar pernyataan itu, air mata yang mengalir terus-menerus dan perasaan yang ntah bagaimana lagi, Maira seakan mati rasa sesaat itu juga.


"Bohong... kau berbohong, bayi kembar itu milikku mereka anakku," ucap Maira sambil menangis.


"Dia memang milikmu Maira, tapi ayahnya adalah aku, itu syarat yang harus aku lakukan agar ibuku bisa selamat, tapi ibu ku.. ibu sudah mati sekarang! dan aku akan ambil anak itu," jelasnya sambil berteriak.


"Tidak.. tidak mungkin," ucap Maira.


Maira pergi dari sana, Sambil menangis Maira terus berlari dan terus berlari, Maira melupakan mobilnya disana, dalam keadaan hari yang mulai gelap Maira berlari menuju rumahnya.


Sesampainya dirumah, dengan keadaan yang berantakan Maira mencari bayi kembarnya, dan dia juga mencari Max.


Tapi Max tidak ada dirumah, Maira yang sudah tidak bisa di ajak berdamai lagi, berlari sepenuh rumahnya, dia menghancurkan setiap barang-barang yang dia temui.


Asisten rumah tangga yang takut melihat Maira yang sedang naik pitam, hanya bisa bersembunyi di kamar bayi Maira.


"Max...... Kamu jahat," ucap Maira sambil berteriak.


Max baru sampai di depan rumah sangat kaget melihat rumah yang sudah porak-poranda, dengan niat yang ingin marah Max dikejutkan oleh kedatangan Maira dengan penampilan yang sudah berantakan.


"Maira kenapa ini, ada apa Maira?" tanya Max.


"Ya mas! kenapa.. kenapa bisa terjadi, kenapa kamu lakukan itu... kenapa mas," ucap Maira, sambil menangis.


"Maira tolong tenangkan diri kamu, kamu bisa sakit nanti, kasian bayi kembar kita," ujar MaX.


"Bayi kembar kita, kamu bilang bayi kembar kita.. bayi kembar kita yang mana.. yang mana mas," teriak Maira.

__ADS_1


"Kiran sama Karin Maira, kamu ngigau ya," ucap Max berusaha mengalihkan.


"Kamu yang ngigau mas, selama ini aku selalu bertanya kenapa kamu selalu menghindari kedua anak itu, tapi sekarang aku sangat mengerti kenapa kamu melakukannya," jelas Maira.


"Tapi satu hal yang gak aku mengerti, kamu... kenapa kamu tegas mas, kenapa kamu tega, kenapa kamu melakukannya?" tanya Maira.


"Melakukan apa Maira, melakukan apa?" tanya Max lagi.


"Bayi itu bukan milik kamu, kenapa mas.. kenapa kamu bohongi aku, kenapa kamu tega membohongi aku," ucap Maira.


Maira yang semakin terpuruk, akhirnya dia pingsan dan hal itu MaX sudah mengerti jika Maira telah mengetahui segalahya.


Max mengendong istrinya hingga kekamar, sambil menangis Max menggenggam tangan istrinya itu.


"Maira bangun Maira.. aku sangat tidak bisa hidup tanpa kamu," ucap Max.


Sambil menangis Max mencoba mengingat semua yang telah terjadi, dia merasa semuanya telah hancur, Maira sudah mengetahui rahasia besar yang telah disembunyikan oleh nya selama bertahun-tahun.


Max keluar menuju Kamar anak-anaknya, disana Max melihat bayi yang tidak berdosa itu, sambil menangis dia melihat anak-anak yang sudah bisa memanggilnya dengan ucapan ayah.


Maira meminum secangkir teh tanpa bicara sedikit pun pada suaminya itu.


Maira, aku_" ucap MaX.


Maira tidak mendengarkan Max, dia hanya naik keatas melihat kedua anaknya itu.


Maira duduk di kamar anaknya sambil menangis dia sangat tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Max, orang yang paling dia percaya, orang yang paling dia sayangi telah menghancurkan hatinya.


...****************...


Max dan Maira sudah hampir seminggu tidak saling bicara sedikit pun, Maira yang selalu menghindari Max membuat MaX selalu merasa bersalah dalam keadaan itu.


Saat Maira tengah merapikan pakaian di dalam lemari, tiba-tiba ada yang jatuh dari balik pakaian Max, Maira yang penasaran dengan isi nya lantas membuka isi surat itu.


Saat dia membaca semuanya, Max pun masuk kedalam kamar itu juga, dan dia melihat Maira tengah melihat kebenaran yang selama ini telah dia sembunyikan dari Maira.

__ADS_1


"Ya Maira," ucap MaX.


"Mas... apa ini mas, kenapa kamu menyembunyikan semuanya pada ku mas?" tanya Maira.


"Aku.. aku sebenarnya_," ucap Max yang sangat tidak sanggup melanjutkan ucapannya.


"Apa masih ada yang gak aku tahu, rahasia apa lagi yang gak aku tahu, dan mengapa kamu selalu menutupi kebohongan dengan kebohongan baru?" tanya Maira.


"Tidak Maira.. tidak ada rahasia apapun lagi, sudah tidak ada lagi, aku... aku malu, aku sudah mengecewakan mu," ucap Max sambil menangis dihadapan Maira.


"Aku Fikir dengan menutupi segalanya semua akan terasa seperti biasa, semua akan lancar dijalani, tapi aku salah," jelas MaX.


"Kamu memang salah mas, masalah sebesar ini kamu tidak kasih tahu ke aku, keterlaluan kamu, dan kamu pikir anak itu tidak akan tahu nantinya!" jelas Maira.


"Aku salah Maira, aku memang salah, aku tidak sanggup melihat anak itu, karena aku melihat dosa ku disana," jelas MaX.


"Tolong jelaskan semuanya, dan tolong jangan ada yang ditutupi lagi," ucap Maira.


"Awalnya saat kita melakukan tes, dan gagal pada waktu itu, dokter telah bilang jika aku kurang subur, sangat sulit rasanya untuk menyatukan segalanya, tapi melihat kamu aku sangat tidak bisa membiarkan kamu menangis, karena keinginan kamu menjadi seorang ibu lebih penting dari segalanya." jelas MaX.


"Dan kamu bertemu dengan Pria itu, lalu kamu melakukan perjanjian bodoh itu!" tanya Maira.


"Maaf Maira, tidak ada pilihan lain saat itu, saat menyatukan sel kamu dengan Dion semua berjalan dengan lancar, dan embrio pun terbentuk," ujar MaX.


"Tapi aku sudah suruh dia pergi, aku ingin dia menjauh dari kita, aku akan mengulang semua dari awal, aku akan berusaha menyayangi kedua anak kita," ujar MaX.


"Bukan itu jawabannya mas, ibu nya meninggal kamu menyuruhnya pergi, dia tahu ada anaknya disini, dia akan mengambil kedua bayi kita," ucap Maira.


"Aku gak mau kehilangan anak-anak aku, aku gak mau kehilangan Karin dan Kiran," ucap maira sambil menangis.


Kamu tenang Maira, dia tidak akan bisa melakukan apapun, aku akan menjaga kalian sampai kapanpun, aku tidak akan melakukan kesalahan lagi, aku berjanji," ucap MaX yakin.


Dalam pelukan Max, Maira yang menangis sangat takut kehilangan anak-anaknya, Maira tidak ingin Dion mengambil bayi kembarnya.


Max yang sangat menyesali perbuatannya, berusaha menenangkan Maira, Max akan terus berusaha menyelamatkan istri dan anak-anaknya, dan Max berusaha menyayangi kedua putri kembarnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2