My Enemy My Lovely

My Enemy My Lovely
episode 19


__ADS_3

"Maksud Lo apa, nyonya Yin itu relasi gue!" tanya Max yang ingin meyakinkan dirinya sendiri.


"Max... Lo yang sabar, biar gue pikirin dulu caranya," jelas Lisa.


Lisa yang semakin cemas melihat ponselnya ada beberapa panggilan dari kak Nadin disana dan Lisa hanya melihatnya saja tanpa menelpon ulang kak Nadin.


Lisa pun berusaha menenangkan dirinya dan mencoba berfikir jernih saat itu, "gudang!" gumam Lisa.


"MaX ayo kita pergi sekarang," sambil memasuki mobil.


Max mengikuti Lisa dan memutarkan mobilnya kearah lain, Lisa yang menyetir mencoba mengingat kembali daerah itu.


Waktu hal ini terjadi kepadanya, Lisa dibawa ke gudang, Dalam benak Lisa mungkin Maira juga di bawa ke gudang yang sama juga.


"Kita kemana Lisa?" tanya Max kepada Lisa yang menyetir.


Lisa yang mencoba mengingat jalan ke gudang, hanya diam saja mendengar ucapan MaX.


Melihat Lisa yang diam saja Max pun juga terpaksa ikut diam, Lisa sejenak memberhentikan mobilnya mencoba mengingat kembali jalannya.


Di depan Lisa ada tiga cabang jalan dia harus bisa memilih, jika salah maka mereka akan semakin tersesat nantinya.


Lisa mencoba kembali mengingat semua yang terjadi dulu padanya, ketika dia kabur dari Ibnu jalan mana yang dia pilih, semakin tenang dan berfikir.


Lisa memicing kan matanya dan mengingat segalanya disana, saat dia membuka matanya kembali wanita ini mulai menginjak gas nya dan mengarahkan setirnya kearah kiri.


Hari semakin malam dan semakin gelap, cuaca semakin dingin Max yang duduk di samping Lisa semakin takut saat itu.


Hanya lampu dari mobil yang dapat menerangi jalan mereka, Lisa semakin mengingat jalan menuju ke gudang tersebut.


Perempuan yang hanya menggunakan baju kaos celana pendek ini memarkirkan mobilnya dan perlahan keluar lalu melihat sekeliling.


"Kita dimana Lis!" tanya Max.


"Lo lihat itu," sambil menunjuk ke arah lampu yang menyala.


"Ya mungkin itu lampu rumah orang Lisa," ucap MaX.


"Tidak Max, Lo bisa perhatikan jalannya dari tadi kan, enggak ada rumah orang dan tidak ada juga lampu disini."


"Daerah ini jauh dari kawasan warga, dan Lo fikir itu rumah orang, orang mana yang mau tinggal di tempat yang tidak ada listrik nya."

__ADS_1


"Jadi maksudnya, pria itu menyekap Maira disana!" tanya Max.


Max dan Lisa saling menatap dan mereka pun bergegas pergi kesana, dan benar saja saat mereka sampai di tempat itu mereka melihat mobil Maira disana.


Sambil mengendap-endap mereka berjalan perlahan, melihat apakah didalam gudang itu ada orang apa tidak.


Max dan Lisa memperhatikan isi dalam gudang itu dari celah-celah kayu, disana mereka melihat seorang pria yang sedang merapikan baju nya.


Dia seperti memakai baju pengantin pria, dan mereka juga melihat Maira yang sudah memakai gaun pengantin. Dan ada nyonya Yin juga disana.


Semua ini sangat membuat MaX menjadi tidak paham apa yang sebenarnya terjadi, ada banyak pertanyaan di benaknya tetapi dia tahan, karena Maira lebih penting sekarang.


Max memasuki gudang itu perlahan secara mengendap-endap dan tanpa sengaja memijak ranting kayu yang membuat Ibnu dan ibunya menyadari ada orang lain disana.


"Apa yang kalian sedang kalian lakukan!" tanya MaX.


"Mau kalian apakah Maira," tanya nya lagi.


"Lisa, sayang kamu disini," ucap Ibnu.


Max semakin bingung dengan semuanya, siapa pria ini dan kenapa pria ini mengenali Lisa.


"Lepaskan Maira, nyonya Yin kenapa kamu lakukan ini, apa mau kalian?" tanya Max lagi dan lagi.


Ibnu yang melihat Lisa, menjadi bingung mana yang akan dipilihnya, dia mendekati Lisa yang berdiri tepat di belakang Max dan ingin menyentuhnya.


Dengan sigap Max menggagalkan dan menangkap pria itu, lalu mengancam nyonya Yin agar segera melepaskan Maira.


Maira yang sedang duduk di kursi dalam keadaan pingsan mulai mendapatkan kesadarannya kembali.


Maira melihat Max dan Lisa disana, dia juga menyadari jika tangannya sedang diikat di kursi, dan saat dia memutar matanya dia juga melihat nyonya Yin .


saat itu dia mulai sadar kenapa dia bisa sampai disini, Lisa yang diam-diam menelfon polisi hampir ketahuan oleh nyonya Yin.


Nyonya Yin pun memohon agar anaknya di lepaskan dan saat Max tengah lengah melihat Maira yang mulai sadar, nyonya Yin memukul tangan Max hingga Ibnu terlepas dari genggaman Max.


Ibnu yang sudah terlepas menodongkan pisau kearah Max dan mengancam ingin membunuh mereka semua disini.


Nyonya Yin hanya diam saja melihat anaknya yang mengancam Max, Lisa yang melihat Max dan Ibnu bertikai mengambil kesempatan untuk melepaskan Maira.


Cukup lama pertikaian ini terjadi Maira yang posisi nya telah bersama dengan Lisa, juga semakin ketakutan ketika tangan Max terkena terkena pisau oleh Ibnu.

__ADS_1


Tidak lama kemudian polisi sampai disana dengan menggunakan arahan lokasi dari Lisa, Ibnu dan nyonya Yin langsung di bekuk oleh polisi dan mereka keluar dari gudang tersebut.


Lisa dan Maira pun saling berpelukan, "Lo aman Maira," ucap Lisa.


Polisi sudah menangkap Ibnu dan nyonya Yin, kasus kematian Tiara pun mulai terungkap, Lisa juga menceritakan kepada Max yang terjadi sebenarnya.


Setelah mendengar semuanya dari Lisa Max membatalkan segala kontrak perjanjian kerja dengan nyonya Yin.


Max yang sangat cemas dengan keadaan Maira sontak memeluk Maira, Lisa melihat segalanya dan menyadari jika MaX memiliki perasaan terhadap Maira.


"Max tangan Lo," ucap Maira yang melihat tangan Max terluka.


Maira mengoyakkan gaun yang dipakai nya dan membalut luka Max, lalu Maira pun mengganti pakaian ya kembali dengan yang tadi dipakainya.


Mereka pulang kerumah Lisa dengan selamat, Lisa terus- menerus melihat Maira yang duduk di samping nya,


"Harusnya gue laporkan Mereka sejak lama Maira," ucap Lisa.


"Sudah Lisa enggak usah difikirkan kan gue udah selamat sekarang," jelas Maira.


"Makasih ya Lis, makasih Max udah tepat datang menolong gue."


"kalau kalian telat sedikit aja gue enggak tahu apa yang akan terjadi sama gue," jelas Maira.


Mereka tersenyum dan terus melaju sampai kejalan besar, sampai di jalanan kota mereka menghela nafas lega karena sudah keluar dari tempat kelam itu.


Sesampai di rumah Lisa Max memutuskan untuk menginap di sana, untuk memastikan kondisi Maira baik-baik saja.


Melihat tingkah MaX yang begitu cemas membuat Lisa yakin jika MaX begitu mencintai Maira.


Max tidur di sofa ruang tamu Lisa, sedangkan Lisa dan Maira tidur dikamar seperti biasanya.


Lisa memastikan Maira tidur setelah bersih-bersih, dan keluar untuk mengantarkan Selimut untuk MaX.


"Udah Max, Maira aman sekarang," ucap Lisa yang turun menemui Max.


"Gue akan tidur disini, besok gue baru pulang," pinta MaX sambil mengambil selimut dari Lisa.


"Ia gue tau Lo sangat mencemaskan Maira,"


"Gue tau yang Lo rasakan sama maira,"

__ADS_1


"Gue senang kalo Lo bisa perduli sama Maira Max."


Bersambung...


__ADS_2