
Tinggal dua hari menuju hari H, semua sudah hampir siap. Gaun, pelaminan, catering, Hingga kamar pengantin pun juga sudah ready.
Max dan Maira sudah tidak sabar menunggu dua hari itu, rasanya tinggal dan hidup bersama sudah berada dalam mimpi mereka.
"Pingit!" ucap Maira.
"Iya, itu udah tradisi loh, ya.. seharusnya itu sudah dilakukan dalam seminggu lalu," jelas Lisa.
"Apa harus!" tanya Maira sekali lagi.
"ehmm," jawab Lisa yang mengangguk.
Maira harus berdiam diri selama dua hari ini, tidak boleh keluar rumah dan menemui Max.
Tok...
Tok...
Tok...
"Siapa ya!" ucap Maira saat mendengar suara ketukan pintu.
Maira lantas melihat Lisa yang berdiri dihadapannya, mengisyaratkan jika dirinya tengah di pingit sekarang.
"Iya gue buka," sahut Lisa, melihat kerlingan mata Maira.
Maira yang sedang leha-leha diatas kasurnya sambil berbalas pesan dengan MaX, tidak sadar jika dia dihampiri oleh Kakan Nadin.
"Ya ampun... malas banget sih pengantinnya," tegur kakaknya yang menghampiri kekamar.
"Kakak," Maira sontak berdiri dan berlari memeluk kakaknya yang sudah berada dikamarnya.
Maira memeluk kakaknya sangat erat, dia sangat Bahagia jika kakaknya bisa menginap dan mengikuti malam berinai dia besok malam.
Kamu ya, udah mau jadi istri orang masih malas-malasan gini," tegur kakaknya lagi.
"Aku gak malas-malasan kak, cuman Kata Lisa aku lagi dipingit, gak boleh keluar menjelang hari H," ucap Maira yang ngeles.
"Biarin aja kak, kapan lagi dia jadi ratu kan," timpal Lisa yang menghampiri mereka dengan membawa secangkir teh.
"Tu aku ini ratu loh kak, Lisa aja sudah mengakuinya," Sahut Maira.
"Ish kamu, ucap kakaknya sambil mengelus kepala adiknya.
"Nadin sangat tidak menyangka jika waktu sangat cepat berputar, yang kemaren dia masih melihat adiknya yang masih kecil, Sekarang dia melihat adiknya sudah akan menjadi istri orang.
"Kamu cepat besarnya Maira, baru aja kemarin kakak cebokin kamu, sekarang kakak udah liat kamu di atas pelaminan aja," jelas Nadin sambil meneteskan air mata.
"Apa sih... udah ahh aku mau cari Bayu aja, Bayu aunty datang," jelas Maira yang pergi dari sana karena dia tidak ingin menangis dihadapan kakaknya.
Maira menemui Bayu di ruang depan. Keponakannya tengah bermain bersama Lisa Bayu yang tumbuh begitu cepat sekarang sudah pandai berdiri.
__ADS_1
"Hai Bayu," ucap Maira, yang menghampiri Bayu dan menciumnya gemas.
"Ye... ye... ye..," sahut Bayu, yang mulai mengerti di panggil.
"Kamu ya, sudah ngerti kalau dipanggil, ucap Maira.
"Lis, biar gue gendong ya," ucap Maira sambil mengambil alih Bayu.
"Ye..ye..ye..," sahut Bayu.
"Kak, mau makan sekarang apa nanti aja," teriak Lisa dari dapur.
"Nanti aja Lis, gampang itu." Sahut Nadin dari dalam kamar.
Maira menghampiri Nadin dikamarnya, Maira melihat Nadin merapikan dan memasukkan semua pakaian yang dibawanya kedalam lemari.
Maira duduk di sudut kasur sambil melihat kakaknya yang hampir selesai, dan berkata," kakak lama kan disini."
Kenapa, kakak baru aja nyampe masak kamu udah mau nyuruh kakak pulang sih," ujar Nadin.
Bukan disuruh pulang kak, tapi aku maunya kakak itu lama nginep nya," jelas Maira.
"Eleh udah mau jadi istri orang, ingat Mai," timbal Lisa yang menghampiri mereka.
"Apaan sih Lo, sirik aja," ucap Maira.
"Ye.. siapa yang sirik," jelas Lisa.
"Kak lihat lah... si Lisa tu," ujar Maira yang mengadu kepada Nadin.
"Ish kalian gak asik," ucap Maira yang langsung pergi dari sana.
"Merajuk tu," ucap Nadin.
Lisa menutup pintu, setelah Maira keluar dari kamar itu, mereka sengaja melakukan itu untuk membuat Maira kesal menjelang hari pernikahan nanti.
"Gimana kak, udah siap kan!" tanya Lisa.
"Udah beres," jawab Nadin.
"Pokoknya kamu tenang aja, siap acara mereka akan langsung terbang," jelas Nadin sambil mengembangkan 2 tiket hanimun.
"Bagus kak," ujar Lisa.
"Mereka pun keluar, nadin menghampiri Maira dan mengambil Bayu dari nya.
"Udah sana istirahat," ucap Nadin.
"Kak, kakak akan selalu temani aku kan," ucap Maira.
"Iya dong kenapa ga," sahut Nadin.
__ADS_1
Maira pun tersenyum mendengar jawaban dari Nadin kakaknya, dia sangat gugup saat mendekati hari pernikahannya.
...****************...
Keesokan malamnya...
Malam berinai pun tiba, Maira mengenakan Pakaian yang sangat indah malam ini, gaun serba pink membuat Maira bertambah bercahaya.
Aura pengantin nya sangat terang, sehingga siapapun yang melihatnya akan terkagum-kagum melihat Maira menjadi pengantin malam ini.
Malam berinai pun segera dilakukan, dengan Inai yang sudah dibawakan oleh calon mempelai pria.
Inai yang lekatkan pada setiap Jari-jari Maira terlihat sangat cantik.
Para tamu yang melihatnya pun sangat takjub dan mengatakan jika Inai ini akan berwarna gelap, artinya suaminya akan menyayangi nya selamanya.
Maira hanya bisa tersenyum saat para tamu dimalam itu melihat jarinya yang penuh Inai yang masih basah.
Maira sangat bahagia, jika benar yang dikatakan oleh para tamu undangan tersebut.
"Semoga ya," gumam Maira.
Akhirnya acara berinai ini telah usai, semua tamu sudah pulang satu persatu, tinggal para keluarga yang berada didalam rumah ini.
Maira menaiki anak tangga bersiap untuk istirahat, karena besok adalah hari H nya. Sebelum istirahat maira mencuci tangannya dan melihat apakah warna Inainya gelap Tau tidak.
Gadis ini sangat Ingin jika warna Inainya berwarna gelap, karena dia sangat ingin Max bisa setia dengannya selamanya.
"Gelap, gelap....gelap dong," gumam Maira sambil mencuci tangannya di wastafel.
"Ha... gelap, ye...," gumamnya sambil melompat kegirangan.
Maira kembali ke kamarnya sambil melihat tangannya yang berwarna gelap itu, gadis itu sungguh tidak percaya jika MaX akan tetap mencintainya selamanya.
Maira yang dilanda gugup ,sedikit berkurang karena warna Inainya sesuai seperti yang dia mau.
Udah gak sabar buat besok," gumam Maira.
Pasti besok akan jadi hari yang paling bersejarah buat gue, gue akan jadi pengantin yang paling cantik dan paling beruntung," gumamnya sambil memperhatikan Inai di tangannya.
Makasih Max udah hadir dan mengisi hari-hari ku dengan indah.," ucapnya lagi.
"Ternyata ada benarnya juga, MaX yang dulunya gue benci setengah mampus sekarang dia akan jadi suami gue, dimana ajak sehat gue... "
Gue seorang Maira menikahi Max, musuh bebuyutan gue, hadehh gak bisa gue bayangin itu, tapi ya sudah lah... namanya juga hidup kadang diatas kadang ya dibawah."
Maira bergumam dengan dirinya sendiri, tanpa sadar entah berapa kalimat yang dia ucapkan, jika dia sangat mencintai Max dia sangat bahagia, itu hanya dia yang tau.
Yang jelas kisah ini akan semakin baik saja, kisah cinta max dan Maira sudah mulai membuka babak baru.
Cinta Maira kepada Max begitu besar, sehingga membuat Maira sangat takut untuk kehilangannya.
__ADS_1
tapi setelah melihat tangannya yang penuh Inai yang berwarna gelap dia semakin Percaya diri MaX tidak akan meninggalkannya dengan alasan apapun, karena Max sangat mencintai selamanya.
Bersambung...