
**Hallo semua terimakasih atas dukungannya.
Terus dukung karya-karya aku, dengan cara like, komen, dan vote serta jangan lupa selalu ikuti aku terus ...
***I Love You😘*****
Semakin hari Perasaan Maira semakin aneh, saat makan, mau tidur bahkan lagi apapun juga dia selalu terbayang oleh wajahnya Max.
Langkahnya pun semakin sempit, karena dimana dia berada bayangan Max selalu menghantuinya.
Kali ini dia tidak merasa seperti biasanya, Maira yang tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, tidak menyadari jika dia sudah mulai menyukai MaX.
"Akhhh... gue bisa gila kalau kayak gini terus," gumam Maira.
Maira merasa harus meminta bantuan kepada seseorang yang mengerti tentang dirinya yang selalu membayangi Max sepanjang hari.
"Lama-lama si MaX nih ganggu banget," tekan Maira dalam hatinya.
Hallo, ya saya mau temu janji sama dokter Airin kira-kira Kapan ya bisa nya.
Ouch...ok nanti saya kesana, baik terimakasih.
Maira menutup telfonnya dan melihat jam di tangannya, lalu kembali menonton film drama Korea kesukaannya.
Maira yang sudah seminggu tidak masuk kerja, menghabiskan waktunya dengan menonton film Korea.
Pukul empat belas tiga puluh menit, Maira mulai bersiap dan berangkat ke tempat dokter Airin.
Psikolog klinik tulisan itu sangat besar terlihat saat memasuki klinik dokter Airin Tamrin.
Saat tiba disana Maira langsung memasuki ruangan dokter Airin dan memang dokter Airin sudah menunggunya sejak tadi.
Maira bercerita tentang keluhan nya, dari apa yang dia rasakan sejak seminggu lalu, hingga saat ini dimana dan kapanpun itu, wajah Max selalu ada dalam bayangannya.
"Sebelumnya tidak pernah merasakan itu?" tanya dokter.
"Tidak ada, awalnya semua baik-baik saja tapi sejak saat itu hingga hari ini, saya jadi tidak bisa kemana-mana" jelas Maira.
"Max yang kamu maksud adalah musuh pada awalnya, sekarang membuat hati kamu selalu bergetar saat mengingat namanya!" tanya nya lagi.
"Kenapa bisa begitu ya dok," ucap Maira.
Mendengar penjelasan Maira dokter Airin pun tertawa lepas dibuatnya, Maira yang kaget mendengar dokter itu tertawa menjadi tambah bingung.
"Ada yang lucu Dok?" tanya Maira.
__ADS_1
"Enggak! maaf Maira," ucap Dokter sambil menghela nafas.
"Baik lah kalau begitu! hanya satu jawabannya, JATUH CINTA. Hanya itu saja."
"Jatuh cinta, masak ia sih!" dengan polosnya Maira menjawab.
"Gue memang tidak pernah sih," gumamnya.
Maira pun berfikir sejenak, mulai mencerna ucapan dari dokter tersebut, dia membayangi film Korea yang sering dia tonton, dia merasa yang di alaminya sama seperti yang pernah dia tonton.
"Hehe.. baiklah dokter Airin terima kasih atas waktunya," ucap Maira yang malu langsung meninggalkan ruangan itu.
Sesampai nya diluar Maira bergumam lagi, "iss.. gila ya, malu banget."
Gadis berusia dua puluh lima tahun ini langsung meninggalkan klinik itu tanpa melihat kanan dan kiri karena menahan malu yang sangat dalam.
Dua hari berikutnya...
"Lo enggak kekantor lagi Mai?" tanya Lisa yang melihat temannya belum bersiap.
"Enggak..." jawabnya singkat.
"Kenapa, enggak mau ketemu MaX lagi," tebak Lisa.
"Nanti kalo gue siap gue kekantor kok," jelas nya lagi.
"Sudahlah! mending Lo kekantor sana," jawab Maira marah.
Lisa pun akhirnya pergi dari sana meninggalkan Maira dengan kemarahannya.
Dikantor...
Lisa yang sedang makan siang di kantin di hampiri oleh Max dan mereka mulai menceritakan kenapa Maira sudah seminggu ini tidak masuk kerja.
Lisa merasa jika Maira sedang menjauhi Max, karena perasaan suka yang mulai tumbuh di hatinya.
"Maaf ya Max, gue tadi udah berusaha untuk membujuk Maira, tapi dia belum mau katanya," ucap Lisa.
"Ya sudah lah! tidak usah di persulit, mungkin dia butuh waktu buat sendiri dulu," jelas MaX.
"Ia Max," jawab Lisa.
Sambil menghabiskan makanannya, Max dan Lisa mulai membahas tentang meeting yang ingin mereka lakukan dengan klien baru.
Dirumah...
__ADS_1
Maira mulai merasa bosan ketika dia berada dirumah, dia memutuskan pergi ke taman untuk mencari udara segar disana.
Sambil memikirkan ucapan dari Dokter Airin, Maira kembali memutar otaknya apa yang sedang dia rasakan belakangan ini.
"Mungkin dokter Airin ada benarnya," gumam Maira yang lagi duduk di sudut taman.
Maira melihat sekitaran taman sambil menghela nafas yang panjang, mencoba menghirup udara dingin di sore hari ini.
Sekitar Setengah jam Maira berjalan kecil di pinggiran taman itu, dia berusaha meyakini jika dirinya mulai menyukai MaX.
Maira tersenyum saat memikirkan hal itu, sesekali dia menggelengkan kepalanya, Apakah yang dirasakan benar cinta atau tidak.
Amaira memang belum pernah merasakan jatuh cinta, walau dia sering melihat nya di TV, tetapi untuk merasakannya sama sekali tidak pernah terbayangkan oleh nya.
Sudah dua hari pikiran nya penuhi dengan kalimat jatuh cinta, Amaira sudah mulai yakin jika dia memang mencintai Max.
Dia ingin memastikannya sekali lagi, dengan menemui Max secara pribadi dan berbicara empat mata dengannya.
Dikirimnya pesan singkat kepada Max, untuk menemui nya di sebuah kafe dekat rumah Lisa, dia berharap Max bisa datang tepat waktu.
Maira duduk di pinggir dekat kaca, dia terlihat sangat cantik dengan pakaian yang dikenakannya, Maira sengaja sedikit berdandan untuk meyakinkan dirinya bahwa ini cinta benar-benar cinta.
Akhirnya MaX sampai di kafe yang telah di janjikan, dengan matanya dia melihat Maira yang begitu terlihat cantik malam ini.
Perlahan Max mulai mendekati Maira, dan tanpa berkedip sedikit pun Max duduk di hadapan Maira yang terlihat sangat menawan.
"Ada apa MaX, ada yang aneh ya?" tanya Maira, yang merasa risih di lihat oleh max dari tadi.
"Tidak ada, Lo sangat cantik malam ini," ucap MaX.
"Begini Max! g_gue, gue enggak tahu harus mulai dari mana, dan gue juga nggak ngerti ini apa sebenarnya," jelas Maira yang gugup.
Maira mulai mengutarakan perasaannya, dari mulai Max yang selalu ada dalam bayangannya setiap dia melakukan apapun.
Dia sangat tidak mengerti dengan itu, dia berusaha meminta bantuan kepada orang lain untuk menjelaskannya.
Dan setelah dia merenungkan segalanya mungkin semua itu memang benar, jika Maira mulai menyukai MaX, seseorang yang sangat dia benci selama ini.
Maira tidak pernah membayangkan jika rasa bencinya terhadap MaX berubah menjadi terasa cinta, perasaan yang memang sangat di hindari nya.
Karena baginya dulu, tidak mungkin benci bisa berubah menjadi cinta,sangat mustahil baginya jika kalimat cinta bisa merubah rasa benci seseorang.
Baginya Max adalah Musuhnya, musuh yang selalu di bencinya, tetapi sekarang apakah dia sudah menjilat perkataannya sendiri, apakah Max yang dibencinya sudah menjadi Max yang sangat dicintainya.
Maira menyakinkan dirinya untuk bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari dalam benaknya.
__ADS_1
Maira berusaha untuk melihat kedalam mata Max, dia menatapnya tanpa berkedip sedikit pun dan akhirnya mereka saling menatap satu sama yang lain.
Bersambung...