
Amaira berjalan sambil termenung, dia memikirkannya tentang sahabat dan suaminya. Kenapa sekarang menjadi seperti ini, sahabat dan suaminya menjauhinya secara bersamaan.
"Kalian kenapa sih, apa yang salah" gumam Maira.
"Maira mengingat kembali kepada beberapa tahun yang lalu, suaminya sangat perduli ketika mereka tengah menghadapi keinginan menjadi orang tua.
Semua sangat baik, menjadi seorang ibu adalah keinginan setiap wanita, dengan perjuangan yang sangat besar, Maira merasakan bersyukur karena sekarang telah menjadi seorang ibu sungguhan.
Dengan memandangi wajah kedua buah hatinya, Maira menangis dia sangat tidak menyangka, bahwa dengan mendapatkan buah hati suami nya malah menjauhi dirinya sekarang.
Sempat pernah terbesit di pikiran Maira bahwa suaminya tidak menginginkan seorang anak, tapi kenapa suaminya tidak pernah mengatakan apapun pada nya selama ini.
Maira menjadi gundah gulana, Anak yang dia inginkan malah membuatnya semakin jauh dari Max.
Pengorbanan mendapatkan seorang bayi sangatlah berat, Bayi tabung yang mereka lakukan dalam beberapa tahun lalu akhirnya membuahkan hasil.
Dan Sekarang Lisa, orang yang paling dia sayang malah menjadi benci kepada nya, Lisa malah membuang segala kenangan itu, hal yang paling membahagiakan malah di hancurkan oleh Lisa.
"Mas.. kamu bisakan bagi waktu buat si kembar, " ucap Maira.
"Sudahlah Maira, yang kamu bahas selalu itu, capek tahu gak," Max.
"Tapi Mas, dari mulai anak kita lahir hingga sekarang mereka sudah mengerti dengan adanya kamu mas, kamu sama sekali tidak memiliki waktu untuk mereka. " Ujar Maira.
"Gak taulah pusing aku," tungkasnya marah.
Max yang pergi meninggalkan Maira, dia seakan tidak memikirkan perasaan Amaira lagi, Max seakan sudah tidak mencintai Maira lagi.
Maira mengejar Max dan menanyakan semuanya, tentang Bayi tabung itu, Sambil menangis Maira mengejar suaminya, jika tidak ingin memiliki anak kenapa harus punya anak.
"Mas.. jangan-jangan kamu memang tidak menginginkan anak ini ya?" tuduh Maira.
"Apa maksud kamu?" tanya Max.
"Iya.. kamu memang tidak inginkan anak kan mas, makanya kamu sama sekali tidak senang saat anak ini lahir," lanjut Maira.
"Aku sudah menuruti segala keinginan kamu, aku sudah mengikuti permintaan kamu, lantas dimana kurang ku, kamu mau anak sudah aku kabulkan," jelas MaX.
"Kamu... apa kamu juga menginginkan anak ini?" tanya Maira.
"Gak usah banyak tanya Maira, jika tidak ingin menyesal," ucap MaX, mengancam Maira.
__ADS_1
Mendengar ucapan Suaminya, Maira menjadi curiga, Ada kecurigaan yang harus dia ambil, saat Max mengatakan mengabulkan permintaan menjadi seorang ibu.
"Aku harus mencari sesuatu," gumam Maira.
Maira mulai mencari tahu, kenapa suaminya sangat tidak memiliki waktu untuk kedua buah hati mereka.
Dari mulai mencari tahu tentang jadwal Max, kemana aja dia pergi dalam sehari, siapa saja yang dia temui, bahkan Maira sempat mengikuti suaminya pergi meeting dengan klien.
Tapi Maira tidak menemukan jawaban dari setiap pertanyaan-pertanyaan nya.
Maira semakin buntu, dia mengira jika MaX memiliki seorang selingkuhan, tapi Maira tidak menemukan jawaban dari pertanyaannya.
"Lalu gue harus kemana," Gumam Maira.
Maira melihat seseorang sedang melintasi jalan di hadapannya, dia seperti mengingat pria itu, dengan Wajah yang familiar Maira mengejar Pria yang nampak seumuran dengan MaX.
Maira mengikuti pria tersebut, dan saat tiba di sebuah kafe, Maira melihat Pria tersebut menemui Max disana.
"Max.. ngapain... ada hubungan apa mereka," gumamnya.
Maira mengintip dan mendengarkan setiap pembicaraan mereka.. dalam pembicaraan itu terdengar jika MaX tengah memarahi pria itu dan menyuruhnya pergi dari wilayah ini.
"Buat apa MaX mengusir pria itu," Gumam Maira dengan segudang pertanyaan dalam benaknya.
"Maira.. ngapain kamu kesini?" tanya Max yang sedikit ketakutan..
"Yang harus nanya itu aku," ucap Maira.
"Pulang... sebaiknya kamu pulang," ucap MaX.
"Gak mas.. aku gak akan pulang, aku mau tahu sebenarnya.. siapa pria ini, kenapa kamu marah dan kenapa kamu usir dia, lantas kenapa kalian membahas tentang bayi tabung ada apa mas!" tanya Maira.
"Enggak ada apa-apa, kamu ngapain sih pake nguping, gak sopan tau," ucap MaX.
Saat Max menarik tangan Maira, pria itu lantas pergi dari sana, hal itu membuat Maira tidak bisa mendapatkan jawabannya.
"Semakin hari, kamu semakin lancang," ucap MaX pada Maira.
Max meninggalkan Maira disana seorang diri, Maira menangis saat Max memperlakukannya seperti itu.
Maira mencoba mengingat kembali tentang yang terjadi, Semua seperti berhubungan bagi Maira.
__ADS_1
"Pria itu, bayi tabung.." gumam Maira.
Maira mencoba mengingat semua kejadian waktu itu, dan setelah beberapa lama akhirnya Maira mengingat jika pria tersebut ada bersama Maira dan Max saat dirumah sakit saat mereka akan melakukan proses bayi tabung itu.
Maira lantas langsung pergi kerumah sakit, karena dia sangat yakin bahwa disana dia kaan menemukan jawaban dari setiap pertanyaan didalam benaknya.
Sesampainya dirumah sakit, maira pun menemui resepsionis di rumah sakit itu, Maira mencoba bertanya tentang proses bayi tabung itu, tapi tidak satupun yang dia temukan dari sana.
Semua seakan telah menutupi kejadian waktu itu, karena setiap Maira bertanya.. jawaban mereka selalu sama.
"Ada apa ini, kenapa mereka seakan menutupi segalanya," ucap Maira dalam hatinya.
Maira mencoba menenangkan dirinya dengan duduk kursi diruang tunggu, sambil mengingat semua kejadian waktu itu Maira mengulang setiap reka ulang yang dia ingat.
Maira melihat cctv yang ada disana, dia merasa cctv tidak akan bohong kepadanya, tapi saat Maira sedang ingin keruangannya cctv, lagi-lagi Maira melihat pria itu dirumah sakit ini.
Akhirnya Amaira pun mengejar pria itu, dan hingga ke balkon, pria itu sudah tidak bisa menghindari Maira lagi.
Dengan sangat memohon Maira mencoba membuat Pria itu mengerti dan Mencoba bekerja sama dengan pria itu.
"Tolong.. aku sangat butuh jawabannya, sejak kelahiran kedua anakku suami berubah, dia seperti orang asing," jelas Maira sambil menangis.
"Apa, jadi pak Max tidak menyayangi kedua anak itu, dia berbohong pada ku," ucapnya marah.
"Kamu kenal kan dengan suamiku?" tanya Maira.
"Aku hanya orang biasa yang lemah, waktu itu ibu ku tengah meradang nyawa dirumah sakit ini, ntah kemana harus aku cari biaya pengobatan itu, aku hampir putus asa, dan aku bertemu dengan pak Max." ucap nya.
"Apa..?" tanya Maira.
"Ibu koma saat ini, aku selalu datang kesini untuk melihat ibu, berharap jika dia bisa membuka matanya," jelasnya.
"Tunggu dulu, buat apa MaX menemui kamu?" tanya Maira.
"Melakukan perjanjian, pak Max yang membiayai semua pengobatan ibuku, dengan syarat yang harus aku penuhi.
"Syarat apa?" tanya Maira lagi.
"Dia berbohong.. dia menipu ku, aku sudah berikan yang dia mau, tapi dia memberhentikan pengobatan ibu," jelas nya.
"Maaf.. saya gak mengerti apa yang kamu korbankan?" tanya Maira lagi dan lagi.
__ADS_1
Bersambung....